Kami memasuki kawasan perumahan yang semua bangunan nya bermodel sama. Saat memasuki area komplek, Hanum mengeluarkan safety card. Mungkin kartu yang hanya dimiliki oleh penghuni komplek. Saat kartu ditempel pada mesin scanner, portal otomatis terbuka. Aku memperhatikan gerak-gerik Hanum.
“Nanti aku akan memberikanmu satu card ku yang lain agar kamu bebas keluar masuk kedalam lingkunganku.” Aku tidak menjawab sama sekali.
Sedari tadi aku memang sangat mengagumi lingkungan dan tata letak perumahan ini. Berbeda sekali dengan rumah ku. Walaupun aku juga tinggal diperumahan tapi, tidak se-elite tempat Hanum tinggal sekarang.
Kami memasuki garasi disalah satu rumah berwarna putih dipadukan dengan hijau mint. Hanum membunyikan klakson.
Seorang wanita berumur 40an keluar, segera membukakan pintu. Wanita itu menatapku ramah.
“Dia wiwit, orang yang membantu membersihkan rumah, Nat.” aku masih diam, tak banyak bicara. Aku masih syok, nyawaku seperti hilang dari badanku. Aku merapatkan jaket Hanum ketubuhku. Menyilangkan tangan kedadaku, menggenggam ujung jaket.
“Turun, Nat. Kamu aman disini. Aku akan menjagamu” Hanum membelai lembut rambutku. Dia melepaskan seatbeltku. Lalu bergerak turun dari mobil.
Hanum memasuki teras rumah, menyadari aku tidak mengikuti nya turun.
Dia menghampiri aku. Membuka pintuku, “ayo, Nat.”
Lalu menggendongku. Memasuki teras. Melewati pintu. Aku mengalungkan tangan kelehernya. Dia pria berusia sekitar 50an, tapi tenaganya masih lumayan bahkan mampu menggendong aku sekarang.
Dia membawaku ke kamar. Dadaku berdegub kencang. Apa yang akan dia lakukan?
“Saya bisa berjalan sendiri, Mas” kataku setengah ketakutan padanya. Dia melihat digendongannya.
“Tenang saja, Nat. Aku tidak akan berbuat apapun tanpa persetujuan mu. Tenang saja, kamu aman disini. Kamu akan tidur dikamar tamu”ada perasaan lega mendengar itu. Semoga saja apa yang dikatakan nya memang benar dia tidk tidak akan mengapa-apakan aku tanpa persetujuan dariku. Walaupun hanya night kiss.
Kami tiba di depan pintu kamar. Dia menurunkan aku, lalu membukakan pintu.
“Tenanglah, Nat. Ini kamar tamu, bukan kamarku. Ada baju dilemari, kamu bisa memakainya. Ganti bajumu. Aku menyuruh Wiwit mengambil bajumu agar dia bisa mencucinya?” katanya kepadaku. Ahhh aku benar-benar lega sekarang.
“Terima kasih, Mas…” kataku padanya.
“Tidak perlu berterima kasih. Aku menginginkanmu menjadi istriku. Sudah sepatutnya aku menjagamu, Nathania…” Hanum mengucapkan hal itu lagi.
Aku lebih memilih bersikap seolah tidak mendengarnya. Dia menggerakkan tangannya kearahku, membelai rambutku dengan lembut, lalu berbalik badan dan meninggalkan aku disitu.
Sementara Hanum memasuki kamar lain yang tepat berada disebelah kamar yang dia sediakan untukku.
Aku memutar handle pintu dan semasuki kamar. Kamarnya berwarna hijau mint dengan kombinasi putih. Aku duduk disisi tempat tidur, lalu merebahkan badanku. Nyaman.
‘apakah dia benar-benar berniat menjadikanku istrinya? Usia kami bahkan terpaut lebih dari 20 tahun.’ Gumamku.
Aku masih bergulat dengan pikiran-pikiran itu. Aku masih malu.
Malu jika aku benar-benar menikahi nya, lalu bagaimana dengan pandangan orang-orang terhadap aku.
Apakah mereka akan memandang aku sebagai pelakor, selingkuhan, simpanan, istri muda, istri kedua, atau hal-hal negative lainnya?
Terdengar suara pintu diketuk.
“Non, maaf saya mau ambil baju non” aah benar. Aku harus segera melepas bajuku agar bisa dicuci. Besok aku akan memakainya lagi.
“Iya, Bi. Sebentar yaa” sautku segera. Aku cepat-cepat melepas semua pakaianku. Memasukan nya ke laundry net lalu memakai jubbah mandi yang tergantung dibelakang pintu. Aku membuka pintu, lalu menyerahkan laundry net berisi baju kepada bi wiwit, tidak lupa aku mengucapkan terima kasih.
Aku menutup dan mengunci pintu kamarku, bergegas mandi karena sudah pukul 11malam sekarang.. Takut kalau sewaktu-waktu Hanum khilaf dan membuka pintu kamarku selagi aku masih mandi.
******
Aaahhh, segar sehabis mandi dan mencuci rambutku. Aku teringat kejadian yang baru saja aku alami. Aku bergidik. Terlihat tanda kemerahan di sekitar pergelangan tangan dan kakiku.
Ini pelajaran berharga untukku, selanjutnya aku akan berhati-hati dan ekstra menjaga diriku. Beruntung aku bukan gadis yang mudah stress dan down atas apa yang aku alami. Biarkan yang berlalu tetap berada dibelakang, tinggal kedepannya bagaimana kita mengambil hikmah dari apa yang telah kita alami.
Aku membuka lemari, ada 3helai baju tidur. Semua piyama set celana panjang, atasan tanpa lengan dan outer berbahan satin yang mewah dan sangat cantik. Apakah Hanum menyiapkan ini semua untukku?
Aku memutuskan memakai warna merah maroon. Cantik, pass sekali untukku.
Uh, aku haus sekali. Tenggorokanku terasa nyeri dan agak serak, aku tadi terlalu banyak berteriak. Aku mengedarkan pandangan, tidak ada air minum untukku. Mungkin bi wiwit lupa menyediakannya. Ku putuskan untuk menuju dapur yang letaknya dimana aku tak tahu. Kulirik jam, jam 12 malam kurang 10 menit.
Aku menuruni anak tangga. Lampu sudah dimatikan. Aku bingung arah dapur ada dimana. Rumah ini minimalis, tapi tetap saja aku tidak tahu arah karena ini kali pertama aku kemari.
Aku meraba-raba dinding dibawah anak tangga, ada saklar. Aku memekannya. Syukurlah yang aku tekan adalah lampu ruang utama. Sangat terang sehingga ruangan diesekitarnya dapat terlihat. Aku langsung menuju lemari es, mengambil gelas dan menuangkan air dingin ke dalamnya.
Aku meneguknya langsung habis. ‘aahh, segar sekali’ pikirku. Kerongkonganku sudah basah dan membaik dari sebelumnya.
Aku lapar. Ku buka kembali lemari es, ada slice cake.. aku tidak tahan untuk tidak memakan nya. Aku lapar sekali.
Aku mengikat rambutku kebelakang memperlihatkan leher jenjangku. Dengan cepat kue itu habis. Aku berniat untuk mencuci bekas makan dan minumku.
Semoga ini tidak terlalu berisik untuk seisi rumah.
“Kamu lapar, Nat?” tiba-tiba Hanum sudah berada disebelahku.
“Ehh… ehhmm iya. Maaf saya makan slice cake yang ada dikulkas, Mas” kataku kikuk sambil terus mencuci gelas yg aku pakai.
“bisakah kita berbicara tanpa saya dan anda. Aku dan kamu cukup, Nathania. Hmmm, padahal aku lapar dan ingin memakannya juga.” Oh ayolah, pria seusiamu harusnya diet gula kan? Gerutuku dalam hati.
Aku diam, meletakan gelas dan piring bekas makanku yang sudah selesaai ku cuci. Lalu bergegas akan kembali ke kamarku, melewati dia yang sedang duduk di kursi mini bar.
“Kamu tidak kasihan melihatku kelaparan, Nat?” dia melirikku. Aku membalikan badan kearahnya.
Kami saling berpandangan. Dia turun dari tempat duduknya dan berjalan kearahku. Aku mundur dua langkah agar dia tahu aku sedang waspada. Namun, Hanum bergerak semakin maju, tangannya meraih pinggangku.
Badan Hanum berisi, tapi tidak gemuk dan tidak buncit. Ototnya masih telihat kencang dan gagah. Terbukti dia mampu menggendong aku dari mobil ke depan kamar. Stamina nya masih seperti laki-laki beusia 35-40tahun.
“A.. Apa yang akan anda lakukan?” aku bergetar. Dia merapatkan tubuhku kepelukannya. Aku memundurkan punggungku sehingga dadaku terlihat membusung. Aku lupa bahwa aku tidak pernah memakai bra saat malam hari, aku juga lupa bahwa sekarang aku berada dirumah orang lain. Rumah harimau yang sedang kelaparan.
Mata hanum melirik kebelahan dadaku. Aku merasakan ada yang aktif dibawah sana. Tepat dipahaku. Darahku berdesir
“Menikahlah denganku, Nathania. Menikahlah denganku….” Hanum menatapku lekat-lekat. Aku tercekat. Dia melamarku sekarang.
Tatapan mata Hanum terlihat sayu dibawah cahaya lampu yang remang diarea dapur, dia mendekatkan wajahnya padaku, mencium ceruk leherku, membaui aroma sabun yang melekat ditubuhku. Ada perasaan yang menggelithikku sekarang.
“Marry me, Nathania Shiya. Aku akan membahagiakan mu jika kamu bersamaku” dia mengecup leherku, menghisapnya lembut. Ada geleyar dibawah perutku yang tidak seperti biasa.
“Aaahhh….” Tanpa sadar aku mendesah. Hanum menghentikan kegiatannya. Dia menatapku.
“Maukah kamu menikah denganku, Nat. Aku sungguh-sungguh menginginkanmu sekarang.”
Aku terdiam sejenak. Aku menatap Hanum sesaat.
Ada bayang ketulusan didalam matanya.
“Baiklah, Mas… Aku mau. Aku akan menikah denganmu..” Hanum bergerak maju. Dia memelukku erat lalu mencium bibirku, menggigitnya sedikit, hingga aku membuka sedikit bibirku. Lidahnya bergerak liar menyapu dinding mulutku. Bau mint dari mulut Hanum memenuhi indra penciumanku. Tangan kanan nya bergerak bebas kearah dadaku, meremasnya.Aku mendesah pelan. Hanum semakin liar menghisap bibir bawahku beberapa saat lalu melepaskan ciumannya dari bibirku, sepertinya dia menyadari bahwa aku tidak memakai bra. Aku mengambil nafas panjang.
Hanum menatapku,”kamu menggodaku, Nathania!” matanya berkilat, nafas nya memburu, aku rasakan pahaku seperti terantuk benda yang sangat keras berasal dari s**********n Hanum. Seketika Hanum mengangkat aku kedepan badannya. Aku melingkarkan kaki kepinggangnya. Dia membawaku kearah kamar. Kami saling berpagutan, Hanum membenamkan wajahnya dibelahan dadaku, menciumi nya dengan gemas.
“Nat, kita sampai dikamarku. Sekali masuk, kamu mungkin tidak akan menjadi nathania yang sama saat keluar nanti.” Hanum membuka gagang pintu. Aku menganggukkan keinginannya. Aku pun tak mengerti setan apa yang merasuki kala itu, aku berubah menjadi sangat penurut pada Hanum malam itu.