Ketika suara hati berbisik, dengarlah. Lirihnya menyirat kepedulian. Menyentil batin menyentak logika. Tidak. Sang hati tidak pernah mengkhianati asa. Namun, ego selalu menang. Hati meragu, tapi logika tak kunjung meronta. Pada akhirnya, hati menghancurkan hati yang lain...
***
Biru menyandarkan sepeda bututnya pada batang pohon besar di pelataran parkir. Tidak ada seorang pun di kampus ini yang membawa sepeda seperti dirinya. Semua lebih memilih menggunakan mobil atau motor yang tidak menguras tenaga, ketimbang harus mengayuh sepeda seperti Biru.
Kampus ini termasuk kampus bergengsi. Wajar kalau para mahasiswanya berpenampilan rapi dan menarik. Meskipun tidak sedikit yang tampil layaknya berandalan kampus, tapi mereka tajir abis! Tidak seperti Biru. Bahkan kalau boleh dibilang, Biru merasa dialah yang tidak wajar berada di sini.
Cekikikan beberapa mahasiswi yang berlalu lalang melewatinya membuat Biru mengernyit. Pasalnya, gadis-gadis itu menertawakan Biru! Terlihat dari tatapan mereka yang membuat Biru menunduk dalam karenanya.
"Yang kayak begitu mau deketin Kak Bulan? Ya ampun, cleaning service kampus juga kayaknya lebih oke."
"Gue juga nggak percaya! Pikir aja deh, masa Kak Bulan mau sama dia? Yah, meskipun bukan pacaran, tapi kedekatan mereka akhir-akhir ini kayak orang pacaran tahu nggak?"
"Kayaknya Kak Bulan dekat sama dia nggak gratis deh..."
Pernyataan itu kontan membuat Biru yang sejak tadi berpura-pura tidak mendengarnya pun, tertegun. Tubuh menjulang itu terlihat menegang tanpa gadis-gadis itu sadari.
"Yah pikir aja. Kak Bulan yang sempurna begitu, dikejar-kejar Kak Nico yang ganteng abis dan sahabatan sama Langit Angkasa lagi! Masa mau dekat sama cowok semacam Biru?! Pastilah Kak Bulan punya alasan kuat..."
Biru tidak lagi mendengarkannya. Laki-laki itu pergi berlalu tanpa disadari gadis-gadis yang masih asyik bergosip di depan mobil milik salah satunya.
Dengan d**a yang terasa nyeri, Biru melangkah panjang seraya menunduk dalam. Ia bahkan tidak peduli dengan orang-orang yang tidak sengaja tersenggol oleh tubuh besarnya. Sampai akhirnya tubuh mungil itu menghalangi langkahnya.
Bulan hadir dengan senyum manis di hadapannya.
"Buru-buru banget, lo mau ngapain?" Pertanyaan basi. Bulan jelas tahu, pastilah Biru buru-buru mungkin karena ia telah terlambat ke kelasnya? Tapi tidak. Ternyata kilat marah Biru padanya membuat Bulan sadar, bukan jadwal yang membuat Biru terburu-buru.
"Minggir."
Bulan tertegun. Biru menukas padanya! Bibir laki-laki itu bahkan menipis saat mengucapkannya.
Bulan menyingkir. Tiba-tiba saja ia merasa takut. Tatapan Biru begitu tajam seperti akan melahapnya hidup-hidup! Entah apa yang dibuat laki-laki itu hingga Bulan minggir tanpa berpikir dua kali. Namun, Bulan tidak menyerah. Ia penasaran.
Begitu Biru ingin berlalu melewatinya, Bulan menarik jaket hitam lusuh laki-laki itu dengan tenaganya yang tidak seberapa. Pada akhirnya, Bulan sendiri yang terdorong ke arah Biru dan wajahnya membentur cukup keras punggung tegap laki-laki itu.
Bulan meringis seraya mengusap hidungnya. Ia mengintip Biru dari bulu matanya. Begitu mendapati ekspresi Biru tidak lagi menakutkan, Bulan menatapnya kesal, "Lo tuh kenapa sih? Pagi-pagi malah sinis... ish!"
Biru lantas menampilkan raut kecemasannya. Ia menunduk, menyejajarkan wajahnya pada Bulan. "Kak Bulan nggak apa-apa? Maaf ya, Biru tadi lagi bad mood. Maaf Kak Bulan, Biru salah."
"Bulan nggak apa-apa? Maaf ya Bulan, Bintang lagi nggak mood nih. Maafin Bintang. Bintang salah."
Sialan!
Lagi-lagi bayangan Bintang terlintas di benaknya. Biru begitu persis dengan Bintangnya! Hal itu tentu saja membuat Bulan tersenyum, tidak memperpanjang masalah keduanya beberapa saat lalu. Meskipun sebenarnya Bulan ingin sekali mengerjai Biru dengan menghukum laki-laki itu.
Melihat senyuman Bulan, Biru tersenyum lega. "Sekali lagi maaf ya, Biru benar-benar nggak sengaja."
Bulan mau tidak mau tertawa kecil. "Nggak apa-apa kali. Ini cuma hidung kok, asal jangan hati gue aja."
Dan Biru tertegun.
WTF?! Apakah barusan ia telah menggoda laki-laki ini? s**t! Bulan bahkan tidak mengerti mengapa ia bisa-bisanya memancing Biru dalam suasana "baper" yang teramat dihindarinya. Dan kini, laki-laki itu tertegun pasti karena ucapannya! Dasar Bulan bodoh!
Kemudian Biru tersenyum lembut. "Nggak ada yang mau melukai Kak Bulan. Berniat sedikit pun nggak. Biru yakin, menyakiti Kak Bulan itu adalah keinginan terakhir mereka. Kesalahan terbesar bagi mereka. Jadi Kak Bulan tenang aja yah, pasti Kak Bulan bakal dapat laki-laki yang baik."
Yass! Biru salah paham! Setidaknya, ia tidak perlu membahas ucapan absurdnya tadi. Namun, tidak dapat dipungkiri. Ucapan Biru ternyata menyentuh hatinya. Menciptakan sedikit celah, membiarkan cahaya itu masuk ke dalam dan menghangatkannya. Bulan bahkan tidak sadar dirinya tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila.
Tuk.
Telunjuk Biru mengetuk dahi Bulan dengan lembut. "Kak Bulan nggak apa-apa?"
Dan Bulan hanya bisa menyengir lantas menarik laki-laki itu berjalan ke halaman kampus. "Kelas lo jam 10 kan?"
***
Seharusnya saat ini.
Gadis itu tengah asyik bercerita tanpa menyadari tatapan setajam belati tengah menembus tubuh mungilnya. Tubuh rapuh itu tidak akan bisa menghindarinya saat ini. Dalam sekejap, ia bisa dengan mudah melukainya.
Kemudian gadis itu tertawa dan tanpa ragu memeluk kepala Biru lantas mengacak rambut tebal laki-laki itu dengan gemas.
Dan semua terjadi begitu saja. Iblis dalam dirinya telah pamit berlalu tanpa izin. Sedangkan kini, malaikatnya tersenyum bangga karena menjadi yang berkuasa. Menikmati tawa lembut yang mengalun, menggelitik pendengarannya.
***
Kenapa Biru harus marah?
Biru mengernyit saat insiden itu berputar. Sejak pagi tadi, ia selalu terbayang wajah ketakutan Bulan saat menatapnya. Tidak begitu kentara memang, tapi hatinya tercubit karena sikapnya pada gadis itu sendiri.
Biru kesal! Mungkinkah Bulan mendekatinya memang karena ada maksud tersendiri? Memangnya untuk apa? Bagaimana jika semua omongan gadis-gadis penggosip itu benar? Lantas, ia bisa apa? Marah dan menjauhi Bulan setelah tahu kenyataannya?
Biru mengacak rambut tebalnya gusar. Ia menatap bayangannya dalam pantulan cermin dengan tatapan kosong.
Tidak. Biru pasti tidak suka! Biru lebih suka menjadi orang bodoh yang bertindak seolah semua baik-baik saja. Berpura-pura tidak tahu agar Bulan tetap di sisinya. Entahlah, Biru sudah terbiasa dengan kehadiran Bulan. Dan Biru tidak suka merasa kehilangan apalagi penyesalan! Bulan, biarpun begitu, telah mengubah hidup Biru. Biru tidak lagi merasa kesepian. Dan kehadiran Bulan telah meminimalisir "tindasan" orang-orang terhadapnya. Yaah, meskipun masih banyak yang suka membicarakannya di belakang.
Biru keluar dari kamarnya. Langkahnya menuruni tangga tanpa suara. Di tatapnya dengan teduh wanita yang tengah duduk di kursi rodanya. Wanita yang selama ini menjadi alasannya. Wanita yang telah membesarkannya.
"Bunda..."
Biru bersimpuh di hadapan wanita itu. Ia letakkan kepalanya dengan lembut di atas pangkuan bundanya, dengan harapan besar akan merasakan usapan lembut seorang ibu untuk anaknya.
Tapi tidak ada. Wanita itu hanya menatap kosong pemandangan luar jendela, tanpa peduli kehadirannya. Dan Biru menangis dalam diam. Air matanya membasahi rok panjang wanita yang disayanginya.
Laki-laki itu lakukan semua ini semata untuk sang bunda...
***
"Lo suka nonton nggak?" tanya Bulan membuat Biru mengernyit.
Laki-laki itu mengangguk dan mengulum senyum, "Biru suka nonton Doraemon kalau hari minggu. Biru juga suka nonton Spongebob kalau pagi-pagi. Apa lagi kalau hari minggu suka ada Power Ranger juga!"
Bulan langsung melengos pergi mendengarnya. Biru yang kebingungan mendapati respon gadis itu, hanya menggaruk kepalanya seraya meringis kecil.
"Kok lo nggak ngejar gue sih?!" Bulan kembali menghampirinya seraya berkacak pinggang, menatap Biru kesal sampai ke ubun-ubun yang terasa mengepul! "Udah bloon, nggak peka, i***t, apa lagi yang kurang dari lo? Sempurna banget memang."
Ucapan sarkasme Bulan justru membuat Biru tertawa kecil. Entahlah, ia suka ketika Bulan mengumpat padanya, mengata-ngatainya, bahkan memukulnya ringan dengan kepalan mungil gadis itu. Katakanlah Biru gila. Tapi Bulan sepertinya memang telah berpengaruh banyak bagi Biru.
"Kok malah ketawa sih?!" kesal Bulan dengan kedua lengan terlipat di atas perut.
Biru hanya menggeleng samar, namun kuluman kecil berupa senyum masih tercipta di wajahnya. "Jadi, yang dimaksud Kak Bulan dengan "nonton" itu apa? Sepertinya Biru tadi salah ngomong ya?"
Bulan memutar kedua bola matanya. "Jelas aja salah! Nonton tv gue juga sering. Setiap hari malah..."
Biru menggeleng kecil. "Kalau Biru nggak bisa setiap hari. Biru lebih suka baca buku dan komik. Lagi pula, bayar listriknya mahal kalau sering menyetel tv."
"Siapa?"
"Biru..."
"Siapa yang nanya sih?!" Bulan mendengus. "Lo suka nonton bioskop gitu nggak? Kalau suka, gue traktir deh nih. Tapi nonton film horor!"
Biru langsung melotot, tidak kalah seram dari genre yang Bulan sebutkan. "Nggak ah! Biru..."
"Kenapa? Takut?" Bulan terkikik geli. Sudah ia duga. Biru ini pasti sama saja seperti Bintangnya!
Meskipun agak malu mengakui, tapi Biru tetap mengangguk. "Biru takut terbayang-bayang di rumah, Kak Bulan."
Bulan mengerucutkan bibirnya. "Tapi gue lagi bete banget. Ayolah, lo boleh tutup mata kalau setannya nongol. Peluk-peluk gue juga boleh..." goda Bulan seraya menaik-turunkan kedua alisnya.
Bulan berharap Biru akan malu dengan wajah merah padam. Tapi tidak! Laki-laki itu justru tersenyum manis lantas mengangguk dengan semangat. Bahkan Biru dengan antusias menggandeng Bulan, menariknya pergi saat dirasa Bulan tidak kunjung bergerak.
Semoga Biru tidak memeluk-meluknya!
***
"Bulan, Biru mau pipis!" lirih Biru saat keduanya telah sampai di mall terdekat kampusnya.
Bulan mendengus. Ia benar-benar seperti membawa Bintang versi bocah raksasa! Bayangkan saja, saat mereka tengah menaiki shuttle bus mall tersebut, Biru tak henti-hentinya bertanya pada Bulan, "Kok nggak ada yang jualan air ya?", "Biru pengin kacang deh.", "Kak Bulan kegerahan nggak?".
Astaga!
"Kak Bulan kok bengong?" tanya Biru dengan kening mengernyit.
Bulan mengerjap saat telunjuk Biru menekan-nekan lembut keningnya. Gadis itu memutar kedua bola matanya. Biru ini! Maunya apa coba? Terkadang memanggil Bulan dengan embel-embel "kakak", terkadang hanya sebut nama saja! Tapi kalau boleh diakui, Bulan lebih suka Biru menyebutnya sebagai "Bulan" saja dan tanpa embel-embel "Kakak". Entahlah, biar lebih akrab mungkin?
Dan sejak kapan Bulan peduli kedekatan mereka?
"Yaudah sana! Jangan lama-lama tapi, malas gue menunggunya," ketus Bulan yang dibalas Biru dengan senyuman. Laki-laki itu berlalu meninggalkan Bulan yang menghela napasnya.
Bagaimana sih rasanya ditinggal sendirian di tempat ramai begini? Tapi Bulan juga tidak bisa menahan Biru. Kalau laki-laki itu tiba-tiba mengompol di bioskop bagaimana?!
Berharap laki-laki seperti Biru "peka", sama seperti menunggu Joker mau berteman dengan Batman! Walaupun tidak mustahil, namun kemungkinannya sangat tipis!
Bulan berpura-pura sibuk. Sepasang matanya menyisir beberapa toko baju perempuan yang menarik. Gadis itu terpaku pada dress selutut berwarna kuning lembut yang terpasang di tubuh patung dengan sempurna. Tidak. Bukan Bulan yang menyukainya. Tapi Bintangnya. Bintang sangat suka baju-baju berwarna cerah. Dan seandainya ia masih bisa membelikan hadiah tersebut kepada Bintangnya...
Tidak sadar dirinya melamun, tiba-tiba Bulan merasakan seseorang menubruk bahunya dengan keras hingga ia tersungkur. Bulan meringis. Lututnya yang membentur lantai cukup keras membuat perih perlahan terasa.
"Sori, sori. Gue nggak sengaja."
Baru saja Bulan ingin mengumpat pada orang itu, sebuah tangan besar terulur ke arahnya. Bulan mendongak. Dan gadis itu tertegun.
Laki-laki itu tersenyum manis ke arahnya. Sangat manis! Sepasang mata kelabu yang begitu bening seolah memikat siapa pun yang berani beradu. Sorot tajam sekaligus teduh yang dapat Bulan rasakan saat pandangannya mendalam. Hidung mancung. Bulu mata lentik. Alis tebal yang terlukis sempurna. Bibir tipis. Gigi putih bersih yang berbaris rapi. Wangi maskulin. Dan yang pasti, gayanya cool abis!
Bulan nyaris lupa mengambil napas! Gadis itu diam-diam menarik oksigen sebanyak-banyaknya lantas membatin, "Langit harus tahu. Masih ada yang lebih cakep dari dia!".
Tik.
Jentikan jemari panjang itu membuat Bulan mengerjap-ngerjap. Dilihatnya laki-laki itu tersenyum geli. "Lo nggak apa-apa kan? Sori banget, gue tadi buru-buru."
Bulan manggut-manggut seraya menerima uluran tangannya. Ia bahkan masih dalam keadaan setengah sadar ketika sudah berdiri. "I-iya. Santai aja," lirih Bulan. Bahkan sangat lirih sampai gadis itu ragu jika laki-laki ini mendengarnya.
Batinnya merutuk, ia benci ketika gugup di waktu yang tidak tepat!
Laki-laki itu tersenyum. "Oke, sori. Hmm, gue duluan." Ditepuknya ringan bahu Bulan dengan bersahabat sebelum akhirnya ia berlalu.
Sumpah! Bulan merasakan wajahnya matang saat ini! Untung saja laki-laki itu sudah pergi, jadi tidak akan mungkin melihat wajah memalukan Bulan saat ini! Astaga. Ia benar-benar seperti Bintang saat pertama kali bercerita tentang Langit!
Bulan hanya bisa memandangi punggung tegap yang semakin mengecil dan menghilang dari pandangannya tersebut. Bulan mengembuskan napasnya. Yah, mungkin hanya "iklan" di hidupnya. Setelah ini, ia tidak akan pernah lagi bertemu dengan laki-laki itu. Laki-laki yang "jujur" ia impikan seperti Bintangnya.
"Kak Bulan?"
Bulan menoleh, mendapati Biru yang meringis kecil. "Maaf ya lama. Biru tadi nyasar. Mall ini gede banget soalnya."
Bulan menggeleng kecil dan tersenyum. "Nggak masalah."
Seandainya ia tidak dipertemukan dengan laki-laki tadi, mungkin yang Bulan akan mencaci maki Biru sepuasnya sampai batinnya terasa lega. Ya kali, polos banget jadi laki-laki! Kodratnya kan sebagai pemimpin! Harus tahu semua gitu. Seperti Langit ketika mengajak Bintangnya jalan. Masa mesti Bulan yang mengarahkan? Bulan kan bukan kompas!
Tapi ternyata, pertemuan singkatnya dengan laki-laki tampan tadi cukup membuat perasaannya membaik. Sangat baik malah! Ia bahkan lupa dengan kamus tajam yang telah dipelajari lidahnya untuk memaki Biru.
"Yaudah yuk. Bulan mau nonton apa?" tanya Biru.
Gadis itu bahkan tidak sadar, Biru menautkan jemari keduanya. Menggandeng Bulan dengan hangat dan menghela lembut gadis itu ke arah yang dituju. Bulan juga tidak sadar, Biru lagi-lagi memanggilnya dengan menyebut namanya saja. Ah, masa bodoh! Bayangan si ganteng tadi belum juga punah dari pikirannya!
"Apa aja yang horor!"
Biru mengangguk dengan antusias. Laki-laki itu tersenyum lebar pada Bulannya. "Oke!"
Tunggu... Sepertinya ia familiar dengan senyuman itu?
***
Gadis itu tengah sendiri! Ia sudah akan bertindak. Sesuai dengan rencana yang telah tersusun apik tanpa cela. Rencana itu bahkan telah hadir setelah aksi pertamanya gagal. Dan ia tidak lagi sudi dikalahkan oleh sesuatu yang asing baginya. Bahkan tidak ia ketahui pasti bentuk dan artinya.
Diikutinya gadis tersebut secara sembunyi/sembunyi. Tidak ada yang menyadari kehadirannya. Semua orang sibuk bersenda gurau, bercakap-cakap, dan sibuk melihat-lihat. Tidak ada yang sadar dirinya membawa sesuatu yang berbahaya dan berrisiko bagi dirinya sendiri.
Ia tidak peduli! Ini sudah nyaris melewati ambang batas sabarnya. Gadis ini tanpa sadar telah mempermainkannya! Ia tidak peduli meskipun gadis ini terluka di tempat umum. Toh, ia juga akan lolos dengan mudah. Gadis ini adalah pekerjaan termudahnya sekaligus menggiurkan.
Namun, tidak. Tidak sampai pada rencananya, tiba-tiba ia berhenti untuk hal yang tidak ia ketahui. Ia tidak dapat menahan dirinya. Sampai ia menampakkan diri pada gadis itu...
Gadis itu tanpa sadar telah membuatnya kalah. Mengalah pada arus dan bersiap dikalahkan oleh senjatanya sendiri.