Cinta itu bukan kalimat atau rangkaian kata murahan yang hanya manis terucap, indah terdengar. Cinta itu rasa dan tindakan.
Punya rasa tapi tidak bertindak? Pergilah, menyerahlah. Kau hanya membuang waktumu.
Banyak bertindak tapi tak memiliki rasa? Pulanglah, tempatmu bukan di sana. Kembalilah pada hati yang dirasa menginginkan dan kau inginkan. Hidupmu terlalu berharga untuk melakukan hal-hal yang tidak kau nikmati.
***
Bulan berjalan gontai di lorong kampus. Hari ini mood-nya benar-benar buruk! Semalam mereka makan malam dalam keheningan. Bukan mereka lebih tepatnya, hanya Biru dan Bulan. Belinda asyik bercerita, sementara Biru membalas pertanyaan-pertanyaan sederhana Belinda dengan seadanya bahkan kadang hanya tersenyum.
Bulan mengembuskan napasnya. Sejak kapan ia uring-uringan karena lawan jenis? Seingatnya, terakhir ia susah tidur adalah ketika ayahnya pergi. Semalam bahkan Bulan tidur pada dini hari.
Terlalu asyik larut dalam lamunannya, Bulan nyaris menabrak seseorang kalau saja tidak berhenti melangkah. Sepasang kaki jenjang bersepatu buluk itu berdiri di hadapannya. Bulan mendongak, dan mendapati Biru yang melempar senyum padanya.
Bulan mengerjap-ngerjap. "Bi-bin..."
Biru melebarkan senyumannya saat Bulan berhenti mengucapkan nama itu.
"Bintang?" lanjut Biru. Tatapannya tidak luput dari Bulan meskipun gadis itu tak jarang menghindari kedua matanya.
Bulan menelan ludah dan membasahi bibirnya. Ia beranikan untuk mendongak, menatap Biru yang tak juga melepas pandangan darinya. "Lo nggak marah?" tanya Bulan, lirih. Sangat kecil hingga Biru nyaris tidak mendengar.
"Kata Bunda, kalau kita merasa bersalah berarti kita memang sudah melukai seseorang."
Bulan tertegun. Ia mengintip Biru dari balik bulu matanya. "Maksud lo apa?"
Biru terkekeh kecil. "Bulan... Bulan kenapa merasa bersalah? Bulan nggak pernah menyakiti Biru. Nggak sama sekali."
Bulan menunduk. "Gue pikir lo kecewa. Gue pikir lo marah karena gue berteman sama lo cuma karena Bintang..."
"Kecewa sih udah pasti. Marah? Hmm, kalau biru marah, bukannya Bulan yang akan kecewa? Apa bedanya kita nanti?" Biru menatap lembut sang Bulan yang tengah meredup. "Sekarang Biru tanya. Kalau Biru menjauhi Bulan, apa Bulan bulan senang?"
Bulan menggeleng. "Akhir-akhir ini gue udah sama lo terus. Gue... pasti ngerasa kosong."
"Apa Bulan ngerasa dijauhkan oleh Bintang?"
Bulan membalas tatapan Biru. Kedua mata hitam itu berkilat teduh, membuat Bulan tidak ingin memutuskan kontak tanpa sadar. "Gue kehilangan lo, Biru."
Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk seulas senyum. "Bulan, apa pun alasan Bulan sebelumnya. Biru terima. Karena Bulan sekarang pun udah bisa menerima Biru, bukan sebagai Bintang kecil kalian." Biru membungkuk. Menyejajarkan wajahnya dengan wajah Bulan. "Kalau Tuhan percaya sama Biru buat jagain Bulan seperti yang Bundanya Bulan minta, Biru akan berusaha menjadi warna yang lain untuk Bulan. Biru akan kembalikan terang Bulan dengan warna yang Biru punya, meskipun itu bukan cahaya. Sampai kapan pun, Biru nggak akan bisa gantiin posisi Bintang di hati Bulan, kan?"
Bulan tertawa kecil. Air matanya berlinang, terharu oleh ucapan manis laki-laki ini. Tanpa berpikr ulang, Bulan segera memeluk tubuh besar itu. Menyembunyikan wajahnya yang basah ke dalam d**a sang Biru. Warna untuk Bulannya.
Biru mengelus lembut kepala Bulan. Aroma manis yang menguar dari rambut gadis itu menggelitik penciumannya. Mengundangnya untuk menghirup dalam-dalam aroma wangi tersebut.
"Maaf kalau gue pernah berniat manfaatin lo, gue jahat banget waktu itu. Nggak mikir perasaan orang. Gue memanfaatkan keadaan lo yang nggak punya teman. Gue pikir, lo bakal rela diperlakukan bagaimana pun asal dekat sama gue."
Biru terkekeh. Rengkuhan Bulan di pinggangnya begitu erat. Gadis ini mengatakan ia jahat? Lantas, mengapa ia sudi memeluk jasad buruk rupa dan tak layak hidup seperti sosok Biru ini?
Biru tersenyum, meskipun Bulan tidak dapat melihatnya. "Bulan nggak jahat. Bulan itu gadis baik. Bundanya Bulan bahkan Bundanya Biru pun mengakui itu. Bulan itu cuma bingung harus berbuat apa biar Biru dekat dengan Bulan. Benar, kan? Padahal, kalau Bulan perlu tahu. Siapa pun akan rela menjadi bayangan Bulan kalau Bulan mau."
"Tapi nggak dengan lo, kan?" tanya Bulan dengan suara terpendam di d**a Biru.
Biru meringis. "Iya ya. Biru takut sama Kak Nico."
Bulan menarik diri. Mendongak dan menatap Biru. "Takut? Nico nggak jahat kok. Nico itu baik. Yaaa asal lo jangan nyakitin gue aja."
Biru tersenyum geli. "Menyakiti Bulan adalah kesakitan untuk Biru juga. Logikanya, gimana Biru mau menyakiti diri sendiri?"
Bulan menyengir. Menampilkan deretan giginya yang rapi dan cemerlang. Gigi-gigi itu seperti model iklan pasta gigi ternama. Biru jadi penasaran... "Bulan pakai odol apa?" tanya Biru spontan.
Bulan langsung mengatupkan bibirnya. "Apaan sih! Lagi manis gini momennya, malah nanya odol!" Bulan berdecak, lantas berlalu. Meninggalkan Biru yang bergeming menatap punggung mungil itu.
Jauh dalam diri Biru. Laki-laki itu tersenyum hangat menatap punggung sang Bulan. Gadis itu bersusah payah mencari cahaya yang hilang, sementara sosoknya sendiri telah menjadi cahaya tersendiri untuk jiwa yang sepi? Bulan adalah cahaya baginya. Dan ia adalah warna bagi Bulannya.
Rasanya bahagia. Tidak dapat terukur kebahagiaan itu sendiri ketika Bulan mengakuinya. Mengakui bahwa Biru telah mengisi ruang kosong di hati gadis itu. Meskipun tidak benar-benar mengakui secara jelas, sosok buruk rupa ini telah berpengaruh untuk sang putri.
Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk mengakui seluruhnya. Ia mungkin akan mengejutkan gadis ini. Namun, bukankah yang dicintai akan lebih mudah dimaafkan? Tinggal sedikit lagi. Satu langkah lagi untuk memastikan, Bulan benar-benar mencintainya dan dapat menerima sosok yang ada dalam tubuh menjijikan ini.
Membuat gadis itu berucap bahwa ia mencintai Biru, dan seluruhnya yang ada dalam sang warna itu sendiri.
***
"Gerhana! Sini anak Ayah!"
Bocah laki-laki itu berlari menghampiri ayahnya. Ia melempar tubuh ringannya ke dalam pelukan sang ayah yang begitu serupa dengannya. Meskipun warna mata kedua laki-laki itu berbeda, namun parasnya begitu identik. Seperti kata pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Atau mungkin, bagai pinang dibelah dua.
Keduanya tertawa. Menertawai sang bunda yang terengah-engah jauh dari mereka.
"Dasar kalian ya. Sama saja!" ucap wanita itu pura-pura merajuk, namun tak urung ia menghampiri suami dan anaknya. Memeluk keduanya dengan erat tanpa celah.
"Aduh Bunda, Ayah nggak bisa napas ini." Ayahnya berpura-pura tidak suka, sementara bocah kecil dalam rengkuhan kedua orang tuanya masih asyik tertawa.
"Biarin! Ayah nakal sih kayak Gerhana!"
Pria itu menggeleng. "Bukan Ayah yang sama seperti Gerhana, tapi anak ini yang tumbuh seperti Ayahnya," ujarnya bangga seraya mengacak rambut tebal si Gerhana kecil.
Menangkap tatapan teduh sang ayah pada anaknya, wanita itu pun turut menatap bahagia keluarganya. Diam-diam, ia mengelus perutnya yang masih rata. Tidak ada yang tahu. Belum. Pria dan bocah itu belum mengetahui, akan hadir seorang lagi dalam keluarganya. Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana rasa bahagia sang ayah dan Gerhananya mendengar berita tersebut.
"Bunda? Bunda kenapa? Perut Bunda sakit?" tanya bocah itu dengan suara kecilnya.
Pria itu bangkit dari posisinya yang semula berjongkok, menyejajarkan tubuh besarnya dengan sang anak. Ia berdiri, meremas kedua bahu wanita yang dicintainya dengan lembut.
"Bunda sakit? Mau cerita sama Ayah?"
Wanita itu menggeleng kecil seraya mengulum senyum. "Nggak Ayah. Bunda lagi bahagia."
Kelegaan menyeluruh dalam dadanya. Tatapan pria itu melembut. "Bahagia untuk apa Bunda?"
Wanita itu mengelus perutnya seraya menunduk. "Bahagia untuk ini."
Sedetik. Dua detik. Tiga detik.
Sang ayah masih bergeming, tak mengerti. Membuat wanita itu mendengus kesal. "Ih Ayah! Bunda hamil lagi!"
Kedua mata hazel itu terbelalak. Sedetik ia membatu, sedetik kemudian pria itu memekik gembira. Keduanya berpelukan, menyalurkan rasa bahagia yang bahkan sudah terasa sebelum lahirnya bayi itu.
"Ayah Bunda kenapa?" Bocah itu mengerjap-ngerjap. Mata kelabu yang diwariskan dari sang bunda, menatap kedua orang tuanya dengan kilat penasaran.
Dengan mudah, sang ayah mengangkat tubuh ringan bocah laki-laki itu dan memutarnya. Membuat keduanya tertawa untuk hal yang si kecil belum ketahui.
Pria itu menurunkan anaknya dan berjongkok, menyejajarkan tinggi mereka. "Sebentar lagi kamu akan menjadi kakak, Gerhana." Binar bahagia tampak jelas di kedua matanya.
Bocah itu menelengkan kepala. Tanda ia tidak memahami maksud sang ayah. "Maksudnya, Yah?"
Wanita yang sejak tadi hanya tersenyum, kini menghapus jaraknya pada bocah itu. Diusapnya dengan lembut kepala si kecil. "Ada bayi dalam perut Bunda, Sayang. Kamu akan menjadi kakak."
Bibir anak laki-laki itu membentuk huruf "o". Tak lama kemudian, kedua mata kelabunya terbelalak lebar. "Bunda makan bayi?!" pekiknya kencang.
Wanita dan pria itu tergelak akan kepolosannya. "Bukan Jagoan, Bundamu sedang mengandung. Dia akan melahirkan bayi yang nantinya akan menjadi adikmu. Seperti saat dia mengandung kamu," jelas pria itu dengan tatapan geli.
"Mengandung itu apa, Yah?"
Bahu sang ayah merosot seketika. "Ya Tuhan."
Wanita di sampingnya terkikik geli. "Nanti kamu akan mengerti, Gerhana. Yang pasti, kamu bersedia menjaga apa yang ada di perut Bunda, kan?"
Bocah itu tersenyum lebar lantas mengangguk mantap. Persis seperti sang ayah dalam versi mini. "Pasti! Apa pun yang ada dalam diri Bunda akan kami jaga! Bunda jangan khawatir, aku dan Ayah pasti akan melindungi Bunda. Ayah berdiri di depan sebagai pemimpin, dan aku yang mengawasi!" ucap bocah itu mantap dengan kedua tangan mengepal semangat.
Mereka itu tertawa. Bahagia telah digapai keluarga kecil itu. Semoga semua akan tetap berjalan baik seperti ini...
***
Gadis itu menurunkan kaca mobilnya. Dari kejauhan, ia bisa melihat dengan jelas siapa pemilik mata kelabu itu.
Laki-laki itu mendekati Bulan yang tengah tertidur di bangku taman. Laki-laki itu tahu apa penyebabnya. Bulan terlalu lama menunggu Biru datang hingga akhirnya ia tertidur pulas. Bulan tertidur begitu nyenyak hingga tidak sedikit pun terusik oleh kehadirannya. Alas sepasang sepatu laki-laki itu yang bergesekkan dengan rerumputan dan menimbulkan suara, bahkan tidak membuat Bulan terjaga.
Hari ini, Bulan memang sibuk sampai tidak bisa bertemu dengan Biru seharian. Jadwal Bulan full dikarenakan adanya dua kelas pengganti. Parahnya, keduanya sama-sama berjumlah tiga SKS. Sudah tidak terhitung berapa kali Bulan menguap di kelasnya, ingin dosen-dosen tersebut peka bahwa "pulang" adalah hal yang lebih menarik.
Laki-laki itu menyingkirkan helaian rambut Bulan yang menghalangi wajahnya. Seulas senyum terukir, betapa cantiknya Bulan.
Perlahan, kepala laki-laki itu menunduk. Menghapus jarak wajahnya dengan wajah Bulan. Hidung mancungnya bersentuhan dengan hidung Bulan. Deru napas Bulan begitu terasa, menerpa wajahnya. Baru saja bibir ranum itu ingin dikecupnya, suara tembakan ke udara mengejutkan semua yang berada di sana. Termasuk Bulan.
Bulan terlonjak. Nyaris terjungkal ke tanah, kalau saja kedua lengan kokoh itu tidak menangkapnya.
Dari kejauhan. Pemilik mobil merah itu tersenyum mengerikan. Ia menutup kaca mobilnya dengan cepat agar tidak ada satu pun orang yang melihatnya. Tak lama ia melajukan mobilnya, berlalu. Tanpa disadari laki-laki itu dan Bulan tentunya.
"Everything's okay," bisiknya lembut. Bibirnya begitu dekat dengan daun telinga Bulan, hingga gadis itu sedikit terkesiap dalam rengkuhannya.
Bulan baru menyadari, siapa yang tengah memeluknya saat ini. Laki-laki bermata kelabu yang sempat membuat Bulan meragu pada Biru.
Bulan menarik diri dan kembali duduk di tempatnya semula. Diam-diam keningnya mengernyit kesal. Karena laki-laki ini, Bulan meragukan Biru. Karena laki-laki ini, ia mencurigai Biru yang jelas-jelas polos minta ampun!
"Ngapain lo?"
Pertanyaan tak bersahabat itu tentu saja membuat senyum si mata kelabu luntur! Ada apa dengan Bulannya?
Laki-laki itu berdeham kecil. "Gue nggak sengaja aja sih lewat sini, terus nemuin lo lagi asyik tiduran."
Bulan mendengus seraya memutar kedua matanya. "Gue bukan lagi asyik, tapi kecapekan! Dan bukan juga tiduran, tapi beneran tidur!"
Laki-laki itu terkekeh mendengarnya. Bulan di depan Biru sangat berbeda dengan Bulan yang sekarang ia temui. Di hadapannya.
"Kenapa ketawa?" tanya Bulan dengan sebelah alis terangkat.
Gadis ini. Entahlah, justru kegarangannya membuat laki-laki itu semakin tertantang. Ternyata, baru sang warna yang diterima oleh cahaya. Bukan bayangannya.
"Nggak. Gue cuma terhibur aja setiap ketemu lo. Nggak tau juga kenapa," ujarnya, tidak sepenuhnya berbohong.
Bulan tersenyum miring. "Gimana kalau lo ketemu sama adik gue ya. Lo pasti suka banget dekat-dekat sama dia." Bulan tidak sadar, dirinya menerawang. Kata "terhibur" sering ia rasakan bersama Bintang. Mau tidak mau, ia jadi teringat adiknya itu.
"Adik?" Laki-laki itu mengangkat alisnya. "Lo punya adik?" tanyanya yang dibalas dengan anggukkan Bulan.
"Pasti secantik lo ya?"
Kedua pipi itu merona dan laki-laki itu melihatnya! Bulan tersipu karenanya. Bulan tersipu untuknya. Dan laki-laki itu merasakan darahnya berdesir. Satu hal yang jarang ia rasakan sebelumnya.
"Cantikan gue ah."
Laki-laki itu tergelak. Tawa yang terdengar begitu lepas dan membuat siapa pun yang mendengar, ingin terus menerus mendengar tawanya. Bulan ikut tersenyum. Ia juga tidak mengerti mengapa bisa mengatakan hal itu? Tiba-tiba saja, Bulan merasa begitu dekat dengan laki-laki ini. Laki-laki asing yang bahkan Bulan tidak ketahui namanya.
Bulan membasahi bibirnya. "Nama lo siapa?"
Tawa itu berhenti. Dan Bulan sedikit menyesal telah menghentikan tawa tersebut. "Hmm, sori?"
"Nama. Nama lo. Punya nama, kan?"
Kedua mata laki-laki itu berkilat geli. Sikap Bulan persis seperti saat pertama kali gadis itu bertemu dengan Biru.
"Ger--" Ia berdeham keras. "Gerey. Grey. Nama gue Grey."
Bulan manggut-manggut. "Pantas mata lo abu-abu."
Laki-laki itu terkekeh. "Jadi, kalau mata gue biru, nama gue Blue?"
Bulan menelengkan kepalanya. Wajahnya berhadapan dengan laki-laki bernama Grey itu, tapi tidak dengan kedua matanya yang menerawang.
"Biru. Nama lo mungkin Biru," lirihnya lembut. Bulan tersenyum manis padanya. Senyum sang sabit yang jarang gadis itu tunjukan pada bumi.
Dan laki-laki itu tertegun. Ia cemburu. Terlebih pada dirinya sendiri.
Cukup lama keheningan menyergap atmosfer keduanya. Sampai Bulan berdeham kecil. Menyadarkan laki-laki itu dari lamunannya.
Bulan mendengus, "Gue lagi nunggu teman di sini. Tapi dia malah nggak datang! Sebal deh!"
"Teman?"
Bulan manggut-manggut. "Biru namanya. Kami pernah ke sini juga waktu itu. Ini tempat kesukaan kami," jelasnya bersemangat, lantas memeluk dirinya sendiri.
Laki-laki itu tersenyum dengan hati yang tercubit. Ini bukan tempat kesukaan Biru! Ini adalah tempat favoritnya! Bukan Biru, tapi dirinya. Teriak batinnya frustrasi. Entah mengapa. Gadis ini benar-benar telah membuatnya gila karena bisa-bisanya iri pada dirinya sendiri.
"Lo suka sama Biru ya?"
Lidahnya gatal! Terlebih karena ia penasaran bukan main. Ia ingin mendengar pengakuan yang sebenarnya. Yang akurat. Bagaimana perasaan ini untuk Biru?
Namun, tidak seperti yang dibayangkan. Jawaban Bulan justru sama sekali tidak menunjukkan gadis itu tersipu.
"Dan kenapa gue harus cerita sama lo?" tanya Bulan. Mengerling curiga pada laki-laki itu.
"Dan kenapa gue nggak boleh tahu?" balas laki-laki itu, tak mau kalah.
"Dan apa urusan lo?" Bulan mendelik.
Laki-laki itu tersenyum misterius. "Kalau gue bilang gue kenal Biru, gimana?"
Bulan terkesiap. "SERIUS?!" Pekik gadis itu. Ia bahkan tidak sadar, badannya mencondong ke arah tubuh atletis itu. Nyaris menghapus jarak wajahnya dengan wajah laki-laki yang duduk di sampingnya.
"Uh-huh." Laki-laki itu tersenyum miring. "Mau gue salamin? Atau mau gue bilangin ke dia, lo menunggu sampai ketiduran begitu--"
"JANGAN COBA-COBA!" ancam Bulan dengan kedua mata bundarnya yang melotot penuh. "Awas ya lo!"
Ingin rasanya tertawa geli. Namun, yang ditunjukkan laki-laki itu justru tatapan aneh. "Kenapa marah?"
"Marahlah! Kalau sampai lo benar temannya, lo kan bisa kerja sama dengan dia buat ngerjain gue."
Laki-laki itu tersenyum. "Biru terlalu baik dan polos, kan?"
Bulan membalas senyumannya. "Iya."
"Bulan? Jawab pertanyaan gue yang tadi."
Bulan tidak lagi terkejut mendengar Grey menyebut namanya meskipun ia sama sekali belum mengenalkan diri secara langsung. Grey kan temannya Biru, benar? Pasti laki-laki itu tahu Bulan dari Biru.
"Pertanyaan apa?" tanya Bulan, bingung.
"Lo suka sama Biru?"
Bulan menggeleng lemah. Gerakan kecil itu tentu saja membuat laki-laki di sampingnya tertegun dengan d**a berdebar kencang. Tidak? Mungkinkah jawabannya tidak?
Namun, sedetik kemudian Bulan tersenyum. "Nggak tahu. Tapi gue merasa nyaman banget sama dia. Dan kata Bunda, kenyamanan itu sulit dicari. Hanya dengan beberapa orang kita dapat merasakannya. Dan gue merasakan itu bersama Biru."
Ada rasa puas dalam dadanya. Meskipun ia cemburu, ia tetap memberikan selamat pada dirinya sendiri. Selamat. Lo berhasil, i***t.
Bulan memang tidak mengucapkan "cinta", tapi... Oh, Tuhan! Siapa yang peduli dengan kata murahan itu?! Gadis ini berbicara apa yang hatinya rasakan, bukan hanya sekedar manis di bibir. Dan itu cukup membuatnya tenang. Tenang dalam arti damai sesungguhnya.
"Hmm... sebenarnya gue mau bilang. Kalau pertemuan-pertemuan kita itu bukan kebetulan." Laki-laki itu meringis. "Waktu di mall, gue penasaran pas Biru cerita dia mau nge-date gitu sama cewek. Ya lo pikir aja, bentuknya begituan masa ada yang mau gandeng? Cantik lagi."
Bulan merona. Kali ini, laki-laki itu tidak menyadarinya karena asyik bercerita.
"Terus yang waktu di halte. Sebenarnya, gue bawain buku paket lo. Tapi gue malah nggak tahan buat nggak kenalan, dan begitu lo pergi gue malah lupa mengembalikan bukunya. Akhirnya gue balik nemuin Biru, dan bilang gue nggak ketemu lo." Laki-laki itu mengangkat bahunya. "Biar gue tebak. Dia pasti langsung datang ke halte kan?"
Bulan menggeleng. "Nggak tahu. Tapi besoknya dia bilang, pas datang gue udah nggak ada."
Laki-laki itu manggut-manggut. "Lalu yang sekarang." Ia tersenyum menatap Bulan yang tak luput memandanginya. "Biru yang menyuruh gue ke sini buat menemani lo. Dia nggak bisa. Bundanya lagi sakit..."
"Sakit?" Terdapat nada khawatir di dalamnya. Kilat kedua mata bundar itu pun menunjukkan bahwa gadis itu benar mencemaskan bunda sang Biru.
Dan laki-laki itu terenyuh. Ingin sekali ia merengkuh tubuh mungil di sampingnya ini. Ingin sekali ia mengatakan bahwa bunda yang tengah dikhawatirkan gadis itu adalah bundanya.
Pada akhirnya laki-laki itu hanya mengangguk. "Ya. Hanya pegal-pegal biasa. Bunda suka nakal kalau Biru tinggal."
Ya. Wanita itu memang suka sekali membersihkan rumah, bahkan memasak meskipun kondisinya tidak memungkinkan. Mengambil panci saja wanita itu sering kesulitan. Walaupun seluruh peralatan dapur terletak cukup rendah dan bisa digapai wanita itu dengan sedikit usaha, tetap saja ia mengkhawatirkannya.
Dan Bulan tidak menyadari. Kalimat terakhir itu, serupa dengan ucapan Biru. Nada Biru. Suara Biru.
Bulan mengembuskan napasnya. Ia jadi merasa bersalah karena sebelumnya sudah kesal pada Biru. Dan mendengar kabar ini, itu artinya Bulan tidak bisa bertemu dengan Biru hari ini bukan? Menyedihkan. Padahal Bulan merasa ia rindu.
Dalam diam, laki-laki itu tersenyum. Lagi-lagi ia berhasil. Bulan memercayai ucapannya. Bulan memercayai Biru.
Namun, apakah nanti sang cahaya dapat memercayai hadirnya warna di balik sebuah bayangan?