Ini Membuatku GILA!!! (flashback)

1438 Words
Rumah terasa begitu sunyi sekarang. Sejak Eyang meninggal, aku jadi tidak betah berada dirumah. Setiap hari terasa sangat panjang dan membosankan. Aku sering menghabiskan waktu dengan bekerja atau hanya sekedar duduk berlama-lama di café Arlette sambil menikmati secangkir caramel macchiato kesukaanku pada akhir pekan. Semua aku lakukan agar aku tidak jenuh dengan kesendirian ini.Teringat selalu ucapan Eyang padaku,”Nathania cucuku, jangan pernah merasa sendiri, Sayang. Jangan pernah merasa dendam kepada mama dan papa mu. Mereka sangat menyayangimu, Nat. hanya saja jalan yang mereka ambil untuk menyayangimu berbeda dengan kebanyakan orang tua lain diluar sana. Tetaplah bahagia, Nat. Eyang akan selalu bersamamu.” Tapi semua hanya tinggal kenangan. Pada akhirnya semua orang meninggalkan aku. Semua orang yang aku sayangi pergi dan tak pernah kembali. Dimana dan seperti apa kabar orang tua ku saja aku sudah tak tahu lagi. Dan mungkin sekarang sudah ada ditahap tak mau tahu. Tapi, satu yang pasti. Aku berjanji pada Eyang. Aku akan selalu bahagia. Selalu bahagia dengan caraku. Sore ini langit mendung,’ahhh, seperti nya langit juga sedang murung’ pikirku. Aku mengemas laptopku. Bersiap ke café dimana Arlette berada. Aku sungguh ingin berkeluh-kesah dengannya disaat-saat seperti ini, tapi pasti dia sangat sibuk sekarang mengingat ini adalah malam minggu. Biasanya café nya ramai pengunjung. Hanya jomblo sepertiku saja yang masih sibuk dengan kesendiriannya ******.             “Nat, lo nggak nyadar yah? Tuh om-om ngeliatin lo terus ihh dari tadi.” Aku menoleh kebelakang, kemana telunjuk Arlette mengarah.             Kulihat seorang laki-laki setengah baya tersenyum padaku. Ku pikir dia hanyalah laki-laki yang sedang puber kedua. Mencari mangsa untuk memuaskan nafsu birahinya. Aku tidak tertarik menjadi mainannya.             “Biarin aja, Lette! Gue nggak kenal. Paling juga cuma g***n gatel lagi cari  mangsa.” Aku meringis lalu melanjutkan aktifitasku berselancar didunia maya.             Arlette tertawa.             “Gimana ya rasanya sama g***n?” Arlette menyenggol pundakku dengan pundaknya.             “Somplak otak lo! Kenan tau gak adeknya masih sakit?” aku mulai menggoda sahabatku ini dengan menyebutkan nama kakak laki-lakinya. Aku tahu pasti dia tidak ingin mengulangi kesalahannya yang dulu atau Kenan akan membawanya ke Qatar lagi.             “Iihh apaan sih lo! Gak asik!! Jangan lupa bayar tuh kopi!” aku tertawa melihat Arlette berlalu pergi.             Arlette gadis yang baik pada awalnya. Tapi hidupnya seakan berakhir saat kekasihnya, Denny, pergi meninggalkannya begitu saja. Sejak saat itu Arlette mulai bertingkah seperti bukan dirinya lagi. Dia mulai menghabiskan waktunya dengan banyak laki-laki, berganti-ganti dari si A ke si B, dari si B ke si C. Begitu seterusnya hingga dia terlihat begitu menyedihkan.             Semua dilakukan tanpa ada ikatan apapun. Cinta semalam. Suka sama suka. Dihari selanjutnya dia akan menghabiskan malam di bar. Dan aku yang akan menjadi driver baginya, setiap malam menjemputnya. Jangan sampai dia pulang sendirian, bisa-bisa Arlette tidak akan sampai kerumah. Hal itu membuat Kenan, kakaknya yang saat itu sedang merintis usahanya di Qatar merasa khawatir sekaligus jengah dengan kelakuan adik satu-satunya itu. Sampai pada akhirnya dia membawa Arlette ke Qatar untuk tinggal bersamanya. Agar Kenan lebih bisa mengawasi adik kesayangannya itu. Lagipula, disini mereka sudah tidak punya orang tua lagi. Mereka sudah meninggal sejak Arlette masih SMA. Akan lebih bagus bagi Arlette sebenarnya tinggal dengan Kenan saja. Namun sepertinya tidak dengan pemikiran Arlette. Baginya tinggal bersama Kenan adalah malapetaka. Melebihi berada di neraka. Qatar tempat yang asyik. Tapi menjadi tidak asyik karena harus ada kakaknya yang bahkan melebihi cctv. Kenan akan mengatur hari-hari Arlette. Apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dia lakukan. Semua diatur oleh kakaknya. Padahal semua itu semata-mata karena Kenan sangat menyayangi Arlette. Benar, semua yang berlebihan itu memang tidak akan baik 1tahun yang lalu, akhirnya Arlette kembali ke Indonesia. Dia sudah kembali seperti semula. Siap memulai kehidupan barunya disini.             “Hallo.. Boleh duduk disini?” Tanya seorang laki-laki dihadapanku. Aku mendongak, melihat wajahnya. Dia tersenyum. Memperlihatkan barisan gigi rapi miliknya. Wajahnya bersih tanpa kumis dan jambang. Dia om-om yang sedari tadi memperhatikan aku.             “Maaf, Pak. Saya sedang ingin sendiri.” Aku menyeruput kopi dicangkir. Sudah mulai dingin. Rasanya tidak nikmat lagi. Kembali ku letakkan cangkir kopi itu. Ahhh, aku suntuk sekali hari ini.             Aku tahu laki-laki itu akan tetap duduk walaupun aku sudah menolak untuk berbagi meja dengannya. Dan ternyata benar, dia nekat duduk dihadapanku.             “Anda tidak sedang sakit telinga kan? Saya bilang, saya sedang ingin sendiri!” mataku mendelik, aku malu duduk dengan om-om seperti dia. Bagaimana kalau ada pria tampan melihatku? Bisa-bisa mereka menyangka aku ini simpanan om-om. Mengerikan!             Dia hanya tersenyum padaku, lalu melambaikan tangan pada waitress. Aku masih tidak percaya dengan yang aku lihat saat ini. Dia sungguh menganggap aku menerimanya. “Boleh berkenalan? Aku Hanum Utama..” dia mengulurkan tangannya. Aku bukan lah gadis yang ramah. Tentu saja aku mengabaikannya. Aku melengos, tidak ingin berjabat tangan dengannya. Waitress datang dengan cepat, siap melayani pelanggannya. “Tolong bill meja no 10 yaa.. sekalian dengan meja ini.” Katanya. Dia berniat membayar pesananku. “Meja ini gak usah! Nih, kembaliannya ambil aja.” Aku menyerahkan uang 150rb kepada waitress itu. Dia tersneyum, mengucapkan terima kasih lalu pergi meninggalkan aku dengan laki-laki didepanku. Aku mulai jengah, cepat-cepat aku memasukan laptop dan handphone kedalam tas. Aku ingin pulang. Mataku lelah, lebih lelah lagi karena bukan pria tampan yang ada dihadapanku melainkan g***n genit. “Saya tidak berminat berbagi nama, Pak.” ketusku sambil berdiri memundurkan kursi. “Hmm, begitu ya, Nathania Shiya??” dia menarik tangannya, menyilangkannya didepan d**a bidangnya, tersenyum menatapku. Mataku terbelalak. Dia tahu namaku? Aku duduk kembali,”Anda tahu nama saya?” dia tersenyum mengangguk. “Panggil aku Hanum saja. Jadi apa aku boleh memanggilmu ‘Nat’?” Yang benar saja. Mungkin umurnya sama dengan papaku sekarang. Mana mungkin aku memanggilnya hanya Hanum saja. Dan seharusnya dia tidak memanggilku dengan nama panggilan untuk orang terdekat ku biasa. Aku mendengus. “Silahkan, Pak Hanum. Jadi dari mana anda tau nama saya? Apa anda mengenal saya? Atau anda  memata-matai saya? Saya tidak ingin bertele-tele.” Dia tertawa menggelegar. Aku kikuk. Aku menempelkan jari telunjuk ke bibirku, isyarat agar dia memelankan tawanya. Beberapa pengunjung café bahkan menoleh kearah kami. Aku sangat malu. “Aku Hanum Utama, Nat. Apa yang tidak aku ketahui. Apalagi perihal gadis yang aku sukai, tentu aku tau semua tentangmu.” Aku mulai bergidik ngeri. Dia mengerikan. Benar-benar mengerikan. Aku harus menjauhinya. aku harus pergi sekarang juga. Aku tidak mau jatuh kedalam lubang buaya. “Maaf, saya harus pulang Pak Hanum. Permisi.” Aku berdiri lalu mulai berjalan menjauhinya, bagaimana bisa ada laki-laki seperti itu. Bahkan sebelum ini kami tidak pernah bertemu, tapi dia sudah bilang menyukaiku. Tahu segalanya tentang aku? Haha, jangan bercanda! Seketika, rasa takut menggelayut didadaku. “Lette, gue balik ya!” Arlette mengangkat tangannya sembari menganggguk. Dia sedang sibuk di belakang mesin kasir sampai dia mungkin tidak memperhatikan tadi si g***n mendekatiku.. Aku tidak tau apa yang dia lakukan disitu. Padahal pegawai kasirnya sudah 2 orang. Dia boss yang posesif. Haha. “Hmm, ati-ati lo dijalan. Ini udah malem. Jangan mampir-mampir!” lagi-lagi dia berlebihan. Seharusnya aku yang mengkhawatirkan dia, bukan dia yang mengkhawatirkan aku. “Hmm.. Bye!”aku melambaikan tanganku padanya. Hubungan kami seperti itu. Sama-sama yatim piatu, tidak punya saudara lagi dikota ini. Bedanya dia punya Kenan sedangkan aku benar-benar sendirian. Disaat tidak ada tempat mengeluh, kami selalu ada satu dengan yang lain. Saling melindungi, walaupun tidak jarang pertengkaran kecil mewarnai pertemanan kami. Bukankah tidak ada jalan yang selalu mulus? “Boleh aku mengantarkanmu pulang, Nat?” suara itu mengagetkanku. Aku membalikkan badan. “Ya Tuhan! Pak Hanum!?” aku semakin kaget. Jantungku hampir saja melompat keluar dari tempatnya. Di bus stop sepi tiba-tiba ada yang menawarimu untuk mengantar pulang? “Aku hanya ingin mengantar mu pulang. Itu saja. Aku tidak ingin hal buruk menimpamu, Nat..” yang benar saja. Satu satunya hal buruk yang akan menimpaku adalah kalo dia terus-terusan seperti ini. Melihatnya saja membuat aku ilfeel. “Maaf, apa istri anda nggak nyariin, Pak?” dia terdiam. Sepertinya dia sudah mengerti posisinya sekarang. Memang benar kan? Seharusnya dia ada dirumah dengan istri dan anak-anaknya saat ini. Kenapa dia malah kelayapan menggoda gadis? Bus ku datang. Aku melambaikan tangan, isyarat agar busnya berhenti. “Maaf, bus saya sudah datang. Permisi, Pak Hanum. Saya pulang dulu.” Aku berbasa-basi busuk. “Hmm... Hati-hati, Nat.. Jaga dirimu baik-baik” Dia melangkah maju mencium keningku. Aku tidak sempat lagi mengelak. Mataku terbelalak. Berani sekali dia berlaku seperti itu kepada ku. “Heiii… apa yang kamu lakukan!! Ini kurang ajar banget loh! Kamu mencium aku tanpa ijin. Ini pelecehan. Anda  pikir anda siapa?! Hah?!” aku sangat marah. Aku merasa sangat tidak dihargai. Reflek kata-kata keluar dari mulutku dengan keras. Bus ku sudah berlalu karena aku sibuk marah-marah dengan orang tua kurang ajar ini sampai aku lupa dengan lambaian tanganku, pasti sopir bus itu mengira aku tidak jadi naik bus. Huft! Aku harus naik taksi sekarang karena itu tadi adalah bus terakhir malam ini. “Haahhhhh!!!” aku mendengus kesal. Berkacak pinggang sambil memegang jidatku bekas dicium olehnya. Pening. Aku melirik marah kearah laki-laki didepanku, dia tersenyum. Ada apa dengan laki-laki ini sebenarnya. Tadi dia bilang menyukai aku, sekarang dia mencium kening ku. Jika begini terus bisa-bisa besok mungkin aku akan kehilangan keperawananku bila terus berada didekatnya. Aaarrrgggghhhh, ini membuat aku gila!!!                
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD