034. Pesta

1634 Words
Di dalam gedung, telah ramai orang-orang yang datang menghadiri pesta ulang tahun Biru. Ketika baru saja masuk, Nadya langsung mendapati banyak sekali kado-kado yang telah tersusun tinggi, kue tinggi nan besar, makanan dan minuman yang telah siap, dan orang-orang kota yang sudah mulai menikmati jamuan. Para wanita terlihat mengenakan dress cantik-cantik, dan tamu laki-laki banyak yang memakai setelan kemeja dan jas, Nadya menjadi mengingat suasana dulu ketika menghadiri pesta di rumah teman-temannya. Ah, ia rindu dengan suasana semacam ini. Nadya yang sudah mengenakan dress hitam selutut, ia padukan dengan tas kecil abu-abu tua. Dandannya terlihat flawless, dan rambutnya yang panjang ia kuncir dan menciptakan poni di depan. Dia terlihat cantik. Jingga menggandeng tangannya, setelah itu mereka berjalan di antara keramaian dan duduk di meja yang masih kosong. Suara musik berdenting, pemuda-pemudi terlihat mulai menggerakkan tubuhnya mengikuti irama. Lelaki dan perempuan berdansa, sementara Nadya menikmati tart miliknya. Ah padahal dia ingin bergabung, tapi tak enakan dengan Jingga. Bahkan jika diperhatikan wajah Jingga seperti tidak suka dengan suasana semacam ini. "Nat, aku keluar dulu ya. Nanti telepon aku kalau kamu ada butuh." Jingga berdiri. "Kamu mau ke mana?" Nadya bertanya. "Aku nggak betah di sini. Jangan pulang lebihin jam 23.00 dan jangan macam-macam," ucapnya. "Okay deh." Nadya mengacungkan ibu jarinya. Dia terlihat bahagia ketika Jingga pergi meninggalkannya. Seorang laki-laki menghampiri mejanya, dan mengulurkan tangan padanya, "Sendirian? Ayo ke depan," ajaknya. Dia memiliki rambut pirang, dan bola mata biru tua. Nadya tersenyum, dia membalas uluran tangan pria itu lalu keduanya berjalan ke depan dan mulai menari mengikuti alunan musik. Setiap beberapa detik lampu berganti warna, Nadya tampak menikmati pesta ini. Lelaki itu memegang pinggang Nadya, kemudian keduanya berdansa. "Nama lo siapa?" tanyanya. "Gue Nadya," jawabnya. "Elo?" "Gue Dirga. Lo cantik. Fans Tangkai Ra juga?" Dia bertanya lagi. Nadya mengangguk. "Ngomong-ngomong lo tinggal di mana? Kalau deket sini, boleh besok kita jalan. Ah ya, kalau nggak salah bulan depan bakal ada konser, kalau lo mau nanti gue beli dua tiket." "Ah enggak usah. Rumah gue jauh. Gue cuma kebetulan ada di sini." Tak lama dari itu seorang laki-laki mulai berjalan ke arah panggung. Nadya tersenyum ketika melihat Biru dengan setelan jas putihnya yang terlihat keren. Tepuk tangan langsung membanjiri ruangan, siapa yang tak mengenalnya? Siapa yang tak mengenal Tangkai Ra? Menjadi seseorang yang dekat dengan Biru, membuat Nadya merasa bangga menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang Biru kenal. "Selamat malam semuanya." Biru menyapa seraya tersenyum. "Selamat malam." "Selamat malam, Ra!" "Selamat malam juga tangkai, Ra. Happy Birthday, Ra!" "Ya terima kasih semuanya. Sejujurnya gue masih kaget karena yang datang malam ini di luar dugaan. Gue berterimakasih karena kalian meluangkan waktunya buat datang di acara ulang tahun gue yang ke-27 ini. Sebelumnya mungkin gue nggak pernah bikin pesta sebesar ini, tapi karena tahun ini gue bertemu dengan yang gue inginkan, jadi gue harus kasih self reward yang bisa diinget, seenggaknya sekali dalam seumur hidup. "Berdirinya gue di sini, tak lain untuk berterima kasih pada orang tua gue, adik gue, sahabat-sahabat, rekan kerja gue dan semua orang yang gue kenal dan mendukung gue, tanpa kalian mungkin gue bukan siapa-siapa. Dan tak lupa juga pada pembaca buku-buku gue, yang mengikuti gue dari awal sampai sekarang. Serius, kalian adalah alasan terbesar gue dalam melanjutkan karya-karya gue. Gue harap kita semua dimudahkan selalu dalam urusan kita masing-masing. "Dan terakhir dan paling spesial, gue berterimakasih pada seseorang yang telah datang dari jauh hanya untuk menghadiri ulang tahun gue, seseorang yang sangat gue sayangi dan tak bisa gue sebutkan tapi ... gue sangat merindukan dia. Terima kasih karena kamu udah datang ke sini dan meramaikan acara ini." Nadya melihat bahwa Biru menatap ke arahnya, kemudian tersenyum. Ah, hati mana yang tak leleh dengan tatapan seperti itu, Biru memang selalu mampu menyihirnya dan Nadya selalu berhasil terpukau oleh sihir itu. Biru melakukan sambutan-sambutan, sebelum akhirnya ia mempersilakan band indie yang akan meramaikan malam ini. Nadya sendiri tidak kenal dengan band itu, tapi jika dari lagu-lagunya ia pernah mendengar sesekali. Nadya melepas tangannya dari lelaki pirang itu, "Gue mau ke kamar mandi dulu." Dia lalu pergi menuju kamar mandi yang tidak dia ketahui. Di antara keramaian, dia berjalan mencari kamar mandi untuk membenarkan lipstiknya. Rasanya seperti sudah berantakan dan bibirnya terasa sangat kering. Namun, belum sempat menemukan kamar mandi, seseorang menarik tangannya dengan cepat dan Nadya refleks berbalik dan masuk ke sebuah ruangan yang tidak dia kenal. Biru berdiri di sana setelah dia menutup pintunya. Nadya cukup terkejut, karena belum lama Biru baru turun dari panggung, tetapi sekarang laki-laki itu sudah di depannya. Biru mengarahkan Nadya ke arah tembok hingga perempuan itu terpojok. Biru mengunci Nadya dengan tangannya yang ia tempelkan ke dinding. Lelaki itu kemudian tersenyum. "Caramel, terima kasih udah datang ke sini," ucap Biru. "Rasanya gue pengen narik lo ke atas panggung dan beri pengumuman sama yang lain bahwa besok kita akan menikah. Serius, semoga hari di mana lo keluar dari tubuh Nadya semakin cepat." Biru berkata lembut. Nadya tersenyum. "Mel, i miss your lips, Babe," lirih Biru. "Biru, jangan lakukan apa pun. Aku ke sini sama Jingga." Nadya mundur. "Di sini nggak ada Jingga. Serius, sekali aja." Biru memohon. "Enggak mau," tolak Nadya. "Please. Sekali aja," balas Biru. "Enggak bisa. Terlalu bahaya juga kita berdua di sini." Nadya masih berusaha untuk tetap baik-baik saja walau debar jantungnya telah berdetak tidak karuan. Aroma maskulin yang diciumnya hampir membuatnya hilang kewarasan, Biru benar-benar membuatnya jatuh cinta secara terus-menerus, sialan. "Caramel ...." Biru mendekatkan wajahnya hingga Nadya merasakan aroma napas Jingga yang segar. "Sorry," lirihnya. "Kenap--" Belum selesai Nadya bertanya, Biru telah mendaratkan bibirnya pada bibir Nadya. Dan bukannya menolak, perempuan itu malah membalas ciuman Jingga hingga keduanya lebur dalam suasana yang terkira. Biru begitu cekatan, dia seakan-akan tak ingin melepas perempuan di depannya. Dia dengan beraninya hampir membuat tanda kepemilikan jika saja Nadya tak mengentikan. "Biru, aku ke sini sama Jingga. Gimana kalau dia curiga?" Nadya menaikan suaranya. "Maaf," katanya. "Serius, ini terakhir." Biru melakukannya lagi, tapi kali ini Nadya sengaja menggigit bibir bawah Biru hingga laki-laki itu mundur kesakitan. "Nadya." Biru tampak tak percaya. "Hentikan, Biru. Aku bisa gila kalau gini terus. Demi apa pun gue hampir setres. Biru, lo tau nggak sih rasanya suka sama orang tapi susah dimiliki? Frustrasi? Hilang harapan? Gue lagi ada di posisi itu. Serius, hentikan. Gue nggak mau bikin diri gue makin kacau." Perempuan itu berteriak. Dia terlihat menahan air matanya. "Gue capek. Gue takut, gue khawatir, gue nggak mau kehilangan elo, gue sampai berada di titik takut kalau gue nggak bisa milikin elo. Lo ngerti nggak, sih?" Dia terlihat sangat kacau. "Aku nggak pernah pergi dari kamu," jawab Biru. "Ya, kamu nggak ngerti." Nadya membuka pintu, lalu langsung keluar dan menutup kembali pintunya. Dia tak paham dengan perasannya. Wanita itu segera berjalan ke kamar mandi, melihat pantulan dirinya di cermin. Lipstiknya berantakan, dress-nya kusut, dan tatanan rambutnya tak lagi beraturan. Biru menghancurkannya dan dia malah nyaman? Dia malah suka? Air mata Nadya akhirnya luruh juga. Dia benar-benar pada posisi takut jika keduanya tak dipertemukan, takut jika Biru tak mencintainya, dan takut jika Biru meninggalkannya. Dia sendiri tidak tahu apa yang harus dia lakukan selain menunggu hari di mana semuanya akan kembali seperti sediakala. Dia ingin menikah dengan Biru, hidup selamanya dengan Biru, dan menghabiskan waktu dengan Biru, itu saja. Selepas keluar dari kamar mandi, Nadya langsung menuju pintu keluar. Dia harus menemui Jingga dan pulang. Rasanya dia tak mau jika Jingga curiga padanya. Di area parkir, Nadya mengingat-ingat di mana sopir Jingga memarkirkan mobilnya. Namun, dari kejauhan seorang lelaki berjas hitam berjalan ke arahnya dari kegelapan. "Udahan?" Jingga bertanya. Nadya mengangguk. "Bukannya ini masih jam 21.30, mau pulang?" tanya Jingga. "Ayo kita makan di luar aja. Aku nggak mood ngikut pesta sampe malem," jawab Nadya. "Jingga!" Seseorang memanggilnya. Jingga menoleh. Seorang laki-laki berkemeja hitam serta bercelana levis datang ke arahnya. "Kenapa nggak masuk? Ayo kita makan bersama dulu. Jangan buru-buru." Moka mengajaknya. Moka sendiri adalah teman satu prodi Jingga saat dulu. "Ini Nadya minta pulang," jawab Jingga. "Ah ayolah Jingga, kapan lagi kita bisa kumpul? Banyak temen-temen lo yang hadir. Kesempatannya cuma malem ini, Pak Dosen. Ayolah Jingga, cepetan." Moka menepuk pundak Jingga pelan. "Ayo Sayang masuk dulu, seenggaknya bentar aja." Jingga menarik tangan Nadya. Ingin menolak pun Nadya tak bisa. Kali ini malahan Jingga uang yang ingin menghadiri pesta. Ah tapi tidak, dia hanya ingin bertemu teman-teman lama saja mungkin. Ketiganya akhirnya kembali masuk. Nadya menatap salah satu meja yang telah terisi oleh sekumpulan lelaki yang salah satunya ada Biru. Mereka tampak saling berbincang dan sesekali tetawa. Jingga dan Nadya bergabung di sana setelah dipersilahkan oleh Moka. "Hei Jingga, lama nggak jumpa. Makin sukses ya, Bro." Seorang lelaki mengulurkan tangannya. Jingga membalasnya. "Baik, kamu sendiri ke mana?" "Aku masih di perusahaan lama." "Waduh, ceritanya Pak Dosen udah punya gandengan nih." Yang lain menyambar. Pelayan mengantar makanan untuk mereka. Sementara Jingga sudah lebur dengan obrolan-obrolan bersama teman-temannya. Nadya sendiri sibuk memotong daging, diam-diam Biru memperhatikannya. Seperti tidak pernah bosan memandang wajah Nadya. "Biru!" panggil Moka. Biru tergugup. Moka memberi tatapan tajam agar Biru beralih dari menatap Nadya. Biru hanya tertawa kecil sebelum akhirnya dia menikmati makanannya. Nadya mengambil kue tart, lalu memakannya dengan kesal. Dia benar-benar ingin keluar, karena di dekat Biru hanya membuatnya ingin memiliki, ingin bersama Biru. Dia benci kenapa harus mencintai seseorang yang mungkin sulit untuk dimiliki. Mungkin kamu pernah ada di posisi mencintai seseorang yang nggak mungkin kamu dapatkan, dan nyatanya kamu nggak pernah bisa melupakan meski telah lakukan banyak cara, dan itu telah dipraktikan oleh Nadya. Dia tak harus bagaimana dan hanya ingin pulang saja. Perempuan itu terbatuk karena makan terlalu buru-buru. Biru refleks mengulurkannya minuman, dan nahasnya berbarengan dengan Jingga. Semua mata menatap Biru. Untuk meredakan hal awkward begini, Nadya langsung mengambil jus yang diberikan oleh Jingga. Biru mengembuskan napas keras, bangkit, lalu pergi begitu saja meninggalkan meja makan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD