X

1185 Words

Xander menatap bolak-balik dua kembarannya. Werryn cuek saja menekuni buku di tangan. Dan si sulung asyik mengutak kalkulator. “Gue nggak ketinggalan kabar penting selama gue ke Surabaya, kan?” Xander menyuarakan keanehannya melihat kedua kakaknya dapat berbagi sofa yang sama tanpa pertikaian. “Dia mau nikah.” Werryn menunjuk Vianka tanpa repot memindahkan fokusnya pada deretan huruf di lembaran buku. Pipi Vianka memerah dan Xander membekap mulutnya menggunakan tangan. Kakak perempuannya memang paling polos di antara mereka, tapi menikah bukan hal yang menakjubkan berkaitan Vianka. Sejak kecil, Vianka paling suka bermain jadi mempelai wanita dan sering memaksa Xander pura-pura jadi mempelai pria. Malah wajah kakak perempuannya yang mengundang perasaan geli pada Xander. Dia tahu Werryn p

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD