Di ambang pintu, Caramel berdiri. Di depannya laki-laki 29 tahun berkaus hitam polos pendek serta bercelana boxer baru saja keluar dari dapur. Rambutnya terlihat acak-acakan dan Caramel baru menyadari bahwa Biru terlihat semakin keren di usianya yang tak lagi muda. Biru melongo menyaksikan pemandangan di depannya, pun Caramel juga. Waktu seakan berhenti hanya untuk mereka berdua.
"Caramel," lirih Biru.
Caramel mendekat, Biru mencium aroma segar yang menguar dari tubuh perempuan itu, pun Caramel pun mencium aroma mint dari tubuh Biru. Bahkan ketika Biru hanya mengenakan kaus dan celana pendek saja, Caramel mencintainya. Dia mencintai Biru. Dan masih mencintai Biru.
"Kenapa kamu terlibat banyak sekali skandal?" tanya Caramel. Dia duduk di sofa, lalu di susul Biru yang duduk di depannya.
"Setelah kamu ninggalin aku, kamu bertanya itu? Seakan-akan kamu nggak merasa bersalah. Aku hancur karena kehilangan kamu," balas Biru.
Caramel melongo. Dia langsung merasa bersalah, tapi dia juga tak tahu kenapa dia meninggalkannya? Kenapa Caramel meninggalkan Biru? Jika dipikir-pikir semuanya tak masuk akal, dan tidak ada yang masuk akal. Caramel benci dengan kenyataan dia terlempar pada tahun 2017 dan kenapa dia tak bertemu Biru di tahun yang sama saja? Dia tak suka kenyataan bahwa mereka terlibat dengan rumitnya kenyataan yang mempermainkan perasannya.
Caramel bangkit, dia berjalan ke arah Biru dan duduk di samping lelaki itu. "Biru, sebenernya apa yang terjadi? Apa yang kamu tahu?"
Biru menggeleng. "Entahlah, ini terlalu sulit buat dijelaskan. Aku nggak paham, Mel. Semuanya kayak dongeng. Aku terlalu gila untuk menyadari bahwa semua mungkin nggak sesuai ekspektasi."
"Tapi, sekarang aku di sini. Biru, aku janji aku akan kembali untuk menemui kamu di tahun sebelumnya dan mencegah semua ini untuk terjadi. Aku berjanji untuk membantumu mempertahankan popularitas, dan aku berjanji akan selalu ada di samping kamu. Aku janji bahwa aku akan memperbaiki masa sekarang." Caramel berkata penuh ketulusan.
Biru menatap perempuan itu lekat, lalu tersenyum. Tiba-tiba Caramel mendaratkan bibirnya di bibir Biru, dan Biru langsung membalasnya dengan sangat cekatan. Keduanya seperti dua manusia yang saling merindukan bibir satu sama lain. Biru mengakui bahwa bibir Caramel semakin lezat. Perempuan itu benar-benar sempurna dan apakah Biru harus membuat pernyataan bahwa dia beruntung menjadi seseorang yang pertama kali dicintai oleh Caramel dengan sebenar-benarnya.
Di sofa, Biru mendorong tubuh Caramel hingga perempuan itu merebahkan tubuhnya di bawah tubuh Biru. Lelaki itu menciptakan banyak tanda kepemilikan di leher Caramel dan berkali-kali menikmati bibir Caramel lagi dan lagi. Sembari terus membuat Caramel merasa nyaman, kini tangan Biru berusaha menjelajah ke beberapa titik privasi milik Caramel. Perempuan itu menghentikan tangan Biru membuat Biru menatapnya dengan pandangan tak sabar.
Pelan-pelan caramel memegang pinggang Biru dan menaikan kaus Biru sembari terus memandang wajah lelaki itu. "Biru, bisakah kita melakukannya di dalam? Di sini terlalu terang, Sayang," bisik Caramel.
Biru tersenyum. Dia langsung berdiri dan mengangkat tubuh Caramel dan memasukannya ke kamar. Setelah pintu terkunci dan Caramel telah merebahkan pasrah tubuhnya di atas kasur, Biru kemudian melepas kausnya dan berusaha menjelajah segala hal yang Caramel miliki. Biru begitu cekatan menghapus semua awan yang menutupi mentari, hingga akhirnya dia dapat menikmati sinarnya dengan sangat jelas. Keduanya kemudian larut dan bersatu dalam kesakitan sekaligus kenikmatan yang tak dapat tergambarkan.
"Biru, aku mencintaimu," desis Caramel.
"Stop talking about it, Babe." Biru langsung mendaratkan bibirnya pada bibir Caramel. Bahkan ketika lipstik Caramel terlah terhapus, Biru semakin menikmatinya.
"Biru, ternyata sakit." Caramel mendesis. "Tapi sialnya aku suka."
"Aku melakukannya sebaik mungkin," gumam Biru.
Di bawah selimut, kedua manusia itu seakan enggan saling melepas. Biru melakukannya dengan cukup membabi buta. Dia telah menciptakan banyak tanda kepemilikan di leher Caramel, sedangkan perempuan itu pun membalas semua yang Biru lakukan padanya. Dia jauh lebih cekatan dan menjelajah segala hal yang berada di atasnya dan membuat Biru pun terlihat kenikmatan. Keduanya benar-benar gila untuk melakukan hal-hal yang seharusnya tak pernah dilakukan.
Hingga akhirnya, kemudian Caramel memeluk Biru dan membenamkan wajahnya pada d**a bidang Biru, dan Biru memeluknya, sesekali mengusap kepala Caramel dengan lembut. "Aku nggak akan lama di sini. Aku harus kembali untuk memperbaiki masa depanmu," desis Caramel.
"Kalau aku harus kehilangan kamu, bukannya itu nggak perlu kamu lakukan? Aku nggak mau kamu pergi lagi. Popularitas bukan lagi hal penting," jawab Biru.
Caramel menaruh telunjuknya di bibir Biru, dia menatap lelaki itu dengan matanya yang sangat cantik. "Enggak. Kamu harus tetap mempertahankan popularitas kamu. Akan akan membantunya, Sayang," kata Caramel pelan. "Aku nggak mau kamu kehilangan pembaca, aku nggak mau kamu kehilangan apa yang kamu sukai. Aku akan mempertahankannya buat kamu," kata Caramel.
Biru hanya tersenyum. Mungkin dia merasa bahwa Biru terlalu baik padanya, tapi walau demikian Biru juga tidak bisa ditinggalkan kembali oleh Caramel. Tapi sekarang Biru sangat nyaman, entahlah dia sangat menyukai perempuan itu. Dan saat ini ketika tubuh Caramel menyatu dengan miliknya, dan Caramel begitu nyaman dipeluk olehnya, Biru semakin merasa bahwa dia tak mau Caramel pergi darinya. Dia tak mau Caramel menjauh dan dia menjadi lebih hancur. Bahkan Biru enggan menikah jika tidak dengan perempuan itu. Jika tidak dengan Caramel yang sangat cantik.
"Ayo kita keluar. Aku pengin menghabiskan tiga hari di sini sama kamu," ajak Caramel. "Aku ingin menyatukan tubuhku dengan milikmu sepanjang hari kalau saja nggak kenal adanya capek. Biru ... " Caramel menghadapkan wajahnya tepat di depan wajah Biru.
Dia memegang pipi Biru dan menatapnya dalam. "Aku menyukai kamu, wajahmu, bibir kamu, mata kamu, hidung kamu, rambut acak-acakanmu yang gondrong itu, dan seluruh apa yang tubuhmu miliki. Aku suka itu semua. Aku nyaman. Aku ingin memakan Tteokbokki sepanjang hari denganmu, tapi aku tahu ini nggak baik, hal-hal yang berlebihan memang nggak akan pernah baik." Caramel berdesis.
Biru tersenyum. "Persetan dengan semua itu, aku mencintai kamu." Biru mengecup bibir Caramel singkat, lalu tersenyum.
"Ayo keluar," ajak Caramel.
"Kamu baik-baik aja?" Biru khawatir.
"Walau rasanya sakit karena ini pertama, tapi aku harus tetep beli ice cream. Ayolah, Biru. Ajak aku keluar dan nikmati hari ini untuk kita berdua." Caramel kemudian duduk. Dia menatap Biru, lalu bangkit walau semuanya masih sangat nyeri tapi Caramel berusaha untuk tidak menampakannya di depan Biru. Dia memakai bra dan underwear yang telah dilepas Biru dengan membabi buta, lalu memakai kembali dress-nya yang telah sedikit lecek.
"Caramel, pakailah kemejaku," pinta Biru.
Caramel berbalik. "Kenapa emang?" tanyanya. "Aku suka dress ini sangat cantik."
"Iya, tapi aku nggak mau orang lain lihat dengan pandangan pengen ke kamu. Tubuhmu milikmu dan—"
"Dan apa?"
"Dan cukup aku yang boleh menikmatinya. Aku nggak mau ada orang lain yang tertarik sama kamu." Biru berkata jujur. Dia mengambil kemeja miliknya yang agak kecil, lalu memberinya pada Caramel, sementara perempuan itu hanya tertawa. Cukup miris melihat seseorang yang amat sangat sedang kasmaran.
"Celananya?" Caramel bertanya setelah mengancing tiga kancing bagian bawah, tapi dia sengaja tidak mengancing bagian atasnya dan melangkah ke arah Biru yang sedang memakai kaus.
"Ah, aku simpan kulot baru milik Riri. Pakailah." Biru mengambil kulot levis dan Caramel memakainya. Sangat pas. Dia tersenyum di depan cermin, lalu Biru meraih bahunya dan menghadapkannya. Lelaki itu mengancing kemeja Caramel yang belum selesai dikancing, lalu merapatkannya. "s**t, kamu terlalu sempurna, Mel. Semuanya. Semuanya terasa manis." Biru bergumam, lalu menarik tangan perempuan itu keluar kamar.
Mereka terkejut ketika seorang pria tambun baru saja masuk dan dia berdiri di ambang pintu. Dia tampak membawa sekotak martabak manis, menatap Biru dan Caramel berganti.
"Ra, dia siapa?" tanyanya. Dia Moka.
Caramel menggenggam tangan Biru makin erat, bukannya takut tapi bisa jadi kedekatan mereka bisa membuat popularitas Biru kembali terangkat. Kedekatan mereka bisa menjadi obat dari dituduhnya Biru berselingkuh dengan istri seorang Dosen. "Ra, gue udah bilang jangan macem-macem lagi. Followers lo turun seratus ribu, dan lo masih berani kayak gini? Ra, gimana sama gosip—"
"Aku tau kamu yang bertanggung jawab pada Biru, tapi tolong bersihkan nama Biru dengan namaku. Sampaikan pada media bahwa Biru mengencani aku." Caramel angkat bicara.
Biru terkejut. "Mel ..." Dia terlihat habis kata-kata. Caramel terlalu buru-buru untuk bertindak, tapi perkataan Caramel ada benarnya.
"Kamu ... kamu Caramel?" Moka memastikan. Ya dengan jumlah pengikut hampir tiga juta di i********:, cukup banyak yang mengenal Caramel. Perempuan hedonis yang menggunakan kecantikan dan uangnya untuk memperbanyak jumlah pengikut. Ah tidak. Sejujurnya Caramel hanya tidak menduga kenapa banyak orang yang mengikuti akunnya, terlebih laki-laki. Padahal dia tak memiliki karya dan dia tak pernah menggunakan media sosialnya kecuali hanya untuk mengabadikan jalan-jalannya.
"Biru, kamu mengencani Caramel, benar? Kalau ini bener, ini bisa jadi berita."
"Terserah lo. Gue nggak ngerti." Biru kembali menarik tangan Caramel, dan mereka berdua kemudian naik ke mobil Biru. Biru mengendarainya entah ke mana, Caramel hanya mengikuti lelaki itu.
"Mel, apa kata orang kalau kita pacaran?" tanya Biru.
"Kenapa kamu amat peduli? Aku nggak dimiliki siapa pun, kamu juga. Seenggaknya namaku bisa memperbaiki kembali namamu dan popularitasmu bakal kembali," kata Caramel. "Toh kamu nggak seharusnya mengkhawatirkan kamu, tapi aku yang khawatir. Ada banyak perempuan yang suka kamu, gimana kalau gosip itu tersebar dan mereka nggak nyangka kamu mengencani selebgram hedonis kayak aku." Caramel memakai lipstik di bibirnya, lalu menghadap Biru.
"Aku udah cantik?" tanyanya.
Biru menoleh, "Jelek."
"Ih Biru jahat." Caramel memberengut.
"Kapan sih kamu nggak cantik? Kamu cantik terus," sahut Biru.
Caramel kemudian tersenyum. Dia memasukan lipstiknya di tas, lalu menyalakan lagu-lagu Ariana Grande dari ponselnya. Dia benar-benar menikmati waktu bersama Biru dan enggan untuk cepat berlalu. Dia ingin memohon agar waktu berhenti sekarang juga, agar dia memiliki waktu yang banyak bersama Biru dan hidup bahagia selamanya bersama Biru.
"Di lehermu masih banyak bekas ciumanku, kamu nggak malu?" tanya Biru.
"Malu kenapa? Bukannya nanti orang bakal tahu kalau aku adalah milik kamu dan mereka nggak akan macam-macam sama aku?" Caramel tersenyum puas.
Tak lama kemudian, mobil Biru berhenti di dekat taman. Caramel tak tahu tempat ini sebelumnya, tapi tidak terlalu lama karena masih siang. Mereka kemudian turun dan keduanya berjalan dan duduk di tepi sungai. Banyak penjual di sini dan Caramel sesungguhnya tak pernah ke tempat ini. Tapi jika bersama Biru semuanya terlihat amat sangat menarik.
"Besok, aku mau ke pantai," katanya.
"Pantai? Gimana kalau nanti malem kita berangkat biar pagi nanti kamu udah bisa liat sunrise," usul Biru.
Caramel mengangguk cepat. Keduanya duduk di tepi danau, memandang aliran air di sana. Caramel tiba-tiba meletakkan kepalanya di atas paha Biru, dan memejamkan matanya untuk beberapa saat. "Aku pengen banget waktu berhenti sekarang juga, Biru," kata Caramel.
"Siapa yang bisa menghentikan. Bahkan pemandangan di sini biasa aja. Karena kecantikannya udah diambil alih sama kamu." Biru tersenyum.
Lelaki itu mengusap pipi Caramel dan sesekali menatap danau, sementara Caramel lebih suka menatap dan memandang Biru dan birunya langit daripada melihat danau yang begitu-begitu saja. Biru tak pernah membosankan. Sangat aneh, kenapa dia bisa mencintai seseorang hingga sedalam ini dan hilang kewarasan ketika Biru telah menguasainya. Bahkan dia tak lagi mempertahankan prinsipnya untuk tetap menjadi mahal di depan Biru. Seakan Biru dengan sangat berani membayarnya, ah tentu itu terdengar kasar dan seolah-olah perempuan adalah barang. Tidak. Bukan begitu konsepnya. Caramel yang dengan sangat ikhlas memberikannya pada Biru. Dan dia menikmatinya.