Sudah sejak beberapa menit yang lalu Vaga bangun, sambil menyangga kepalanya dengan satu tangan, ia memandangi Viona yang masih terlelap dalam tidurnya. Satu tangannya yang lain terulur untuk menyibak beberapa helai rambut gadis itu yang menutupi keningnya. Wajah teduh milik Viona membuatnya merasakan kehangatan, ia tak tahu mengapa dirinya bersikap seperti ini sekarang, tetapi yang jelas Viona seperti mempunyai daya tarik untuk Vaga selalu penasaran terhadapnya. Tangannya perlahan turun dari ujung kepala, hingga menyentuh bibir gadis itu. Vaga meneguk salivanya sendiri, ia menatap bibir Viona selama beberapa detik, setelah itu memutuskan untuk mengalihkan pandangannya. Vaga mengambil nafas untuk menetralisir detak jantungnya yang begitu cepat. "Lo kenapa sih, Ga," gumamnya sambil menep

