Hanya satu pintaku pada Tuhan sebelum tidur. Kau dan bahagiaku. Gerhana menyugar rambutnya. Ia menatap rumah mungil di hadapannya dengan begitu lama. Terik panas sang surya hari ini membuat bintik-bintik keringat muncul di dahinya. Tapi hal itu tidak menjadi alasan dirinya untuk pergi mundur maupun pergi melaju. Gerhana tetap bergeming di tempatnya. Tepat di depan pagar mungil rumah Bulan. Baru saja Gerhana akan melangkah, sosok Bulan keluar. Laki-laki itu bergegas menyembunyikan diri, merunduk di depan pagar mungil yang nyaris tak sanggup menyembunyikan sosoknya. "Lang? Hallo? Eh, masih nggak kedengaran? Ini gue udah keluar rumah!" Bulan geregetan sendiri. Sinyalnya sedang kolot! Bulan bahkan harus keluar rumah dulu untuk memperbaikinya. "Udah. Lo di mana?" "Di rumah." Bulan melirik

