(Bab 4)

3625 Words
"Mas! Aya harus ngasih penjelasan kaya apalagi supaya Mas mau ngerti posisi Aya? Aya nolak lamaran Mas bukan tanpa pertimbangan apapun, Aya gak mau ngasih Mas harapan apapun, Aya gak mau Mas makin kecewa kalau tertanya harapannya gak akan sesuai dengan kenyataan yang Mas mau." Ini yang gue takutkan, kalau gue ngomong akan mempertimbangkan lamaran Mas Juna bukannya Mas Juna akan semakin menderita nanti? Gue gak mungkin ngomong gitu karena gue yakin kalau seandainya laki-laki yang gue cintai ada, gue gak akan milih Mas Juna. Lagian Mas Juna juga ngomong apa tadi? Apa Mas Juna serius dengan ucapannya? Mas Juna mau menemukan lelaki yang gue cintai dimana? Untuk apa juga? Apa hanya untuk memastikan perasaan guesekarang? Apa yang harus gue pastikan kalau kenyataannya gue sendiri gak tahu keberadaan laki-laki yang gue maksud sekarang dimana? Memastikan? Gue bahkan terlalu takut dengan satu kata ini, lagian yang mau gue pastikan itu apa sebenernya? Memastikan apakah perasaan gue terbalaskan? Gue seakan terlihat seperti seseorang yang sangat pengecut kalau harus dihadapakan dengan satu kata tadi. "Mas! Mas gak perlu ngelakuin hal itu, semuanya beneran gak perlu Mas." Gue memohon, Mas Juna gak punya kewajiban apapun atas diri gue, atas kebahagian gue. "Tapi Mas akan tetap ngelakuin itu, ini juga pilihan Mas, kamu cuma perlu ngasih tahu Mas siapa orangnya, siapa namanya cukup itu, selebihnya Mas yang urus." Hah? Mas Juna keras kepala atau memang gak mau ngerti? "Apa sekarang Mas minta Aya untuk ngasih tahu laki-laki itu siapa?" Apa Mas Juna harus segamblang ini nanya ke gue? Gimana bisa gue ngasih tahu orangnya siapa semudah itu? Sama Uni aja gue gak pernah ngasih tahu namanya siapa dan seperti apa orangnya secara gambling. "Walaupun kamu gak tahu sekarang dia dimana tapi setidaknya laki-laki itu punya nama kan Ay? Cukup kasih ta__" "Mas! Apa Mas gak ngerti maksud ucapan Mas sendiri barusan? Mas sama aja minta Aya ngungkit luka lama, gimana Aya bisa cerita segampang itu sama Mas?" Potong gue, apa dengan ngasih tahu Mas Juna siapa laki-laki tersebut akan membuat semua keadaannya semakin membaik? Gue gak ngerti sama sekali dengan arah pikiran Mas Juna, oke katakanlah Mas Juna mau sebuah kepastian tapi apa dengan mencari laki-laki yang gue cintai bisa memastikan semuanya akan mempunyai jawaban? Laki-laki yang gue cintai mungkin kenal gue aja enggak. "Apa kamu takut? Selamanya kamu gak bisa melepaskan kalau kamu tetap bertahan dengan pemikiran kamu sendiri Ay! Yang kamu takutnya sebenernya apa? Kamu takut kalau ternyata kenyataannya gak sesuai dengan harapan kamu?" "Mas harus tahu siapa orangnya, Mas harus tahu, lelaki seperti apa yang masih bisa hidup setelah membuat kamu semenderita ini." Ck! Apa gue terlihat sangat menderita? Apa gue terlihat sangat menderita selama ini? Apa Mas Juna kasihan sama gue? Gue gak butuh belas kasih orang lain, gue gak perlu, ini perasaan gue, orang lain gak punya hak memberikan penilaian apapun, termasuk Mas Juna. "Aya gak pernah bilang kalau selama ini Aya menderita, apa Aya pernah ngeluh kalau Aya butuh bantuan Mas? Enggakkan Mas, Aya baik-baik aja." Tanya gue balik, jangan bersikap seolah gue semenyedihkan itu. Atas dasar apa Mas Juna menganggap kalau hidup gue menderita? Atas dasar apa Mas Juna berpikir kalau gue terlihat sangat butuh bantuannya? Kalau gue mau, gue bisa nemuin dia dengan cara gue sendiri, gak harus melibatkan orang lain untuk masalah perasaan gue sendiri, itu gak perlu. "Kamu memang gak pernah ngomong atau bahkan meminta bantuan Mas, Ay. tapi ini murni keinginan Mas sendiri, Mas ingin menemukan lelaki itu karena Mas punya alasan Mas sendiri." Alasan sendiri? Alasan apa yang Mas Juna punya disaat dia sendiri gak tahu orang itu siapa? Mas Juna terlalu berlebihan, Mas Juna gak perlu ikut campur sejauh ini dalam masalah hidup gue, gue gak nerima lamarannya jadi dia bukan siapa-siapa gue, dia gak punya tanggung jawab apapun atas diri gue. "Alasan? Alasan apa yang Mas punya disaat Mas kenal aja enggak sama orangnya, jangankan kenal, ketemu aja enggakkan Mas? Jadi Mas punya urusan apa?" Gue meragukan hal ini. Alasannya Mas Juna gak masuk akal banget menurut gue, gimana bisa Mas Juna punya masalah kalau ketemu oranya aja gak pernah? Jangankan ketemu, kenal aja enggakkan? Ini yang gak bisa gue ngerti, berasa ada yang aneh. "Mas! Ini perasaan Aya jadi Mas gak perlu ikut campur, perasaan Aya jadi Aya sendiri yang akan mastiin, Mas gak perlu pusing-pusing ikut mikir." Gue beneran gak butuh bantuannya Mas Juna. "Setelah Mas melamar kamu, ini udah bukan cuma tentang perasaan kamu aja Ay tapi ini menyangkut perasaan Mas juga, Mas ingin mencari laki-laki itu bukan cuma untuk memastikan perasaan dia ke kamu tapi karena Mas juga ingin memastikan kebahagiaan Mas sendiri, bukan karena cuma-cuma." Maksudnya? Gue menatap Mas Juna bingung sekarang, apa yang harus gue perbuat supaya Mas Juna ngerti? Apa yang harus gue jelasin supaya Mas Juna bisa ngerti posisi gue juga? Biasanya selalu gampang untuk gue nolak perasaan laki-laki tapi kenapa terlalu sulit untuk nolak perasaan Mas Juna? Satu-satunya alasan gue gak bisa nerima lamaran Mas Juna adalah karena gue gak cinta, gue gak bisa bareng Mas Juna karena perasaan gue gak sama dia, itu kenyataan, itu realitanya, gue gak bisa hidup dengan laki-laki yang sama sekali gak gue cinta, itu gak mungkin, apa terlalu sulit untuk Mas Juna ngerti satu kalimat ini? "Mas! Suatu saat kalaupun Aya nemuin laki-laki yang benar-benar Aya cintai dan memastikan semuanya, Mas mau Aya gimana?" Apa Mas Juna mau gue memilih? Apa gue harus memilih antara lelaki yang gue cintai atau dia? Memilih antara gue ingin hidup bersama siapa? Kalau memang saat itu tiba jawaban gue juga jelas, gue akan memilih lelaki yang gue cintai, bukannya nanti Mas Juna akan semakin kecewa? "Kalau saat itu tiba, kamu gak harus memilih siapapun, karena kalau kamu bahagia, Mas akan mundur dengan sendirinya." "Tapi andai kamu malah semakin menderita, bahkan pilihan kamu gak akan membuat Mas melangkah mundur gitu aja Ay, apa jawaban Mas bisa membuat kamu jauh lega?" Hah? Apa jawaban Mas Juna barusan bisa membuat gue bernafas lebih lega? Jangan gila bisakan? Gue itu bersikap kaya gini untuk apa? Itu untuk kebaikan Mas Juna sendiri juga, karena gue mikirin perasaannya makanya gue kaya gini, kalau Mas Juna hancur, gue pasti bakalan nyalahin diri gue sendiri, gue gak mau hidup dengan penuh rasa bersalah. Udah cukup gue gak bisa tenang karena dihantui bayang-bayang laki-laki lain, apa sekarang Mas Juna mau nambah beban gue karena sikap memaksanya? Tolong ngertiin gue, gue tahu gue egois, gue tahu gue sangat menyebalkan jadi tolong, biarin gue sendiri, biarin gue nyelesain masalah ini sendiri. "Mas! Aya__" "Ini juga keputusan Mas, kalau Mas bisa menghargai keputusan kamu, kenapa kamu gak bisa terima dengan keputusan Mas? Perasaan kamu memang kamu sendiri yang urus dan ini perasaan Mas jadi Mas yang akan urus." "Bahagia atau bahkan berakhir sakit sekalipun Mas, itu karena pilihan Mas sendiri, gak ada siapapun yang berhak menyalahkan kamu jadi kamu cukup fokus dengan keputusan kamu sendiri." Gue nyerah. Melihat Mas Juna yang juga terlihat sangat yakin dengan pilihannya, gue gak bisa berkata apapun, gue udah memperingati, gue udah menjelaskan jadi jangan menyalahkan gue kalau akhirnya Mas Juna semakin kecewa. Kalau gue pikir ulang, seberapa keraspun gue coba, gue gak akan bisa ngubah pemikiran seseorang semudah itu kalau memang bukan orang itu sendiri yang mau berusaha, kalau memang setelah berjuang bisa membuat Mas Juna lega, terserah dia. "Terserah Mas! Aya udah jelasin, Mas bener, Aya juga gak punya hak ngelarang Mas apalagi nentuin jalan hidup Mas bakalan gimana, Mas tahu yang terbaik untuk diri Mas sendiri." Gue bangkit dari duduk gue. Rasanya gak ada yang perlu gue bahas lagi, semuanya udah cukup jelas, Mas Juna bertahan dengan keputusannya dan gue juga bertahan dengan keputusan gue, akhirnya bakalan kaya apa gue juga gak tahu, gue gak mau tahu lagi. Percuma gue ngingetin Mas Juna kalau Mas Juna sendiri kekeh dengan pilihannya, gue gak berhak memaksakan karena gue sendiri gak mau dipaksa, ini pilihan Mas Juna, apapun hasilnya nanti gue cuma berharap kalau Mas Juna gak akan terluka. "Jadi? Siapa nama la__" "Aya memang gak ngelarang Mas nyari laki-laki itu tapi jangan pernah tanya Aya siapa laki-lakinya, Aya gak bisa ngasih tahu Mas walaupun sekedar nama." Ini juga keputusan gue. Gue berusaha sebaik mungkin untuk membuat Mas Juna ngerti, gue gak mau Mas Juna kecewa dan gue gak mau Mas Juna terluka nanti, ini adalah cara gue membuat Mas Juna menyerah dengan sendirinya. "Baik! Mas terima keputusan kamu, Mas akan berusaha sebaik mungkin." Mas Juna tersenyum sumringah, apa jawaban gue barusan bisa membuat Mas Juna sebahagia itu? Mas Juna mau mulai nyari dari mana kalau nama aja gak tahu? Itu sama aja nyari barang hilang tapi dia gak tahu barang yang hilang itu dalam bentuk apa? Gue berharap Mas Juna akan nyerah secepat mungkin. "Aya pamit sekarang Mas!" Izin gue lebih dulu, gue gak mu memperpanjang apapun lagi. Gue sama Mas Juna dalam hal kaya gini bisa dikatakan sama, keras kepala kalau udah menyangkut masalah cinta, kalau udah berurusan dengan hati semuanya bakalan jadi rumit, jaga satu hati, ada aja hati lain yang bakalan tersakiti, entah itu disengaja atau enggak. "Mau Mas anter?" Tawar Mas Juna yang gue balas dengan gelengan cepat. Gue bisa pulang sendiri, gue izin pamit duluan karena mau menghindar, gue udah gak bisa selaras sama Mas Juna, gue butuh waktu mikir sendiri, kalau terus bareng Mas Juna yang ada otak gue makin mumet. "Aya duluan Mas." Pamit gue. . . . "Akan Mas bawa laki-laki yang kamu cintai berdiri tepat dihadapan kamu." Gue antara percaya gak percaya dengan apa yang di ucapin Mas Juna tadi. Ini kuping gue yang salah denger atau memang bibir Mas Juna yang kepleset, berat banget perasaan omongannya tadi, kalau perempuan lain yang denger omongan Mas juna pasti bakalan mikir kalau Mas Juna keren itu banget, rela berjuang demi cinta tapi gue yang jadi target cintanya rasanya beneran gak nyaman, omongannya tadi seolah nambah beban. Gue pulang dengan harapan mau nenangin pikiran gue, walaupun gak mau gue pikirin tapi ucapan Mas Juna tadi di cafe terus aja wara-wiri di otak gue, jadi pemikiran gue sekarang, iya kali mau nyari laki-laki yang dicintai perempuan yang dia cintai sendiri, bingungkan? Sama gue juga bingung. Membawa laki-laki yang gue cintai ke hadapan gue? Memang Mas Juna tahu siapa orangnya? Apa ada laki-laki waras yang mau melakukan itu untuk gue? Ayolah, memang gue siapa? Tunang bukan, calon istri juga gak jadi, apa istimewanya gue sampai Mas Juna mau buang-buang waktu dan tenaga untuk mikirin sesuatu yang gue rasa gak perlu. Selama ini Mas Juna yang gue kenal memang lelaki yang sangat baik, walaupun dari luar Mas Juna terlihat dingin tapi untuk orang yang udah kenal dia lama, Mas Juna akan sangat baik dan karena Mas Juna baiklah makanya gue juga berharap yang terbaik untuk dia. Di zaman sekarang, apa masih ada laki-laki yang berkorban demi cinta? Saat ini gue bukan siapa-siapanya Mas Juna, gue cuma mahasiswi yang merangkap status jadi sahabat adiknya sekaligus anak tetangga, apa yang di liat Mas Juna dari gue? Terlalu banyak yang Mas Juna berikan gue takut kalau gue gak bisa membayarnya nanti, kalau seandainya Mas Juna beneran bisa nemuin laki-laki yang gue cintai nanti gue harus gimana? Apa gue beneran harus memilih? Memilih itu gak akan pernah bisa, dari awal gue memang gak punya perasaan apapun sama Mas Juna, berkali-kali gue ingetin Mas Juna tentang hal ini, semuanya akan tetap sama, hasilnya akan tetap sama kalaupun gue menemukan laki-laki itu nanti. Membuat Mas Juna ikut berjuang disaat dengan jelas gue menolak perasaannya itu beneran gila, sikap Mas Juna cuma akan nambah beban gue karena mau gak mau gue akan tetap mikirin perasaan Mas Juna nantinya, terlukakah Mas Juna? Apa Mas Juna baik-baik aja? Tapi semuanya juga gak guna kalau Mas Juna kekeh dengan keputusannya, yang gue takutkan semuanya malah akan semakin rumit, awalnya gue pikir yaudah cukup gue yang sakit hati tanpa alasan pasti tapi sekarang, Mas Juna seolah melemparkan dirinya untuk merasakan hal yang sama, tersakiti tanpa alasan pasti juga. Maksa mundur juga udah gak mungkin, yang bisa gue lakuin sekarang itu adalah membuat Mas Juna menyerah dengan sendirinya, walaupun sepertinya gue kudu kerja ekstra tapi yaudah gak papa, gue harus nyoba dulu. Sekarang gue hanya perlu mastiin kalau Mas Juna gak akan pernah tahu orangnya siapa? Satu-satunya cara adalah gue yang harus nemuin dia lebih dulu, dimanapun dia sekarang, harus gue dulu yang mastiin semuanya, Alana! Gue akan cari. . . . Setelah semalam merenung panjang sampai gue ketiduran, sekarang gue selesai beberes dan berniat berangkat kuliah lebih awal, ada tugas kuliah yang harus gue kerjain di perpus, walaupun otak gue udah berkecabang mikirin perasaan yang gak karuan gini tapi status mahasiswi yang melekat di tanda pengenal juga kembali menyadarkan gue kalau ada hal lain yang harus gue perjuangkan. Apa itu? Kelulusan, lulus adalah keinginan Ayah yang sangat ini gue penuhi sesegera mungkin, udah cukup gue bikin Ayah pusing sama masalah perjodohan yang terus gue tolak jadi gue gak mau nambah ribet Ayah dengan ikut mikirin masalah kuliah gue. Lulus dengan nilai yang baik adalah keinginan gue, karena walaupun masa depan untuk percintaan gue udah suram, gue gak mau bikin masa depan pekerjaan gue ikut suram juga, kalau itu juga ikut suram tar masa depan gue penuh kegelapan. "Yah! Aya berangkat sekarang ya!" Pamit gue ke Ayah. "Hati-hati Dek! Jangan pecicilan." Ck! Pecicilan? Dikata gue cabe-cabean. Gue keluar dari rumah dan milih naik bus untuk ke kampus hari ini, gue cuma perlu jalan kaki keluar g**g sedikit untuk sampai di halte, gue mau cari angin karena kalau gue bawa mobil bisa dipastikan kalau gue bakalan mikirin hal yang gak penting lagi. Berjalan tertunduk, gue sampai dihalte dan sekarang udah duduk nunggu dengan alunan musik yang mulai berjalan melalui earphone gue, lalu lalang jalanan juga cukup sukses menghibur suasana hati gue sekarang. "Loh Ay! Nunggu bus juga?" Sapa Ali temen seangkatan gue, kebetulan Ali tinggal memang gak jauh dari sini. "Iya nih, lo sendiri juga tumben naik bus, motor kemana?" Tanya gue balik dan melepaskan earphone gue, jarang-jarang gue bisa ketemu Ali pagi-pagi begini. "Kempes Ay! Kalau gue bawa ke bengkel dulu dan nunggu tar takut gak keburu, gue ada kelas di jam pertama soalnya." Jelas Ali yang gue iyakan, setelahnya gue sama Ali ngobrol lama sampai Bus dateng dan obrolannya kita lanjutin lagi. Gue sama Ali udah kenal lama, kita berdua juga cukup akrab, Ali adalah alasan kenapa gue bisa kenal dengan seorang Alana, lelaki yang sangat gue cintai dalam diam, Ali adalah sahabat Kak Alan, pertemuan gue sama Kak Alan juga karena Ali yang ngenalin. Waktu itu gue gak sengaja mukul orang di rumah Ali waktu ada syukuran, gue pikir itu maling makanan soalnya gerak geriknya mencurigakan begitu eh gak tahumya itu Kak Alan yang duduk makan dilantai sangking kecapeannya, pertemuan pertama udah gue gebukin makanya mungkin perasaan gue gak dapet balasan kali ya. "Ay! Lo masih belum berniat pacaran?" Tanya Ali tetiba, gue tersenyum kecil dan menggeleng pelan, kenapa ini lagi yang harus ditanyain? Apa semua orang yang ketemu gue gak punya pertanyaan lain? Iya kali gue punya pacar atau suami kudu gue bikin pengumuman. "Dari dulu sampai sekarang itu terus yang lo tanyain Al! Memang punya pacar wajib hukumnya? Kan enggak." Jawab gue tertawa kecil, jomblo itu gak dosa tapi kenapa kesannya gak punya udah kaya aneh banget? Lagian kalau udah ketemu Ali, dimanapun dan kapanpun pertanyaan seputar pacar pasti gak luput tu, kenapa belum punya pacar? Memang gak ada yang cocok? Mau gue cariin? Atau sama gue aja? Pertanyaan kaya gini gue udah hafal. "Gue gak berniat pacaran." Dan jawaban gue juga selalu sama, gue gak berniat pacaran sama siapapun. "Terus lo mau langsung nikah? Duh Ay! Gue belum siap jadi imam! Tar kalau gue udah siap dan lo masih belum ada calon, sama gue aja ya?" Hah! Kebengekan yang hakiki. Kalau ngomong sama Ali jarang banget ada seriusnya, karena Ali gak bisa seriuslah makanya sampai sekarang Ali gak tahu kalau gue suka sama Kak Alan, setiap kali gue bilang kalau gue nunggu cinta pertama gue, Ali bakalan jawab gini? "Lo nunggu cinta pertama? Siapa? Monyet? Itu cinta pertama apa cinta monyet, gak ada yang patut diperjuangkan." Yang modelan ginikan beneran gila? Otak bobroknya udah gak bisa gue apa-apain lagi. "Kalau nunggu lo siap jadi imam, gue yang udah keburu tua." Balas gue tertawa lepas, gue hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala gue kalau inget sikap Ali, yang modelan gini kenapa bisa dijadiin sahabat coba? Selama perjalanan gue cuma bisa mendengarkan celotehannya Ali gak perlu pake fokus sampai kita berdua di sampai di halte kampus, ketemu Ali lumayan untuk narik balik mood gue yang sempat anjlok beberapa hari ini. "Oya Ay! Nanti sore atau besok lo kosong gak?" Tanya Ali begitu kita turun. "Memang kenapa?" Tanya gue balik, gue hafal sama kelakuan Ali jadi pertanyaan yang mengandung ajakan kaya gini kudu gue tanggepin dengan sangat hati-hati sebelum berakhir menjerumuskan. "Kosong gak? Udah lama gak nongkrong bareng, ayolah, lo ajak Uni sekalian deh." Nah kan bener, ni anak memang ada maunya. "Tar gue tanya Uni dulu, kalau Uni okey ya gue ayo aja." Kalau cuma berdua sama Ali mah ogah tapi kalau Juni ikut ya masih bisa gue pertimbanginlah. "Okey, kabarin gue tar ya, gue masuk duluan." Gue mengangguk pelan. Memperhatikan Ali yang berjalan terburu-buru membuat gue tersenyum sekilas, dasar aneh, mengabaikan Ali, gue juga berjalan santai ke arah perpus, gue masuk kelas jam ke lima jadi punya banyak waktu untuk nyari bahan tugas di perpus dulu. Tadi sebelum berangkat gue juga udah ngabarin Uni kalau gue langsung nunggu diperpus, Uni nyusul katanya, untuk sekarang gue harus bisa fokus untuk nyelesain tugas kuliah gue baru gue bisa mikirin strategi untuk masalah perasaan gue. Hampir setengah jam lebih gue duduk sendirian di perpus, kehadiran Uni yang lumanyan krasak-krusuk cukup untuk ngusik fokus gue, cengiran Uni udah kaya kucing minta makan. "Sorry gue telat, macet soalnya." Cicit Uni ngambil posisi dihadapan gue. "Yaelah, lo kata masih mempan ngejadiin macet sebagai alasan? Rumah lo sama rumah gue satu komplek asal lo inget, sejak kapan dari daerah kita ke kampus bisa macet?" Nyari alasan gak berbobot banget menurut gue ni anak. "Nah itu lo pinter, intinya sorry, udah sampai mana lo kerjain?" Tanya Uni pasang muka tanpa dosa, kalau gak inget temen, udah gue timpukin kepalanya. "Udah sampe kesimpulan, nah kerjain sisanya, gue nyari referensi untuk tugas kuliah gue yang lain dulu." Gue membiarkan Uni ngambil alih tugasnya. "Okey, siap Kakak Ipar." Gue langsung menatap Uni kaget dengan panggilannya, Kakak Ipar? "Siapa Kakak Ipar lo? Lo jangan mancing ya Ni?" Gue udah natap Uni pake tatapan menusuk. "Yaelah gue becanda doang, udah sana, katanya mau nyari bahankan? Tar keburu masuk kelas lo." Tersenyum sumringah ke gue, Uni mulai fokus mengerjakan tugasnya sedangkan gue juga langsung nyari buku untuk tugas yang lain. Berjalan menyusuri rak buku yang berjejer, gue mulai mencari buku referensi dengan mata tapi otak gue malah melayang kemana-mana, gue nyari buku pake mata tapi nyari orang pake hati, mata sama hati gue beneran udah gak sejalan. Gue tiba-tiba juga teringat dengan ajakan Ali untuk keluar nanti atau besok tadi, kenapa gak gue iyain aja? Kan siapa tahu bisa sekalian nanya tentang Kak Alan, bukannya mereka sahabatan? Kalau ada Uni malah lebih bagus, gak keliatan amat gue lagi ada maunya. Bodoh banget memang, kenapa juga gak gue iyain langsung? Bukannya tujuan gue ada nemuin Kak Alan lebih dulu sebelum Mas Juna? Kenapa gue gak kepikiran dari tadi kaya gini? Kalau otak udah gak bener mah memang loadingnya lama. "Eh Ni, tar sore keluar yuk, tadi gue ketemu Ali pas berangkat ke kampus, dia ngajak keluar." Ajak gue begitu balik duduk dihadapan Juni. "Jadi lo bengong di depan rak buku dari tadi karena mikirin ajakan Ali? Wah wah lo pacaran sama tu anak?" Tebak Juni gak bertempat banget. Lagian apaan coba? Siapa juga yang pacaran? Kalaupun iya kenapa harus sama Ali? Gak ada tebakan lain yang lebih masuk akal gitu? Males banget gue ngebayangin Ali jadi pacar lebih-lebih jadi imam gue, gak kebayang banget. "Memang Ali kenapa sih Ay! Kurang ganteng?" Lah kenapa jadi bawa-bawa tampang juga? Kalau cuma pekara ganteng yang gue pertimbangin, gue gak akan sendiri sampai saat ini karena diluar sana yang ganteng banyak. "Lo tahu Ali kurang apa? Ali kurang punya otak, geser mulu." Jawaban gue yang membuat Uni menahan tawa, gak boleh ketawa keras-keras, di perpus soalnya. "Itu mah bukan kekurangan tapi bawaan lahir asal lo tahu." Gue juga berusaha keras nahan tawa gue, jahat banget gue sama Uni ngatain anak orang, padahal kita berdua mah sama gak punya otaknya. "Oya Ay! Mas Juna bilang apa kemarin?" Tanya Uni tiba-tiba, gue melirik Uni sekilas sebelum membereskan semua perlengkapan gue dan keluar dari perpus, kalau mau curhat atau ngintrogasi gue mending di luar, lebih aman. "Mas Juna ngomong apa aja?" Kali ini gue yang nanya Uni setelah kita pindah duduk di kantin. Gue menyipitkan mata menatap Uni sekarang, gak mungkin Mas Juna gak ngomong apapun, Uni nanya karena memang gak tahu atau mau mancing gue buat cerita dari lain sisi? Gue tahu banget Uni sama Mas Juna itu deket jadi gak mungkin gak saling cerita. "Gue nanya lo kenapa ma__" "Gak usah muter-muter, Mas Juna ngomong apa?" Kalau mau bertele-tele jangan sekarang, tinggal ngomong langsung jadi gue juga gak punya beban. "Mas Juna akan nunggukan katanya?" Jawaban Uni yang entah kenapa malah terdengar seperti nanya gue balik. "Gue udah berusaha tegas Ni tapi Mas Juna sama sekali gak mau ngerti dan maksa tetap mau nunggu, gue harus gimana?" Tanya gue frustasi. "Gue tahu makanya gue sendiri juga bingung kalau udah kaya gini, dua-duanya keras kepala, dua-duanya gila karena cinta." Uni terlihat sama frustasinya. "Ay!" Panggil Uni menatap gue serius. "Heumm kenapa?" Sadar dengan tatapan Uni yang ngajak bicara serius, gue juga mulai ikut ngambil fokus penuh. "Memang lo yakin kalau lo bisa nemuin laki-laki itu dan mastiin semuanya nanti?"  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD