Saron merupakan salah satu anggota dari kelompok hacker dunia, Ailux, setelah hampir tiga tahun melanglang buana sendiri dalam dunia pemrograman. Kelompok rahasia yang digawangi oleh hacker-hacker terbaik dunia itu sering menerima pekerjaan dari para pebisnis, politikus, hingga negara. Tak jarang pula mereka melakukan pembangkangan--memorak-porandakan database hingga menyebarluaskan kecurangan suatu perusahaan, lembaga, atau bahkan negara ke berbagai media--sebagai bentuk protes.
Tak pernah sekali pun Saron bertatap muka dengan anggota Ailux. Kerahasiaan identitas dianggap paling utama dalam organisasi itu. Selain untuk menghormati privasi, Ailux juga menjaga setiap anggotanya dari resiko terburuk. Penangkapan misalnya.
Dua minggu yang lalu, dia mendapat mandat untuk membobol brankas Faza W. Hayes, CEO dari perusahaan retail raksasa dunia Hayes Group. Dia diminta mengambil microchip yang ditengarai tersimpan dalam brankas. Saron penasaran dengan apa yang ada di dalam chip kecil itu. Namun, terlarang baginya untuk membuka barang pesanan.
Pekerjaan mudah sebenarnya. Namun, brankas Faza lain dari biasanya. Benda itu memiliki sistem keamanan berteknologi mutahir. Dia tidak bisa sembarangan meretasnya dengan coding. Saron yakin, ada hacker jenius di belakang Faza. Terlihat dari sulitnya gadis itu mendapatkan akses, bahkan untuk informasi pribadi CEO Hayes Group. Andaipun memaksa, sama halnya dia sedang membangunkan macan yang tidur. Layaknya feedback, aksinya akan terbongkar. Bukan hanya dia yang dalam masalah, tetapi juga anggota Ailux lain.
Terpaksa Saron harus menyamar sebagai Silvia Agatha. Gadis cupu yang menempati posisi salah satu cleaning service Hayes Group. Sedikit berbeda dengan nama aslinya, Saron Agatha. Semua berjalan sesuai rencana. Surat lamaran kerjanya diterima tanpa masalah. Tak seorang pun curiga dengan tindak-tanduknya. Dengan gampangnya Saron meletakkan kamera kecil di rak buku.
Seminggu berlalu, dia belum menemukan apa pun selain adegan gila Faza dan Queen yang membuatnya kelimpungan sepanjang malam. Sampai detik ini, ketika dia harus datang pagi-pagi untuk mengembalikan flashdisk Louis, rekaman memori semalam masih saja berputar di kepala tiada henti. Pengusik hebat.
Di dalam lift, Saron tertawa geli mengingat selera Faza yang begitu rendah. Sesaat kemudian perasaan itu tergantikan rasa iri dengki. Begitu membuncah hingga dia ingin mencabik-cabik Queen dan mengurungnya dalam sangkar berjeruji sinar laser. Ketika lift menginjak lantai dua puluh, Saron merasakan basah ketika teringat sentuhan dan tatapan mata pria itu.
Dia membayangkan kehadiran Faza dengan bentuk tubuhnya yang sempurna, tanpa terbalut kain barang sejengkal. Saron memejamkan mata, membiarkan khayalan memeluknya erat. Dia merasakan sentuhan Faza di pinggangnya, menarik tubuhnya hingga hidung Saron mencium aroma musk yang melenakan. Wewangian teh yang khas dari produk Bvlgari Puor Homme. Imajinasi yang begitu nyata.
"Wait." Saron mengendus-endus layaknya anjing yang menemukan tulang terkubur berkubik-kubik tanah. "Apa ada yang salah dengan hidungku?" Dia melakukannya lagi. " Kenapa aroma parfum ini begitu nyata?"
Saron mencari asal bau. Dia bergerak dengan mata yang masih memejam. Imajinasi yang aneh, pikirnya. Semakin lama, semakin nyata. Serasa tak percaya dengan fungsi indra penciuman, Saron membuka mata. Saraon heran. Sejak kapan ada dinding lift berubah hitam? Selama yang dia tahu, ruang sempit yang suka naik-turun itu berdinding silver. Pandangannya terhalau atau memang ada sesuatu di depan. Saron melenggak.
"Astaga!" Saron terperanjat saat melihat Faza berdiri dalam jarak yang mengerikan. Sejak kapan pria itu masuk? Bagaimana Saron bisa tidak mengetahuinya? Ah, dia mungkin akan pensiun berkhayal setelah ini. Memalukan!
Tubuh Saron seakan-akan melekat pada dinding. Dia tidak bisa bergerak. Bahkan hanya untuk mengubah ekspresi. Mata Saron melotot seperti melihat hantu, sementara mulutnya sibuk menelan ludah akibat fragmen-fragmen sialan itu.
"Kamu baik-baik saja?"
Ini pertama kalinya Saron mendengar suara Faza secara langsung. Dia tak menyangka suara bariton pria itu lebih mengesankan daripada yang terdengar lewat speaker. Walau pertemuan mereka memang bukan kali pertama. Namun, ini berbeda dari yang sebelumnya.
Sebagai seorang CEO yang sibuk dengan berbagai macam urusan kantor, menyapa seorang cleaning service merupakan hal yang tak mungkin. Jangankan berkata 'hai', melirik pun tidak. Saron seperti debu yang diabaikan. Sehingga didapat kesimpulan, bahwa Faza sama dengan pria-pria kaya lain. Manusia yang hanya memandang orang-orang berstatus setara.
"Apa kamu salah satu karyawan Hayes Group?"
Saron menunduk. Sial! Dia lupa mengenakan seragam. Tunggu! Jam kantor belum mulai, kenapa Faza berada di sini? Apa mungkin dia belum pulang semalam? Apa ada ronde kedua, ketiga, atau bahkan … oh, Tuhan! Dia pria m***m yang mengerikan. Saron bergidik memikirkannya.
"Kenapa kamu diam? Aku bukan hantu atau singa yang akan memangsamu. Jadi, jawab aku! Apa kamu karyawan Hayes?" Faza berputar arah.
Jantung Saron berdegup kencang saat pria itu mendekat perlahan. Tatapan mata yang dia terima bagaikan anugerah atau malah malapetaka. Setiap langkah seperti tombak yang menusuk organ inti dalam d**a Saron. Darah bercucuran. Napas seakan-akan hendak terlepas ketika Faza telah berdiri tepat di depan.
Seharusnya dia menjawab, lalu lari tunggang langgang meninggalkan kamar panas itu. Sialnya, pikiran Saron malah berkawan dengan imajinasi. Dia menyatukan apa yang terlihat semalam dengan sosok di depannya. Lengan kekar, sixpack di perut, dan sesuatu yang tersembunyi di balik celana pria itu. Tubuh Saron menggelenyar. Keringat dingin meluncur dari pori-pori secara kurang ajar.
Mulut Saron benar-benar tertutup rapat. Jantungnya serasa dihentak ketika tangan Faza mendekat, mengarah ke dadanya.
"Jangan menyentuhku!" sentak Saron dengan tatapan jijik.
Denting lift terdengar. Pintu bergeser kemudian. Saron memaksa kakinya bergerak maju dengan langkah panjang. "Dasar pria m***m," gumam Saron sesaat sebelum meninggalkan lift.
Saron berlari secepat mungkin menuju markas cleaning service. Dia tutup pintu dan berdiri di sana hingga beberapa saat dengan napas tersengal-sengal. Pagi yang buruk.
Di tengah kesunyian ruang itu, Saron menjatuhkan diri di lantai, mengadari betapa menyedihkan dirinya. Di usia yang telah menginjak seperempat abad, Saron masih hidup dalam kesendirian. Di saat orang-orang berkencan dengan pasangan mereka, mencurahkan isi hati dengan bahasa cinta, Saron malah duduk manis di depan komputer dengan secangkir kopi dan rangkaian panjang bahasa pemrograman.
Sesekali dia melakukan obrolan daring dengan rekan seprofesi. Tempat percakapan receh nyaris tak pernah terjadi. Selain misi, mereka juga membahas software-software baru. Di hari-hari tertentu, dia juga menghadiri pertemuan rahasia dalam ruang virtual khusus. Ketika ini terjadi, masa luang Saron otomatis lenyap. Dia bekerja dua puluh empat jam hingga misi mencapai kesuksesan. Dan Saron tak pernah menyesali semua aktivitas itu.
Saron sangat mencintai profesinya sebagai hacker. Menurut Saron, profesi itu bukan agar dirinya terlihat keren atau untuk melakukan hal-hal iseng yang merugikan orang lain. Dia menjadi hacker sebab ingin melindungi kepentingan khalayak. Visinya pun sejalan dengan Ailux. Oleh sebab itu, Saron mengabdi sepenuhnya terhadap organisasi dengan mengesampingkan urusan pribadi.
***
Chapter pertama yang ... ouch, memalukan!
Bagaimana jika itu terjadi padamu?