Pagi ini sangat cerah, tidak mendung seperti biasanya. Aku masih sangat lelah setelah pergumulan panas dihari sebelumnya, nyeri masih terasa dibagian bawahku. Pinggangku rasanya mau patah. ‘Ahh, sepertinya aku akan mengajukan cuti untuk hari ini, badanku terasa remuk,’ batinku.
Tok tok tok..
Bunyi pintu diketuk. Ini pukul 09.00 pagi.
Apa Hanum belum berangkat kerja?
“Non, permisi… saya bawain sarapan” ooh itu suara bi Wiwit
“Masuk, Bi..” aku masih bermalas-malasan dibawah selimut saat bi Wiwit membuka pintu, dia membawa nampan berisi sarapan dan meletakan nya diatas nakas disamping ranjangku.
“Bapak nitip pesan, Nona.. maksud saya Ibu... kata Bapak, Ibu jangan kemana-mana.” Ibu? What? Apa aku sudah setua itu?
“Jangan panggil aku ‘ibu’, Bi.. aku tidak mau menjadi tua begitu cepat hanya karena aku menikahi majikanmu..”
Apa-apaan Hanum, dia belum sah menjadi suamiku tapi dia bahkan sudah mengatur bahkan kemana aku pergi, boleh atau tidak aku pergi, sekarang dia turut ikut campur? Hhm, menjengahkan.
“Iya, Non… baik. Ada lagi yang bisa saya bantu?” Tanya bi Wiwit sedikit takut-takut.
“ Bisa berikan nomor ponsel Bapak padaku, Bi?
“Ada, Non…”
Setelah memberikan kepadaku nomor ponsel Hanum, bi Wiwit segera pergi.
Aku menekan 10digit nomor itu, nada sambungnya tidak terdengar. Ataukah ponsel Hanum saat ini sedang off?
Ahh, terserahlah! Aku akan mandi dan pergi ke café Arlette, pasti dia sedang sibuk sekarang. Aku ingin sekali bersandar padanya saat ini.
Ya, setelah apa yang terjadi kemarin, aku pindah kerumah Hanum pada malam hari nya. Kami akan menikah besok pagi. Aku sudah berjanji dalam hati bahwa aku akan belajar untuk mencintainya. Benar-benar mencintai nya dan melupakan Kenan untuk selamanya.
******
Aku menghela nafas untuk sesaat sebelum masuk kedalam kawasan mall. Ada sesak didada mengingagt mungkin saja nanti aku akan bertemu dengan Kenan disana.
Aku mengenakan atasan turtle neck dengan lengan pendek untuk menutupi kissmark yang dibuat Hanum kemarin. Bahkan hampir penuh dileher dan dadaku. Rambutku tergerai kali ini. Aku benar-benar ingin menutupi jejak yang Hanum buat.
Aku menuju lift, ku tekan tombol upper ground.
“Kamu benar-benar akan menikah dengannya, Nat?” aku menoleh kebelakang. Kenan. Aku kembali memandang kedepan.
Pintu terbuka, aku segera masuk. Kenan mengikuti dari belakang.
“Kamu sudah tidak bekerja, Nat? Apakah om-mu kemarin sudah memenuhi semua kebutuhanmu?” aku menatap Kenan sinis, aku terluka dengan kata-kata yang baru saja dia lontarkan.
“Seandainya dulu aku tidak mencintaimu, aku tidak akan sesakit ini mendengar kata-katamu!”
Kenan diam tanpa berkata apapun lagi setelah mendengar pengakuan singkatku.
Aku sadar pengakuan ini bahkan sudah terlambat tapi ini membuat dadaku lega seketika.
Setelah semua yang aku lewati, aku tidak ingin lagi menyimpan rasaku sendirian lagi.
Pintu lift terbuka, aku segera keluar menuju Café Arlette. Mataku terasa lembab, ada yang menetes dari sudutnya.
Pintu lift tertutup kemudian namun tak dengar langkah Kenan mengikuti. Apa dia tidak keluar dari lift?
“Apa aku serendah itu dimatamu, Kenan?” aku menyandarkan diri ketembok sambil memegang dadaku, perasaan sesak menyeruak dari dalamnya.
Disekelilingku belum ramai. Masih jam 10.30 sekarang. Mall belum begitu ramai, aku melanjutkan langkah kakiku.
Arlette sedang duduk sendirian diantara kursi kosong di cafe nya.
“Caramel macchiato, please?” aku melangkah mendekati Arlette, membuyarkan lamunannya.
“Nat!!!” Arlette seketika berdiri lalu memelukku sangat erat,“lo kenapa nggak bilang sama gue kalo lo mau nikah ama om-om itu!!” kata-katanya terasa keras tapi suaranya ditekan. Seakan-akan takut sesiapa akan mendengarnya.
“Kenan cerita sama lo?” aku sudah menduganya dari siapa lagi Arlette tahu masalah pernikahanku dengan Hanum kalo bukan dari kakak nya itu.
“Kalo Kenan nggak cerita ke gue, lo juga mungkin nggak akan pernah cerita ke gue. Gue ini masih temen lo nggak sih, Nat?” aku menghela nafas panjang. Aku bingung mau memulai cerita ini dari mana. Terlalu rumit untuk aku ceritakan.
Arlette berdiri meninggalkan aku.
Aku mengedarkan pandangan kesekelilingku. Mall ini benar-benar sangat sepi. Semoga nanti akan ramai. aku ingin melihat Arlette sukses meraih apa yang sudah dia usahakan selama ini. Aku ingin melihatnya bahagia suatu saat nanti.
“Jadi lo udah ketemu keluarganya?” Arlette datang membawakan pesananku, meletakan nya dihadapan ku lalu duduk disampingku. Menghadap kearah luar mall. Melihat jalan raya dengan hiruk pikuk kendaraan yang melintasinya.
Aku menggeleng sambil mengangkat bahu. Arlette mendelik kali ini.
“Nat.. Nat.. sejak kapan sih lo jadi bego begini. Lo dulu selalu nguatin gue, ngingetin gue ini itu, tapi sekarang lo sendiri yang masuk kelingkaran setan.” Aku masih terdiam. Arlette terdengar seperti jaksa yang sedang menjatuhkan vonis pada terdakwa.
Aku masih diam, menyeruput kopiku. Sangat nikmat seperti biasa. Aku mengikat rambutku, gerah. Aku merasa hawa siang ini sangat panas bahkan AC didalam mall terasa dingin.
“Lo?!!” Arlette membulatkan matanya, wajahnya seperti orang marah sekarang.
Ah! Jejak Hanum! Aku benar-benar lupa tentang itu!
“Iya, semalam gue tidur sama dia.” Aku menjawab sesantai mungkin, aku tidak ingin terlihat seperti aku ingin menutupi bekas kissmark itu.
“Oh, Nathania Shiya.. lo tu bener-ben…” Arlette terlihat akan menghakimi aku lagi kali ini.
“Apa bedanya sama lo? Lo juga pernah tidur sama laki-laki, Lette.” Aku memotong kata-kata Arlette. Membantahnya telak.
Arlette terlihat menghela nafas panjang, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
“Gue emang udah rusak, Nat, dan gue nyesel. Gue nggak mau kalo lo juga akan nyesel nantinya. Lo paham kan maksud gue?” Muka Arlette datar. Matanya memandang lurus kebawah kearah satu mobil yang sedang berjalan keluar melewati portal parkir.tiba-tiba nada bicara nya meninggi, “hah, itu mobil Kenan? Kog udah pergi aja, dia kog nggak kesini? Dari mana dia?” Arlette menoleh padaku.
“Ya, gue ketemu Kenan tadi di lift, tapi pas pintu kebuka dia nggak ngikut.”
“Ooh, mungkin ada yang ketinggalan. Tapi lo yakin Kenan nggak ngomong apa-apa sama lo?.” Arlette mulai menyelidiki lagi.
“Nggak.” Jawabku singkat,”pernikahan gue besok, doain aja ya biar gue bahagia.” Lanjutku sambil tersenyum.
“Hmm, kalo emang itu keputusan lo. Gue hargai, Nat. Gue Cuma bisa doain semoga lo bahagia.” Arlette memberikan pelukan padaku. dalam pelukan itu sendiri, akupun berdoa semoga Tuhan memberikan ku kebahagiaan saat aku sudah menikah dengan Hanum nanti.
******
Dan begitulah awal kisahku, baik buruk semua aku nikmati sendiri. Aku menikah dengan Hanum keesokan harinya tanpa keluarga dari kedua belah pihak. Tanpa keluarga dariku karena aku sudah tidak mempunyai keluarga lagi sedangkna tanpa keluarga dari Hanum aku tidak tahu apa alasan nya mengapa dia tidak membawaku atau memperkenalkan aku pada keluarganya.
Yang aku tahu aku menikah dengan Hanum, maka cukup Hanum saja yang bersamaku.
Dia begitu memanjakan aku, semua yang aku minta menjadi wajib baginya untuk menuruti. Bahkan jika hal itu terasa begitu mustahil bagi orang lain, maka akan menjadi nyata bila aku memintanya pada Hanum.
Hanum hanya akan marah bila aku memakai pakaian yang seksi ataupun mengupload foto yang sensual di akun media social milikku. Bagi Hanum, aku adalah miliknya, makanya hanya dia saja yang boleh melihat dan menikmati keindahanku.
Hmm, benar. Dia begitu posesif.
Namun lama kelamaan aku bahkan menikmati keposesifannya itu.
Bukankah ini gila?
Hanya satu yang Hanum minta dariku sejak awal pernikahan, dia meminta aku melahirkan dua anak untuknya. Karena itulah sejak awal pernikahan kami tidak pernah memakai kontrasepsi. Kegiatan juga kami lakukan setiap hari, jika ada hari yang terlewat maka Hanum akan meminta jatah dobel dihari berikutnya.
Hanum mendesak ku untuk melakukan program kehamilan, tapi bagiku itu aneh. Aku masih muda, aku pastikan aku mampu hamil bahkan tanpa bantuaan dokter. Saat Tuhan memberi, maka pasti kita akan memilikinya. Kenaoa harus begitu tergesa-gesa bukan?
Sedangkan Kenan, aku tidak pernah melihatnya lagi sejak hari itu. Menurut Arlette, kakaknya itu sudah kembali ke Qatar seminggu setelah pernikahanku. Aku juga tidak bertanya lebih banyak lagi tentang Kenan. Aku mendoakan dia semoga dia mendapatkan gadis yang lebih baik dari aku. Aku sekarang sudah menjadi istri Hanum, maka semua yang aku miliki sekarang ini termasuk hidup ku sudah aku dedikasikan untuk suamiku.
Aku benar-benar mengharapkan yang terbaik. Untuk ku dan untuk orang-orang yang aku sayangi…