09 | Janji Untuk Purnama

2575 Words
Sepasang mata bundar itu perlahan terbuka. Bulan lantas mendapati Nico yang tengah tersenyum ke arahnya. "Syukurlah lo udah sadar. Gue cemas banget, udah dua kali lo begini." Nico mengusap dahi Bulan. "Biru buru-buru tadi. Dia nggak bisa lama-lama karena ada kelas." Dahi Bulan mengernyit mendengar penjelasan Nico. Biru? Ah, benar. Dia ingat kalau Biru yang membopongnya, sebelum ia hilang kesadaran sepenuhnya. Bulan dapat merasakan sepasang lengan Biru menguasai tubuhnya saat itu. Aroma Biru. Tapi tidak dengan suaranya... Suara itu mirip dengan seseorang yang bahkan tidak Bulan kenal. Bulan bingung sendiri sampai dahinya berkerut dalam. Memangnya, Biru mirip dengan siapa? "Lan? Lo nggak apa-apa?" tanya Nico mengenyahkan lamunannya. Bulan tersenyum. "Nggak apa-apa. Cuma pusing sedikit." Nico manggut-manggut. "Oh, yaudah lo istirahat lagi aja. Mau gue beliin lontong atau risol?" Bulan mengangguk kecil. Sepeninggal Nico, Bulan bangkit dari posisinya. Ia duduk di pinggir brankar UKS, memikirkan semua keanehan yang begitu terasa nyamar. Nyaris membodohi dirinya sendiri. Tanpa gadis itu sadari, kedua mata itu menatap tajam sosok Bulan dari balik kaca. Jendela transparan itu cukup besar untuk memperlihatkan sebagian tubuhnya. Sosok itu berdiri di tempat yang begitu jelas dari posisi Bulan terduduk. Sampai gadis itu mengusap tengkuknya. Ia menoleh ke arah jendela besar tersebut, namun nihil. Tidak ada seorang pun di sana. Padahal, Bulan merasa diperhatikan. Hal itu tentu saja membuat sepasang bahunya bergidik ngeri. Di tempat lain, sosok itu tersenyum pada bayangan dalam pantulan cermin. Senyum yang teduh seolah takut melukai bayangan itu. Bayangan dirinya sendiri yang tanpa sadar telah merampas tujuannya. Berpenampilan buruk rupa, ternyata tidak menjadikan semuanya lebih buruk. Gadis itu justru terperangkap dalam lingkar sang monster. Hanya saja, gadis itu belum tahu. Monster bersayap malaikat itu merupakan inkarnasi dari Pangeran bertanduk iblis. Sosok yang nyaris sama, namun berbeda peran. Tidak. Sang Pangeran bukan berkepribadian ganda, dia hanya terlalu asyik menikmati peran sang monster. Begitu terlena dengan sayap lembut sang malaikat yang mampu membuat gadis tujuannya datang menghampiri. *** "Apa maksud lo?!" Sepasang mata itu mendelik, nyaris keluar dari sarangnya. "Nggak bisa! Gue udah bayar lo mahal..." Sebuah amplop cokelat tebal lantas tergeletak di meja hadapannya. "Gue kembalikan uang muka yang lo kasih. Nggak kurang sepeserpun." Gadis itu menggeram. Kepalannya memukul meja dengan amarah memuncak. "Begini cara main pembunuh bayaran berkelas, hmm? Menyerah pada tugasnya?" Laki-laki itu tersenyum. "Ya, gue menyerah." Bukan pada tugasnya, terlebih pada gadis targetnya. Yang kini menjadi tujuannya. Gadis itu tersenyum sinis. "Oke, kalau begitu. Gue yang akan menghabisinya pakai tangan gue sendiri!" Tawa kecil dan terdengar meremehkan, keluar dari bibir tipisnya. Laki-laki itu berdecak seraya bersedekap. "Bisa apa lo? Cewek manja yang dibudaki oleh ambisinya sendiri. Berniat membunuh hanya karena alasan sepele!" Meskipun ia belum tahu pasti, tapi dirinya sangat yakin, alasan gadis itu tidak cukup kuat. Entahlah, tapi apa masalahnya dengan targetnya? "Apa bedanya sama lo? Lo membunuh para target lo yang nggak bersalah!" Laki-laki itu mengangkat bahunya. "Asal lo tau, gue nggak pernah menyentuh target dengan tangan gue sendiri. Kecuali, kalau mereka yang meminta." Ia menggedikkan dagu ke arah amplop tebal yang tergeletak. "Uang itu, sebagian besar untuk anak buah gue sendiri. Kalau lo perlu ingat, anak buah gue ada di mana-mana." Terdapat ancaman di baliknya yang membuat gadis itu terdiam. Tidak. Ia berbohong. Uang-uang itu tidak pernah ia bagikan kepada siapa pun! Seluruhnya hanya untuknya. Terlebih, untuk sang bunda. Ia memang tidak pernah menyentuh targetnya karena selama ini ia cukup menggunakan s*****a api dari kejauhan. Mainannya tersebut tak lain adalah koruptor-koruptor menjijikan, serta penipu ulung yang menjadi hama bagi perusahaan-perusahaan besar. Yang tidak dunia ketahui adalah, ia membunuh orang-orang yang memang berlumur dosa. Bukan mereka yang tidak bersalah. Lalu kehadiran gadis bernama Bulan yang menjadi target barunya, memunculkan tantangan tersendiri. Terlalu mudah. Belum lagi, dijanjikan bayaran yang melimpah. Iblisnya tergiur untuk menerima permainan tersebut. Pekerjaan sepele yang ia buat sendiri rintangannya. Hingga waktu perlahan menyentak, ia tidak bisa melakukan pekerjaan ini lagi. Terlebih menyakiti gadis itu. "Lo nggak akan pernah tahu perasaan gue!" tukas gadis itu dengan bibir menipis. "Dia udah merebut satu-satunya orang yang gue sayangi. Meskipun kelihatannya nggak, tapi gue selalu merasa dinomor-duakan, gue nggak diacuhkan! Lo nggak akan pernah ngerti, seberapa penting dia untuk gue..." Sebelah alis tebalnya terangkat. Siapa yang dimaksud gadis ini? Alih-alih bertanya tentang "seseorang" itu, ia justru berucap, "Soal hati, hm? Gue rasa itu masalah pribadi..." "b******k! Lo sendiri yang ngomong, kalau lo nggak peduli dengan masalah klien lo! Apa uang mukanya kurang? Gue akan tambahi, berapa pun yang lo mau!" Kalau dulu, mungkin ia akan menerimanya. Sekaya apa orang tua gadis ini sampai ia berani memanggil orang sepertinya? Belum lagi, lawan gadis ini bukanlah orang-orang cerdik yang berjabat tinggi, hanya gadis biasa yang bahkan tidak memiliki musuh seorang pun. Gadis lemah yang tidak memiliki penjaga khusus seperti halnya korban-korbannya dulu. Kalau gadis di hadapannya ini "nekat", Bulan bisa hancur dalam sekejap ditangannya. Mungkin benar dugaannya, gadis ini terlalu bodoh untuk memikirkan hal itu. Sehingga ia memanggil dirinya, agar tidak seorang pun tahu bahwa gadis ini sendiri dalangnya. Sayangnya, taktiknya justru adalah dunia yang tidak boleh tahu siapa pembunuhnya. Bila ia masih bekerja untuk gadis ini, cepat atau lambat mungkin gadis ini akan menjadi buronan dan terperangkap dalam jeruji besi. Mudah. Sangat mudah baginya membongkar rahasia pesuruhnya dan mengubur rapat rahasianya sendiri. Laki-laki itu menggedikkan bahu. Kedua tangannya tenggelam dalam saku celana abu-abunya. "Ini bukan lagi masalah uang," jawabnya ringan. Napas gadis itu memburu. "Sebenarnya apa aja yang lo kerjakan selama ini? Kenapa laporan yang gue terima, cewek itu nggak lebih dari terluka kecil?!" Laki-laki itu tersenyum miring. "Menarik bukan? Gue bisa menjadi perusak dan penyelamat dalam waktu bersamaan." Gadis itu tertegun. "Lo yang menyelamatkan dia dari penembakan itu?!" Kepala laki-laki itu menggeleng seraya menggoyangkan telunjuknya. "Ah, bukan. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan, Nona. Gue cuma membantu. Lagi pula, peluru t***l lo itu meleset." Tatapan geli mengingat ketololan gadis di hadapannya ini, tiba-tiba berubah tajam. "Terlalu d***u sampai nggak menyadari di mana gue saat itu, hm? Mungkin lo perlu berpikir ulang untuk melukainya." Gadis itu membalas tatapan tajam sepasang kelabu itu. "Apa urusan lo? Lo bahkan udah berhenti bekerja untuk gue beberapa menit lalu." Laki-laki itu tertawa. "Gue bukan pembokat, Nona. Asal lo tahu, gue melakukan hal-hal yang gue suka nggak harus bertumpu pada pekerjaan. Lagipula, melukai orang adalah hobi gue. Pada awalnya, gue tertarik tapi lambat laun gue merasa diperalat oleh duit monopoli anak kecil. Perlu lo ingat aja hobi gue. Kalau lo berniat melukainya, lo yang bakal hancur." Gadis itu menyipitkan matanya. Bibir merah yang tersenyum sinis, tercetak jelas di wajahnya. "Jatuh cinta sama gadis itu, huh?" Laki-laki itu menelengkan kepalanya. "Beropinilah semaunya. Imajinasi anak kecil kadang suka liar," ujarnya sarkasme sebelum akhirnya berlalu. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan luas tanpa peduli beberapa klakson yang memperingatinya. Laki-laki itu kembali ke sarangnya lebih dulu, mengubah penampilannya, sebelum akhirnya bergegas menemui cahayanya. *** Biru nyaris terlambat menemui Bulan. Gadis itu mengernyit mendapati Biru yang terengah-engah dengan badan membungkuk di hadapannya. "Lo kenapa deh?" Bulan mengangkat sebelah alisnya. Biru meringis. "Maaf Bulan, kemarin Biru buru-buru jadi nggak bisa menemani Bulan. Pas mau balik lagi ke UKS, Bulannya udah nggak ada." Memang, kemarin Bulan langsung pulang setelah Nico membelikannya dua buah lontong. Bulan yang saat itu merasa tidak bisa mengikuti pelajaran dengan pikiran yang terus bertumpu pada satu objek, membuat ia memilih bolos. Tidak peduli dengan absennya. Dan objek tersebut kini ada di hadapannya. "Bulan nggak apa-apa?" tanya Biru membuyarkan lamunannya. Bulan mengerjap-ngerjap. "Ng? Nggak apa-apa." Bulan berdeham, "Bintang? Kenapa lo masuk ke kampus ini?" Pertanyaan apa itu?! Batinnya meringis! Biru terkekeh geli. "Bulan lucu. Biru masuk kampus ini karena Biru kuliah di sini." Bulan menggeleng. "Bu-bukan! Maksud gue, kenapa lo memilih kampus ini?" Biru mengernyit seraya menelengkan kepalanya. Namun, tak urung ia tersenyum mendapati keanehan Bulan. "Bulan kenapa? Ada masalah? Biru siap mendengarkan Bulan. Sepertinya Bulan lagi kacau ya? Biru punya banyak waktu buat dengarin cerita Bulan, kok." Bulan menggeleng lemah. Bulan benar-benar merasa bodoh. Untuk apa mempertanyakan hal itu? Ingin Biru menjawab bahwa dialah alasan laki-laki itu berkuliah di sini?! Geez. Lalu apa? Apa lagi selanjutnya? Menuduh laki-laki polos dan cupu ini untuk mengakui? Apa yang ingin diakui sebenarnya? Kejanggalan ini tentu saja mengusik Bulan. Namun, meskipun begitu, lagi-lagi ia meragu pada dugaannya. Tidak mungkin. Jelas-jelas keduanya berbeda. Lagi pula, apa untungnya bagi Biru bersandiwara seperti ini? Ya, semoga memang bukan. Semoga ia tidak dikecewakan. "Bintang..." lirih Bulan. "Kenapa nama lo Bintang?" Dan pada akhirnya, Bulan bertanya. Mempertanyakan suatu kebetulan yang baru sekarang ia bisa keluarkan. Ia terlalu bersemangat dulu, sampai melupakan keanehan ini. Biru tersenyum. Binar matanya begitu tulus menatap sang Bulan. Gadis itu bahkan bisa merasakan kelembutannya. "Ayah menyukai bintang." Biru mengulum bibirnya. "Sebelum pergi, beliau sempat menyanyikan bintang kecil untuk Biru..." ujarnya seraya menerawang. Bulan tertegun. Dulu, ayahnya juga sering sekali menyanyikan lagi Bintang Kecil dan Ambilkan Bulan Bu untuknya dan Bintang. Mengingat hal itu membuat kerinduan Bulan semakin membuncah. Rasa yang kini tidak lagi dapat terucap, menumpuk dalam hingga menyesakkan d**a. Biru tidak sepenuhnya berbohong. Kenangan manis itu memang pernah ada. Di mana keluarga kecilnya berbahagia. Sampai pada suatu hari, seluruhnya terungkap. Biru tidak lagi sama. "Maaf," lirih Bulan mendapati kilat sedih di kedua mata sang Biru. "Gue cuma lagi banyak masalah." Biru tersenyum lebar. "Nggak apa-apa Bulan. Biru senang berbagi. Bulan jadi paham kan? Bukan hanya Bulan, Biru pun memiliki masalah dan kesedihan sendiri. Jadi, Bulan jangan pernah merasa dirugikan oleh takdir, ya?" Biru menatapnya lembut. "Bulan itu adalah keberuntungan setiap orang. Biru beruntung bertemu Bulan. Bulan bisa pakai bahu Biru kalau Bulan sedih. Apa gunanya Tuhan menciptakan badan Biru sebesar ini kalau nggak bisa menjadi tempat Bulan berteduh?" Bulan tertawa kecil. Kepalannya memukul ringan lengan Biru. "Nggak pantas lo menggoda gue!" Biru mengerucutkan bibirnya. "Biru nggak menggoda kok. Biru bersungguh-sungguh!" "Ya ya ya." Bulan melirik arlojinya. "Hari ini lo ada kelas?" Biru menepuk dahinya. "Oh iya! Ya ampun! Biru ada kelas sekarang!" Bulan segera menarik jaket hitam lusuhnya begitu Biru akan berbalik dan berlalu. "Eh, main kabur aja! Lo balik jam berapa?" "Abis mata kuliah ini, tapi tiga sks." Bulan manggut-manggut. "Lama juga. Yaudah gue tungguin." Biru menelengkan kepalanya, "Kenapa Bulan? Bulan pulang duluan aja nggak apa-apa. Biru takut Bulan bete nungguin Biru." Bulan menggeleng seraya tersenyum. "Nggak. Gue mau nungguin lo. Tapi buruan ya? Kalau perlu, kabur aja abis absen! Gue mau ngajak lo makan malam di rumah," ucap Bulan membuat mulut Biru menganga tanpa sadar. "Mingkem!" titah Bulan. Biru lantas menutup mulutnya. Laki-laki itu meringis seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Oke." Jawaban singkat itu diam-diam membuat Bulan tersenyum kecil. Ia biarkan Biru berlalu dengan langkah seperti robot, alias kaku abis! Sesekali, laki-laki itu menoleh ke arah Bulan, membuat dirinya menabrak mahasiswa lain yang lantas memaki kebodohannya. Tanpa Bulan sadari, laki-laki itu tersenyum. Tidak. Bukan Biru yang sedang dibicarakan. Tapi jiwa laki-laki bermata kelabu yang bersembunyi di balik sosoknya. *** "Bagaimana kabarnya, nak Biru?" tanya Belinda dengan tatapan teduhnya. "Ayo masuk, Bulan kalau ganti baju suka lama. Lebih baik kamu temani Bunda masak daripada bosan," ucapnya dengan senyum yang tak luput di wajahnya. Biru tersenyum. Ia sudah terbayang bila Belinda akan memperlakukannya dengan ramah. Yang tidak ia bayangkan adalah suasana rumah Bulan. Bangunan mungil nan sederhana yang diam-diam membangkitkan sebuah kenangan. Biru mengikuti langkah Belinda. Dapur mungil itu bahkan lebih nyaman dibanding sangkar mewahnya. "Bundanya Bulan mau masak apa?" tanya Biru. Belinda tertawa kecil. "Panggil Bunda saja, Biru. Hmm, nggak apa-apa kan kalau Bunda panggil Biru? Bunda dengar, Bulan selalu manggil kamu Bintang soalnya." Biru menyengir. "Iya Bun. Bulan doang kok yang manggil Biru sebagai Bintang. Biru juga nggak tahu kenapa." Belinda tertegun. Tangannya yang tengah mengiris bawang itu pun terhenti. Dan Biru menyadarinya. "Kenapa Bunda?" "Eh?" Belinda menggeleng seraya terkekeh. "Nggak. Bunda hanya teringat Bintang..." Biru menelengkan kepalanya. "Biru?" Belinda menggeleng lemah. Wanita itu berlalu, meninggalkan kerutan yang dalam di dahi Biru. Namun, tak lama kemudian, Belinda kembali dengan bingkai foto di tangannya. "Bintang kecil kami. Adik Bulan." Dan Biru tertegun. Sepasang bahunya menegang, namun Belinda tidak menyadarinya. Bulan. Gadis cantik itu tengah tertawa dalam bingkai. Sepasang lengannya memeluk erat gadis mungil yang tengah menyengir. Keduanya tampak begitu manis dan... bahagia. "Nak Biru pasti heran ya, kenapa Bulan memanggil kamu sebagai Bintang?" tanya Belinda, nyaris berbisik. Bukan tidak tahu apa yang menjadi tujuan Bulan mendekati laki-laki ini. Bulan selalu dikelilingi laki-laki yang berpenampilan baik bahkan tampan. Berteman dengan Biru yang tak lain adalah junior anaknya itu, tentu membuat Belinda heran. Apa yang membuat Bulan mau berteman dengan laki-laki ini? Dan begitu mendengar Bulan memanggil "Bintang", Belinda tahu. Bukan ingin merusak. Justru Belinda menyayangi anaknya. Kehilangan Bintang, bukan berarti Bulan kehilangan cahayanya. Gadis itu hanya meredup, bukan mati. Purnama hanya sedang tidak benderang karena sabit yang menguasai. Belinda tidak ingin Bulan terluka, terlebih karena ulah gadis itu sendiri. Belinda tidak ingin, laki-laki polos tidak bersalah ini kecewa karena anaknya. Biru mengembuskan napasnya. "Biru pikir, karena Bulan suka bintang. Biru tahu, Bulan selalu memakai bross berbentuk bintang di kemeja dan jaket jeansnya. Biru tahu, sampul binder Bulan bahkan bergambar bintang. Biru pikir, Bulan fanatik dengan bintang..." Biru tidak sepenuhnya berbohong. Jiwa yang kini tengah bermain dalam perannya pun turut membatu. Terkejut dengan fakta murni yang keluar langsung dari bibir wanita yang melahirkan gadis itu. Belinda menggeleng dengan senyum. "Bukan. Dan kamu sudah tahu jawabannya, Nak." Belinda menepuk ringan bahu Biru. "Maaf kalau Bunda mengejutkanmu. Tapi, ada satu hal yang Bunda minta. Boleh?" "Apa itu Bun?" "Kalau kamu memang cahaya baru untuk Bulan kami, jagalah dia." Di balik dinding yang tidak disadari keduanya, Bulan tengah bersandar dengan kedua mata terpejam. Ia tahu, cepat atau lambat, Biru akan mengetahui siapa Bintang. Namun, ia tidak pernah mengira. Sang bunda sendirilah yang membongkarnya. Bulan tidak yakin, apakah setelah ini Biru akan tetap berteman dengannya? Laki-laki itu pasti berpikir jika Bulan berteman dengannya karena Bintang. Laki-laki itu pasti berpikir, Bulan tidak akan mau berteman dengannya kalau nama yang disandang adalah bukan Bintang. Bulan memijit pelipisnya. Belinda memang sudah lama ingin mengajak Biru makan malam, sebagai tanda terima kasih karena Bulan telah diselamatkan oleh laki-laki itu saat insiden penembakan terjadi. Namun, Bulan tidak pernah mengira, ada tujuan lain di baliknya. Bukan seorang ibu bila tidak memahami anaknya sendiri. *** Laki-laki bermata kelabu itu melempar kasar jaket hitamnya. Ia duduk dengan gusar di bangku yang telah disediakan. "Marah, Bos?" Laki-laki itu hanya berdecak lantas mengacak rambutnya. "Cepetan!" Kekehan geli keluar dari bibir temannya itu. Bukan teman lebih tepatnya, hanya seseorang yang sering ia hubungi ketika ingin mengukir seni di tubuh atletisnya. "Gambar apa, Bos?" "Bulan sabit." Temannya itu mengangkat alis. "Dari sekian banyak contoh tato di sini, lo pilih bulan sabit?!" tanyanya, memekik tertahankan. "Nggak mau gambar naga? Beruang? Kelabang? Kalajengking mungkin?" tawarnya, masih dengan wajah tak percaya. "Gue bayar dua kali lipat." "Siap Bos!" Kalau soal bonus sih, Lexi, laki-laki pembuat tato tersebut tidak akan menolak. "Di mana nih?" "Sini." Pemilik mata kelabu itu menunjuk d**a kirinya. Dan jarum pun mulai mengukir. Menggores dan menjadikannya perih. Namun, ia tidak bisa mengelak. Rasa perih ini, tidak dapat menghapus ingatan akan kebodohannya sendiri. Sudah berapa kali ia mengatakan, gadis itu terlalu mudah hingga ia sendiri tidak cukup persiapan dan dibodohi oleh waktu? Ia tarik ucapannya. Gadis ini ternyata cukup cerdas. Di waktu yang tak terbaca, sosok mungilnya merangkak masuk ke dalam hati yang kosong. Menjadikan ia terlena dan dikalahkan oleh perannya sendiri. Ia menyukai gadis ini. Bulan dengan sabitnya. Ia bersumpah, akan menjadikannya purnama. Untuknya, bagi dunia. Jika memang gadis itu menyukai sang warna, ia rela bertukar peran selamanya. Ia rela menjadi Bintang Biru, selalu, khusus untuk Bulannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD