Matahari sudah beranjak naik saat Hanum mengantarkan aku pulang.
“Sebelum aku mengantarmu pulang, baiknya kita makan dulu, Nat.. aku lapar. Kamu juga sepertinya nggak makan banyak tadi saat sarapan.”
“Oke..” Aku mengiyakan semua kata-kata Hanum.
“Dimana ya enaknya kita makan?” tanyanya.
“Terserah saja, Mas..” mood ku sedang tidak bagus saat ini, aku menjawab sekenaya saja.
Aku pasrah kemana saja Hanum akan membawa aku, aku sudah tidak memikirkan pandangan orang terhadap aku lagi. Toh aku sudah mengiyakan lamarannya juga, semua orang lambat laun akan melihat aku berjalan dan bergandengan tangan dengannya.
Entah kenapa bayangan Kenan semakin menguat sekarang. Bahkan lebih kuat dari hari-hari sebelumnya. Pikiranku selalu dipenuhi olehnya, sesak setiap kali mengingat aku akan menjadi istri Hanum.
Hanum memutar kemudi kearah mall MM yang memang mall paling dekat dengan rumah. mall dimana café Arlette berada.
Akankah dia membawa aku makan ke café Arlette?
Ooh, tidak untuk sekarang aku belum siap menghadapinya. Arlette pasti akan mencecarku habis-habisan dengan banyak pertanyaan..
Sekejap saja kami telah tiba di mall, aku menyuruh Hanum memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk mall. Sedangkan aku turun di lobby, memasuki mall berjalan mendahuluinya.
Hanum berjalan santai menyusulku dari belakang. Aku sejujurnya masih belum terbiasa dengan keadaan ini.
“Nat…?!” aku reflek menoleh. Seseorang memanggil namaku dengan ragu.
“Kenan??” aku mematung. Ohh, Tuhan… jangan sekarang.. kepalaku mulai berdenyut.
Kenan berjalan mendekat, memandangku lekat-lekat..
“Aku merindukanmu, Nathania..” Deg! Dia merindukan aku! Kenan tiba-tiba memelukku. Erat, sangat erat seakan dia sedang menemukan sesuatu yang selama ini dia cari-cari.
“Nat??” Hanum muncul dari belakang ku, dia memegang tanganku, menarikku sedikit menjauh dari Kenan. Kenan sendiri tampak begitu kaget, reflek naluri laki-lakinya memepertahankan aku seperti tersirat ‘Dia Milikku’.
Aku benar-benar merasa sangat kesal pada diriku sendiri. Andai Kenan datang satu hari lebih cepat, semua ini tidak akan terjadi kan? Aku pasti tidak akan mengiyakan lamaran Hanum.
Ataukah aku yang terlalu tergesa-gesa mengiyakan lamaran Hanum??
Ahh, bodohnya dirimu, Nathania!
“Dia…..?” Kenan memandangku ragu, aku pun sedikit ragu untuk menjawab pandangan Kenan.
“Kamu tidak memperkenalkan aku padanya, Nat? Aku Hanum Utama, calon suaminya!” Blarrr!
Aku dan Kenan seketika menoleh pada Hanum. Laki-laki ini, aku benar-benar tidak percaya dia akan mengatakannnya segamblang itu, bahkan saat ini aku masih sangat ragu dengan keputusan yang telah aku ambil.
“Nat??” Kenan mengalihkankan pandangannya dari Hanum kepadaku.
Aku hanya bisa tersenyum kecut dan mengangguk. Aku tidak mungkin mundur lagi kali ini. Uuhh dadaku sesak. Seakan ada batu besar menghantamnya saat ini.
Ku lihat Kenan sedikit tidak percaya dengan semua ini. Dia sangat paham bagaimana aku. Aku yang dulu tidak akan mungkin bergaul apalagi jatuh cinta dengan pria setengah baya seperti Hanum kecuali untuk urusan perkerjaan atau perkuliahan.
Jika sekarang aku menjalin hubungan dengan Hanum, mungkin Kenan sudah menganggap aku w************n. Sorot matanya sangat mengintimidasiku juga perasaanku.
“Hmm, saya Kenan.. Kenan Aarav..” Kenan mengulurkan tangannya namun wajahnya terlihat datar..
“Nice to meet you, Mr. Aarav!” Hanum menjabat tangan Kenan, mengayunkannya sekali. Lalu melepaskannya,”kami berencana makan siang disini, mau bergabung?” tawar Hanum. Aku yakin dia hanya basi-basi.
Ku lihat aura dingin dari kedua laki-laki beda generasi ini.
“Tidak terima kasih, Pak Hanum… nikmati waktu kalian.. Saya permisi..” Kenan membalikkan badannya tanpa memandang atau tersenyum padaku. Dia melangkah pergi meninggalkan aku yang masih sangat merindukannya. Seandainya aku bisa, aku akan menggenggam tangannya lalu pergi bersamanya saat itu juga. Tapi semua sudah terlambat.
“Aku sudah tidak lapar, Mas… ayo antarkan aku pulang!” aku melepaskan pelukan Hanum, melangkah pergi dengan gontai. Tulang-tulang ditubuhku nyaris terlepas hampir semuanya. Lemas, aku tidak bisa berpikir jernih lagi skarang.
******
Didalam mobil, aku kembali diam dan termenung memandang keluar jendela. Melihat deretan ruko-ruko berjejer rapi, beberpa keluarga berjalan bersama menghabiskan masa libur panjang bahkan setelah weekend. Seandainya kehidupan serapi itu.. Mungkin aku dapat merasakan sedikit kebahagiaan. Namun, inilah jalan hidupku, aku sudah tidak mempunyai hasrat apa-apa lagi saat ini.
“Pemuda tadi sangat tampan, Nathania.. apa kamu tidak menyukainya?” Hanum masih fokus menyetir, namun arah pembicaraan sudah bisa ditebak. Aku memilih diam. Aku tidak ingin berdebat dengannya saat ini.
“Sepertinya dia mencintaimu, Nat.. Haruskah aku yang mundur?” Hanum kembali bertanya. Aku merasa dadaku sangat sesak. Mataku sudah terasa panas dan beranjak basah dipelupuknya. Akan ada yang menganak sungai jika Hanum terus saja melanjutkan permbicaraan ini.
“Kamu terdiam? Kamu mencintainya, Nat. Bahkan kamu membalas pelukannya saat dia memelukmu.” Hanum masih melanjutkannya, aku mengusap pipi kiriku,”aku akan menikahimu besok lusa, Nathania.. bersiaplah. Aku tidak ingin milikku hilang.”
“Milikmu? Apa aku ini barang? Yang bisa dijadikan milik siapapun?” emosiku memuncak.
Hanum mempercepat laju mobilnya, menuju ke rumah ku. Dia diam seribu bahasa. Laju mobilnya diatas kecepatan rata-rata. Wajahnya memerah, otot rahangnya kaku, jarinya menguat mencengkram kemudi.
Ada apa dengannya sekarang?
Apa dia cemburu padaku?
Apa dia marah karena Kenan memeluk ku?
Laki-laki ini bahkan selalu membuat aku tidak nyaman saat berada disampingnya. Apa akan seperti ini selamanya?
******
Tiba dirumahku, Hanum menyuruh agar aku mengemasi barang-barang yang aku perlukan serta semua surat-surat yang dibutuhkan.
Dia menyetir semua kehidupanku saat ini. Bahkan aku merasa seperti boneka saat sedang berada disampingnya. Aku seperti tidak punya dayaku sendiri untuk menjalani semua yang aku ingin dan tak ingin aku lakukan.
Semua ini membuat aku muak, aku semakin yakin bahwa aku terlalu tergesa-gesa mengambil keputusan.
Bahkan aku tidak mengenal keluarganya, masa lalu nya, kehidupannya, perkerjaannya, bagaimana mungkin semua ini begitu cepat.
Kami menuju kamarku, hendak mengemasi semua barang yang akan bawa. Hanya barang pribadiku.
‘Bik Min sudah tidak ada, mungkin sudah pulang’ batinku. Aku melihat kondisi rumah, sudah bersih.
“Mas, aku rasa ini semua terlalu cepat bagiku. Aku butuh waktu lebih banyak untuk memikirkan semuanya kembali.” Aku berhenti membuka koperku. Aku berdiri, mulai berjalan kearahnya.
“Kamu bukan ingin memikirkan semuanya, Nat. Tapi kamu hanya mau memikirkan Kenan itu kan!?” suaranya meninggi. Aku tahu, laki-laki memang pantang untuk mendengar kata penolakan sehalus apapun penolakan itu disampaikan.
“Aku bahkan nggak tahu seluk beluk keluargamu, masalalumu, semua tentang kamu aku ngak tahu, Mas? Bagaimana bisa semuanya terjalin dengan baik kalau diawali dengan tidak baik juga?” aku menjelaskan apa yang aku maksud.
“Tidak baik?! Kamu pikir selama ini aku kurang baik padamu, Nat!!” Hanum bergerak semakin liar. Dia mencengkeram kedua bahu ku dan mengguncangkannya. Aku sangat takut padanya saat ini.
“Biar aku tunjukkan padamu bagaimana tidak baiknya aku sekarang!!” suara Hanum parau.
Hanum menghempaskan aku keranjang, aku roboh seketika. Hanum melepaskan kaos yang dia kenakan, dan melepaskan sabuk celananya.
“Aku akan menunjukkan padamu betapa tidak baiknya aku, Nat! jangan kamu pikir aku akan melepaskanmu setelah semua yang aku lakukan untukmu!” Hanum bergerak mengunci pintu, lalu mulai menaiki ranjang, aku beringsut turun. Aku tahu apa yang akan dia lakukan sekarang, aku tidak ingin berakhir seperti ini.
“Mas, tolong jangan seperti ini. Kita bisa bicarakan baik-baik kan?” aku ingin Hanum sadar bukan ini yang aku mau. Aku terus bergerak mundur kearah meja rias, namun Hanum berhasil meraih tanganku.
“Aku sangat mencintaimu, Nathania. Aku sangat menginginkanmu. Tapi kamu terus saja menghindari aku. Percayalah, aku sangat mencintaimu, Sayang..”
Hanum kembali mendorong aku, aku seperti dejavu. Ini semua, seperti kejadian semalam. Apa bedanya aku berakhir dengan pemerkosa ataupun dengan Hanum. Toh juga, Kenan sudah tidak memperdulikan aku.
Hanum menelanjangiku dan menelanjangi dirinya sendiri, aku pasrah. Aku ingin dicintai, dan Hanum mencintai aku. Jadi, apa lagi yang aku inginkan?
Jangan terlalu tamak, Nathania..
Hanum mengungkung tubuhku, milik Hanum sudah tegang sekarang. Aku melihatnya siap mengarah padaku. Aku menelan ludah.
Ciuman dan hisapan bibir Hanum bergitu kuat terasa dileher dan dadaku. Nyeri.
Dia melumat bibirku dengan gemas, aku sudah tidak peduli lagi kepada siapa aku memberikan kegadisanku. Yang aku tahu, setelah ini aku akan menjadi istrinya.
Hanum membuka kedua kakiku, aku merasa sangat malu sekarang. Sangat intens, dia menjulurkan lidahnya kearah milikku, hangat. Dia menusuk-nusuknya dengan jari kelingkingnya, perih… lalu menghisapnya kuat.
“Ahh… Mas…” aku menjambak rambutnya, dia menyeringai.
“you’re so wet, Nathania! Please, let me in…” aku mengangguk pelan dan pasrah. Hanum memposisikan tubuhnya didepan kedua kakiku.
Aku melihatnya memposisinya miliknya kearahku.
“Berikan padaku, Nathania. Aku akan memberikanmu kebahagiaan, percayalah padaku…” dia menciumku lembut, ada gelenyar nikmat saat dia menggesekan miliknya padaku
“Hmm..” aku meleguh. Ini kah nikmat yang dibicarakan orang-orang itu. Lalu Hanum menatapku.. matanya sayu, aroma parfumnya kembali memenuhi penciumanku..
“Nathania… kamu begitu cantik, aku benar-benar sudah tergila-gila padamu. Jadilah milikku, Sayang…” Hanum terus membisikan kalimat itu dan menciumi leherku, menghisap setiap inci kulitku, membuatku semakin mendamba lebih.
Hingga…
“Ahhh…!!” aku setengah berteriak. Benda keras itu memaksa memasukiku, Hanum membungkam mulutku dengan ciuman. Tanganku mencari-cari apa yang bisa dicengkeram untuk melampiaskan apa yang aku rasakan sekarang.
“Sedikit saja, Sayang. Setelah ini kamu akan merasakan kenikmatan yang aku berikan. Percayalah padaku…” Hanum melanjutkan ciumannya padaku sambil menggerakkan pinggulnya secara perlahan. Ciuman nya turun ke puncak dadaku yang menyembul. Hanum mengulumnya, aku merasakan geleyar kenikmatan menghampiriku sekarang
Rupanya setiap ekspresi yang aku keluarkan, semakin memancing birahi Hanum. Hanum mulai mempercepat temponya.
“Mas.. aku nggak bisa lagi, Mas. Sakittt..” aku mulai merasakan nyeri diselangkanganku setiap Hanum intens menggerakkan pinggulnya.
“Sebentar lagi, Nathania.. sedikit lagi. Sshhhh, kamu begitu nikmat, Sayang” Hanum menggerakan pinggulnya semakin cepat. Dia menahan nafas. Aku merasakan selangkanganku semakin nyeri..
“Mass… sak…” Hanum membungkam mulutku dengan ciumannya.
Pinggulnya semakin cepat bergerak, bersamaan dengan Hanum melepaskan ciumannya. Air mata meleleh dipipiku, merasakan sakit disekitaran selangkanganku.
“Aahhhh…. Nathan…niaa.. Aaahhhh.. I love you, my Wife.. Oooh...” Hanum mendesah, nafasnya tersengal, kata-katanya terbata-bata.
“Aaahhhh!!” aku memekik. Menarik sprei sekuat-kuatnya. Panas, perih, nyeri didalam milikku. Aku tidak kuat lagi..
Milik Hanum berdenyut-denyut didalam sana, “terima kasih, Sayang.. kamu yang terbaik..” Hanum melepaskan pelukannya, lalu mengecup keningku.
******
Aku menatap langit-langit kamar, rupanya disinilah kegadisanku berakhir.
Dulu aku sering bermimpi akan bercinta untuk pertama kali dengan Kenan, orang yang aku tunggu bertahun-tahun. Tapi semua angan-anganku meleset. Aku bahkan tidak menduga akan memberikannya kepada Hanum.
‘Aku tidak akan menyesalinya, inilah yang sudah menjadi jalanku.’gumamku.
“Sayang, masuklah aku membutuhkanmu.” Hanum memanggilku dari dalam kamar mandi.
Dan begitulah, aku berjalan tertatih kearah kamar mandi, s****a menetes keluar dari kewanitaanku.
Hanum sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.
Akankah dia meninggalkan aku?
Dan hari itu adalah hari terpanjang dalam hidupku. Aku melakukannya beberapa kali karena hanum menginginkanku puas bersamanya.
Lama kelamaan aku menikmati permainannya.
Aku mulai menyukai perlakuannya kepadaku.
‘Aku akan belajara mencintaimu, Mas.’