035. Pindah Rumah

1838 Words
Di kontrakan, Nadya melihat beberapa orang yang sibuk berlalu-lalang membereskan barang-barang milik Nadya yang akan dimasukkan ke dalam mobil untuk pindah rumah. Ya, akhirnya Jingga mengakhiri penderitaan Nadya. Mereka akan pindah ke rumah yang lebih layak dan tentu saja ber-ac. Di ruang tamu, Nadya sibuk memakan Tteokbokki, sementara Wulan ikut serta membantu mereka untuk membawa beberapa barang-barang penting milik Nadya. Di depannya, Jingga juga tampak memakan bagian miliknya. Akhirnya, sekarang lebih enak. Pasalnya ketika ingin membuat Tteokbokki, Nadya tak perlu membuat mantra untuk dirinya sendiri agar mau bangkit ke dapur, sekarang seperti dulu, hanya perlu memanggil nama Wulan dan memintanya untuk membuatkan. Ah, hidup seperti ini memang yang sangat ia inginkan. Selepas menghabiskan Tteokbokki-nya, mereka langsung memutuskan untuk segera meninggalkan rumah ini. Jingga membawa Nadya pergi, dan Nadya sendiri hingga sekarang tidak tahu di mana rumah asli Jingga. Yang paling penting jangan sampai tinggal di rumah mertua, itu saja. "Kamu sejak kapan udah punya rumah sendiri, Ga?" tanya Nadya. "Baru setahunan sih, Nat. Itu awalnya rumah kakak, aku beli. Dia pindah ke Jakarta sama istrinya karena udah nggak bisa tinggal di Malang lagi," jawab Jingga. "Kenapa emang?" "Dia kerja di perusahaan besar, dan gajinya sangat cukup kalaupun harus beli rumah di sana. Pokoknya kemungkinan besar dia nggak bakal balik lagi ke sini," jawabnya. "Dan lagian bukannya kamu udah tau semuanya, ya? Kamu nanya lagi lupa atau gimana?" "Oh iya aku lupa. Akhir-akhir ini emang sering lupa. Tapi aku seneng kok dengerin cerita yang diulang-ulang," jawab Nadya penuh kebohongan. Ya bagaimana pun dia memang harus menjawab apa pun agar lelaki di sampingnya tidak curiga. "Oh okay, mau tanya apa lagi?" Kali ini Jingga menawarkan. "Memangnya kakak-kakak kamu nggak ada yang tinggal di sini lagi? Adikmu?" Kali ini Nadya benar-benar mati jika salah bertanya. Akan gawat jika Jingga menjawab, 'Aku nggak punya adik' "Oh Mas Arya sama Mas Hanub emang udah nggak tinggal di sini lagi, Nat. Kamu inget kan waktu dua tahun lalu keduanya pernah ribut gara-gara pengen warisan kakek? Padahal ya buat apa? Terus adikku kan masih kuliah di Jakarta juga. Jadi, kayak dulu aja, Nat, masih kayak dulu kalau rumah Umi sama Abi itu sepi. Tadinya Umi sama Abi juga maksa aku buat tinggal di sana, walaupun udah beristri pun, kata Umi nggak papa, lah. Umi kan sayang banget sama kamu. Tapi aku tahu kok mungkin kita nggak akan betah tinggal sama mertua. "Aku sendiri pun mungkin agak berat kalau harus tinggal sama mertua, begitu pun kamu. Jadi, aku memutuskan buat beli rumah kakak yang kebetulan dijual, buat istriku nanti aku bilang waktu itu. Dan ya, akhirnya tercapai juga. Aku udah punya rumah, dan istri tentu aja." Jingga bercerita jalan hidupnya yang sepertinya amat mulus dan sedikit terjalan. Tidak seperti Nadya. Seakan-akan dia mampu membeli dan mendapatkan apa pun yang dia inginkan dengan sangat mudahnya. Selang beberapa menit, akhirnya mereka sampai di depan rumah bercat merah muda yang tidak terlalu besar tapi cukup terlihat mewah. Nadia langsung turun, lalu mengikuti langkah Jingga. Keduanya masuk dan disambut oleh ruang tamu yang sangat simpel. Maksudnya, tak ada bingkai atau lukisan satu pun yang dijadikan pajangan, mungkin Jingga suka kekosongan. "Mbak, kamar kami udah dibersihkan?" tanya Jingga pada Wulan. Dan ya, Wulan juga akhirnya pindah ke sini. "Sudah, Mas. Semuanya sudah rapi." Wulan menjawab sopan. "Okay." "Wulan, minta tolong belikan black forest, ya." "Baik, Mbak. Sekarang saya belikan." Wulan kemudian pergi. Aku beranjak ke ruang keluarga. Di sana terdapat sofa, dan layar tv di depannya. Karpet Turki terhampar di bawahnya. Kemudian dapur terlihat dari sana. Dapurnya seperti kafe. Tidak begitu besar, tapi cukup untuk masak dengan nyaman. Sementara tak jauh dari itu ada kamar lagi yang tak jauh dari ruang tengah, kamar Wulan. Rumah yang tak terlalu besar ini agak padat diisi oleh tiga kamar. "Kamu nggak ngerasa sempit tinggal di sini?" tanya Nadya sembari menyalakan tv. Entah apa yang akan dia tonton, Nadya hanya mengikuti nalurinya untuk menekan beberapa tombol dengan sangat random. "Sempit apanya, Nat? Ini lumayan gede loh. Kamu akhir-akhir ini sering nggak bersyukur. Di luar sana banyak yang belum punya rumah," jawab Jingga sembari mengambil air putih dari dispenser. "Ya ngapain lihat ke bawah kalau bisa menjadikan di atas sebagai motivasi. Daripada kamu puas dengan ya aku bisa bikin rumah di luar sana banyak yang nggak bisa, bukannya lebih baik mantrain diri sendiri kalau ah itu temen saya bisa bikin rumah gede, kalau dia aja bisa masa saya enggak. Setidaknya itu kan bisa memotivasi kamu, Jingga." "Serius, pemikiran kamu kayak gitu?" Jingga tampak terkejut. Dia meletakan gelas di atas dispenser lalu berjalan ke arah Nadya dan duduk di depannya. "Ada yang salah?" Nadya bertanya seakan tak memiliki salah. Dan dia memang selalu merasa benar. "Nat, kamu kayak udah berubah banget. Aku kehilangan Nadya yang benar-benar Nadya. Gara-gara Biru ya kamu begini? Biru udah ngasih doktrin apa ke kamu." Nadya menatap Jingga tajam. "Tutup mulut kamu. Jangan ngomong sembarangan. Orang bisa berubah kapan pun dia bisa. Kamu nggak berhak buat bikin justifikasi seenak kamu." Kali ini Nadya naik pitam. Entahlah, dia tak suka jika Jingga menyenggol Biru sedikit saja. Dia tak suka Jingga menjelek-jelekkan Biru di depannya. Baginya Biru sangat sempurna dan Jingga tak boleh meretakkan kesempurnaan itu. "Kamu yang jaga mulutmu. Aku suamimu, seenggaknya hargai aku. Kamu selalu aja mancing emosi dan kemarahan aku." Jingga berdiri. "Kamu seakan-akan nggak pernah nganggep aku suami aku. Kamu seakan nggak bisa sedikit pun menghormati aku, Nat. Aku selalu berusaha bikin kamu bahagia, bikin kamu nyaman, tapi apa? Kamu bahkan nggak menghargai usahaku sedikit pun. Gila. Kamu selalu memuja nafsumu, kamu selalu menuhankan kemauanmu. Sedikit pun, kamu kayaknya nggak pernah inget aku. Aku nggak mau marah kayak gini sama kamu, tapi ngertilah kalau aku suamimu. Aku suami kamu, Nadya," bentaknya. "Ya terus, aku harus sujud sama kamu? Aku harus mengiyakan dan setuju sama yang semua kamu omongkan? Jingga, kamu gila. Sekali lagi jangan pernah bawa-bawa Biru, karena dia nggak ada sangkut pautnya dengan ini semua. Tutup mulutmu, aku nggak suka kamu asal ngomong kayak gitu." "Aku nggak asal ngomong, tapi kamu emang berubah. Kamu nggak sadar kalau akhir-akhir ini kamu jadi pribadi yang nggak asyik? Kamu bukan Nadya yang saya kenal dan benar, kan, perubahan kamu disebabkan oleh Biru? Kamu begini karena bergaul dengan Biru. Saya capek, Nat. Saya harus selalu ngalah tapi kamu nggak pernah hargai saya. Saya selalu aja dipaksa untuk menjadi suami yang ngertiin kamu, tapi kamu nggak pernah mau belajar buat ngertiin saya. Ini bikin saya kecewa, Nat. Kalau akhirnya begini, kalau kamu nggak pernah bisa mencintai saya, seenggaknya jangan sakiti saya dan jangan kecewakan saya dengan caramu mengiyakan lamaranku. Ini bener-bener membuat saya sakit," tegas Jingga. "Saya kecewa Nat, bener-benar kecewa. Saya merasa bahwa kamu adalah harapan saya. Saya selalu nge-treat kamu jadi ratu, saya jarang menolak kemauan kamu, seenggaknya pahami saya juga. Senggaknya layani saya dengan baik, sebisamu saja. Saya nggak memaksa kamu untuk nge-treat saya secara berlebihan, sebisamu, semampumu, dan senyamanmu. Kalau nggak bisa cukup jangan membuat saya marah, itu aja," pungkasnya. "Ya tapi aku nggak suka kamu menyinggung nama Biru. Jangan pernah sebut nama dia dalam permasalahan yang kita buat. Kamu terlalu emosian, kamu terlalu buru-buru menilai, dan nggak ngerasa kah, bahwa kamu juga seenaknya sendiri? Aku nggak paham sama hidupmu, Jingga. Aku nggak paham sama jalan pikiranmu. Dan usia pernikahan kita masih muda, wajar kalau kamu kaget dengan sifatku yang sebenarnya. Aku bisa melawanmu karena aku tau aku benar. Maumu gimana, apakah aku hanya harus menerima kamu? Apakah aku hanya harus bersedia mewadahi kemarahan kamu dan apakah aku hanya dijadikan objek oleh kamu? Terus dari mana cara kamu menghargai wanita?" Nadya tak mau kalah. Dia benar-benar tengah berontak dengan perlakuan Jingga. Kedua-duanya tidak ada yang mau mengalah, seakan berlomba siapa yang paling awet kemarahannya dan siapa yang paling menang karena bertahan lama dengan egonya, dia yang menang. "Kenapa kamu selalu nggak suka saat aku nyinggung nama Biru, apakah karena kamu masih belum bisa lupakan dia? Apakah kamu masih menyimpan nama dia dengan baik di hati kamu? Padahal jelas-jelas dia adalah b******n yang ninggalin kamu dan dia adalah pria b******k yang berani-beraninya meninggalkan kamu. Cewek bodoh mana yang nggak bisa lupakan dia selain kamu?" Jingga masih terus-menerus mempertahankan egonya. Suaranya berapi-api membara. Dia tak mau kalah dari Nadya karena dia merasa bahwa dia sangat benar dan Nadya salah. Jingga juga manusia biasa yang memiliki kesabaran cukup terbatas. Dia capek menghadapi sikap istrinya yang tidak stabil dan tidak bisa menge-treat-nya dengan benar. Paling tidak hargai keputusan Jingga, itu saja yang Jingga mau. Jelas Jingga shock melihat kelakuan Nadya yang sebenernya. Nadya yang dikenal sebelum menikah adalah Nadya yang sangat baik, tulus, perhatian, lembut dan Jingga menyukainya. Jingga selalu memanggilnya dengan sebutan 'Mas Jingga' dan Nadya selalu memberi waktu pada Jingga jika mereka ingin bertemu. Tapi kenyataannya tidak dengan sekarang. Nadya telah hilang. Jingga kehilangan Nadya. Dia merasakan bahwa rumah tangga yang dibangunnya cukup membuatnya struggling. Harapannya yang manis benar-benar kandas dipatahkan oleh perempuan di depannya. Oleh perempuan yang sangat Jingga harapkan. "Jangan pernah ngomong kayak gitu. Bukannya sebelumnya aku udah bilang bahwa aku udah lupakan Biru? Kamu selalu aja membawa dia kalau emosiku lagi nggak stabil, kamu selalu menjadikan Biru sebagai sebab dari kemarahan yang kamu utarakan. Kamu nggak seharusnya bawa nama orang lain di sini. Aku ya aku, kamu ya kamu, dan Biru ya Biru. Toh aku marah karena gara-gara kamu. Kamu bilang aku nggak bersyukur padahal aku cuma mengkritik bahwa rumah ini terlalu kecil. Aku nggak meminta kamu untuk memperbesar rumah ini sekarang, aku juga nggak menuntut kamu buat beli rumah di pondok indah, enggak sama sekali. Kamu yang terlalu sensitif. Kamu mudah marah dan nggak terima. Padahal semua yang aku omongkan nggak pernah ada sangkut pautnya dengan pria yang kamu bilang b******n itu. "Dan asal kamu tahu, haruskah aku lakukan klarifikasi di depan kamu bahwa penyebab putusnya aku dan Biru bukan karena kesalahan orang tua kami. Mereka ingin Biru menikah dan itu bukan kemauan Biru. Nyatanya sampai sekarang Biru belum menikah dan masih mengingat namaku. Apakah itu tipe-tipe pria b******n menurut kamu, Jingga? Bahkan kalau kamu berada di posisi Biru, belum tentu kamu bisa melakukan ini. Belum tentu kamu bisa bertahan. Nyatanya Biru menolak pernikahan itu dan dia tetap tida berpacaran dengan siapa pun sampai sekarang," balas Nadya. Bahkan sepertinya wanita itu akan membela Biru hingga titik darah penghabisan. Cukup aneh membela lelaki lain di depan suaminya sendiri. Jingga tertawa sinis. "Kamu nggak pernah ngerti lelaki, ya? Menurutmu benar Biru sampai sekarang nggak melakukan apa-apa? Siapa yang menjamin, Nadya? Bukannya dia memiliki banyak stok? Dia menjadi lelaki tampan yang dikerubuti wanita nggak tau diri di luar sana." Nadya menampar pipi Jingga reflek. "Jaga omonganmu dan jangan pernah merendahkan wanita mana pun, brengsek." Nadya membanting remot di atas meja, lalu masuk ke kamar dan menutup pintu dengan sangat keras. Berbicara dan berbincang dengan Jingga hanya membuat dia naik darah. Kadang di satu sisi ia juga merasa kasihan karena Jingga selalu dijadikan objek kemarahannya, tapi di sisi lain dia tak suka jika Jingga berani membawa nama Biru dalam pertengkaran dan sebab mereka berantem. Biru tak pernah salah, Nadya yang memang menyukai Biru.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD