Pukul 09.30, Nadya baru saja terbangun. Gorden masih tertutup rapat, begitu pun dengan pintu kamarnya. Dia mengerjapkan mata beberapa saat, lalu duduk. Dia tidak sadar semalam Jingga tidur di sini atau tidak, tapi Nadya tak mengunci kamarnya. Tapi mungkin saja Jingga tidur di luar, Nadya tak paham.
Perempuan itu melihat ke arah meja nakas, di sana telah tersedia nasi goreng dan s**u. Dia mengambil segelas s**u putih itu lalu meneguknya hingga tandas. Masih hangat, berarti Wulan mungkin baru menaruhnya di sini entah beberapa menit lalu. Ah, paling tidak sekarang kehidupannya jadi lebih baik. Dia tak perlu repot-repot bikin sarapan dan memikirkan menu setiap hari. Walau ya jika dipikir-pikir menu yang Wulan buatkan tidak ada yang spesial. Itu-itu saja. Kadang-kadang Nadya kangen dengan Hamburger yang biasa dia makan di mekdi, atau se-cup kopi janji jiwa. Selama di sini dia belum pernah meminumnya lagi, hari ini dia harus membelinya agak siangan nanti.
Nadya memakai sandal, lalu berjalan membuka pintu dan keluar. Wulan sedang membersihkan meja makan. "Jingga ke mana?" tanya Nadya.
"Mas Jingga udah berangkat ke kampus, Mbak. Oh iya katanya Mas Jingga udah transfer lagi ke rekening Mbak Nadya buat jajan bulan ini," jawab Wulan. "Dan oh iya, saya hampir aja lupa kalau black forest-nya udah saya belikan, Mbak. Ada di kulkas. Semalem kata Mas Jingga Mbak Nadya udah tidur, jadi sama Mas Jingga ditaruh di kulkas."
"Semalem Jingga tidur di mana?" tanya Nadya.
"Di ruang tengah, Mbak. Mas Jingga nonton tv sampe malam dan mungkin ketiduran jadi nggak sempet masuk," jawabnya lagi.
Nadya hanya mengangguk-angguk. Dia melangkah ke arah kulkas, mengambil kue dan menaruhnya di meja. Dia memotongnya, lalu mulai memakan kuenya. Sudah lama dia tidak memakan kue tart. Nadya menyalakan tv dan menonton gosip pagi yang sejujurnya tak pernah disukai kecuali karena terpaksa.
"Assalamualaikum." Seseorang mengucap salam.
Nadya menoleh. Dia mendapati wanita bergamis hitam serta berjilbab biru muda yang baru saja masuk ke rumah serta membawa rantang dan plastik hitam.
"Wa'alaikumussalam," jawab Wulan.
"Nadya, umi kangen loh. Kayaknya sejak kamu nikah sama Jingga Umi nggak pernah lihat kamu lagi, ya ampun menantu Umi makin cantik aja." Ibu Jingga menaruh rantang di atas meja beserta kresek. Dia terlihat sangat ramah, mungkin benar bahwa dia sangat menyayangi Nadya. Ah kalau gini, paling tidak Nadya harus ber-drama baik di depan ibu Jingga jangan sampai dia kecewa dengan sikap Nadya, karena nanti ketika Nadya kembali ke tubuhnya, barangkali dia akan membenci Nadya.
"Ah iya, soalnya cukup sibuk, Umi. Tapi kabar umi baik, kan? Umi bawa apa?" tanya Nadya.
"Umi bawa soto kesukaan kamu. Terus ada nasi rawon juga, Nat. Lagi hamil itu kamu harus banyak makan ya, biar cucu Umi juga sehat. Umi nggak sabar buat gendong cucu." Umi membuka rantangnya lalu dijejerkan di atas meja. "Mbak, tolong ambilkan piring dan sendok, ya." Dia menyuruh Wulan.
Wulan mengiyakan, dia berjalan ke arah dapur lalu mengambil piring dan sendok, yang kemudian diletakannya di atas meja. "Ini Mbak, buat kamu juga." Ibu Jingga memberikan satu rantang berisi soto pada Wulan.
"Nggak usah, Bu, terima kasih." Wulan menolak, mungkin tidak enakan. Ibu Jingga cukup baik dan ramah memang, ya daripada ibu Nadya.
"Sudah tidak papa. Udah saya bawakan masa ditolak." Dia memaksa. Mau tidak mau akhirnya Wulan mengambilnya juga. Dia kemudian pergi kembali ke dapur, sementara ibu Jingga mulai menuang soto di mangkuk dengan penuh hati-hati.
"Ayo, Nak, dimakan dulu. Kamu belum sarapan, kan?" Ibu Jingga menggeser sotonya ke depan Nadya.
Perempuan itu tersenyum. "Seharusnya nggak perlu repot-repot, Umi. Lagian Nadya udah ada Wulan yang bantuin. Umi fokus aja di rumah, ntar capek kalau bolak-balik ke sini." Nadya mengambil sendok, lalu mulai memakan soto buatan ibu Jingga yang enak. Mungkin ibu Jingga memang tipe ibu-ibu yang pandai memasak. Tapi kalau seperti ini bisa-bisa Nadya ketagihan dengan masakan mertuanya.
"Aduh, jangan bilang gitu. Biasa aja ah. Lagian Nadya nggak pernah ngerepotin Umi. Tadi pagi Jingga juga ke rumah, katanya nitip Nadya. Jingga khawatir banget ya sama kamu. Kalian memang serasi." Umi tersenyum.
Serasi apanya? Andai kamu tahu, Bu, kalau hubungan kami kayak tikus dan kucing yang selalu berantem di kandang yang sama. Tapi aneh juga, kenapa Jingga nggak bilang ke Umi-nya ya kalau kami sering berantem. Atau mungkin Jingga menutupi semuanya?
"Jingga bilang apa ke Umi? Maksudku, sebelum pergi ke kantor apa Jingga cerita ke Umi?" Nadya bertanya penasaran.
"Nggak cerita apa-apa. Jingga kan orangnya nggak suka cerita, nggak kayak kakak-kakaknya waktu dulu. Jingga mah apa-apa sering dipendem sendirian aja. Banyak yang Umi nggak tahu tentang Jingga. Tadi pagi aja dia cuma numpang sarapan, abis itu langsung pergi dan cuma bilang nitip Nadya. Udah itu aja, nggak ada lagi." Kali ini Ibu Jingga mengambil mangga dari plastik, lalu mulai mengupas kulitnya.
Sembari makan, Nadya memandangi wanita itu. Padahal dulu sewaktu masalah pemilihan baju pengantin dan pernah Nadya berdebat sedikit tentang kenapa dia melepas jilbab, apakah Ibu Jingga melupakan perdebatan itu? Pasalnya saat itu Nadya memang merasa kesal dan mungkin saja menurut mereka tindakan dia tak sopan. Tapi jika wanita di depannya masih ingat kejadian itu, kenapa dia masih sangat baik dengan Nadya?
"Tapi kamu sama Jingga baik-baik aja, kan, Nduk? Umi cemas. Tapi Umi yakin Jingga bisa jadi suami yang baik buat kamu walau kadang mungkin Jingga sering marah-marah nggak jelas. Itu memang sikapnya dari kecil yang nggak pernah Umi sukai," katanya. Dia kemudian mulai memotong mangga yang telah terkupas sepenuhnya, dan setelah itu dia mewadahinya di piring.
"Berarti Jingga emang suka marah sama Umi juga atau gimana?" Kali ini agaknya obrolan tentang Jingga sedikit menarik minat Nadya. Paling tidak dia memiliki sedikit gambaran apa yang harus dia lakukan atau bagaimana cara menghadapi tempramental Jingga. Ya, paling tidak dia harus siapkan tameng.
"Ya kadang-kadang. Dari kecil dia emang udah kayak gitu, Nduk. Umi sendiri nggak tahu gimana mencegahnya. Umi kira hal itu akan berhenti seiring berjalannya usia, tapi ternyata enggak. Jingga tetep jadi pemarah. Yang sedikit-sedikit marah, tapi waktu udah mulai kuliah anak itu lebih bisa kontrol emosinya, sih. Jadi nggak terlalu kayak dulu, Jingga yang sekarang udah mendingan. Makanya Umi heran kenapa Nadya suka sama Jingga dan sekaligus bersyukur ternyata ada yang suka sama Jingga."
Hah? Gila. Jadi yang Ibu Jingga tahu Nadya suka sama Jingga? Serius? Astaga. Berarti permasalahannya emang ada di orang tua Nadya yang maksain Nadya cepet-cepet menikah biar nggak jadi perawan tua. Gila. Bahkan wanita ini nggak tahu kalau Nadya terpaksa nikah sama Jingga. Serius.
"Waktu Jingga mau lamar Nadya dia emang bilang apa sama Umi?" tanya Nadya lagi.
Kali ini ibu Jingga menyodorkan piring berisi mangga ke depan menantunya, lalu tersenyum. "Uhm waktu itu Jingga pulang dari kampus dan bilang sama Umi dan Abi kalau katanya dia pengin lamar kamu. Ya, sebenernya kami tahu bahwa sejak kuliah kalian deket, kan? Katanya Jingga itu katingmu. Nah, ya udah akhirnya Umi dan Abi sepakat. Toh Umi seneng juga sama Nadya, soalnya kamu cantik, baik, dan yakin banget bisa nemenin Jingga dan sabar sama sikap Jingga. Kalau ada apa-apa jangan sungkan buat cerita ke Umi ya, Nadya. Biar nanti Umi bantu selesaikan. Kadang ada aja sikap Jingga yang bikin nggak habis pikir." Umi berkata panjang lebar.
Tapi apakah ibu Jingga tidak bertanya terlebih dahulu, apakah Nadya menyukai anaknya. Paling tidak kenapa juga ibu Jingga meridai kemauan anaknya yang ingin memasukkan anak orang lain ke dalam lubang buaya. Ini tidak etis.
"Ehm emang kalau boleh tau dari mana Umi tau kalau aku emang suka Jingga? Sikapku ketebak atau gimana?" Meski agak takut, tapi dia utarakan juga pertanyaan itu. Walau sejujurnya dipikir-pikir Ibu Jingga memang tidak banyak ikut campur permasalahan anaknya, apalagi dia juga menyadari bahwa sikap Jingga memang kurang baik.
"Ya Umi tau aja, Nat. Tapi Nadya kalau suatu saat ada apa-apa atau ada hal yang nggak mengenakan di kamu, boleh kamu cerita ke Umi sebelum kamu pulang ke rumah ibu dan bapak kamu. Karena Umi yang nanti akan marahin Jingga, nanti Umi yang akan nasihatin Jingga. Di sini walau kalian udah menikah, sebenarnya Umi tahu, Umi udah nggak ada hak buat ikut campur urusan kalian. Kalian udah berumah tangga, udah seharusnya kalian berpikir mandiri dan menyelesaikan apa pun sendiri. Tapi Umi masih ngerasa kalau Umi masih harus mantau Jingga. Umi harus memastikan kalau dia nggak bikin kamu sakit hati, nggak bikin kamu kecewa, dan nggak bikin kamu marah.
"Gimana ya, Nat, pokoknya apa pun yang terjadi nanti jangan sampai permasalahan ini sampai keluar dan didengar oleh tetangga. Sembunyikan apa yang bisa kamu sembunyikan, dan bersikap seakan baik-baik aja. Kalau ada masalah langsung bilang Umi, biar Umi yang menindaklanjuti. Biar Umi yang bantu kamu. Mungkin kamu denger ini cukup ngeri ya, tapi Nadya memang ini kenyatannya. Umi sebenernya cemas sama kamu. Umi pengin Jingga tinggal di rumah Umi walau udah menikah bukan karena Umi mau ditemani, bukan. Ya itu masalah lain, tapi Umi cuma pengen tahu gimana sikap Jingga ke istrinya. Paling enggak umi bisa tau kalau dia nggak baik sama kamu, Umi bisa tau. Tapi kenyataannya Jingga nggak mau di sini dan lebih memilih tinggal di rumah sendiri.
"Ya kenyataan tinggal di rumah mertua memang nggak enak, Nat. Umi juga pernah merasakan. Dan hampir semua menantu mungkin setuju sama pendapat Umi. Nggak bebas, ngerasa punya batas dan ya memang nggak nyaman. Tapi pilihan Jingga Umi rasa nggak tepat. Makanya untuk jaga-jaga tolong ya Nadya kalau ada apa-apa langsung bilang dan sampaikan ke Umi."
Nadya tak langsung menjawab. Dia masih memakan sotonya sedikit demi sedikit. Tapi tuturan ibu Jingga memang terdengar sangat tulus. Dia seperti benar-benar peduli pada Nadya dan dia setakut itu Jika Nadya dilukai oleh Jingga. Tapi kenapa, selain tempramental apakah Jingga juga punya hal lain yang mereka sembunyikan? Nadya jadi berpikir keras. Ada apa sebenarnya. Cukup menakutkan berada di posisi seperti ini tapi cukup penasaran kenapa Nadya mau menikah dengan Jingga.
"Dulu, waktu kecil Jingga pernah buat kesalahan besar ya, Umi?" Kali ini Nadya mencoba mengorek masa lalu lelaki itu. Siapa tahu dia akan mendapatkan jawabannya sedikit demi sedikit.
Umi tak langsung menjawab kemudian mengangguk pelan. "Iya, pernah. Tapi Nadya, kalau Umi ceritakan ini tolong jangan ngomong ke Jingga, ya. Anggap aja kamu nggak pernah tau, karena kalau sampe Jingga dengar, bisa-bisa dia marah besar dan mungkin akan mengamuk sejadi-jadinya. Jingga paling nggak suka kalau misalnya dia denger cerita ini lagi. Ini masa lalu Jingga yang paling kelam." Pembukaan itu terdengar bertele-tele. Kenapa tidak langsung cerita saja, tapi ya sudah mungkin ibu Jingga memang memiliki hobi story telling.
"Iya Umi, aku dengarkan. Ada apa emang?"
"Dulu waktu umur lima tahun di malam idul fitri Jingga dan teman-temannya main petasan di lapangan. Waktu itu teman Jingga bawa banyak petasan dan karena punya Jingga habis dimintain oleh teman lain, akhirnya dia meminta petasan punya temannya itu. Tapi Nadya, ternyata temannya nggak mau. Namanya juga anak kecil. Tapi Umi nggak habis pikir bahwa setelah itu Jingga ngambil paksa petasan itu, menyalakannya dan melempar ke arah temannya sampai tangan temannya kena petasan dan akhirnya dibawa ke rumah sakit.
"Umi marahin Jingga habis-habisan, karena umi udah nggak bisa memaklumi dia lagi. Memang anak kecil, tapi dia juga harus dididik dan nyatanya karakter Jingga agak sulit dirubah. Jingga benar-benar mudah marah."
Nadya sedikit terkejut. Jika memang benar adanya seperti itu, bukankah Jingga benar-benar menyeramkan?