040. Hari Pertama

1684 Words
Perempuan yang terbujur kaku di atas ranjang itu pelan-pelan menggerakan tangannya. Perlahan, kedua matanya terbuka. Dia melihat tembok cokelat muda keemasan yang terbentang di depan. Di sekeliling tak ada siapa pun kecuali suara bising dari kepalanya. Setelah kesadarannya terkumpul, perempuan 24 tahunan itu langsung terduduk. Dia melihat dirinya yang mengenakan baju pasien, dia buru-buru melepas segala alat yang menempel di tubuhnya lalu terbangun dan merasakan bahwa beberapa titik seperti lutut dan leher masih terasa sakit. Tapi tak sesakit saat truk baru saja menabrak dan mementalkan tubuhnya. Dia terlihat seperti seorang yang linglung, berjalan lunglai, sesekali berhenti dan berpegangan pada pojok meja. Kepalanya masih terasa berat, tetapi dia harus keluar dari kamar untuk menemui siapa pun yang berada di bawah. Dia membuka pintu, lalu melihat seorang wanita 40 tahunan yang baru saja menaiki tangga, dan tampak terkejut dengan dengan kehadiran Caramel. "Astaga Non Caramel. Nyonya, Tuan, Non Caramel sudah sadar." Wanita itu berteriak. Caramel tak memedulikan, tetapi dia kangen orang tuanya. Tak lama dari itu orang tua mereka keluar dari balik kamar dan terkejut. Mereka langsung naik ke atas. Sang mama terlihat menahan air mata di pelupuknya, sang papa juga. Mungkin mereka tak menyangka bahwa akhirnya Caramel akan sadar hari ini. "Caramel Sayang, kamu udah sadar. Ayo istirahat, papa harus panggilkan Dokter," kata sang papa. Dia memegang bahu Caramel dan berusaha untuk memapah kembali Caramel menuju kamar, tetapi Caramel menoleh dan menahan lengan pria itu. "Pah, aku baik-baik aja. Aku pengin makan." Caramel malah menepis kedua tangan ayahnya. Dia berjalan ke bawah walau kepala masih terasa kian berat. Dia belum banyak mengingat sesuatu, dan berusaha untuk mengingat semuanya jika bisa. Tapi kalaupun tidak bisa, ia tak akan memaksa. "Caramel, Sayang, istirahatlah lagi. Nanti mama buatkan pasta yang enak buat kamu. Nanti mama juga akan buatkan Cappucino hangat buat kamu, ayolah, Nak, istirahat. Tubuh kamu masih belum pulih seutuhnya." Mama berjalan di samping Caramel, jaga-jaga jika tiba-tiba Caramel terjatuh karena jujur saja, tatapan dan raut wajah perempuan itu masih terasa mengkhawatirkan. Caramel menggeleng, dia kemudian duduk di meja makan dan memakan pear yang berada di sana. Seorang ART mengambilkan piring yang telah berisi pasta dan seorang lain membuat Cappucino hangat yang kemudian ditaruhnya di depan Caramel. "Aku mau burger double beef, pizza dan ice cream," kata Caramel sembari memakan pasta miliknya. Dia terlihat sangat menikmati makannya, kemudian sang mama langsung menyuruh asisten rumah tangga yang lain untuk memberikan kemauan Caramel. Apa pun yang dia mau, orang tuanya pasti akan memberi. Rumah itu sangat luas. Bahkan dapurnya saja sebesar kontrakan Nadya. Meja makannya memanjang dan berisi masing-masing lima kursi saling berhadapan. Di atas meja tersedia banyak buah-buahan, dan Caramel menikmatinya seakan-akan dia baru saja terdampar di hutan dan tak menemui makanan enak. Sekitar lima belas menit kemudian, para asisten rumah tangga kembali dan membawa banyak pesanan Caramel. Perempuan itu langsung memakannya satu per satu dan menghabiskan semuanya. Dia juga memakan ice cream dan hamburger dengan sangat lahap. "Tolong bersihkan kamarku, aku mau istirahat lagi abis ini." Entah pada siapa Caramel berbicara, dia hanya berusaha memberi pengertian pada asisten rumah tangga. "Caramel, beneran kamu udah sembuh? Mama nggak perlu panggil Dokter lagi? Mama khawatir sama kamu. Kamu lama terbaring di kasur. Mama takut banget, Mel. Tapi syukurlah akhirnya kamu bangun. Mama kangen banget sama kamu. Teman-teman kamu, sahabat kamu, kakak kamu, semuanya khawatir sama kamu. Papa dan mama minta maaf ya kalau kami terluka memaksakan keinginan kami untuk menikahkan kamu." Wanita paruh baya itu terlihat sangat menyesal. Dia duduk di samping anaknya sembari menatap Caramel penuh cinta. "Aduh, udah deh Mah, aku baik-baik aja. Buat apa panggil dokter. Aku udah nggak sakit. Aku mau tidur lagi kok abis ini. Dan ya udahlah nggak usah bahas masalah kemarin lagi, pokoknya aku cuma minta sama kalian jangan pernah maksa aku buat nikah. Mungkin aku tau ini demi kebaikan perusahaan, tapi kenapa harus ada yang dikorbankan, bukannya itu nggak adil? Dan kenapa harus aku juga?" Caramel menghentikan makannya. Dia kemudian bangkit dan berjalan kembali menaiki anak tangga dengan pelan menuju lantai dua. Dia memang sadar bahwa sepertinya dia baru melihat pemandangan ini setelah sekian lama, tapi dia seperti orang bingung yang tidak tahu apa dan bagaimana tujuannya. Caramel baru terbangun dari tidur panjangnya dan dia kehilangan sesuatu dan melupakannya. Dia benar-benar tak bisa mengingatnya sekarang. Perempuan itu berbalik, dia mengambil smartphone keluaran baru yang dipegangnya lagi. Sekarang februari 2021. Ia menatap kalender itu lamat-lamat, sebelum akhirnya membuka i********:. Dia melihat followers-nya semakin bertambah. Perempuan itu melihat nama-nama yang baru saja mengikutinya, lalu melihat sebuah nama yang unik dengan username @tangkai_ra. Caramel melotot. Dia menekan profil tersebut, lalu benar bahwa dia penulis favoritnya. Caramel sudah lama mengidolakan lelaki itu tetapi dia memang pantang mengikuti siapa pun lagi setelah jumlah yang diikutinya telah 111 orang. Caramel akhirnya menekan follow balik untuk seseorang yang diikuti ke 112. Dia benar-benar kaget saat Tangkai Ra dengan jumlah followers yang telah melangit melebih dirinya, mengikuti akun ini. Tapi ... Caramel merasa bahwa dia lagi-lagi mengingat hal yang tak bisa dia ingat dengan sebenar-benarnya. Dia menekan-nekan kepalanya gemas. Sebenarnya apa yang telah dia lalui. Ada bayang-bayang dan nama Tangkai Ra jelas mengganggu pikirannya. Kenapa tiba-tiba ada penulis populer yang mengikuti akunnya, jelas ini bukan sebuah kebetulan. Caramel membanting ponsel di kasur, lalu menatap dirinya di cermin. Pantulan wajahnya sangat cantik. Bahkan dia sendiri mengakui bahwa dia memang sangat cantik. Wajahnya berbentuk oval sempurna dengan garis wajah yang jelas. Hidungnya lancip, alisnya tak terlalu tebal tapi membentuk sempurna. Bulu matanya sangat lentik dan bibirnya berwarna merah muda berisi. Barisan giginya sangat rapi dan rambutnya yang ikal membuatnya semakin memesona. Bahkan setelah tidur panjangnya, Caramel tidak kehilangan kecantikan sedikit pun. Dia kembali ke kasur dan menatap ponselnya. Dia harus mengingat semuanya, bagaimana pun caranya. Pikiran-pikiran itu jelas menganggu. Seperti keluar masuk orang-orang di pintu masuk stasiun, potongan perjalanan itu makin cukup jelas. Caramel memegang kepalanya lalu menunduk frustrasi. Kenapa dia harus merasakan ini. Keadaan seakan berisik. Dia kemudian berteriak. "Aaaaargh! Stop." Amat kencang. Tapi dia yakin seseorang tak akan mendengarnya. Bayangan-bayangan itu semakin membabi buta bekerja di otaknya, menari di pikirannya, sedangkan dia tak mengingat apa pun kecuali sebuah nama. Biru. Biru? Siapa? Dia tak memiliki teman bernama Biru, dia tak memiliki sahabat atau pun tetangga bernama Biru. Tapi siapa Biru? Dia mengingat nama itu dengan jelas dan bodohnya dia melupakan. Sesaat Caramel terbengong ketika potongan-potongan perjalanan mulai jelas terekam di kepalanya. Dia mengingat sedikit demi sedikit dan dia memfokuskan dirinya untuk mengingat kembali semuanya. Seperti sebuah gelas besar yang diisi air sedikit demi sedikit, begitu tiba-tiba Caramel mendapatkan semua ingatannya selama kurang lebih 30 hari berada di tahun 2017. Tapi, sekarang telah berada di tahun 2021. Dan ... "Biru. Aku bisa mengingatnya. Aku bisa mengingat nama Biru." Caramel gemetar. Dia seperti baru saja menerima banyak berita, buruk dan kabar gembira, semuanya seperti menjadi satu dalam ingatan. Perempuan itu segera kembali melihat smartphone-nya lalu melihat sebuah pesan masuk dari seseorang bernama Tangkai Ra. Caramel terkejut. Dia membukanya. Rasanya udah lama nggak saling sapa, gimana kabarmu. Ca.ra.mel. Jantung Caramel berdegup tak karuan. Dia ingin membalas pesan itu, tapi nahasnya dia seperti orang yang kehilangan kewarasan. Caramel membuka laman berita dan mengetikan nama Tangkai Ra. Entah, dia hanya tiba-tiba melakukan ini saja dan ternyata nama itu terlibat beberapa skandal. Dituduh berselingkuh dengan istri seorang Dosen, penulis Tangkai Ra lakukan klarifikasi. Nadya ... nama itu tiba-tiba terlintas di benaknya dengan reflek. Caramel semakin bingung dan seperti orang tidak waras. Dia berusaha tenang dan mengatakan bahwa semuanya hanyalah imajinasi, bahwa semuanya hanyalah gambaran dari mungkin efek koma. Tapi, dia bisa dengan menyebut nama-nama seseorang yang dikenalnya. Jingga, Nadya, dan Biru. Dia juga mengingat kejadian-kejadian itu dan rasanya baru terjadi kemarin. Ini tidak masuk akal, tapi nyatanya Caramel telah berada dalam kenyataan dan beginilah bagaimana hal-hal yang terlihat tidak nyata pada akhirnya bekerja, membersamai alam. Penulis Tangkai Ra ditetapkan Jadi Tersangka Kasus n*****a. Lagi. Pada tahun 2018 awal, ada banyak sekali kasus yang Tangkai Ra dapatkan. Caramel speechless. Bagaimana pun juga dia memang harus kembali pada tahun 2017 dan mengatakan semuanya bahwa popularitas Ra akan terancam jika dia menuruti nafsunya. Tapi hari ini dia harus menyusul Biru dan hadir sebagai Caramel. Dia harus menemui lelaki itu yang mungkin sekarang telah berusia 29 tahun. Akhirnya Caramel mengetikan balasan. Kamu di mana? Sore ini mari bertemu. Aku akan hadir sebagai Caramel. Serius? Bahkan kamu masih mau menemuiku setelah aku terlibat banyak sekali skandal, Mel? Kirim alamatmu. Jl Mawar .... Jakarta Selatan. Okay, sekarang aku ke sana. Caramel langsung bersiap-siap. Dia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, memakai lulur, dua kali sabun dan membersihkan semuanya dari atas hingga ke bawah. Setelahnya dia langsung berdandan. Memakai skincare andalannya, kemudian melapisinya dengan foundation dan bedak, dan memoles bibirnya dengan lipstik merah merona. Dia kemudian membuka lemari, mengambil dress peach yang bagian bawahnya tidak sampai menyentuh lutut dan pada bagian atasnya, melihatkan sedikit dadanya yang sangat sexy. Di bagian belakangnya terbuka menampilkan bahunya yang mulus. Dia menguncir rambutnya dengan asal, mengambil tas, lalu memakai high heels putih. Caramel turun. Dia masih menyaksikan orang tuanya yang duduk di ruang makan dengan raut wajah yang cemas. Ya, Caramel sendiri tahu bahwa orang tua mana yang tidak cemas tiba-tiba anaknya terbangun setelah agak lama, tapi enggan untuk diperiksa kembali. Tapi jujur saja Caramel merasa bahwa kini dirinya baik-baik saja. Dia seperti telah kembali seperti sediakala, bedanya dia hanya mengingat hal-hal yang memang tidak untuk diceritakan. Jika saja dia cerita tentang bagaimana perjalanannya terlempar di tahun 2017, orang tuanya pasti akan langsung memberikan perawatan khusus untuknya. "Caramel, kamu mau ke mana, Sayang?" tanya Mama. "Aku mau keluar bentar. Mama jangan lebay deh, aku baik-baik aja." "Aduh, Mel, enggak. Kamu mau ke mana? Kalau mau pergi, kamu harus sama sopir. Atau papa antarkan." "Nggak perlu. Beneran, aku baik-baik aja." "Caramel, mama khawatir. Udahlah, Nak, istirahat dulu. Bukannya kata kamu mau istirahat. Kenapa tiba-tiba sekarang dandan dan malah mau pergi." Mama mengomel. "It's okay, Mom, serius. Aku pengen healing. Stop khawatirkan aku. Nanti aku akan telepon mama kalau udah sampe tempat dengan selamat." Caramel mencium pipi mamanya, kemudian langsung pergi. Dia segera berjalan ke depan untuk menaiki mobilnya dan pergi ke alamat yang telah ditunjukkan Biru.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD