I Need You Now (flashback)

1077 Words
Sore ini seperti sore-sore diakhir minggu sbelumnya. Aku pergi ke café Arlette.Arlette duduk bersamaku sekarang karena café sedang sepi. Aku memakai dress rajut warna coklat muda sepanjang paha berbahan rajut, hampir senada dengan warna kulitku.  Dress ini melekat pas dibadanku, mencetak jelas lekuk tubuhku. Tidak lupa menjepit asal rambutku, agar terlihat lebih rapi. Aku mengedarkan pandanganku. Syukurlah aku tidak melihat Hanum hari ini. Aku menghela nafas lega. “Nat, emang bener ya om-om yang kemaren itu suka sama lo?” Tanya Arlette dengan suara yang keras. Cukup mengagetkan aku palagi sekarang aku sednag menyelidiki nya apakah dia ada disini atau tidak. “Hmm.. ntahlah.. aku juga tidak tau pasti, Lette” jawabku sambil mengangkat bahu tanda akupun tidak tahu pasti. Yang jelas, ada sering mengikuti aku. Aku sampai jengah melihat dia ada dimana-mana. Aku seperti tidak punya privasi lagi karena dia bisa menemukan aku dimana pun aku berada. Seperti dia punya mata-mata disekitarku yang siap melaporkan keberadaanku kepadanya setiap saat. “Jangan deh! Lo kan tau, Nat. Jaman sekarang lagi banyak banget om-om nyari mangsa buat dijadiin bini keduaa, atau nggak mlah Cuma dijadiin baby sugar. Lo mau kayak gitu, Nat?” “Ya nggak lah, Odong! Lagian siapa juga yang mau sama aki-aki kayak gitu? Gue masih bisa nyari cowok yang lebih tauk! Sanggahku. Kau juga masih waras kan kalo mau punya pacar. Yaahh kecuali memang didunia ini tidak ada lagi pilihan laki-laki lain ya mau bagaimana lagi. Terpaksa deh. “Buktinya, lo betah banget ngejomblo. Bertahun-tahun gue liat, lo nggak pernah punya cowok.” Kampret nih anak mau ngebully temennya sendiri. “Lo temen gue bukan sikkk? Rese!” aku merengut. ‘Lo nggak tau aja Lette, gue nungguin abang lo’, semoga rindu ini bersambut, Tuhan… kataku dalam hati.                                                                         ****** “Haii cantik. Lagi nungguin siapa nih??” suara disampingku membuyarkan lamunanku. Aku menoleh. Dua orang pria, satu gondrong berbadan kurus, yang satunya lagi agak gemuk berambut cepak. Aku terdiam. Aku tidak mengenal mereka. Paling juga mereka iseng menggodaku. Biasa seperti itu. Aku tidak menghiraukannya. “Ehh, diajak ngomong kog diem aja!? Bisu ya?” yang berbadan agak gemuk mulai menggertakku. Aku mulai takut. Kudekap erat tasku. Kenapa taksi tidak ada satupun yang lewat. Padahal sekarng juga masih jam setengah sembilan malam. Biasanya ada saja yang lewat setiap saat. “udah, To! Sikat aja! Bening itu, sayang dilewatin”  yang kurus bicara. Sikat?? Aku mau diapain ini. Seketika otakku nyuruh buat teriak. “Tolooong! Tolooong! Saya  mau dirampok! Tolooong!” hati mulai tidak tenang, aku ketakutan. Berharap Hanum akan menguntit aku disaat-saat seperti ini! Hahhhh?? Wait! Apa yang baru saja aku pikirkan. Hanum? Ohhh tidak, otakku mulai gesrek sekarang. Apa tidak ada laki-laki lain yang bisa aku harapkan kemunculan nya selain Hanum? Si badan gemuk mulai membekap aku dan menyeretku kebelakang halte. Aku mulai meronta dan menangis. Sedangkan si badan kurus mengangkat kakiku. Mereka berdua membopong aku ke area sepi dibelakang halte. Aku menjerit, meminta pertolongan, tapi satupun tidak ada yang mendengarkan aku. Kemudian aku teringat, aku memakai dress tanpa celana short hari ini. Ya Tuhan, jika engkau sayang padaku, maka lindungilah aku Tuhan. Aku sudah tidak bisa berteriak kecuali suara lirih yang keluar dari sela-sela bekapan kain dimulutku. Mereka mengikat tanganku, lalu meletakkan aku disemak yang terletak cukup jauh dibelakang halte menambatkan tangan ku pada apa aku tidak tahu. Mereka  memegangi kakiku, satu orang 1 kaki. Tubuh kecilku tidak mampu melawan. Halte itu sangat minim penerangan. Apalagi disini pasti tidak aka nada orang yang lewat lagi. Air mata ku berderai, aku sudah kehilangan harapan malam ini. Ya Tuhan, inikah akhir hidupku … Si kurus mulai menaikan dress ku hingga menutupi lengan tangan dan wajahku. Pandanganku gelap tertutup dressku sendiri. Aku tidak bisa melihat apapun. Hanya dapat merasakan apa yang mereka lakukan kepadaku. Aku sungguh jijik dengan perbuatan mereka. “Mulus, To! Kamu dulu apa ak dulu?” terdengar bisik-bisik dari mereka. Aku menggigil ketakutan. “Bareng-bareng ajalah, Dun. Katanya kalo bareng lebih enak.” Aku terus berusaha memberontak sekuat tenaga. Kudengar mereka tertawa. Biadap! Aku merasakan tangan mereka menggerayangi tubuhku mengelus-elus dadaku lalu berusaha menaikan bra yang aku pakai. Kepalaku bergerak kekanan-kiri. Aku tidak mau berakhir seperti ini, aku terus mengerang, siapa tau Tuhan mengirimkan pertolongan lewat manusia yang lewat disni. “Tenanglah, Cantik! Kamu pasti akan kami puaskan nanti…” suara itu membuatku bergidik. Aku merinding. Aku semakin kuat menggerakan tangan, kaki dan kepalaku. Kenapa tidak ada satupun orang yang datang menolongku. Air mataku mengalir deras saat ini. Hanum, dimana kamu? Aku membutuhkanmu sekarang.. Lalu, aku syok.. Aku merasakan dua tangan mulai menurunkan celana dalamku. Diirngi suara kekeh lirih mereka berdua. “tipis, To!” jarinya menelusup diarea selangkanganku. Habis aku kali ini. Aku pasrah. Aku meronta sekuat tenaga. Kini celanaku sudah ada dipaha. Kurasakan satu tangan berusaha menelusup kearea vitalku. Oohhh kumohon jangan. Suaraku mulai serak, tapi aku tidak putus asa dan terus mengerang. Mereka benar-benar menikmati tubuhku secara bersamaan. Ku rasakan dibagian dadaku hangat. Satu orang mulai mengulum dan menghidap-hisap dadaku. Aku tertegun sesaat lalu tersadar. Mereka memang benar-benar akan memperkosa aku. Ku rasakan kegiatan mereka lalu terhenti. Ada suara memanggilku… “Na!! Nathania!! Dimana kamu, Nat!!” itu Hanum. Dia datang. Aku meronta sekuat tenaga, aku mengerang sekeras mungkin, semampuku. “Ada orang, To!! Kabur!” aku mendengar suraa mereka mengisyaratkan untuk lari. Aku merasakan tangan mereka mulai beranjak dari tubuhku. Mereka berdiri bersiap berlari. “Nathania!! Dimana kamu!??” suara Hanum makin mendekat. Sedangkan dua orang itu tak kurasakan lagi keberadaan mereka didekatku. Kakiku bebas, aku menjejakan kaki sekuat aku bisa sambil mengerang berharap Hanum bisa mendengar bunyi yang aku buat. Mulutku masih terbungkam. Mataku masih tertutup dressku sendiri. Tanganku masih terikat dan tertambat pada sesuatu yang entah apa itu aku tak tahu. Aku mendengar derap langkah itu semakin mendekat. Lalu… “Astagaaa!! Nat!” tangan itu meraih tubuh. Aku tau ini Hanum. Dia menurunkan dressku dengan cepat, menaikan celana dalamku, lalu membuka jaketnya dan menutupkan nya ke badanku. Hanum membuka ikatan ditangan ku dan membuka sumpalan dimulutku. Aku memeluknya, menangis sejadinya dipelukannya. Sungguh aku bersyukur dia datang dan menyelamatkan aku malam ini. “Nathania, tenang lah, aku ada disini. Kamu aman bersamaku.” Dia masih memelukku, mengusap lembut rambutku. Mencoba menenangkan aku dari kejadian buruk yang hampir saja merenggut kegadisanku. Aku masih sesenggukan. Dia menggendongku menuju kemobilnya. Sambil menenteng tas dan sebelah sepatuku. Dia mendudukan aku dikursi depan, memassangkan seatbelt untukku. Kali ini aku tidak menolak. “Kita pulang kerumahku ya, Nat. Kamu akan aman berada dirumahku.” Tanpa menunggu persetujuanku dia melajukan mobilnya. Tatapan mataku Teringat kejadian yang baru saja aku alami, bisa saja aku mati ditangan dua orang jahat itu seandainya saja Hanum tidak datang menolongku. “Terima kasih, Mas..” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Kulihat dia tersenyum mendengar aku menaggilnya ‘MAS’ Hanum menepikan mobil. Melepaskan seatbeltnya, bergerak mengarahkan tubuhnya kepadaku. “Aku mencintaimu, Nathania.” Dia menatapku lekat. Tiba-tiba aku tersadar. Aku mulai risih kembali berada didekatnya. Aku memalingkan muka kearah jendela. Hanum menghela nafas panjang.  Lalu menjalankan mobilnya kembali, melaju menuju kerumahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD