04 | Bintang Baru

2519 Words
Di kursi itu, gadis dengan rambut pendek berwarna hitam, tersenyum menakutkan. Seringai itu cukup membuat siapa pun mejadi waspada terhadapnya, tapi tidak dengan laki-laki di hadapannya. "Sejauh mana usaha lo, hmm?" Laki-laki itu menatapnya datar. Ia sudah sering menjalankan tugas yang lebih berbahaya dan berrisiko dari pada ini. Lantas, apa yang gadis ini ragukan padanya? "Lo tenang aja. Pada akhirnya, lo sendiri yang akan melihat dia hancur." Gadis itu tertawa kecil. Bibirnya yang dipoles lipstick merah menyala, membuat sosoknya tampak menggoda sekaligus berbahaya. "Gue nggak punya banyak waktu, darling. Selesaikan secepatnya, lantas gue akan mendapatkan apa yang gue mau dan lo bisa pergi membawa hadiahnya." Gadis ini tidak pantas meremehkannya. Ia terbiasa bekerja untuk para pejabat tinggi yang ingin menyingkirkan musuh mereka. Ia terbiasa bermain "halus" sampai tidak ada satu orang pun yang mengetahui maupun berani buka mulut jika mereka tidak memikirkan risikonya. Terbunuh oleh s*****a mereka sendiri. Itulah sebabnya mengapa sampai detik ini, ia masih bisa merasakan udara bebas tanpa merasa takut diincar. Lalu, gadis ini—dengan harta orang tuanya yang berlimpah tentunya—berani memanggilnya untuk bekerja sama. Siapa yang tidak tergiur dengan pekerjaan sepele ini? Belum lagi, dalam kesepakatan, ia diupahi hadiah yang cukup banyak. Yah, bisa dibilang tidak sebanding dengan pekerjaannya yang begitu mudah untuknya. Hanya saja, ia perlu "pemanasan" sebelum memulai permainan. Namun, ternyata gadis ini begitu tidak sabar untuk membuat target mereka hancur. Mau tidak mau, ia penasaran juga. Apa yang menyebabkan gadis ini menanam kebencian yang begitu besar hingga ia tega untuk menghancurkan targetnya? Ah! Apa pedulinya? Sebelumnya laki-laki itu tidak pernah peduli dan tetap melakukan tugasnya tanpa berpikir ulang apalagi mau dipusingkan oleh alasan rumit sang pendendam. Tapi itu karena ia langsung "mematikan" targetnya. Dan kali ini berbeda. Ia terlibat. "Nggak janji." Enaknya bekerja sama dengan gadis ingusan seperti ini adalah, ia bisa balik mengancam sesuka hati. *** Bulan menopang dagunya, menikmati suara Biru yang ternyata cukup merdu didengar. Berbeda dengan Langit, suara Biru lebih berat, membuat siapa pun yang mendengar—tanpa melihat sosok aslinya tentu saja—pasti akan mengira bahwa laki-laki tampan dan seksilah pemilik suara ini. Biru masih tidak menyadari kehadiran Bulan di belakangnya. Gadis itu sengaja masuk ke ruangan ini dalam diam agar Biru tetap melanjutkan permainannya. Petikan gitar mengakhiri lagu tersebut. Bulan bertepuk tangan kecil yang membuat Biru terkejut dan nyaris terjungkal dari tempatnya. "Kak Bulan?" "Lo suka banget di ruangan ini, ya?" tanya Bulan seraya menyisirkan pandangannya. "Kan lumayan berdebu..." Biru tersenyum kecil. "Cuma di sini yang paling aman, Kak. Nggak ada yang tahu Biru suka ke sini, dan nggak ada yang berniat buat ke sini jadi Biru nggak digangguin." Bibir Bulan membentuk lingkaran kecil seraya manggut-manggut. Tercipta keheningan sejenak yang membuat Bulan diam-diam menelan ludahnya. Kenapa tiba-tiba kehilangan topik gini? Batinnya menggerutu. Memangnya apa tujuannya kemari? Tidak ada. Yang jelas, Bulan masuk ke ruangan ini karena tidak sengaja melewati dan mendengar suara Biru. Bulan melirik arloji mungil di tangannya. Mencoba mencari alasan agar bisa keluar dari suasana asing tersebut. "Hmm, gue balik deh kalau begitu..." Bulan berlalu, meninggalkan Biru yang tak luput memandangi punggungnya. Gadis itu melangkah tertatih, begitu hati-hati. Tidak ingin mendapati pergelangan di kakinya semakin menyakitkan. Tunggu! Biru bahkan baru menyadari, ujung celana kiri gadis itu tergulung agak tinggi hingga menampilkan perban yang melilitnya. Baru saja Bulan ingin membuka pintu ruangan, ia merasakan sebuah tangan menahan kakinya dengan lembut. Bulan menahan napas saat mendapati Biru tengah berlutut di bawahnya. Perlahan, laki-laki itu melepas tali lantas membuka sepatu Bulan agar bisa melihat dengan lebih jelas. Dalam hati, Bulan mengumpat kecil. Semoga ia tidak bau kaki! Disentuhnya perban itu dengan lembut. "Perbannya basah. Kok nggak diganti?" tanya Biru dengan dahi berkerut samar. Bahkan Bulan bisa merasakan nada perhatian di balik pertanyaan tersebut. "Malas. Lagian gue nggak ada gantinya. Nggak nyimpan perban," jawab Bulan sekenanya. Biru tampak termenung memandangi perban di kaki Bulan, membuat gadis itu mengernyit. "Lo kenapa?" "Ini yang jatuh kemarin ya, Kak?" Laki-laki itu mendongak menatap Bulan. "Maaf kemarin aku nggak bisa menolong Kakak." "Kenapa juga lo harus menolong gue?" tanya Bulan, masih bingung. Biru menghela napasnya. Dipakaikan kembali sepatu Bulan dengan begitu hati-hati seolah dengan kaki mungil itu mudah hancur dalam kuasanya. "Biru cuma mau membalas kebaikan Kak Bulan sama Biru kemarin. Selama ini, nggak ada yang sepeduli itu sama Biru, sampai-sampai Randy nggak berani ngebully Biru kemarin di kelas." Mau tidak mau, Bulan sedikit terenyuh mendengarnya. Biru mengucapkan hal itu dengan nada santai, namun gestur tubuhnya memperlihatkan beban yang nyaris tidak kuat ditampungnya. Biru bangkit dari posisinya, membuat tubuh menjulang laki-laki itu tampak menelan tubuh mungil Bulan di hadapannya. Laki-laki itu tersenyum. "Lain kali, jangan main hape kalau lagi di tangga ya, Kak." Ucapan itu tentu saja membuat sebelah alis Bulan terangkat. "Main hape?" Ah, Bulan ingat! Nico juga kemarin mengatakan hal yang sama. Mau tidak mau, bibir gadis itu jadi gatal untuk bertanya, "Kenapa orang-orang mengira gue main hape?" tanyanya. Biru menelengkan kepalanya. "Hmm? Biru dengar-dengar sih begitu. Katanya di tangan Kak Bulan masih megang hape..." Biru menghentikan ucapannya saat Bulan memandanginya dengan tatapan kosong. "Kakak nggak apa-apa?" Bulan langsung mengerjap-ngerjap begitu jemari Biru menyentuh bahunya lembut. "Ah, iya. Gue nggak apa-apa. Cuma..." Bulan menggigit bibir bawahnya. "Gue merasa janggal. Kemarin gue merasa didorong..." lirih Bulan membuat Biru tertegun. "Didorong?!" Laki-laki itu memekik tertahankan. "Kakak udah laporin ke Kak Nico? Siapa tahu, dia dan senior lain bisa mencari tahu pelakunya?" Iya juga. Kenapa ia malah melapor pada Biru sementara kemarin ia berusaha menyembunyikannya dari Nico? Astaga. Biru tidak akan bisa berbuat apa-apa! Percuma ia mengatakan hal yang sebenarnya pada laki-laki ini. Namun, alih-alih Bulan merutuki dirinya sendiri, gadis itu justru terkekeh geli karena pekikan Biru. "Gue malas memperpanjang masalah ini. Mungkin ada yang nggak sengaja saat mau turun tangga juga, jadi gue terdorong..." "Tapi nggak bisa gitu! Kak Bulan jadi sakit," kukuh Biru yang entah mengapa jadi menggebu-gebu. Kemudian laki-laki itu meringis seraya menggaruk kepalanya. "Ng, maaf Kak. Biru hanya khawatir." Bulan menautkan sepasang alisnya. "Kenapa lo khawatir?" Tersirat nada menggoda di balik pertanyaan itu yang Biru tidak sadari. Biru mengangkat sepasang bahunya. "Mungkin karena Kak Bulan baik sama Biru?" Ya. Selama ini Biru belum pernah dipedulikan oleh orang lain terkecuali sang bunda tentunya. Dan menurutnya, walaupun mungkin menurut Bulan kemarin adalah tindakan biasa, namun bagi Biru hal itu merupakan sesuatu yang luar biasa untuknya. Bagaimana mungkin gadis yang nyaris sempurna ini peduli padanya? Meskipun bukan berupa pertolongan fisik yang secara terang-terangan melindungi, Biru terenyuh oleh tindakan Bulan yang menghampiri Randy dengan santainya hanya untuk "menolong" Biru. Tiba-tiba saja, sebuah ide terlintas di benak Bulan. Suatu kebetulan! Bulan akan memanfaatkan momen ini untuk mengutarakannya. "Lo mau membalas kebaikan gue maksudnya?" Biru manggut-manggut dengan senyum lebarnya. Kedua mata itu berbinar menatap Bulan. "Iya Kak!" "Hmm," gumam Bulan terlihat berpikir. "Kalau gitu gue boleh minta satu hal dong, ya?" Biru mengangguk lagi dengan antusias. Kali ini dengan menampilkan deretan giginya yang rapi dan putih bersih. Bulan sempat berpikir, gigi-gigi si Biru ini juga tidak kalah kuning dari sepatunya. Tapi ternyata dugaannya salah. "Kakak mau minta apa? Semampu Biru tapi ya, Kak." Bulan tersenyum miring. "Nggak berat. Cuma minta lo..." *** Biru tertegun menatap Bulan. Bagaimana mungkin gadis ini meminta dirinya untuk menjadi pacarnya?! Bulan memutar kedua matanya seraya mendengus kesal. "Jangan mikir aneh-aneh! Cuma berlaku seperti itu, tapi nggak perlu pakai label!" ucapnya, seolah ia bisa membaca benak laki-laki tersebut. Biru mengerjap-ngerjap. "Maksudnya?" Bulan menyeringai. "Lo harus bersikap seolah-olah lo ini cowok gue. Tapi, nggak dengan gue terhadap lo. Kita nggak perlu label, karena gue benci terikat." Bulan tersenyum. Apalagi sama lo! Tambah batinnya. Ya, semoga ia tidak salah. Hanya dengan begini, ia jadi tidak perlu menghampiri Biru setiap saat hanya karena ingin berdekatan dengannya. Ia tidak ingin orang-orang menganggap, Bulanlah yang mengejar Biru! Enak saja. Tidak sudi! Hmm, ralat. Belum sudi! Ia ingin semua orang melihat kalau Biru-lah yang mendekatinya. Karena dengan begitu, ia bisa kapan saja merasakan kehadiran Bintang kecilnya. Ya, dengan bantuan sosok laki-laki di hadapannya ini. Tentu saja. *** Nico mengernyit mendapati Biru di depan ruang kelasnya. "Ngapain lo?" Pertanyaan yang terdengar tak bersahabat itu tentu saja membuat Biru menunduk. Ia baru saja berhasil meminta izin ke toilet sebelum akhirnya keluar dari kelas dan malah tertegun di depan pintu. "Menunggu Kak Bulan." Nico terkesiap mendengarnya. Laki-laki itu bahkan sampai mengusap-usap daun telinganya, seolah terdapat kotoran yang menumpuk dan menghalangi pendengarannya. "Apa?!" pekiknya tertahankan. Biru menelan ludah saat pandangan Nico mengulitinya. Laki-laki itu memandangi Biru dari bawah hingga atas hanya untuk mencari kepastian. Orang kayak beginian mencari Bulan? Yang benar aja! Umpat batinnya. Ia memang sekelas dengan Bulan di mata kuliah pilihan yang jatuh pada hari ini. Ya, Nico memang baru sempat mengambil mata kuliah tersebut karena dulu ia masih ragu menentukan mana yang ingin diambilnya. Lalu, setelah melihat KRS Bulan, Nico tidak ragu lagi untuk menyamakan pilihannya dengan gadis itu. Pandangan Nico tiba-tiba tertuju pada tas mungil dalam pelukan Biru. Laki-laki itu mengangkat alisnya saat menyadari bahwa tas tersebut adalah milik Bulan. "Lo ngap—" "Eh, Co?" Bulan mengernyit. Sekali lagi ia memastikan pintu kelasnya telah tertutup rapat agar dosen tidak menyadari bahwa langkahnya tidak mengarah ke toilet. "Gue kira lo ke toilet..." Nico mengangguk samar. Ia bahkan tidak menyadari kedatangan Bulan. "Tadinya. Tapi, gue malah nemu dia di sini." Ia menggedikkan dagu ke arah Biru yang masih setia memandangi lantai di bawahnya. Bulan membulatkan bibirnya. "Oh, iya. Gue yang minta tolong dia buat jagain tas. Gue mau kabur. Suntuk di dalam." Bulan menyadari, Nico tidak mendengar penjelasannya. Tatapan laki-laki itu begitu tajam dan tidak luput sedetik pun dari sosok Biru yang tampak ketakutan. Namun, ternyata pikirannya salah. Nico mendengarkan penjelasannya. Buktinya, laki-laki itu kini melempar senyum manis padanya. "Lain kali minta tolong sama gue aja. Gue akan dengan senang hati diajak kabur bareng sama lo, Lan." Bulan terkekeh. Yah, setidaknya Nico berhenti menguliti Biru untuk beberapa saat. "Gue lihat lo tadi serius banget di kelas. Gue pikir lo menyukai materinya." Nico menepuk puncak kepala Bulan dengan lembut. "Kali ini gue izinin. Tapi kalau gue nemuin lo kabur lagi tanpa gue, bakal gue laporin ya?" Bulan memukul ringan lengan Nico dengan senyuman geli. Gadis itu mengangguk patuh dan memberi gerakan hormat meskipun Bulan sendiri tahu jika Nico tidak benar-benar serius dalam ucapannya. Jangankan melaporkan, Bulan pernah tidak masuk tanpa kabar saja, Nico dengan siaga berpura-pura baik membantu dosen untuk mengabsenkan kelas dan menghadiri gadis itu tanpa dicurigai sedikit pun oleh dosen. Ini memang bukan pertama kalinya ia mendapatkan kelas yang sama dengan Bulan. Nico sempat mengulang satu mata kuliah semester dua, yang membuatnya dipertemukan dengan Bulan. Bulan menghampiri Biru lantas mengambil alih tasnya. "Gue duluan ya, Co?" Nico tersadar dari lamunannya. Laki-laki itu mengangguk dan tersenyum manis pada Bulan. Namun, tatapan hangat itu kontan menajam saat beralih pada sosok Biru di sisi Bulannya. Biru yang tidak bosannya menunduk itu pun tahu, Nico, seniornya yang tepat pada hari ini, telah mengibarkan bendera perang untuknya. Nico melajukan langkahnya ke arah toilet begitu Bulan telah menjauh. Nico bahkan bisa melihat dengan jelas dari ujung lorong, Bulan tengah tertawa dan berjinjit seraya menepuk-nepuk kepala Biru layaknya seekor anak anjing yang menggemaskan untuk gadis itu. Seolah terdapat tangan jahil tak kasat mata yang mencubit hatinya tanpa izin. Nico benci si Biru cupu itu! Nico menghentikan langkahnya. Ia mengusap tengkuknya ketika bulu kuduknya terasa meremang. Nico merasakan itu. Sebuah tatapan tajam yang begitu runcing dan membara hingga sanggup menembus jantungnya. Tiba-tiba saja Nico merasakan dirinya seperti terancam. Nico menoleh dengan gusar, mencari siapa yang berani menatapnya dengan tajam dan sarat akan kebencian sampai ia sendiri dapat merasakannya. Namun, yang didapatinya hanyalah lorong yang sepi. Tidak ada seorang pun di sana kecuali dirinya. Bulan dan Biru pun telah menghilang... *** Biru menatap gadis di sampingnya dengan tatapan geli. Saat ini keduanya tengah berada di taman yang terletak tidak jauh dari lokasi kampusnya. Entah mengapa Bulan mengajak Biru ke sini, dan dengan mudahnya kepala Biru mengangguk menyetujuinya saat itu. Bulan yang saat ini tengah bersamanya, tidak seperti Bulan yang dikenalnya. Bulan dengan asyik mengulum es krimnya tanpa menyadari tatapan Biru yang tak luput memandangi wajahnya. "Ini es krim favorit..." Bulan menghentikan ucapannya. Ia tidak ingin Biru mengetahui Bintangnya. Tidak. Belum untuk saat ini. Jangan sampai Biru mengira kalau hanya karena Bintang, Biru diinginkan oleh Bulan. Bulan tidak ingin Biru menjauh. Tidak sebelum ia puas dengan kehadiran Bintang dalam sosok Biru. Tidak sebelum Biru merasa bahwa ia ingin selalu berada di samping Bulan tanpa ada sangkut paut dengan permintaan gadis itu kemarin. "Favorit siapa?" Biru menelengkan kepalanya. Dahi laki-laki itu mengernyit mendengar Bulan tidak kunjung melanjutkan ucapannya. "Favorit Bunda." Laki-laki itu tertegun. Ia tampak memikirkan sesuatu yang tidak Bulan sadari sebelum akhirnya Biru tersenyum. "Bulan manggil ibunya dengan sebutan Bunda juga, ya?" Ditatapnya gadis itu dengan pandangan menghangat. Bulan mengangguk dengan guratan halus di dahinya. "Kayaknya nggak pantes deh kalau orang kayak gue manggil mommy, momma, apalagi mother!" Bulan mendengus seraya memutar kedua bola matanya. "Pertanyaan lo aneh!" Biru tertawa geli. Ya, Bulan tetaplah Bulan. Gadis ini telah kembali menjadi Bulan yang jutek. Padahal, Biru cukup menikmati kebersamaan mereka beberapa menit lalu, di mana Bulan tampak seperti gadis polos penyuka es krim yang perlu dilindungi. Biru tidak sadar, tawa laki-laki itu membuat Bulan tersenyum memandanginya. "Gue lebih suka lihat lo tertawa dari pada menunduk terus menerus seolah dunia merendahkan lo, Bintang." Biru terkesiap. Ditatapnya Bulan yang tengah tersenyum manis padanya. Senyum yang tidak pernah Bulan sendiri tunjukkan pada siapa pun. Hanya pada bunda dan Bintangnya... Biru meneguk ludahnya, susah payah. Senyuman itu nyaris membuatnya lupa untuk menghirup oksigen. "Biru nggak—" "Sebenarnya, yang bikin mereka menindas lo bukan hanya karena penampilan lo, tapi karena sikap lo yang terkesan pasrah dan mengikuti permainan mereka." Bulan bangkit dari duduknya. Gadis itu berdiri di hadapan Biru yang masih terduduk. Ditepuknya pipi Biru dengan lembut. "Lo harus percaya diri. Lo harus berani menunjukkan diri lo di depan semua orang. Jangan malu. Kalau lo aja malu sama diri lo sendiri, gimana mereka bisa berhenti mempermalukan lo?" Coba katakan pada Bulan saat ini. Apa yang salah dalam dirinya?! Jangan tanya! Bulan sendiri saja sudah tidak percaya bahwa kalimat barusan diucapkan langsung olehnya pada Biru. PADA BIRU! Demi ribuan iblis yang ada dalam dirinya. Kemana perginya iblis-iblis itu hingga Bulan tidak sadar tengah membuat kalimat murahan yang bahkan Bulan sendiri tidak mengerti maksudnya. t***l memang! Sepertinya ia perlu obat pembersih mulut. Entahlah. Mengingat kejadian saat di kampus tadi, di saat tatapan Nico yang sangat tidak bersahabat itu menguliti Biru tanpa ampun sampai Biru sendiri tidak berani mendongak sedikit pun, membuat Bulan menaruh rasa kasihan padanya. Dan lagi, Bulan hanya ingin melindungi Bintang barunya seperti ia melindungi Bintang kecilnya. Hanya itu. Pikiran yang disibuki oleh penyesalannya sendiri, membuat Bulan lagi-lagi tidak menyadari bahaya tengah mengincarnya. Dengan sigap Biru merengkuh Bulan saat sebuah batu berukuran sedang, melayang tepat ke arah gadis itu. Benda yang tidak seberapa untuk melukai seseorang. Tapi dengan ketidaksiapan Bulan, mungkin batu itu akan melukai kepala Bulan dengan mulus. Dan keduanya pun tertegun. *** Tidak. Ia tidak akan berhenti. Hanya sampai di sini? Tentu saja ia akan merasa sangat bodoh bila tergiur oleh suara-suara lirih dalam hatinya. Ia menatap tajam seseorang itu. Seseorang yang tidak ia kenali tapi begitu menyerupai dirinya. Nyaris seperti sama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD