Kesepakatan Gila
"Woyyy!" Vaga berteriak sangat kencang lalu menambah laju kecepatan motornya untuk mengejar si pencuri itu.
Sementara beberapa meter di belakangnya rupanya satu orang Polisi yang mengendarai motor mengikuti mereka dari belakang, sebenarnya bagi Vaga bisa saja ia mengikhlaskan uang itu hanya saja jika ia berputar balik maka otomatis dirinya akan tertangkap oleh Polisi tersebut. Vaga tidak ingin mengambil masalah lagi dengan harus masuk kantor polisi.
"Aish sialan," desis Vaga sambil menengok ke belakang.
Dan karena itu pula Vaga kehilangan jejak si pencuri uangnya dan ia baru menyadari jika dirinya telah mengambil jalan yang salah. Di persimpangan tadi seharusnya Vaga belok untuk masuk ke jalan utama, tetapi cowok itu terus mengambil jalan lurus.
"Sialan, gue nyasar," gumam Vaga memindai sekitarnya yang dikelilingi pepohonan dan minim pencahayaan.
Sementara itu ia juga masih terus dikejar oleh Polisi di belakangnya, Vaga kembali menambah kecepatan motornya, ia terus mengambil jalan berdasarkan insting saja. Sampai akhirnya Vaga menemukan sebuah perkampungan, demi mengelabui Polisi itu yang masih tertinggal, ia melajukan motornya ke arah semak-semak lalu menjatuhkannya meninggalkan motornya begitu saja dan segera pergi dengan berlari masuk ke permukiman penduduk.
Kampung ini sudah sepi karena memang sudah cukup larut malam juga, hanya beberapa orang yang lewat untuk ronda malam. Vaga berusaha bersikap tenang agar tak dicurigai siapa pun, dirasa ia sudah berjalan cukup jauh, Vaga menengok ke belakang, tak terlihat Polisia itu mengikutinya. Ia menghela nafas lega, melihat kursi di depan rumah salah satu warga yang tak memiliki pagar di halaman depannya, Vaga memilih untuk duduk sejenak. Ia menarik nafas dalam-dalam agar dirinya sedikit rileks.
Prang!
Brugh!
Baru saja dirinya sedikit merasa lega terdengar suara keributan dari dalam rumah di belakangnya. Sebenarnya Vaga bukan tipikal orang yang ikut campur urusan orang lain dan ya betul ia beranjak dari duduknya hendak pergi dari area rumah itu, sebelum akhirnya ...
Brak
Pintu rumah itu terbuka dengan cara di banting, dari dalam keluar seorang gadis dengan wajah yang sudah lebam dan seorang pria paruh baya yang terlihat sempoyongan. Otomatis karena reflek pun terkejut Vaga berbalik ke arah mereka, ia melihat dengan jelas ketika pria itu melempar sebuah vas bunga mengarah pada gadis tersebut, beruntung si gadis berhasil menghindari dari lemparan vas bunga itu yang berakhir pecah tepat di depan kaki Vaga.
Sejenak hening, sang gadis dan pria yang diyakini adalah ayahnya melihat ke mana vas itu mendarat, ke tiganya sama-sama diam sebelum akhirnya teriakan dari pria itu menggelegar.
"Kau pacarnya anak saya? Bagi duitmu sini!"
Tanpa berpikir panjang sang gadis segera berlari ke arah Vaga lalu menarik tangannya untuk di bawa lari juga. Semua yang terjadi masih proses loading dalam benak Vaga, ia hanya mengikuti ke mana si gadis membawanya pergi. Rupanya gadis itu berlari menuju arah sebelumnya Vaga meninggalkan motor, tanpa banyak tindakan lagi Vaga mengambil motornya lalu pergi dengan turut serta si gadis yang dibonceng di belakangnya.
Sudah tidak ada Polisi yang mengejar Vaga dan sudah tidak ada pria paruh baya itu yang mengejar si gadis, tanpa sadar Vaga membawa gadis itu masuk ke apartemennya, begitulah yang terjadi begitu saja dengan waktu yang sangat singkat.
"Lo siapa anj*ng!" pekik Vaga ketika sudah menyadari bahwa dirinya seperti orang bodoh tadi, padahal tidak biasanya Vaga berbuat kesalahan.
"Minimal tawarin gue buat ngobatin luka-luka gue dulu kek." Gadis itu berjalan masuk ke apartement Vaga dengan santai, lalu mengambil minuman dingin dari kulkas dan merebahkan dirinya di sofa sambil matanya terus melirik ke sana ke mari seolah sedang memindai isi apartemen Vaga.
Vaga yang merasa geram dengan tingkah tak sopan perempuan di depannya ini, segera menghampiri lalu menarik tangannya dengan kasar hendak mengusirnya dari apartemen.
"Izinin gue nginep di sini," kata gadis itu seketika menghentikan pergerakan Vaga.
Cowok itu menoleh ke arahnya dengan tatapan yang teramat tajam, lalu tersenyum miring. Baru kali ini dia mendapati cewek yang sangat arogan dan sembrono pada orang yang bahkan tidak dia kenal sama sekali.
"Gue bayar," katanya lagi.
"Pergi!" Dengan penuh penekanan Vaga berbicara, sorot matanya semakin tajam.
"Gue beneran bakal bayar, izinin gue nginep di sini semalam."
"Ini bukan tentang uang, tapi gue gak pernah ..."
"Gue tau dan gue yakin duit lo udah banyak, gue bayar pake hal lain." Belum sempat Vaga menyelesaikan ucapannya gadis itu segera menyela.
Namun perkataan gadis itu berhasil membuat Vaga mengernyitkan dahi.
"Gue gak punya duit sekarang jadi gue bayar pake hal lain."
"Pake apa?"
"Ini." Cup.
***
"Setiap permainan harus ada imbalan, jadi apa yang bakal gue dapetin setelah lo bawa kabur duit gue?"
Vaga menyeringai, matanya tajam seolah-olah hendak memangsa ketika menatap cowok yang sedang dipaksa berlutut di depannya.
Jarum jam berdenting setiap detik, suaranya menembus keheningan di ruangan itu, belum ada satu pun yang berbicara selain Vaga beberapa detik yang lalu. Raut wajah Vaga yang semula masih terlihat tenang, sekarang sudah menunjukkan perbedaan yang signifikan. Ekspresi wajah Vaga menjadi datar tetapi sorot matanya tak lepas menatap cowok itu.
Vaga menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri, tangannya ia kepal kuat-kuat. Vaga tak suka diabaikan, ia tak suka pertanyaannya tak mendapat jawaban.
Brak
Semua tersentak termasuk cowok yang masih dipaksa berlutut itu, Vaga menendang ke belakang kursi yang baru saja ia pakai untuk duduk. Kursi itu terbelah menjadi dua bagian menghantam dinding saking kuatnya tendangan Vaga.
"Gu-gue ..."
"Balikin duit gue, anj*ng!" sentak Vaga.
"Kasih gue waktu lagi, Ga."
Bugh
Tanpa basa-basi Vaga memukul wajah cowok itu hingga langsung tersungkur ke belakang. "Lo pikir gue Tuhan yang bisa kasih kesempatan berulang kali!"
"Ga, gue mo–" Ucapan cowok itu terhenti ketika Vaga berjalan mendekat untuk menghampirinya, reflek ia sendiri merayap mundur.
Vaga berjongkok di depan cowok itu, lalu menepuk bahunya seolah-olah ada kotoran yang menempel disana. "Gue gak mau tau, lo bayar sekarang atau lo tau sendiri akibatnya." Lagi-lagi Vaga menyeringai membuat cowok itu menelen salivanya sendiri.
"Cewek gue!" pekik cowok itu, "Gue bayar pake cewek gue," sambungnya memperjelas sebelum Vaga semakin murka.
"Waw, amazing," celetuk Ganta yang sejak tadi hanya diam dan menyaksikan.
Berbeda dengan Vaga, ia terdiam sejenak mendengar cetusan dari si pencuri uangnya itu detik berikutnya untuk ke sekian kalinya Vaga tersenyum. Senyumnya kali ini lebih misterius.
"Kalo cewek lo cantik, gue terima."
"Ga," sela Asher, Vaga langsung mengangkat tangannya ke atas untuk menghentikan lanjutan perkataan dari temannya tersebut.
"Cantik! Cewek gue cantik banget, lo pasti suka, dia emang gak famous di kampus tapi sekali lo lihat pasti lo suka," sahut cowok itu segera menjelaskan sebelum Vaga bertanya lebih jauh.
"Gak bisa gini, Ga. Lo gak mungkin terima pembayaran gak masuk akal itu 'kan, duit tetep harus diganti duit," kata Asher merasa tidak terima dengan ide gila cowok itu.
"Dia bawa kabur duit gue dan gue mau hak milik gue sekarang juga, meski penggantinya bukan duit sekali pun." Sorot mata Vaga semakin tajam menatap Asher, siapa yang berani melawannya? Tak ada.
Asher tak bisa lagi membantah ucapan Vaga, ia tahu betul bagaimana sifat temanya itu. Asher hanya bisa menghela nafas panjang sembari menyugar rambutnya dengan kasar. Dari pada Vaga, Asher lebih manusiawi. Cowok berparas tampan nomor dua setelah Vaga itu masih memiliki nurani untuk tidak menggunakan wanita sebagai jaminan atas hal yang bukan semestinya menjadi tanggung jawab wanita itu.
"Steviona Azalea anak fakultas seni. Lo bisa cari tau dia, gue yakin lo pasti tertarik, terserah lo mau apain dia. Gue belum pernah pake dia sama sekali, gue tau lo gak suka barang bekas 'kan, makanya gue ganti duit lo pake dia."
"Gila!" sahut Ganta lagi.
"Cowok brengs*k!" Asher mengepalkan tangannya siap untuk menghajar cowok itu, tetapi dihalangi oleh Vaga.
"Deal." Tiba-tiba saja Vaga mengulurkan tangannya di depan cowok itu, sejenak semua yang ada di sana terhenyak tak lama kemudian cowok di depan Vaga membalas uluran tangannya. "Mulai detik ini cewek lo jadi milik gue."