Bau sabun mandi menyeruak dari badan Mas Hanum. Wangi musk yang sangat aku suka, sangat maskulin. Dia merebahkan tubuh disampingku. Aku ingin sekali melanjutkan perbincangan kami tadi. Namun sebelum aku buka mulut, dia sudah terlebih dulu memelukku. Dia mencium pipiku, lalu mengarahkan tangannya kebawah tengkukku. Aku tahu, dia ingin memberikan tangannya untuk bantalan leherku. Tapi aku tidak membutuhkan itu saat ini. Yang aku butuhkan saat ini adalah jawaban atas keingintahuanku. Siapa wanita yang tadi siang bersama dengan Mas Hanum.
Aku membelakangi dia. Aku tahu dia paling tidak suka dibelakangi seperti ini. Dengan cepat, dia membalikkan badan ku kearahnya. Bersiap untuk menerkam ku, menyembunyikan mukanya dileherku, menghirup aroma parfumku, mencium dan menghisapnya pelan. Dia tahu cara memenangkan aku. Entah dia yang pandai atau aku yang lemah.
“Aaarghh, Maassss..” sepertinya dia menyukai desahanku. Dia terus saja bertindak seperti itu. Mengecup lalu menghisap leherku.
Tanganku menahan dadany. Berusaha untuk menjauhkan badan dan wajahnya dariku.
“Mas, ijinkan aku bertanya 1 hal padamu terlebih dahulu…” Mas Hanum tampak tidak menyukai aktifitas malamnya diinterupsi. Ku lihat juniornya sudah menggeliat didalam celana.
“Katakan, Sayang.” Mas Hanum terus saja melanjutkan gerilyanya atas tubuhku. Dia mulai mengecup leher depan ku. Tangannya mulai menurunkan lingerie-ku, memperlihatkan bra merahku dengan bahan lace tanpa cup. Mas Hanum terpesona melihat gundukan kenyal dengan bayangan kecoklatan yang ada dibalik bra.
“Mas, tadi siang aku melihatmu.. menggandeng seorang wanita. Siapa dia, Mas?” seketika Mas Hanum menghendikan kegiatannya, terdiam. Dia memandang aku lekat-lekat. Seakan tak percaya apa yang baru saja aku katakan.
“Siapa? Mungkin kamu salah lihat, Sayang. Mas kan seharian dikantor.” Mas Hanum tampak kikuk
“Bersumpahlah demi Tuhan, Mas!” aku meradang. Mataku mendelik. Jelas. Sangat jelas aku melihatnya tadi siang, tapi dia masih bisa berkelit.
Mas Hanum terdiam cukup lama, seperti ada yang dipikirkannya matang-matang. Dan aku sudaah siap dengan segala yang akan dia katakana kepadaku.
“Nat, mungkin ini akan ssedikit membuatmu terkejut. Dia… adalah istri pertamaku.” Mas Hanum menghela nafas panjang.
Blaarrrrrr!!! Bagai disambar petir diatas kepalaku. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa hal ini yang akan dia katakana kepadaku.
“ISTRI, Mas??!” aku terpekik. Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar.
“Ya, Nat. Dia istri pertama Mas. Mas menikahi mu setelah dia dengan tiba-tiba meninggalkan Mas. Setelah sekian lama dia pergi, sekarang dia kembali, Nat. Dengan membawa anak kami.” Mas Hanum menekankan pada kata ‘anak kami’
Sungguh dunia seperti runtuh bagiku. Anak, anak, dan anak yang dia sebut setiap hari. Aku bosan mendengarnya.
“Mas.. bagaimana mungkin dia istrimu, Mas?! Kamu nggak pernah bilang kalau kamu punya istri sebelumnya? Aku istrimu!! Sah!!” rasanya ingin aku berteriak sekuat tenaga.
“Tapi dia juga istriku, Nat! Dia melahirkan anakku!”
Plaakkkkkk!!!!
Tanganku mengayun begitu saja ke pipi Mas Hanum.
Ku lihat rona wajah Mas Hanum, merah padam. Dia marah. Dia murka. Tapi aku tak peduli.
Aku beranjak dari tempat tidur besar itu. Siap-siap pergi meninggalkan laki-laki durjana yang sudah berbohong bahkan sejak awal pernikahan kami. Sebelum tangan besar itu tiba-tiba menarik tanganku.
“Kamu mau kemana, Nat?” aku sedikitpun tak ingin menoleh padanya kali ini.
Dia menikah denganku, Nathania. Muda, cantik dan menarik. Tapi, bahkan sekarang dia menyakiti aku, membohongi aku. Dia laki-laki yang tidak pantas aku nikahi, bahkan sejak awala pernikahan kami.
“Aku nggak bisa bersamamu lagi, Mas. Ceraikan aku! Kalau kamu mau punya anak, kamu sudah mendapatkannya. Aku muak padamu, Mas. Kuturuti semua perintahmu, tapi kamu menghancurkan aku seperti ini? Aku menyesal jadi istrimu!!” sungguh berat beban ku sekarang.
Aku tidak pernah merasa sakit dan marah seperti ini sebelumnya. Bahkan saat orang tua ku memutuskan menitipkan aku ketempat Eyang saat usia ku baru 7 tahun. Meninggalkan aku begitu saja tanpa belaian kasih sayang mereka. Tidak. Tidak sebesar rasa sakit dan kemarahanku pada Mas Hanum saat ini.
Sungguh aku sangat ingin berteriak. Tapi apa hal itu akan membuat beban hidupku berkurang. Atau mungkin malah akan membangunkan para tetangga dan semua orang akan tau bahwa aku lah sebenarnya pelakor yang didustai buaya darat. Ahhh sudahlah, aku muak membahasnya.
“Mas nggak akan pernah menceraikanmu, Nat. Mas benar-benar mencintaimu. Tolong jangan meminta perceraian padaku.” Suaranya terdengar parau.
Tanpa sadar aku menoleh pada nya. Ku lihat matanya memerah. Ada penyesalan dan putus asa disana. Tapi aku benar-benar merasa marah, muak, benci, sedih. Semua bercampur jadi satu.
Apakah dia benar-benar mencintaiku?
Atau aku yang tidak benar-benar mencintainya?
Hatiku hancur. Mengapa dia terlihat sangat bahagia tadi siang dengan wanita itu. Seharusnya tadi siang dia memikirkan aku walau sedikit saja. Atau karena wanita itu sudah memberikannya anak? Dan aku belum? Ahhhh mengingatnya membuatku murka.
“Maaf, Mas. Aku nggak bisa seperti ini. Kita akhiri saja pernikahan kita. Aku nggak mau jadi duri dalam daging.” Ku kibaskan tangan Mas Hanum kuat-kuat.
Aku sungguh ingin pergi sekarang. Toh dia sudah memiliki keluarga utuh. Istri. Anak. Hidupku juga jauh lebih berharga. Aku berhak mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari Mas Hanum.
Segera ku langkah kaki menuju almari, hendak mengemasi pakaianku.
Mas Hanum seketika berdiri. Dia memelukku erat dari belakang, seakan mencegah niatku untuk pergi. Dia mengecup tengkukku, lalu menghisapnya kuat hingga meninggalkan bekas disana. Aku melenguh sesaat. Geleyar mulai menjalar disekujur tubuh ketika tangannya bergerak meremas dadaku dengan lembut sambil tetap memelukku.
Perasaan aneh apa ini. Aku sedang marah padanya, tapi aku tidak bisa menolak saat dia memperlakukan ku seperti ini.
“Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Sayang. Selamanya kamu cuma boleh aku nikmati. Nggak ada yang boleh menikmati tubuhmu selain aku.. Hhmmmm?” tangan Mas Hanum mulai meraba turun.
“Hmmmmm… Masss, jangan begini mass…” desahku. Tangannya mulai menggesek area intimku.
“Sayang, kamu nggak bisa menolak aku, kan?” kata Mas Hanum sambil berusaha memasukan telunjuk nya pada kewanitaaanku.
“Massss…PLEASE!!!” Bentakan keluar dari mulutku.
Namun rupanya hal itu tidak menyurutkan keinginan Mas Hanum untuk menahanku tetap ada disisinya. Dia bertindak seperti sedang kesetanan. Dia menghempaskan aku ke kasur lalu mulai membuka piyama nya satu per satu
“Kamu nggak akan pernah bisa pergi dariku, Nat! Aku akan buat kamu melahirkan anakku!” pandangan Mas Hanum seketika membuatku ngeri. Dia seperti bukan Hanum yang aku kenal.
Tanpa dikomando, aku berusaha berdiri dan berlari. Aku tidak ingin hamil apalagi melahirkan anaknya. Laki-laki yang membuatku menyesal telah menikahinya.
Namun sia-sia. Mas Hanum berhasil meraih kakiku, membuka kedua kakiku, hingga terlihat celana dalam bahan lace senada dengan bra.
Segera tanpa aba-aba, Mas Hanum menarik celana dalamku hingga terlepas, lalu menjilatinya yang tersembunyi didalamnya. Memaju-mundurkan lidahnya lalu menghisap dengan kasar hingga aku ngilu. Sekuat tenaga aku berusaha menutup kakiku. Namun cengkaraman Mas Hanum begitu kuat membuatku nyeri bertahan berlama-lama.
Akhirnya aku putuskan untuk menyerah pada permainan Mas Hanum. Melawannya akan sia-sia saja mengingat Mas Hanum sudah diliputi emosi dan birahi yang tinggi.
Malam itu berakhir dengan aku jatuh dipelukan Mas Hanum. Tidak seperti malam-malam sebelumnya yang terasa sangat nikmat, malam ini aku merasa berhubungan intim dengan Mas Hanum begitu menyakitkan.
Tangisan dan rintihanku memohon ampun sama sekali tidak digubris Mas Hanum. Nyeri disekujur tubuhku. Bekas-bekas cupang dari bibir Mas Hanum hampir memenuhi leher dan dadaku. Perih aku rasakan disekitar areola. Aku yakin ada yang luka disana. Pasti dia sengaja melakukan hal itu, agar aku tidak berani keluar dari rumah. Ini hukuman untukku, karena aku berani berkata bahwa aku ingin bercerai darinya.
Aku ingin malam segera beranjak pagi, agar laki-laki ini segera pergi. Agar aku bisa secepatnya keluar dari sini. Tuhan, bantulah aku..