003. Lamaran yang Tak Diinginkan

1194 Words
Pagi-pagi sekali sekitar pukul 06.00, Nadya merasa kepalanya sangat berat. Kelas-kelas bayangan Nadya masuk ke memorinya secara berurutan. Nadya yang sedang duduk di kursi samping rumah memegang pelipisnya. Dalam waktu singkat ini bahkan dia langsung dapati ingatan Nadya tepat di hari ketiga pertukaran jiwa. Terlalu singkat tidak seperti di drama, tapi sudahlah, ini memang yang terbaik untuk memerankan drama menjadi Nadya. Ternyata wanita itu seorang yang memiliki kepribadian melankolis, dan berbanding terbalik dengan kepribadian Caramel. Dari tempatnya kini terlihat halaman rumah yang tidak luas dilengkapi pot-pot mawar milik Nadya yang belum disiram sejak pagi dan mungkin nggak akan pernah disiram lagi. Nadya baru tidak memiliki tendensi bercocok tanam. Membuang-buang waktu saja. Nadya termenung setelah mengingat rombongan keluarga bermobil hitam empat hari lalu baru saja meninggalkan rumahnya. Empat hari lalu itu pula Nadya mengiyakan pinangan dari kakak tingkatnya, Jingga, yang semalam membawa mie ayam bakso untuknya. "Mau sampai kapan kamu menunggu yang cocok? Sudah berapa laki-laki yang pulang kembali, Nak? Ibu bukannya memaksamu untuk menikah tapi maaf, ibu agak keberatan kalau kamu ndak bisa buka hati sama lelaki lain dan hanya menunggu orang di masa lalu kamu yang b***t itu. Ibu hanya meminta jangan mengecewakannya. Jingga sahabatmu, berpikirlah." "Tapi Bu, Nadya belum siap. Nadya masih ingin bekerja. Nadya masih ingin melanjutkan studi dulu." "Kamu masih bisa kerja dan lanjutkan studi setelah menikah. Ibu yakin calon suamimu bukan tipe orang yang melarang istrinya untuk melakukan hal yang disuka. Dia juga nggak 24 jam berada di rumah, dia juga bekerja, jadi nggak usah khawatir." "Kenapa ibu yakin betul seolah-olah dia anak ibu sendiri." "Karena ibu tau dia. Nadya, jangan mengecewakan banyak orang. Pikiran lagi ya, Nad." Percakapan tiga hari lalu itu masih terekam jelas di telinga. Ia mulai memahami segalanya. Nadya menerima pinangan Jingga walau dia tak menyukai Jingga sama sekali. Nadya seperti tak memiliki perlawanan untuk memilih. Ia seakan diajukan pada dua pilihan yang sulit. Di satu sisi ia tak mau membuat orang tuanya kecewa, tetapi di sisi lain dia juga tidak mau membiarkan dirinya dalam kerancuan yang tiada pernah terhenti. Yang Caramel pahami, di usianya yang ke-25 Nadya masih ingin menikmati kehidupannya seorang diri, dia tidak siap untuk memberikan waktunya untuk orang lain. Tapi ... jika menikah dengan Jingga adalah satu-satunya jalan, Nadya juga tidak tahu harus melakukan bantahan apa selain menyetujuinya. Ah Nadya, hidupmu pelik sekali. Kamu sudah memilih takdirmu sendiri. Batin Caramel. Sebuah pesan masuk menyapa ponsel yang terletak di sebelah. Dia melihat nomor rekan kerjanya. Nadya meraih benda pipih hitam itu, lantas membaca pesan di layar. Nat, ada naskah baru yang harus kamu edit. Bukan depan Open PO untuk dua naskah itu. Kerjakan ya. Dan kayaknya ini bakal jadi cerita yang menarik dalam per-editoran deh > “Astaga gue lupa kalau Nadya seorang editor. Gue mana bisa ngedit, anjir. Tapi kalau gue nolak, Nadya bakal terancam dari kerjaannya juga. Nadya, kasian banget lo harus dimasuki jiwa kayak gue,” desisnya. Nadya mengetik balasan. Okay, nanti aku cek email. Segera. Dia mematikan handpohone, tak ada segera untuk pekerjaan. Dia akan melihat laptop Nadya lima menit lagi, pasalnya dia masih berproses untuk mengkaji kehidupan Nadya dan langkah apa yang harus dipilih untuk berpikir seperti Nadya. Dia wanita yang menyedihkan, menerima pada nasib dan seakan tidak memiliki nilai juang yang tinggi. Agaknya Caramel kesal dengan sikap Nadya, tapi dia sedang berusaha memposisikan diri jika dia menjadi Nadya. 15 menit kemudian Nadya memakai sandal jepit biru, lalu mulai melangkah masuk ke rumah yang tak terlalu besar, bahkan bangunan yang didominasi cokelat muda itu tampak sederhana. Dan karena kesederhanaan itu pula Nadya betah berada di dalamnya. Tidak dengan Caramel tentu saja. Wanita itu masuk ke kamar berukuran 3X3 berwarna serba putih. Di sana hanya tampak kasur big size tanpa ranjang, rak-rak buku yang penuh oleh buku-buku dan meja belajar di salah satu sudut kamarnya. Nadya kemudian duduk di atas kursi belajar, membuka laptop untuk melihat surel naskah. Pada dinding-dinding kamarnya bersih oleh gambar atau hiasan apa pun. Antara Nadya yang lebih suka kamar simple atau dia memang belum punya waktu untuk mendekorasi ulang. Caramel tak tahu. Baginya yang terpenting adalah mencari cara untuk tetap menyunting naskah tanpa kesalahan. Menjadi lulusan sarjana Bahasa Indonesia tak benar-benar bisa menjadikan Caramel mampu menggunakan Puebi yang baik. Baginya menulis sesuai kaidah tidak pernah semudah yang dibayangkan. Dan bolos kelas waktu kuliah adalah hobinya karena beralasan malas salah jurusan. Laotop menyala. Dia langsung membuka surel dan melihat dua judul naskah baru di sana. Mendung Pagi dan Sepasang Kekasih yang Pergi. Mendung Pagi ditulis oleh seorang perempuan sedangkan Sepasang Kekasih yang Pergi ditulis oleh ... Nadya meng-klik naskah tersebut, dan novel tentang perjalanan itu ditulis oleh seorang laki-laki yang sangat Nadya kenali nama Penanya. Tangkai Ra. Caramel terkejut. Dia juga termasuk pembaca novel-novel milik tangkai Ra. Dan hari ini Nadya memiliki kesempatan menyunting naskahnya? Ini nggak mimpi? Nadya keren juga! pikir Caramel. Tangkai Ra merupakan penulis penulis yang sangat Nadya sukai. Novel-novelnya selalu kandas ketika pertama dilakukan Open PO. Mungkin jika Nadya tahu dia akan bersyukur karena mendapat kesempatan untuk menyunting naskah dari penulis luar biasa itu. Sebuah pesan kembali masuk ke handphone, menyadarkan bahwa dia masih dalam kontrol yang normal. Nat, itu nomor telp kedua penulis tersebut. Nanti mereka akan menghubungimu. Baik-baik ya, Nat. Nadya meletakkan kembali ponselnya. Maksudnya untuk apa nomor mereka? Nadya benar-benar tidak paham, tapi sudahlah dia hanya mengikuti alur untuk sementara. Dia bisa membayar editor lain untuk menyunting naskah tersebut, pikirnya jangan dibikin pusing dengan kehidupan yang sudah membuatnya sukses ingin melepas kepala sementara. "Mendung Pagi?" Nadya bergumam sendiri. Salah satu kakinya naik ke atas meja sembari membaca sinopsis lengkap yang tertulis di sana. Novel itu menceritakan seorang siswi SMA yang selalu mengalami Lucid Dream. Dalam mimpinya, ia diminta untuk menggantikan peran seorang putri yang pergi ketika akan dinikahkan oleh seorang pangeran. Lucid Dream memang bisa dikendalikan oleh sang pemimpi, tetapi dalam kisah tersebut gadis itu terlalu takut untuk menghilang dan memilih untuk menjadi pengantin sang pangeran. Di dalam mimpinya setiap malam, kehidupan tidak berhenti begitu saja. Ia mengalami banyak hal dengan sang pangeran termasuk bekerjasama untuk menaklukan kembali kerajaan yang sempat diambil paksa oleh saudaranya. Namun ketika dia terbangun, pelajar SMA itu seperti siswi lainnya, normal. Namun, semakin lama, ia semakin menyukai mimpinya. Nadya mengernyitkan dahi. Ia kira Mendung Pagi merupakan naskah percintaan biasa, tetapi lebih dari itu ia merupakan naskah fantasi yang cukup menarik. Nadya merasa bahwa sang penulis berbakat dalam menuangkan tinta imajinasinya. Sekilas, sebuah pesan kembali menyapa layar ponselnya. Kali ini dari nomor yang tak Nadya simpan kontaknya, tetapi aneh, Nadya menganali nomor itu dengan baik. Nadya, aku pemilik naskah Sepasang Kekasih Yang Pergi. Rasanya terlalu kaget bahwa editor naskahku kali ini adalah kamu. Sang tokoh perempuan pertama yang kutulis dalam novel itu. Sengaja, aku memberimu pesan melalui nomor pribadiku. Nomor yang kugunukan untuk orang-orang yang pernah mejumpaiku dan tahu siapa aku. Nomor yang diberikan oleh Mbak Eren padamu adalah nomor Tangkai Ra. Dan aku di sini hadir sebagai diriku sendiri, bukan Tangkai Ra. Dari penulis Kekasih Yang Pergi. Nadya terdiam. Dia dapat menyadari dengan cepat siapa di balik penulis yang bernama pena Tangkai Ra itu. Caramel sendiri tidak menyangka, tapi ini adalah pembuka dari perjalanan dan petualangan yang sebelumnya nggak pernah dia bayangkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD