Aku masih tidak percaya yang aku lihat sekarang adalah dia. Laki-laki yang sampai tadi pagi masih kucium tangannya. Laki-laki yang sampai 1 detik lalu masih sangat ingin aku peluk. Masih sangat aku sayangi, tapi itu 1detik lalu sebelum aku yakin bahwa sekarang aku melihatnya bersama wanita lain. Dia lelaki separuh baya yang selama 1tahun terakhir menjadi suamiku. Tepat berada 10meter didepanku. Menggenggam tangan wanita lain dengan erat. Dia wanita yang terlihat berusia tidak jauh beda dengan Mas Hanum. Siapa wanita itu?
Aku tidak beranjak dari tempat dudukku di café Arlette. Dari kejauhan masih dapat kutangkap gerak-gerik tubuh Mas Hanum semakin mesra pada wanita itu. Mas Hanum mencium puncak kepala wanita itu.
‘Sungguh tidak tau malu mereka. Laki-laki itu! Apa dia tidak ingat masih punya aku??’ batinku bergemuruh.
Sekarang Mas Hanum melepaskan genggaman tangannya, dia mengapit pinggul wanita itu, menarik mendekatkan tubuh wanita itu kepadanya. Hatiku panas. Otakku mendidih. Ku keluarkan iphone seri terbaru pemberian Mas Hanum 2minggu lalu sebagai hadiah ulang tahunku. 1jepretan, 2jepretan, 3jepretan. Aku benar-benar merasa dikhianati. Rasanya sudah patah hasratku untuk menjalin hubungan rumah tangga yang harmonis dengan laki-laki setengah baya itu.
“Lo liat apa?” Arlette datang membawa pesananku. Caramel macchiato.
“Nggak. Café lo selalu sepi kayak gini, Lette?” aku tidak ingin menceritakan apa yang baru saja aku lihat pada Arlette.
Aku. Nathania. Sekarang aku memergoki suamiku mencium wanita lain? Itu sangat melukai harga diriku!
Pukul 16.50 WIB. Aku sudah harus pulang sekarang, sebelum Mas Hanum tiba dirumah. Dia tidak suka pulang kerumah sehabis bekerja tanpa sambutan dariku. Setidaknya sampai kemarin, dia masih seperti itu. Tidak berubah.
Café Arlette terletak di mall tidak jauh dari rumah. Hanya butuh waktu 10menit untuk pulang dengan mengendarai mobil. Setidaknya aku akan sampai dirumah tepat waktu.
Rumah, 17.43 WIB
Aku sedang duduk di ruang tamu. Duduk menunggu Mas Hanum pulang. Aku akan memastikan apa yang aku lihat tadi siang di mall, malam ini.
“Hallo sayang… apa kegiatan mu hari ini? Udah makan malam?” Dia mencium dahiku. Seperti biasa dia akan menanyakan apa kegiatan ku hari ini.
Sejak aku menikah dengan Mas Hanum, dia meminta ku untuk resign. Praktis kerjaanku hanya dirumah ataupun hanya jalan-jalan kesana-kemari sekedar untuk merefresh pikiran agak tidak suntuk.
Alasannya jelas, dia ingin aku tidak stress agar aku cepat hamil. Mengingat usianya sudah menginjak 49 tahun. Sedangkan aku masih 26 tahun kala itu. Namun sampai sekarang pernikahan kami genap satu tahun, Tuhan belum juga memberikanku berkat kehamilan.
“Udah, Mas. Aku makan di café Arlette. Mas sendiri, kemana hari ini?” Sengaja aku bertanya. Walaupun aku tahu sia-sia saja. Kulihat mimik wajahnya. Datar. Seperti tidak ada yang salah dengan hari ini.
“Kamu ini gimana sih, Sayang. Kan kamu tahu aku pergi bekerja. Ya pasti aku dikantor.” Dia tersenyum. Lalu beranjak ke kamar meninggalkan aku dengan hati yang masih panas.
Aku segera beranjak menyusulnya kekamar. Dia sedang melepas baju kerjanya. Tubuh berisinya mulai telanjang perlahan dari atas kebawah. Kini dia hampir telanjang bulat, lalu mengambil handuk baru dari tumpukan handuk di almari. Aku memperhatikan setiap gerak-geriknya. Mas Hanum tampak kikuk saat menyadari bahwa aku sedari tadi memperhatikannya.
“Kenapa, Sayang? Sepertinya ada yang ingin kamu katakan.” Dia memelukku. Mengecup pundak ku, mengecup pipi ku, bibirku, lalu menghisapnya perlahan.
Sungguh aku sangat menyukainya memperlakukan aku seperti ini, namun saat teringat kejadian tadi siang, aku menjadi sangat muak pada sikapnya sekarang.
“Mas, apa kamu masih setia sama aku? Aku takut kamu tiba-tiba menduakan aku, Mas.” Aku tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Aku sudah tidak sabar untuk menanyakan hal itu padanya. Aku merasa sangat sakit mengingat peristiwa tadi siang.
“Kamu ini bicara apa, Sayang?? Sejak tadi kamu terlihat aneh. Tentu saja Mas sangat setia padamu. Mana mungkin Mas menduakan kamu. Kamu istri Mas yang paling Mas cintai. Dari mana kamu punya pemikiran seperti itu?”, Mas Hanum meyakinkan aku. Dia melepaskan pelukan nya lalu menatap dan memegang kedua pundak ku. Seakan dia ingin aku benar-benar percaya padanya. Sedangkan aku masih terdiam, memutar kembali memori tadi siang yang terekam jelas diingatan ku. Ku pandang matanya lekat-lekat, ada sesuatu yang disembunyikan olehnya disana.
“Sudah ya, Sayang. Mas mandi dulu. Mas gerah nih dari tadi pagi sibuk banget. Kamu harus percaya sama Mas. Mas nggak akan mungkin menduakan kamu atau bahkan ninggalin kamu. Impossible, Nat.” Mas Hanum beranjak meninggalkan aku yang masih berkutat dengan pikiran ku sendiri yang entah seperti apa sekarang, aku pun bingung.
Aku merebahkan badan ku. Rasanya sangat lelah hari ini. Aku berkutat dengan semua pikiranku berdasarkan fakta yang aku lihat tadi siang.
Namun sangat mengherankan bahwa aku mengetahui Mas Hanum menduakan aku, tapi kenapa rasanya aku tidak ingin menangis hari ini. Normalnya seorang istri akan menangis, terluka parah, mengamuk membabi buta pada suaminya apabila mengetahui suaminya berkhianat. Tapi, bahkan setetes air mata pun tidak keluar dari mataku. Apa aku tidak sungguh-sungguh mencintai Mas Hanum?