DARMAWANGSA

2876 Words
Pria yang kini berusia 42 tahun, dengan pendapatan yang tidak sedikit. Hidup dengan banyak tuntutan karena berasal dari keluarga terpandang. Darma bukan pria tak setia, tapi lagi-lagi tuntutan yang harus dia emban adalah adanya kewajiban. Ratna dia nikahi karena cinta. Meski banyak pertentangan yang terjadi karena Ratna adalah anak dari rival keluarga. Bahkan seperti sebuah kutukan, pernikahan keduanya tidak kunjung dikaruniai keturunan. Dua puluh tahun menikah keduanya justru terlalu sering dirundung masalah. Tak ada habisnya derita dan kesakitan yang keduanya alami. Darma jadi semakin terbiasa dengan semua itu; rasa sakit dan menghadapi masalah. Padahal yang dia inginkan hanya hidup tenang. Kalaupun tidak kaya melintir, dia bisa bahagia bersama istri serta anaknya. Namun, nasib tidak sebagus itu untuk diinginkan. Darma tahu dia harus bersikap tegas. Bahwa Tuhan bukan memberikan apa yang dia inginkan, melainkan apa yang dia butuhkan. "Kalau kau bisa mendapatkan keturunan, harta yang sudah kakek kau bagi bisa diubah. Ini pelik, Bung! Sampai kapan kau mau setia tanpa mendapat apa-apa? Perusahaan kau bisa saja turun pendapatan, apalagi keluarga Ratna masih menaruh dendam pada kau." Gerry. Pengacara sekaligus juru bicara yang Darma miliki memberikan masukan. "Jangan bersikap naif terus kau, Darma! Dunia bisnis tak ubahnya seperti politik. Kau butuh aku di sini, berarti kau sedang memainkan taktik politik. Kau harus siap dengan segala risiko, Bung." Darma menghela napas lelah. Keterangan dan bukti-bukti yang Gerry kumpulkan memang sangat akurat. Jelas kalau Gerry adalah pengacara hebat. Darma tidak merasa rugi membayar gila-gilaan hanya untuk membuat Gerry berada di pihaknya. "Harus saya apakan semua ini? Kakek saya pasti diam-diam sudah mengambil langkah. Kalau tiba-tiba saya membuat gerakan yang aneh... dia pasti tahu." "Bah! Apa urusannya? Kalaupun kakek kau tahu kau menikah hanya untuk mendapatkan keturunan semuanya sudah bisa dia tebak." Darma mengernyit. "Menikah untuk keturunan? Apa maksudmu?" Gerry memutar bola mata. Bosan dengan sikap naif Darma. "Jangan bodoh, Darma. Kau harus menikah dengan perempuan lain yang bisa memberikanmu anak. Kalau kau sudah memilikinya, bukan perusahaan kau lagi yang kuat, bahkan kedudukan kau di keluarga Yakta bisa kau genggam." Darma tahu, pilihannya hanya ada dua. Bertahan dengan Ratna dan menggembel, atau semakin ganas mencari tata jabatan. Dia bahkan paham bahwa menggembel sama dengan membunuh Ratna secara perlahan, sebab tak akan punya uang yang cukup untuk membiayai segala kebutuhan kesehatan istrinya itu. Kalau dia mau bermain licik sekaligus, dia akan mendapatkan apa yang dia butuhkan bagi hidupnya dan Ratna. Darma bisa mewujudkan fasilitas kesehatan untuk Ratna secara mumpuni, tidak tanggung-tanggung, juga bisa menjadi pemegang saham tertinggi di kelas Yakta. Darmawangsa, anak laki-laki yang selalu dikatakan sebagai anak haram, pada akhirnya bisa menjadi nomor satu. Memiliki segalanya secara materi akan lebih memudahkan Darma untuk dihormati walau bentuk penghormatan itu hanya dari bibir. "Menikah dengan siapa? Kamu pikir mencari istri sama dengan mencari p*****r murahan yang ada germonya sendiri." Gerry tertawa renyah. "Ya sudah, menikahlah sana dengan p*****r, dapatkan anak yang lucu-lucu dari mereka." Kembali Gerry tertawa, lebih tepatnya meledek Darma. "s****n, Gerry!" Maki Darma. "Hei. Tenanglah, Bung. Kau sudah memiliki calon di depan mata." "Siapa? Ratna tidak bisa hamil—" "Ck. Siapa yang menyuruh kau menikahi Ratna lagi, bodoh?! Tentu saja perempuan lain yang bisa hamil." Darma semakin bingung. "Siapa yang menjadi calon di depan mata saya?" "Harkatyanto punya calon di depan mata untukmu. Manfaatkan kelemahannya. Bentar lagi sudah mau masuk liang lahat itu manusia, kalau dia minta bantuan padamu, minta saja salah satu putrinya menikah denganmu." Lalu, bisakah Darma melakukan hal super b******k seperti itu pada salah satu putri Harkatyanto? * "Aku harus bilang apa sama kamu?" Ratna menggenggam kuat jemari Darma. Kepercayaan itu selalu keduanya teguhkan, bahkan jika menyangkut segala keputusan terkecil. Mereka akan saling bertukar pikiran dan mengatakan kejujuran. "Bilang semua yang kamu putuskan." Ratna hanya memiliki Darma. Jika bukan pria itu yang berada di sampingnya dan siap selalu merawatnya, Ratna tidak memiliki apa-apa. Penyakit jantung bawaan yang di deritanya juga membuat segala keputusan menjadi rumit. Tidak tahu lagi Darma harus berkata apa. Darma tidak ingin kabar yang dia bawa ini memengaruhi kesehatan istrinya. Mengusap pelan wajah istrinya, Darma tidak menjawab. Dia memilih diam. Kalau apa yang akan dia ucapkan hanya menambah parah sakit Ratna, tidak akan dia nyatakan hal itu. "Kamu sehat dulu, baru aku bilang semua rencana ku. Kalau kamu masih lemas dan terlalu sakit begini, aku nggak akan bilang apapun." "Kenapa gitu? Biasanya kamu selalu jujur sama aku kalau punya rencana apapun. Kenapa harus nunggu aku sehat? Lagian sehat yang seperti apa lagi, sih? Aku sehat, kok sekarang." Ini yang Darma kesal. Ratna selalu mengucapkan dari bibir bahwa dirinya sehat, tapi tidak menunjukkan dari sisi mental. Wanita itu tidak percaya akan dirinya sendiri. Terlalu pesimis dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan penyakitnya. Bagaimana Darma harus menyemangati Ratna? "Apapun katamu. Aku nggak akan bilang apa-apa selama kamu belum punya tekad untuk sehat." Setiap orang memiliki sisi baik dan buruknya masing-masing. Begitupun bagi Darma dan Ratna. Keduanya tidak sempurna. Bahkan disaat ketidakmampuan Ratna sebagai seorang istri, Darma yakin Ratna tidak akan langsung menyetujui rencana yang sudah Darma dan Gerry susun. * Harkatyanto hanya sebagian dari rekan bisnis yang cukup dekat dengan Darma. Mereka berbeda generasi, sedikit, tapi jelas memiliki visi misi yang tidak jauh berbeda. Setelah mengemukakan apa yang diinginkan dalam kesepakatan, Darma menyerahkan segalanya pada Gerry. Jelas pria yang berdarah Batak itu paling tahu langkah apa yang harus diambil, apalagi mengenai kesepakatan. Sampai Harkat mau menyerah untuk menjodohkan salah satu putrinya dengan Darma, semua beres. Meski harus menunggu hingga Harkat berada diujung mautnya sendiri. Darma lega, sekaligus kebingungan. Bagaimana dirinya akan mengatasi rumah tangga kedua? Sedangkan rumah tangga yang pertama saja belum dan entah kapan berjalan normalnya. "Ini putri pertamanya?" Gerry lebih dulu bertanya. Karta yang mewakili segala urusan Harkatyanto-pun mengangguk. "Namanya Akinandra Harkatya Putri Pratama. Usianya 29 tahun. Tidak ada tanda-tanda dekat dengan pria manapun, pintar memasak, menyayangi adik-adiknya, telaten mengurus pekerjaan rumah, tidak memiliki pekerjaan tetapi memiliki usaha penerbitan yang belum besar namanya, dan yang terpenting Akina sangat—" "Cantik." Gerry dan Karta sontak menatap Darma bingung. Bahkan jika benar adanya fase puber kedua, Gerry tidak percaya kalau Darma mengalaminya sekarang. Melihat wajah Darma yang berseri, memudahkan segalanya berjalan. Itu tandanya, Darma tidak akan mempersulit nasibnya sendiri untuk mendapatkan anak dari Akina. Gerry menyeringai. Kini bukan waktunya main-main memang, tapi mendapati Darma membuat Gerry merasakan kepuasan tersendiri karena berada sukses menjadi cupid bagi seseorang. "Kau suka, Bung?" "Huh?" Gerry tertawa sendiri. Karta tidak ikut karena sebagai perwakilan keluarga Harkatyanto semua ini sangat membebaninya. Kalau saja posisi Karta bukan tangan kanan Harkatyanto, dia tidak akan berada di sana seperti sedang memperjualbelikan manusia. Karta tidak habis pikir, hukuman apa yang akan dirinya dan kedua orang dihadapannya dapatkan dengan mempermainkan seorang perempuan. Bukan hanya perempuan, melainkan juga hatinya, fisiknya, dan tali pernikahannya.  * Darma adalah selayaknya pria diluaran sana. Dalam hati dia tidak menampik betapa cantiknya Akina. Bahkan hanya dengan melihat foto saja, Darma tahu akan sulit menolak kehadiran perempuan itu. Setelah proses resmi dilakukan, tanpa ada yang tahu bahwa Darma sedang bergejolak dengan batinnya sendiri. Dia tidak ingin menghancurkan kepercayaan Ratna, tapi juga harus menjalankan apa yang sudah dia putuskan. Darma ingin sekali membagi cerita dengan siapapun yang bisa mengerti posisinya saat ini, tapi sayangnya tidak ada. Siapa yang mau mendengarkan kisahnya? Semua orang pasti akan mengatainya b******k dengan melakukan semua ini. Malam pertama Darma lewati dengan menetap di ruang kerja. Segala sikap yang dingin dan kaku dia kerahkan pada Akina. Darma pastinya merasa sangat menyesal karena mencampakkan perempuan secantik Akina, tapi masalahnya, dia belum siap. Menyentuh Akina sama saja siap untuk risiko yang ada di depannya. Lambat laun, semua terasa lebih ringan ketika Akina mengurus segala sesuatu untuknya. Perempuan itu juga sempat membuat Darma kehilangan kendali. Untung saja ada pembantu yang memergoki, kalau tidak begitu Darma pasti menyetubuhi Akina saat itu. "Kau belum sentuh Akina?!" Gerry memekik tak percaya. "Bagaimana dia bisa hamil kalau kau tak menyentuhnya, bodoh. Apa jika dilihat dari dekat, si Akina ini tak cantik?" tebak Gerry semakin ngawur. Darma mengusap wajahnya seraya bergumam, "Bukan ituuuuu. Akina jelas sangat cantik—" "Lalu apa alasannya kau tidak menyentuhnya? Kau sia-siakan perempuan secantik itu? Sinting kau, Darma!" Gerry bisa saja berkata dengan enteng, sebab bukan dia yang menjalaninya. Bukan Gerry yang berada di posisinya. Tertekan akan moral yang Darma pegang. "Jangan gunakan waktumu untuk berlama-lama. Akina bisa saja ditarik laki-laki lain yang lebih muda, tampan, dan bergelimang harta. Kalau sampai itu terjadi kau sendiri yang akan—" "Akina bukan tipe perempuan seperti itu, Ger!" Gerry tertawa terpingkal. Semua yang dia ucapkan adalah bentuk memancing Darma saja. Ternyata tebakannya benar. "Kau sudah tertarik dengan Akina sejak awal, Darma. Jangan buat istri keduamu itu berpikir macam-macam karena kau tak kunjung menyentuhnya. Bisa saja dia semakin tak percaya diri karena kau seperti tak nafsu dekat-dekat dengannya." Berulang kali dipikir, memang hanya itu cara yang paling mujarab. Secepatnya menyentuh Akina agar keinginannya cepat tercapai. Namun, Darma sudah ketakutan lebih dulu. Takut jika hatinya akan berubah dari Ratna. Sebab Akina tipikal perempuan yang mudah untuk dicintai. "Bagaimana kalau... kalau aku tidak bisa melepaskan Akina setelah semua ini?" tanya Darma ragu. Gerry berdecak. "Ya, kau tinggal hidup bersama dua istri. Yang satu kau urus yang satu mengurus kau lah! Apa susahnya?" Darma malah semakin ketar ketir dengan ucapan serba memudahkan Gerry. "Kau takut Ratna tahu semua ini?" Justru yang diam-diam Darma takuti adalah Akina yang nantinya tahu semua. Apa yang akan perempuan itu lakukan? "Kalau kau takut, tunggulah sampai Ratna bisa stabil. Kau hanya perlu mengatakan bahwa sebagai suami yang sudah dua puluh tahun menjaganya, kau juga perlu diurus seorang istri. Ratna tak bisa egois. Cinta itu aku yakin sudah luntur ditelan usia pernikahan kalian. Yang kau lakukan saat ini hanya menjaga dan merawat Ratna karena rasa kasihan." "Jangan sembarangan bicara, Ger!" sahut Darma tak terima. Gerry tidak melanjutkan, dia hanya mengangkat bahu dengan wajah sombongnya. * Menunggu siap? Sepertinya setiap orang yang tidak mau menghadapi kenyataan dan berdalih menunggu kesiapan, hanya akan terus mengunci diri dari perjalanan guna menyelesaikan apa yang disebut kendala itu. Bagi Darma yang tua, penampakan Akina yang sungguh cantik dan tidak kurang melimpahi dirinya perhatian, jelas sebuah kendala bagi Darma. Kendala dimana proses mendapatkan keturunan pasti begitu sulit terlewati. Rekor terbesarnya adalah mengajak Akina berbelanja, meminta dibuatkan masakan, lalu tidak berhenti menikmati hasil masakan istrinya hingga tandas. Sejak kapan Darma bisa sebetah ini berdekatan dengan Akina? Menghabiskan masakannya? Merengek seperti adik-adik Akina untuk dibuatkan menu yang diinginkan? Darma sudah lupa kapan kali terakhir dirinya merasakan hasrat meletup-letup karena dimanjakan oleh seseorang yang memang pantas untuk memanjakannya. "Mandi, Mas." Lagi. Terdengar suara Akina yang menegur Darma karena tak kunjung beranjak dari sofa. Nyala tv hanya sebagai hiasan saja. Mata Darma menderap ingin terpejam, faktor kekenyangan mendorongnya lebih cepat merasa kantuk. "Katamu saya nggak boleh mandi habis makan, nanti masuk angin." Akina mengernyit. Memang perempuan itu pernah berucap begitu, tapi tentu saja berbeda situasi. "Ini sudah dua jam dari mas makan tadi. Keringetan banyak begitu kok betah, sih malah duduk dan kepingin tidur gitu?" "Apa salahnya?" Berdecak, Akina menarik lengan suaminya agar berdiri. "Mas nggak salah, tapi kurang tepat. Kamu bau, Mas." Darma sontak mengendus ketiak kanan dan kirinya. Jika Akina berani mengatakan dirinya bau, berarti perempuan itu diam-diam lebih dulu mengendusi aroma tubuh Darma. "Akina..." Pandangan bingung dari Akina dan berhentinya tarikan di lengan Darma seketika membuat suasana senyap. "Sini." Darma menyuruh sang istri mendekat. Mungkin karena faktor terkesima dengan suaminya sendiri, Akina bahkan mau saja ketika Darma melingkarkan kedua tangannya di bahu perempuan itu. "Saya bau, ya?" Akina mengangguk. "Tapi kamu betah sekali saya rangkul begini." "Eh?" Wajah Akina begitu lucu, walau begitu bagi Darma tidak mengurangi esensi kecantikannya. Ratna juga cantik, tapi bukan cantik yang sama. Seketika saja Darma merasa linglung, kenapa ada kalimat yang membandingkan antara Akina dan Ratna? Apa sebenarnya mau  Darma? "Mas?" Perubahan tiba-tiba dari suaminya mengejutkan bagi Akina. Dipikir, Darma akan lebih terbuka padanya. Namun, tidak semudah itu menghadapi pria yang sudah jauh dewasa darinya. Seperti terlalu banyak pertimbangan dan berpikir sangat hati-hati. Akina menyikapinya dengan positif saja. Tidak ingin membuat spekulasi yang nantinya hanya membuat hati dan pikiran sakit. "Saya siapin air hangat saja?" tawar Akina. "Jangan. Masih siang, malah tambah gerah." "Ya sudah. Saya masak seperti yang mas minta, ya." Darma mengangguk kaku. Mereka berdua saja tidak mengerti apa yang sedang mereka lakukan sekarang. Tetiba akur, dekat, akrab. Namun, sekejap saja merasa asing satu sama lain. * Kegiatan mengguyur tubuhnya dengan air dingin ternyata tidak membantu barang sedikit saja keluh Darma dalam hati serta pikirannya. Setiap akan mendekat dan menjangkau Akina, seperti ada sekat samar yang menghalanginya. Entah hanya rasa bersalah pada Ratna atau memang enggan menyakiti Akina kalau nantinya semua harus terungkap. Mungkin Akina bisa menerima fakta bahwa pernikahan mereka dilakukan untuk timbal balik yang almarhum Harkatyanto serta Darma lakukan, tapi bagaimana jika nanti munculnya fakta mengenai Darma yang tak sendiri ketika menikahi Akina? Bolehkah Darma menyalahkan Gerry? Pengacara berpikiran picik yang selalu Darma gunakan dalam langkah berpolitiknya dalam bisnis. Apa menikah juga berbisnis? Darma tersentak, batinnya saja sudah melayangkan argumen. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Darma terus bertanya dan akan terus menanyakan langkah apa setelah semua ini diputuskan. Sekarang, salah satu pertanyaannya adalah... kapan Darma memberikan hak Akina sebagai seorang istri sepenuhnya? * Darma mengetukkan jemari pada permukaan meja kerja. Tak hanya jemari tangan, kakinya bahkan ikut serta mengetuk-ngetuk lantai ruangannya. Perasaan cemas, bingung, dan keinginan menggebu menjadi satu. Sungguh, dua bulan ini Darma tidak bisa berpikir lancar. Ketika Akina muncul, beredar di rumahnya dengan segala gaya yang penuh kecantikan, itu adalah godaan terindah yang Darma nikmati menggunakan mata. Dalam benaknya, bagaimana jika menikmati secara nyata dengan indera peraba? "Permisi, Pak." Sekretaris Darma mengetuk dan masuk ruangan. "Kenapa, Ken?" "Ada keluarga ibu Ratna datang, Pak." Keluarga? Darma beringsut dari kursinya. Kenapa tiba-tiba keluarga Ratna menyambangi kantornya? Apakah ada sesuatu yang akan terjadi? Baik atau buruk? "Suruh masuk, Ken. Jangan lupa pesankan hidangan yang pantas untuk mereka." "Baik, Pak." Belum selesai huru hara batin Darma mengenai Akina, sekarang harus menemui keluarga Ratna yang terbilang sudah lama lepas tangan dari putri mereka. Kenapa sekarang datang? "Siang Pa, Ma." Darma menyapa kedua orangtua Ratna. "Irgi, apa kabar?" Adik Ratna yang terkadang memang mengajak Darma bertemu untuk mengetahui kondisi kakaknya—Ratna. Wajah tidak suka Mahdi dan Ilya tidak luput dari pandangan Darma. Sudah sejak lama kedua orangtua Ratna membencinya karena berasal dari keluarga rival abadi mereka. "Jangan basa basi kamu, Darma. Siapa perempuan yang kamu nikahi dibelakang putri saya?!" Ilya menodong langsung tanpa mau mendengar Darma untuk mempersilahkan ketiganya duduk. Mahdi lebih tenang, tapi Darma bisa melihat bagaimana kemarahan itu makin menjadi. "Ma..." Irgi menegur. Tentu saja wanita baya itu tak mau tahu. "Harusnya saya paksa Ratna untuk menceraikan kamu dari dulu! Seenaknya kamu menduakan putri saya! Kamu enak-enakan dibelakangnya, sedangkan Ratna melawan sakitnya sendirian!" "Ma... tenang, dong. Jangan bar-bar begini!" Irgi kembali mengambil alih. "Bang Darma, sorry, ya. Mama memang darah tingginya lagi kumat." "Jangan bahas darah tinggi mama, Gi! Nggak ada hubungannya! Ini memang mama marah sama laki-laki nggak tau diri!" "Ma—" "Jangan sebut istri saya dengan panggilan itu lagi. Jangan sebut kami sebagai mama papamu, kami bukan siapa-siapa bagimu, Darma." Mahdi yang kini berganti berucap. "Oke. Maaf. Saya minta maaf pada kalian karena manikahi perempuan lain tanpa Ratna ketahui." Meski Darma ingin sekali menuntut mereka kenapa bisa tahu hal ini, tapi mengingat seberapa digdayanya keluarga Ratna, tentu bukan suatu hal yang sulit. "Saya harus menikahi perempuan itu, karena Ratna tidak bisa memberikan saya keturunan." "Lancang kamu! Siapa tahu kamu yang mandul!! Seenaknya saja kamu menuduh Ratna tidak bisa hamil!" "Bukan begitu, Tante Ilya. Ratna yang sakit membuat program kami untuk menjadi orangtua tidak mungkin berjalan, saya putuskan untuk menikah lagi karena itu bisa memperkuat saya di keluarga Yakta. Kalau om dan tante tidak terima, saya tetap akan menjalankan urusan saya ini." "Ceraikan Ratna kalau begitu," Mahdi berucap. "Menceraikan Ratna dan membuat kesehatannya semakin parah? Om mau melihat putri om mati mendadak?" Darma membalas. Membuat ketiga orang dihadapannya terkejut dengan apa yang dia lontarkan. "Kalian bahkan tidak pernah mengurus Ratna secara langsung, tapi giliran menghakimi saya sebagai suami tidak tahu diri lancar sekali. Coba kalian pikirkan, kenapa saya mempertahankan Ratna sampai sejauh ini? Kalau saya tidak tahu diri, saya akan meninggalkan Ratna setelah divonis penyakit ini dan itu. Saya akan dengan jahatnya berpisah dari Ratna dan membuatnya meninggal cepat." Darma mendengus. "Mana pernah kalian berpikir sejauh itu. Yang kalian sibukkan adalah mempertahankan egoisme masing-masing!" Ilya yang sepertinya tidak terima menimpali, "Kami sekeluarga bisa mengurusnya! Salah kamu sendiri yang sok merawat Ratna! Kalau tidak mau mengurus Ratna, lepaskan saja anak saya, s****n!" "Mama! Kenapa masih ngotot, sih? Kita yang salah, Bang Darma benar. Kalau mama punya hati, Bang Darma sudah terlalu banyak tersakiti. Bahkan sikap mama dan papa yang menelantarkan kak Ratna. Cuma bang Darma yang kak Ratna punya! Cuma bang Darma yang kak Ratna percaya!" Irgi menyela. Membeberkan semua pada mama dan papanya. "Meskipun begitu, papa tidak bisa terima ini." Mahdi menatap tajam Darma. "Apapun yang terjadi harus terjadi. Sekarang pilihannya ada di Darma. Ceraikan Ratna, atau istri keduanya." Darma seperti mendapat ribuan tusukan pisau di d**a. Nyeri sekali. Pilihan yang tidak ada positifnya. "Tapi saya harus mendapatkan anak—" "Ceraikan istri keduamu setelah bayi itu lahir. Jangan banyak mencari alasan. Secepatnya kamu mendapatkan anak, secepatnya juga kamu harus menceraikan istri keduamu." Darma berada dalam jurang kematian. Ya, dia pasti akan mati karena dituntut banyak pihak seperti ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD