033. Tempramental

1515 Words
Setelah beberapa kali berhenti di rest area, kini Nadya dan Jingga menginap di hotel yang tak jauh dari tempat diadakannya acara Biru ulang tahun. Selepas mandi, Nadya langsung kembali keluar setelah rapi menggunakan piyama pendek. Jingga yang sudah mandi tersenyum ke arahnya. "Kamu kembali ngajar lagi kapan?" tanya Nadya sembari mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. "Lusa mungkin. Tapi aku bisa izin. Kenapa emang?" Jingga berbalik tanya. "Ya nggak papa, biar jangan terlalu lama di sini. Kalau kamu kerja, kan, berarti ada alesan kita harus cepat pulang," jawabnya. "Ya buat apa juga berlama-lama di sini. Kamu ada kerjaan, aku juga," jawab Jingga. Selepas kering, Nadya menyisir rambutnya. Lalu dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Jingga kemudian menyusulnya. "Kamu nggak mau makan lagi?" tanya Jingga. Dia memandang wajah istrinya yang cantik bagi Jingga. "Ah enggak. Aku nggak laper. Kita tidur aja." "Nat, selama aku nggak ada kamu benar-benar nggak bertemu siapa pun?" tanya Jingga. Mimik wajahnya terlihat amat serius. Nadya mengangguk. "Kenapa emang?" "Aku seneng kalau di dalam rahimmu adalah anakku, tapi sejak dulu aku sudah dibilang sama dokter, bahwasannya aku nggak bisa ngasih keturunan. Sebelum pulang aku kembali periksa, dan aku belum sembuh dari penyakitku. Nadya, kamu mau jujur kah itu anak siapa?" Kali ini Jingga semakin serius. Raut wajahnya seakan ingin mencaritahu lebih dalam tentang kebenaran yang nggak Nadya katakan. Nadya terkejut. Rasanya seperti disambar oleh halilintar saat Jingga mengatakan pernyataan itu padanya. Jadi ... astaga. Nadya benar-benar tak bisa berpikir jernih, tapi dia harus membuat alibi jangan sampai Jingga tahu kebenarannya. "Menurut kamu ini anak siapa kalau bukan anakmu? Itu hanya vonis dari dokter, kebenarannya belum diketahui sampai anak ini beneran lahir dan mungkin kamu akan kaget karena ternyata kamu bisa ngasih turunan," jawab Nadya. "Ya, kita akan mengetahuinya kalau dedek udah lahir, dan kita akan lakukan tes DNA," balas Jingga. "Se-nggak percaya itu kamu sama aku, Jingga?" Nadya bangkit. Dia duduk di depan laki-laki itu. Jingga pun kemudian bangkit dan mereka saling berhadapan. Nadya menatap Jingga tajam, sementara Jingga berusaha meredakan. Pikirnya mungkin Nadya selalu salah paham. "Bukan nggak percaya. Aku cuma perlu memastikan. Aku percaya sama kamu kok, Nat. Percaya banget. Dan apa pun yang terjadi nanti aku bakal selalu percaya." Jingga memberi penekanan. "Dan lagian kalau bener, buat apa kamu takut, kan? Buat apa kamu marah?" "Ya aku nggak suka seolah-olah kamu menyalahkan aku," jawabnya. "Aku nggak menyalahkan kamu," Jingga tak mau kalah. "Ya terus ngapain kamu mau tes DNA segala?" Nadya marah. "Kalau itu bener anakku, kenapa kamu marah? Aku cuma memastikan, segala lagi cuma memastikan. Nat, sumpah hal-hal kecil jangan dibikin besar. Aku tahu kamu lagi hamil dan mungkin emosimu juga nggak stabil, tapi ayolah kamu selalu aja cari masalah, kamu selalu cari hal-hal yang diperdebatkan. Kita udah jadi suami istri, penting lakukan komunikasi. Dan tolong hargai aku sebagai suami kamu." "Buat apa aku hargai orang yang nggak hargai aku?" "Tutup mulut kamu!" bentak Jingga. Nadya terkejut. Jingga mengusap wajahnya, "Nadya maaf--" "Terserahlah, aku malas sama orang tukang marah kayak kamu." Nadya langsung beranjak dari ranjang serta membawa selimut, dia langsung tidur di sana dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Dia malas melihat Jingga, malas menatap wajah lelaki itu. Rumah tangganya benar-benar tidak harmonis. "Nat, serius aku minta maaf. Ayo kembali ke kasur." Dari luar Jingga tampak memohon. Suaranya terdengar sungguh-sungguh menyesali perbuatannya. "Udahlah diem jangan ganggu aku. Sekali lagi aku denger suaramu, aku langsung keluar!" ancam Nadya. Dan benar tak ada jawaban. Nadya benar-benar tak habis pikir bahwa Jingga memang segalak ini. Mungkin memang dia juga yang terus-menerus memancing Jingga, dan membuat Jingga marah tapi Jingga seakan tak mempercayai Nadya. Dalam sisi lain Caramel, ia hanya takut jika nanti setelah Nadya kembali ke tubuhnya, Jingga tak lagi percaya pada Nadya. Kasihan Nadya. Tapi tak lama kemudian, selimutnya tersingkap. Jingga berdiri di sana, "Ayo tidur di kasur. Nggak baik kamu meringkuk di sofa. Aku minta maaf, okay? Aku minta maaf." Jingga berucap lagi. "Aku nggak mau." "Jangan kayak anak kecil, Nadya." "Aku nggak mau tidur di samping kamu, paham nggak sih?" Jingga mencengkeram pergelangan tangan Nadya. Dia mendekatkan wajahnya di depan perempuan itu, "Jangan bikin aku tambah marah dan kesal. Aku nuruti kamu ke sini buat dateng ke pesta lelaki b******k itu, seenggaknya jangan bikin aku marah. Ayo tidur." Nadya bangkit, dia hendak melepaskan paksa tangan Jingga, tetapi tenaganya tak benar-benar cukup. "Jingga lepasin," teriaknya. "Aku nggak suka kamu begini." "Turuti kemauan aku. Tidur di sampingku, ngerti?" tegas Jingga. "Caramu salah," balas Nadya. "Yang bener mana? Aku udah berusaha bersikap halus, kamu nggak terima. Aku sedikit maksa, kamu makin menjadi, dan Nadya setiap orang punya batas kesabaran. Dan mau nggak mau aku harus melakukan ini. Nat, ingat kamu istriku. Kamu harus melayani aku sebagai suami kamu. Surgamu ada di telapak kakiku." "Persetan dengan apa yang kamu omongkan, aku nggak mau mengabdi buat kamu." Kali ini pegangan tangan Jingga mulai mengendur. Perempuan itu segera melepaskan cengkramannya dan langsung berjalan ke arah ranjang. Nadya meringkuk di ujung, sementara Jingga menyusul tidur di sebelahnya. Lampu dimatikan. Nadya membelakangi Jingga dan hanya memeluk guling yang saat ini lebih menghangatkan daripada sikap Jingga. Tapi kemudian dia rasakan tangan Jingga yang melingkar di pinggangnya. Nadya bergerak, menolak, tetapi Jingga terus melakukannya. "Aku nggak bisa tidur nyenyak kalau nggak meluk kamu." Jingga berbisik. Akhirnya Nadya pasrah dan membiarkan Jingga memeluknya, walau cukup aneh ketika tangan Jingga selalu saja melakukan gerakan lebih yang menelusuri segala arah, tapi lagi-lagi Nadya hanya terdiam saja. Dia hanya ingin tidur jika bisa. "Besok jangan cuekin aku," bisik lelaki 26 tahun itu yang terdengar cringe di telinga Nadya. "Aku nggak suka kalau kamu marah-marah terus. Serius," balas Nadya. "Enggak akan lagi. Aku minta maaf," katanya. "Kamu harus janji nggak boleh marah-marah lagi. Serius, kamu akan bikin orang lain takut," ujar Nadya. "Iya, Sayang, nggak akan. Aku akan menyayangi aku, mencintai kamu. Kamu adalah perhiasan yang paling berharga yang pernah aku miliki, Nat. Aku cuma nggak mau kamu rusak, pecah, retak, dan apa pun. Aku pengin jaga kamu semampu yang aku bisa, tolong percayai aku sebagai suami kamu, Cantik." Jingga kembali berbisik. Kali ini dia mendekatkan wajahnya di kepala Nadya, mencium aroma aloe vera dari rambut istrinya yang menguar. Jingga seakan selalu kecanduan dengan aroma Nadya, dan segala hal tentang Nadya membuat Jingga gila. "Aku suka kamu," tandasnya. "Sesuka itu kamu sama Nadya?" Jingga mengelus rambut wanita di depannya itu. Sesekali dia menghirup aroma dari leher Nadya. "Banget. Suka banget. Aku nggak pernah jatuh cinta sama orang lain, Nat, dan kamu yang bikin aku jatuh cinta pertama kali. Kamu yang bikin aku nggak waras, dan kamu yang bikin aku hilang kemampuan buat menyayangi orang lain selain kamu," tutur Biru. "Aku nggak tahu apa yang udah kamu berikan, aku juga nggak tahu kenapa aku suka kamu. Kalau ditanya, kenapa aku cinta sama kamu karena kamu baik, cantik, lugu, dan itu udah cukup jadi alasan kenapa aku harus memiliki kamu. Nat, berjanjilah jangan pernah tinggalkan aku bagaimana pun keadannya. Aku akan berusaha bikin kamu bahagia, nyaman, dan aman di dekatku. Aku akan berusaha menjadi yang lebih baik lagi walau mungkin ini semua harus kulakukan dari nol. Right?" Aduh, muak anjir serius. Batin Nadya. Kenapa gue jadi geli ya giniin, serius ayolah bukan elo, Mel, yang diomongin tapi Nadya. Nadya. Lo nggak usah ngerasa elo yang dikatain begini, karena dia taunya elo Nadya, ya! Tetep pura-pura, Mel. Perempuan itu tak menyahut, agaknya dia lebih memilih untuk langsung tidur. Ia harus istirahat karena besok harus datang ke pesta ulang tahun Biru. Dia tak sabar untuk melihat Biru, memandang Biru, dan tak sabar juga untuk segera genap enam puluh hari agar dia kembali ke tubuhnya dan menemukan Biru. Jika saja itu terjadi, ia tak akan pernah akan menyia-nyiakan Biru dan melepasnya. Ah, rasanya ia tak pernah sejatuh dan seagresif ini dalam mencintai. Jujur saja, semasa dulu dia pernah mencintai kakak tingkatnya, kemudian dengan apa yang dia miliki dan punyai dengan sangat mudah mendapatkan atensi dari lelaki yang merupakan wakil BEM di kampusnya itu. Namun, hubungan mereka tak berjalan lama karena dia memutuskan S2 di luar negri dan perempuan itu akhirnya memutuskan hubungannya. Padahal sang lelaki tak pernah meminta kekasihnya untuk pergi, bahkan ia memintanya untuk menunggu. Tapi sayangnya sang perempuan tidak mau, karena dia ingin membebaskan diri dari semuanya. Dan sekarang ia kembali jatuh cinta dengan seseorang yang bahkan berhasil menghilangkan kewarasannya. Ia tak pernah secinta ini pada siapa pun, tapi Biru bahkan berhasil membuatnya takluk dan segala tentang Biru menjadi istimewa. Dia tak paham, dia tak mengerti kenapa sampai bisa segininya untuk jatuh cinta. Setiap detik, setiap menit, dan setiap jam hanya ada nama Biru yang terlintas. Bukankah ini sangat keterlaluan. Bahkan dia juga menyadari, bahwa sekarang dirinya telah murah. Dulu, mantan kekasihnya tak pernah sedikitpun menyentuh bagian-bagian sensitif-nya jika dia tak pernah mengizinkan, tapi sekarang jika dibandingkan dengan Biru, ia sangat berani melakukannya secara spontan, blak-blakan, dan parahnya perempuan itu menikmati setiap sentuhan Biru dan ia menerima segala perlakuan Biru. Apalagi jika tidak gila? Dengan Biru, dia memang hilang akal sehat. Berbuat kesalahan, berbuat yang bahkan seharusnya tak boleh dilakukan. Biru sudah mengubah Nadya. Ah tidak, seseorang yang di dalam tubuh Nadya tepatnya. To be continued~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD