Bahwa ... Nadya tak menyangka jika H-1 kepergiannya bertepatan dengan kepulangan Jingga. Seingatnya Jingga tidak pulang dalam waktu dekat ini, tapi entah kenapa tiba-tiba dia telah sampai di rumah dan sekarang lelaki itu tengah duduk di depan Nadya, di ruang tamu.
"Harus banget kah kamu hadir di pesta Biru? Di Jakarta pula?" Jingga menaikan volume suaranya beberapa oktav. Mungkin dia tak habis pikir dengan keputusan wanita di depannya.
"Harus banget kah kalau kamu melarang aku buat pergi? Padahal aku nggak akan berlama-lama di sana."
"Kamu lagi hamil. Kamu harus menjaga kandungan kamu, Nadya."
"I see, ini terakhir. Aku nggak akan ke Jakarta lagi. Oh enggak, aku nggak akan pergi-pergi lagi. Ayolah Jingga, kalau kamu mau ikut ikutlah. Asalkan izinkan aku ke sana." Kali ini Nadya memaksa. "Tujuanku bukan semata-mata karena menghadiri pesta, tapi ada hal lain yang harus aku selesaikan di Jakarta."
"Apa?" tanya Jingga.
Sial, kali ini Nadya tak bisa menjawabnya. Tidak mungkin dia mengatakan hal sejujurnya bahwa dia masih penasaran dengan rumahnya. Dia penasaran dengan keluarganya dan segala tentangnya. "Ya pokoknya ada. Ayolah, serius aku janji. Lagian ini hanya formalitas acara kantor. Anak kantor pada ikut semua, masa aku enggak. Nggak etis dong. Aku editor dia, ya kali aku nggak ikut." Nadya nyolot.
"Okay, nanti aku temani."
"Nah gitu dong." Nadya tersenyum lebar.
**
Di dalam mobil, Nadya duduk di samping Biru. Dia sibuk menonton Netflix dan sesekali dia menyandarkan kepalanya di pundak Jingga ketika merasa lelah. "Jingga, geser ke ujung dong. Aku pengen tiduran," pintanya.
Jingga menggeser duduknya, Nadya kemudian meletakkan kepalanya di paha Jingga dan kembali melanjutkan menonton. Sesekali Jingga menyuapi Nadya kripik kentang, dan perempuan itu menerimanya. "Nat, tapi kenapa kamu nggak pernah pakai jilbab lagi? Padahal lebih cantik kalau pakai jilbab," ucap Jingga.
"Gerah. Dan kenapa sih? Harus banget, ya? Kapan-kapan deh nanti pakai lagi," jawab Nadya enteng.
"Itu kewajiban sebagai perempuan."
"Ah gitu, aku baru tahu."
"Maksud kamu?" Jingga terkejut.
"Maksudnya ya nanti aku pakai lagi. Aku tahu, udahlah Jingga aku lagi fokus nonton nih, jangan ganggu aku," katanya. Sial, gue hampir aja keceplosan kalau gue nggak beragama. Tapi haduh, kenapa obrolan sama Jingga benar-benar membosankan. Bahkan gue berani taruhan emang nggak ada cewek yang mau karena topik dia nggak berkembang. Batin Nadya.
Sekitar 15 menit kemudian, Nadya kemudian duduk. Dia menyandarkan kembali kepalanya di bahu Jingga. Mungkin dia merasa lelah. "Aku haus," ucapnya.
Jingga mengambil air mineral baru dan membukanya untuk Nadya. Perempuan itu meneguknya setengah lalu memberikan kembali pada Jingga. "Kamu nggak capek, kah? Padahal kamu baru banget pulang. Jingga, percayalah ini acara kantor. Kalaupun kamu nggak ikut, aku akan baik-baik aja," lirih Nadya.
Jingga menatap perempuan itu intens. "Aku nggak yakin," katanya.
"Kamu nggak percaya aku?" Nadya bertanya.
"Belum. Nadya maaf ... tapi kalau pun kamu ada di posisi saya kamu nggak akan bertindak seperti saya. Kamu masih mencintainya, kan? Mencintai Biru?" tanya Jingga.
Nadya menggeleng, "Enggak. Aku suka kamu."
"Bohong."
"Serius. Kamu mau bukti apa? Aku udah belajar mencintai kamu, dan perlahan berhasil. Aku mencintai kamu, Jingga. Percayalah bahwa hati seseorang bisa berubah, begitupun hatiku. Aku suka Jingga. Aku minta maaf kalau akhir-akhir ini sering buat kamu kesal, tapi bagaimana pun aku nggak mau kehilangan kamu." Nadya berkata tegas.
"Kamu mengetakan ini dengan waras?" Jingga masih tak percaya.
Nadya mengangguk. "Masih. Kamu mau bukti apa, Sayang?" Dia menggoda.
"Nat--" Belum selesai Jingga mengucapkan nama Nadya dengan sempurna, perempuan itu mendaratkan bibirnya pada bibir Jingga hingga lelaki itu akhirnya membalas ciuman dari Nadya. Keduanya melakukan dengan cukup panas di belakang. Jingga membuat tanda di leher Nadya, sesekali perempuan itu mengerang merasakan geli. Ah, untung saja tanda kepemilikan yang pernah Biru buat telah menghilang. Nadya hampir saja khawatir jika bekasnya masih ada.
Jingga memegang pundak Nadya begitu kencang, tangannya hendak membuka kancing kemeja Nadya, tetapi Nadya menahannya. "Jingga stop, nggak sadar kamu lagi di mana?" tanyanya.
"Sorry." Jingga berucap lirih.
"It's okay, Sayang. Tapi tahan dan jangan lanjutkan." Nadya mengecup bibir Jingga kemudian menatap jalanan di luar sana. Sesekali tangan Jingga yang nakal meraba bagian tubuhnya, tetapi Nadya tak peduli. Ia seakan pasrah dan membiarkan Jingga melakukan apa pun yang dia inginkan.
"Nat ... kamu--"
"Jingga diamlah. Aku nggak peduli. Ini lagi di mobil." Nadya berucap pelan, bisa-bisanya Jingga mengatakan hal sedemikian frontal yang bisa saja didengar oleh sopir di depannya. Tapi untung saja Nadya langsung menghentikan.
Jingga tertawa. Dia kemudian mencium istrinya dan menghentikan aksi nakalnya, pikirnya mungkin kasihan Nadya.
Nadya sendiri seperti seseorang yang tidak waras. Dia tidak tahu pasti pikirannya dan apa yang sedang dia lakukan. Mencoba menyukai pria di sampingnya hanya karena membutuhkan izin dari lelaki itu untuk pergi demi menemui lelaki lain. Nadya pikir, Jingga mungkin berpikir yang tidak-tidak atau paling tidak, dia akan cemburu. Bukan akan, tetapi memang cemburu. Suami mana yang mau memberi izin istrinya yang sedang hamil untuk keluar kota demi bisa bersua dengan lelaki lain, tapi kenyataannya Jingga menerima permintaan itu.
Nadya pikir Jingga kelewat baik atau mungkin ada sesuatu yang Jingga sembunyikan dari Nadya. Sejujurnya, ada rasa ragu mengapa dia harus mengatakan dengan jujur perihal ini pada Jingga. Mengapa dia harus meminta izin Jingga dan kenapa dia tak berbohong saja seperti yang sering dia lakukan? Tapi kenyataannya memang tak bisa seperti itu. Paling tidak jika Jingga ikut, Nadya tak mengeluarkan banyak uang dan semuanya ditanggung oleh Jingga. Ini hal yang menguntungkan. Tapi di sisi lain dia harus waspada karena tidak pernah tahu apa yang Jingga rencanakan. Terlebih hubungan Biru dengan Jingga seperti minyak dan air, tidak akan pernah menyatu.
Di dalam mobil Nadya sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia merasa kalut, tapi dia juga bahagia karena akan berjumpa dengan Biru yang dirindukannya. Ah, sulit dideskripsikan. Hal ini seperti seorang suami yang sedang mengantar istrinya untuk berselingkuh. Bagaimana mungkin Nadya tak berpikir sejauh ini. Sebenarnya apa yang akan Jingga rencanakan dan dia takut menjadikan pesta Biru hancur. Atau Nadya hanya berpikir terlalu jauh saja, dia tidak tahu. Dia hanya berharap semoga Jingga tak melakukan apa-apa dan semua berjalan sesuai dengan ekspektasi. Dia bertemu Biru, mengobrol dengan Biru, menatap mata indah Biru, dan mencium lelaki itu sekali saja. Ya, paling tidak itulah yang harus Nadya lakukan.