031. Amarah

1029 Words
"Hei Bangs*t, lo kira siapa? Jangan seenaknya lo telepon Moka dan nyuruh dia biar gue jauhin Nadya. Serius, lo khawatir banget kah istri lo main serong sama gue? Pulang kalau lo mau bukti. Gila, ya, lo. Jangan sekali-kali hubungin Moka lagi dan ganggu karir gue. Inget, gue simpan kartu As lo. Kalau lo berani nyentuh karir gue, gue berani taruhan bahwa lo bakal dikeluarkan dari kampus." Biru menaikan suaranya. Dia mengeluarkan amarah yang tadi ditahannya. Dia tak habis pikir bagaimana mungkin bahwa ini akhirnya bocor di telinga Moka. Bukankah Jingga benar-benar amat keterlaluan. "Apa kamu nggak punya sopan santun? Untuk berbicara ke yang lebih tua aja kamu nggak punya adab ya, Biru? Dan apakah setakut itu popularitas kamu hancur? Kalau nggak mau hancur, bukannya lebih baik kamu jauhi Nadya?" Jingga membalas semua pisuhan Biru dengan nada suara yang dibuat setenang mungkin, walau mungkin saja Jingga pun ingin membalasnya kembali dengan amarah. "Haruskah gue punya sopan santun sama orang kayak elo? Walaupun lo dosen, itu nggak mempengaruhi gue biar gue takut sama elo. Denger Jingga, gue nggak akan main-main sama ucapan gue. Jangan pernah hubungin rekan kerja gue, urusan lo sama gue." Biru memperingatkan. Bahkan tak sedikit pun dia merasa sungkan, tidak enakan atau apa pun terhadap Jingga. Baginya dia hanya perlu melawan. Itu saja. "Saya nggak akan hubungi rekan kerjamu lagi kalau kamu menghapus nomor Nadya," ucap Jingga. Rupanya dia sedang menawarkan negosiasi. Biru tertawa. "Maksud lo kalau gue hapus nomor istri lo dia nggak bakal telepon gue lagi? Gini, lebih baik lo bilang sama Nadya suruh blokir nomor gue, gimana? Itu lebih baik dan lebih menjanjikan. Tolong otak lo dipakai, Pak Dosen yang katanya paling beradab." Biru mengejek lelaki itu tak henti. Sepertinya dia memang benar-benar membenci Jingga tentu saja. "Kenapa bukan kamu yang blokir saja?" tanya Jingga. "Ah serius? Mending istri lo aja. Dan gue nggak mau berlama-lama ngobrol sama lo, jadi daripada lo berbuat makin aneh, saran gue lo cepet pulang dan temui istri lo biar ada bukti kalau gue nggak pernah ganggu istri lo. Ngerti?" "Kalau bukti itu ada gimana?" Jingga masih setia menjawab makian Biru. "Cari sampe mati pun nggak bakal ketemu," bentak Biru. "Tangkai Ra ...." Jingga terdengar tertawa. "Gimana kalau saya rekam pembicaraan kita dan disebarluaskan pada khalayak? Omongan kamu, makian kamu, apa kamu nggak mikir ucapan itu kadang jadi boomerang tersendiri. Manusia sering nggak sadar bahwa kata-katanya kadang terlampau amat berbahaya bagi dirinya sendiri. dan salah satunya adalah kamu." "Sebarkan kalau lo pengin dikeluarkan dari kampus. Jangan harap gue lupain kartu As lo dan lenyapkan buktinya. Enggak, Jingga. Saat gue hancur, lo juga bakal hancur," balas Biru. Kali ini suaranya tak setegas sebelumnya. Mungkin Biru masih mengatur emosi agar tidak terlalu menyala-nyala. Jingga tertawa lagi. "Biru, itu udah masalah lampau. Kamu masih mendebatkan perkara itu dan kamu masih mau memperkarakannya? Gimana kalau laporan kamu ditolak?" "Gimana kalau ternyata rektorat terkejut dengan kelakuan salah satu Dosennya sebelum menjadi Dosen? Jejak digital itu nggak bisa terhapuskan. Kadang dia menjadi pedang bagi tuannya, kadang menjadi panah bagi pembuatnya dan nggak jarang yang membunuh pemiliknya. Asal lo tahu, kesalahan lo akan selalu relevan diungkit kapan pun dan gue cuma memperingatkan bahwa orang tua lo bisa jadi nggak tau ini, kan? Dan gimana kalau mereka tau kalau putra kesayangannya adalah seorang—" "Stop. Diam. Saya mempermasalahkan kamu. Jangan coba keluar dari topik. Untuk terakhir kalinya jangan lagi dekati istri saya. Bahagialah dengan caramu sendiri, fokuslah dengan karirmu, dan jangan macam-macam. Saya nggak akan diam kalau kamu masih terus dekati Nadya." "Terserah lo, ya. Gue capek. Mending lo bilang ke istri lo itu buat jauhin gue. Ngerti? Pembahasan lo nggak guna!" Tak ada jawaban, tapi masih tersambung. Biru menghela napas, lalu langsung mematikan sambungan teleponnya. Dia membanting benda pipih itu di kasur, lalu menendang ujung meja berusaha menumpahkan kekesalannya. "Sial! b******k. k*****t. Gue nggak akan pernah maafkan elo, Jingga," teriak Biru. Biru tak habis pikir bahwa Jingga akhirnya berbuat sejauh ini. Dan jika sudah begini bagaimana Biru harus mendekati seseorang yang ada di balik tubuh Nadya? Dia benar-benar tak ikhlas jika Caramel harus bersama Jingga. Ini sama saja seperti ketika Biru jatuh cinta pada Nadya, Jingga mengambilnya. Dan ketika Biru jatuh cinta pada Caramel, tanpa sengaja Jingga pun menguasainya. Lalu kapan giliran Biru bahagia? Kapan Biru bebas ditemani seorang perempuan yang memang miliknya, bukan milik Jingga? Haruskah Biru mengatakan pada Jingga bahwa di dalam tubuh Nadya ada Caramel, perempuan yang dicintainya? Tapi bagaimana jika nanti tiba-tiba namanya muncul di koran dengan headline, Putus dengan sang Kekasih, Biru dikabarkan menjadi ODGJ. Ini tidak lucu. Bagaimana jika Jingga tertawa. Dan lagian Biru sendiri masih berproses untuk percaya dan apakah dia telah percaya? Pasalnya dia telah jatuh cinta pada perubahan yang Nadya berikan. Semua ini sangat rumit hingga Biru benar-benar tak dapat mengerti tentang perasaannya sendiri. Entah apa yang akan ia lakukan ke depannya, Biru hanya berharap bahwa dia juga mendapat jatah bahagia. Dia ingin jatuh cinta pada perempuan yang benar, mencintainya, hidup bersamanya kemudian. Namun, sesulit itukah? Sebenci itukah semesta padanya hingga permasalahan asmara saja membuat Biru sulit luar biasa. Ternyata menjadi tampan saja tidaklah mudah. Dia kira ketika baru saja terjun di dunia asmara, semua akan berjalan lancar seperti ekspektasinya, tapi ternyata tidak. Ternyata sesulit ini ketika dijalankan. Tidak sesederhana yang pernah dibayangkan dan diinginkan, Biru harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan apa yang dimau dan menurutnya ini tak adil. Biru ingin mencintai perempuan dengan nyaman hingga akhir. Popularitas jalan, tetapi asmara pun lancar. Bisakah? Bisakah dia berada di posisi itu? Selalu saja salah satunya harus mundur. Tapi jika dibandingkan dengan kehilangan popularitas, Biru lebih memilih untuk kehilangan Nadya daripada kehilangan popularitasnya. Tapi jika dibandingkan Caramel, Biru akan kembali berpikir karena sialnya dia telah jatuh cinta pada perempuan hedonisme itu. Dengan penuh kewarasan, bahkan Biru rela jika seluruh hartanya dihabiskan untuk perempuan itu, untuk membiayai segala skincare-nya, memenuhi kebutuhannya, dan memberi jatah bagi liburannya. Bahkan Biru akan bekerja lebih keras lagi dan lagi. Dia kemudian menerima pesan singkat dari Moka. Ra, tetap waspada. Lo lagi dalam situasi yang nggak baik-baik aja. Gue harap lo lebih peduli. Gue harap lo lebih memedulikan karir lo daripada permasalahan di luar. Gue nggak mau lo berantakan. Tetaplah jadi Tangkai Ra, Biru.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD