Prolog
Berapa lama sebuah kebohongan bisa terbongkar? Satu hari, satu bulan, satu tahun, atau tidak akan pernah sama sekali.
New York, tempat kesibukan dan keramaian bagai menu sehari-hari. Tempat di mana seseorang bisa hidup dari berkah kebohongan, dan mati akibat mempertahankan kebenaran. Di sini, aktivitas rahasia terselubung rapi. Orang-orang yang menganggap diri mereka penting, sedang mengawasi dunia dari suatu tempat. Tak segan-segan mereka menguak konspirasi besar dan busuk kepada dunia. Bukan demi sebuah pengakuan, tapi untuk kehidupan dunia yang lebih baik.
Dan dia adalah salah satunya, Saron Agatha.
***
"Aaah, yes ... Baby! Ow f**k!"
Jeritan dan desahan seorang wanita menarik perhatian Saron. Dia yang sedang meracik kopi di dapur, terkejut ketika mendengar suara seperti barang-barang yang jatuh dari meja atau semacamnya menyusul. Dia bergegas mengambil sendok, mengangkat cangkir kopi, lalu kembali ke meja yang ditinggalkan beberapa menit lalu.
Saron duduk di kursi putar, meletakkan cangkir di samping kanan mouse. Di depannya terdapat tiga layar monitor yang tersambung ke keyboard berbeda. Monitor-monitor itu menunjukkan tampilan yang berlainan. Rangkuman CCTV apartemennya, bahasa pemrograman dari software yang sedang digarap, dan ... monitor ketiga membuat Saron melonggo. Rupanya, suara berisik itu berasal dari sana.
Saron menelan saliva. Matanya tak berkedip barang sesaat. Ternganga menatap adegan tak wajar dari rangkaian drama percintaan.
"s**t!"
Tubuh seorang wanita terdampar di atas meja kerja. Tiada barang di sana selain papan bertuliskan Faza W. Hayes, Chief Executive Officer. Dia mengenal wanita itu. Queen, wanita yang disebut-sebut ratu kecantikan di kantor. Entah ke mana busana rapi yang biasa dipakainya. Tatanan rambut yang selalu Queen agungkan pun tampak porak-poranda. Saron penasaran pada siapa yang telah mengubah sekretaris direktur perencanaan itu terlihat kacau.
Tangan Saron bergerak menyentuh keyboard. Dia mainkan jemarinya di sana. Kode-kode pemrograman muncul di layar hitam secara beruntun. Selang beberapa saat, tampilan gelap itu berubah menjadi sebuah video yang menampilkan punggung seorang pria.
Tubuh dengan otot-otot yang sempurna. Lengan kekar dan ... ah, dia punya p****t yang sexy. Sepertinya, pria itu memiliki keahlian yang menakjubkan dalam hal menyenangkan wanita. Sentuhan dan caranya bermain terasa mengesankan.
Saron mengalihkan fokus ke kamera lain. Air liurnya hampir menetes saat melihat d**a bidang, perut six pack, dan lengan kokoh yang bertumpu di meja. Saron memulas bibir dengan telunjuk, lalu menurunkan jemari ke leher secara perlahan. Dia merasakan dahaga yang begitu kuat hingga bergetar seluruh sendi. Tubuhnya menggelenyar. Dia menginginkan sentuhan dan pelepasan. Agaknya, Saron akan melupakan tugas penting malam ini.
Di tengah suara liar dan nakal yang membakar telinga, irama lain menyahut. Intro lagu Onlap berjudul The Awakening membuyarkan desir gairah yang menjalari tubuh Saron. Dia mengumpat, "Ah, sial! Siapa yang menelepon sepagi ini?"
Saron meraih ponsel dengan kesal. Mug di meja bergoyang-goyang setelah diterjang lengannya. Untung saja dia sigap menangani itu. Sehingga secangkir kopi gagal membanjiri mejanya.
Alis Saron hampir menyatu saat melihat nama di layar, Louis, sang manajer keuangan. Saron menyemburkan karbon dioksida, lalu menarik napas panjang sebelum menerima panggilan itu.
"Malam, Pak." Saron mengubah gaya bicaranya, seperti murid yang takut disetrap guru saat terlambat. "Ada yang bisa saya bantu malam-malam seperti ini?"
"O, ya, Silvia. Apa kamu melihat flashdisk berwarna pink dengan tutup hello kitty di mejaku siang ini?" tanya pria itu. "Sepertinya aku kehilangan dia. Ada berkas penting di sana yang harus aku serahkan ke direktur besok."
"Maaf, Pak. Saya tidak melihatnya," jawab Saron sambil tersenyum menyeringai, sementara di tangannya terdapat benda yang disebutkan Louis. Ya, dia mengambilnya saat membersihkan ruang kerja pria itu.
"Ah, k*****t! Di mana dia? Kalau kamu melihatnya, berikan kepadaku!"
"Oke, Pak. Besok saya akan mencarinya." Saron membuka tutup flashdisk, lalu menyambungkan benda itu ke monitor tengah.
Dia lirik adegan panas yang kian memanas. Merek telah berpindah posisi. Queen berdiri dengan sebagian tubuh telungkup di meja. Pria itu memasukkan sebagian tubuhnya di belakang tubuh Queen, mendorongnya keras hingga mulut wanita itu seperti ikan yang keluar dari air.
"Ya, Tuhan!" seru Saron setelah melihat rupa CEO kantornya--Faza--menyembul di monitor. Mata Saron mengerjap-ngerjap. Dia tak bisa percaya dengan penglihatannya. Faza yang diketahui selalu menjaga imaje dan menjalin hubungan dengan wanita berkelas itu ada di sana, bersama Queen.
Saron lantas memperbesar tampilan monitor, menyoroti rupa Faza. Saron menelan saliva. Pria itu tampak lebih tampan dua kali lipat saat b*******h. Peluh yang mengalir di pipi, sorot matanya, dan ekspresi Faza. "Mengagumkan."
"Silvia! Hallo! Ada apa denganmu? Apanya yang mengagumkan?"
"Panas. Ah, aku sungguh terbakar." Saron kembali b*******h.
"Terbakar? A-apa apartemenmu terbakar? Tenanglah! Aku akan menelepon 911!"
"Ti-tidak. Bukan begitu. Ah, sial! Maaf. Ini salah paham." Saron kelabakan menangani kesalahpahaman itu. "Aku baik-baik saja. Tidak ada kebakaran. Tidak ada api di sini. Semua oke."
"Apa kamu sudah gila? Bagaimana bisa kamu bercanda, sementara aku bingung mencari flashdisk? Temui aku di kantor besok! Pagi-pagi sekali. Kalau perlu, kamu cari flashdisk-ku malam ini juga!"
Panggilan terputus. Saron termangu. Mengunjungi kantor malam ini bukan ide buruk. Lagipula, adegan itu sudah berakhir. Queen telah mengenakan pakaian dan merapikan rambut. Dia tersenyum puas. Akan tetapi, pergi dengan gairah di ubun-ubun juga tidak baik bagi kesehatan jiwanya.
"Di mana pria itu? Apa aku terlewat adegan penting?"
Saron mengangkat gelas kopi dan tak mengerti kenapa pencarian Faza jadi begitu penting. Dia letakkan gelas sedikit jauh. Jari-jarinya bermain di keyboard untuk membobol CCTV kantor.
Mobil Jaguar masih terparkir di tempatnya. Lobi, lift, hingga mengecek ruang karyawan dan melihat Queen pergi, Saron tidak menemukan pria itu.
Dia kembali memeriksa kamera yang menghadap ke brankas sang pimpinan. Saron hampir terjungkal saat melihat pria itu tiba-tiba melintas di depan kamera, masih tanpa busana. Dia tutup mata dengan sebelah tangan, seolah-olah tak pernah melihat keseksian tubuh Faza.
"Sial! Aku tidak berharap akan dapat suguhan seperti ini saat meletakkan kamera itu di sana. Huft." Saron mengembuskan napas sambil mengipas-ngipas wajah dengan tangan.
Dia sapa kembali kopi, lalu memutar kursi hingga membelakangi monitor. Saron tertawa lantang saat teringat permainan Faza dan siapa yang dipilihnya.
"Faza W. Hayes, gaya bercintamu lumayan juga. Bentuk tubuhmu juga menggoda. Pantas saja jika kamu berjuluk playboy berkelas. b*****t! Kenapa kamu memilih wanita seperti Queen? Iya, sih, dia cantik. Tapi dia murahan. Beberapa kali aku melihatnya merayu banyak pria. Dan sepertinya, dia telah menang besar dengan mendapatkanmu. Dasar wanita licik!"
Saron memutar kursi, lalu meletakkan gelas di meja. Jemarinya bergerak dengan cepat di atas keyboard, menyalin data yang ada dalam flashdisk menggemaskan milik Louis. Data itu akan berguna di masa depan. Setelah semuanya rampung, Saron melepas benda itu, lalu menggenggamnya erat-erat.
***
Upsy, baru nonggol udah disuguhi yang panas-panas.
Siapa, sih, Saron ini? Kenapa dia memata-matai ruang kerja Faza. Kan, jadi ketahuan dia lagi ngapain di luar jam kantor. Huhuhuuu...
Jangan lupa tap love untuk mengikuti kelanjutan cerita ini!