Katakan Padaku (flashback)

1235 Words
Aku merasakan diriku yang tidak seperti biasanya. Aku sedang dalam keadaan yang tidak normal sekarang. Nafasku memburu, detak jantungku semakin cepat, darah berdesir dari ujung kepala hingga keujung jari-jemariku. Ahhhh, rasanya aku sangat menikmati sentuhan laki-laki yang menggendong aku sekarang. Aku menikmati bahkan setiap inchi sentuhan dari tangannya yang besar dan hangat.Hanum membuka pintu dengan tangan kanan nya, sedangkan tangan kirinya tetap menopang tubuhku. Bibirnya berlanjut mencium bibirku setelah memperingatkan aku akan satu hal. Sepertinya dia sangat menikmati ciuman bibirku. Dia menurunkan aku diranjang besarnya, memandangi aku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Outer piyamaku sudah turun hingga lengan disisi kiri, membuat dadaku terekspos turun beberapa centi. Aku berusaha mengatur nafas melihat bayangan di sekitar s**********n Hanum. Dia sendiri seperti sedang memikirkan sesuatu. Namun hanya sekian detik karena dia kemudian bergerak mendekati aku. “Kamu membuat aku benar-benar gila, Nathania. Kamu menyita hampir seluruh waktu dan pikiranku. Aku menginginkanmu. Sangat menginginkanmu.” Aku menatapnya sekarang, aku juga  menginginkannya. Hanum menyondongkan tubuhnya kearahku. Kedua tangannya bertumpu pada ranjang sehingga dapat menopang tubuhnya. Wajahnya bergerak maju, menuju leherku, sekali lagi darahku berdesir. Hanum mencium leherku. Aku memeluknya, aku rasakan hangat  tubuhnya. Ini pertama kalinya aku membiarkan laki-laki menyentuhku. Aku sedikit merasakan hal aneh dalam diriku, apakah yang aku lakukam ini benar atau tidak. Semua perasaan bercampur dengan nikmat yang Hanum berikan padaku. Tubuh Hanum semakin maju, bergerak sembari tangannya melepas celananya sendiri. Aku merebahkan badanku diatas ranjang. Hanum kemudian memandang aku. Tangannya bergerak mengusap pipiku dengan lembut, turun menuju leher dan berakhir di dadaku. Dia mengusapnya perlahan. Ada bagian yang menegang disana sedari tadi, dia memilinnya lembut, aku melenguh. Lampu kamar masih menyala terang, hingga aku dapat melihat dengan jelas wajah Hanum sekarang. Wajah khas lelaki matang berusia sekitar 50 tahun walaupun tanpa kerutan yang berarti. Wajah ini yang akan menjadi suamiku jika aku melakukannya sekarang. Dia tersenyum padaku. Senyum penuh nafsu dan penuh arti, dia menyusupkan wajahnya diceruk leherku lalu menciuminya menurun kedadaku. Aku merasakan lidah Hanum hangat disana, dia mengulumnya perlahan. Tubuhku meremang, nafsuku memburu “Ahh.. Mas..” Aku meremas rambutnya. Sangat nikmat perlakuan nya kepadaku. Hanum menghentikan kegiatannya. Dia turun dari ranjang, melepaskan semua baju yang dia kenakan. Sedangkan aku masih berpakaian lengkap walaupun sudah berbuka dibagian d**a. Ada bulu halus disekitar d**a Hanum, sedangkan diantara pahanya, ada bayangan lebat dengan sesuatu yang menegang ditengahnya. Aku menelan ludah melihatnya. Hanum menatapku sembari tersenyum. Aku memperhatikan wajahnya dengan seksama kali ini. Dia bergerak menuju aku yang masih terbaring diranjang. Tangannya menjamah pahaku, mengelusnya naik hingga s**********n. Aku menikmati usapan lembut tangannya disana. Hanum menelusupkan tangannya melewati celanaku, mencari celah diantara kedua pahahku. Namun, bayangan Kenan seketika melintas dibenakku. ‘Ah, Kenan! No! Apa yang aku lakukan!? Aku sedang menunggunya sekarang, menanti jawaban atas rinduku selama ini walaupun aku hanya menikmati saat melihatnya. Tanpa menyentuhnya, tanpa menyataan apapun padanya. Seputus-asa ini kah aku?’ batinku memberontak. Aku menahan tangan Hanum. Dia menatapku penuh arti, namun berusaha tetap meneruskan gerakan tangannya pada area terlarangku. “Mas...” aku menatapnya, aku mengiba padanya sekarang. Aku berharap agar dia menghentikan gerakan tangannya. perasaan bersalah pada Hanum meliputi hatiku sekarang, sedangkan disaat bersamaan pikiranku mulai dipenuhi dengan kehadiran Kenan. “Kenapa, Nat? Aku akan menikahimu secepatnya setelah ini. Percayalah padaku, kita sudah sangat jauh sekarang.. Aku sangat membutuhkanmu..” nada suaranya terdengar sangat berat sekarang, tangannya bergerak hendak menurunkan celana piyama yang aku kenakan. “Maaf, Mas.. A.. Aku.. saat ini aku belum siap” aku menatap Hanum. Tergurat kekecewaan di wajahnya sekarang. Hanum mengusap wajahnya dengan kasar. Dia mundur, memunguti pakaiannya lalu menuju kamar mandi. Aku terpaku diranjang, apa yang baru saja aku lakukan, Tuhan.. ampuni aku Tuhan.. Aku merapikan bajuku lalu duduk ditepi ranjang dengan perasaan bersalah. Aku menunggu Hanum keluar dari kamar mandi, aku akan meminta maaf karena sudah mengecewakannya kali ini. Namun, pintu kamar mandi belum juga terbuka. Belum ada tanda-tanda Hanum akan keluar dari sana. Apa yang dia lakukan sebenarnya. Apa dia sangat marah padaku hingga berencana tidak akan keluar dari kamar mandi? Setelah 15 menit menunggu, dia akhirnya keluar juga.. Hanum keluar dengan rambut yang basah, handuk masih mengalung dilehernya. Dia juga sudah mengenakan pakaian lengkap. Pandangan matanya bertemu dengan mataku,tatapannya  tajam kearahku. Aku merasa tersiksa hanya dengan memandangnya dengan tatapan itu. Namun, pikiranku mulai memberontak, bukankah aku yang seharusmya marah padanya? Karena dia ingin meniduri aku malam ini? Mengapa dia menatap aku seperti itu. Seakan aku yang melakukan dosa besar terhadapnya? Tiba-tiba aku emosi dengannya. “Bukankah aku yang seharusnya marah sekarang?” aku membuka pembicaraan. Yang awalnya aku berencana untuk meminta maaf padanya sekarang justru merasa muak dan marah padanya. “Kamu mengecewakan aku, Nat!” dia menjawabku dengan nada dingin. Aku sadar sekarang, Hanum hanya menginginkan tubuhku, mungkin hanya ingin meniduriku saja lalu pergi seperti laki-laki b***t lainnya. Bukan ingin menikahi aku secara serius. “Oh, maafkan aku! Aku akan pulang saja sekarang! Aku tidak akan berlama-lama ada disini” nada bicaraku meninggi. Aku tidak sungguh-sungguh meminta maaf padanya, aku hanya ingin melegakan kemarahannya saja. Kemarahan yang salah arah. Membuat emosi ku meninggi. “Tidurlah disini. Sudah tengah malam sekarang, tidak akan ada taksi disekitar sini. Atau security akan mengira kamu maling.” Hanum menahan tanganku, aku berusaha melepaskannya. Aku tidak ingin kejadian tadi terulang lagi. Namun, tangan Hanum menggenggam pergelangan tanganku erat. Aku mengaduh kesakitan. Hanum melepaskan pergelangan tanganku, bergerak mendekat. Dia membalikkan tubuhku. “Lihat aku, Nathania.. aku mencintaimu. Maaf atas tindakanku tadi, aku terbawa suasana. Tinggal lah disini malam ini. Besok aku akan mengantarkanmu pulang.” Kali ini ucapannya lembut. Aku luluh. Aku menurut padanya, dia menuntun aku menuju ranjang. Menidurkan aku, lalu menyelimutiku. Dia mencium dahiku sambil membelai lembut rambutku. Aku memejamkan mata. “Tidurlah, Nat.. Aku akan berada disampingmu, jangan khawatir aku tidak akan berbuat macam-macam lagi.” dia meyakinkan aku dengan ucapannya. Sama saat terakhir kali dia berkata aku akan aman berada dirumahnya. Hanum merebahkan badannya disampingku. Aku mengubah arah tubuhku memunggunginya, aku tidak ingin beradu pandang dengannya saat ini. Aku merasakan tangan Hanum melingkar di pinggangku. Dia memelukku. Aku membiarkannya saja, berusaha memejamkan mataku sendiri. Semoga malam ini tidak akan terjadi apapun padaku. Aku ingin segera datang pagi.   ******   Matahari bersinar, menembus sela-sela vitrase putih yang menggantung dijendela. Pandanganku tertuju pada jam yang menempel didinding tepat didepan ranjang. Pukul 07.10, aku teringat  hari ini hari senin. ‘Mati aku!! Ini hari senin!! Aku harus bekerja.’ Gumamku. Aku segera bangun, menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhku. Aku melihat keadaan tubuhku setelah semalaman aku tidur dengan Hanum. syukurlah aku masih berpakaian lengkap. Tapi dimana Hanum? Aku tidak melihatnya lalu disampingku? Atau dia sedang mandi? Aku bergegas merapikan baju dan rambutku, aku harus segera pulang kerumah. Baju kerjaku ada dirumah. “Kamu sudah bangun, Nat?” kulihat Hanum keluar dari kamar mandi, sehelai handuk melilit di pinggangnya. Aku reflek menutup mata dengan kedua tanganku. Padahal semalam aku sudah melihat semua yang ada didalam handuk itu.  “Aku harus bekerja, Mas.. Kenapa tidak membangunkan aku? Aku bisa terlambat kalau begini” kataku mulai gusar. “Kamu juga bekerja pada hari libur?! Aku penasaran berapa gajimu sebulan?” dia terkekeh. Aku bengong mendengar perkataannya. Tanggal merah? Aku melirik kalender duduk yang bertengger diatas ambalan dikamarnya. HARI LAHIR PANCASILA. Aku merengut, kepalaku terasa berat karena aku bangun dengan tergesa-gesa. Hanum terkekeh lagi, dia menuju kearahku. Aku memasang tampang melas, dia sepertinya senang sekali menertawakan aku hari ini. Dia memajukan tangannya, membelai rambutku. “Good morning, Wife…” dia mencium keningku. Laki-laki ini..  pandai membuat hatiku berdenyut. “Sejak kapan aku jadi ‘Wife’ mu?” tanyaku mendelik mendengar ucapannya. Hanum memegang daguku, mengarahkannya ke wajahnya. Aroma musk tercium sangat kuat. parfum apa yang dia semprotkan, membuat aku tertarik seketika saat menghirup wangi tubuhnya. “Sejak semalam, kamu milikku, Nat.. jangan coba-coba bermain dibelakangku, OK?! Kita akan mengesahkan pernikahan kita segera! Aku ingin segera memilikimu, seutuhnya memilikimu” dia mengecup bibirku lembut. Kebingungan memenuhi pikiranku. Kenan… apa yang harus aku lakukan sekarang?  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD