Malam sekitar pukul delapan, Caramel—Nadya keluar dari kamar setelah menghabiskan waktunya untuk menangis semalaman. Dia berjalan ke arah dapur dan mendapati mie rebus dan memasaknya kemudian. Sejak kecil tak sekalipun dia tahu tutorial memasak kecuali melihatnya dari iklan, tetapi kali ini dia berusaha menjadi koki untuk diri sendiri.
Sayup-sayup dia dengar suara ponsel berbunyi. Nada deringnya tak sama dengan miliknya. Dia meninggalkan dapur dan berjalan ke arah meja, dan mendapati ponsel putih yang sangat asing. Milik Nadya, begitu pikirnya. Terlihat nama 'Ibu' di layar memanggil.
Dia menekan tombol hijau, lalu menyalakan speaker. "Hallo."
"Nadya, mangkeh muleh yo, Nduk. Jingga sampun rene."
Caramel tak langsung menjawab, dia tidak mengerti apa yang dikatakan ibu Nadya. Buru-buru dia membuka aplikasi google dan menekankan beberapa kata yang masih diingatnya. Mangkeh Muleh.
"Nduk, Nadya? Krungu po'o ibu ngomong opo," ulangnya. Memastikan.
"Oh iya, Mah." Caramel menjawab ragu-ragu dengan ke sok-tahuannya, dia takut jika jawabannya tidak nyambung sama sekali. Dia benar-benar tak paham bahasa Jawa, inggil, kromo, entahlah. Terlalu sulit untuk memahami bahasa daerah bagi dia yang sudah sejak kecil hidup di ibu kota.
"Mah? Mah sopo toh?"
"Oh iya, Bu. Maaf Caramel tadi, hah ... maksudnya maaf tadi Nadya fokus nonton drama, jadi keceplosan." Caramel memukul pelipisnya, bodoh.
"Ya sudah."
Setelah itu sambungan dimatikan. Caramel menggigit bibir bawahnya, "Haduh kalau kayak gini mana bisa gue berubah jadi Nadya. Gue nggak punya ingatan Nadya dan nggak tau apa yang Nadya mau." Dia terlihat frustrasi. Caramel berdiri hendak kembali ke dapur, tetapi ketika kakinya akan melangkah, jari kelingkingnya malah kepentok kaki meja yang membuatnya mengaduh kesakitan. "Sumpah, apes banget hidup gue."
Suara ketukan pintu terdengar, Caramel langsung menatap pintu keluar dan dia agak takut untuk menemui orang-orang saat ini. Apakah di dunia yang lain Nadya juga bernasib sama kayak Caramel? Dia nggak mau menemui teman-teman Caramel? Ini kejadian dua tahun lalu, wajar jika Caramel dinikahkan karena Nadya yang menguhuni tubuh Caramel anti-sosial dan mungkin pernikahan adalah cara agar Caramel kembali menjadi dirinya seperti sediakala. Tapi ide gila juga jika benar mamanya melakukan hal ini.
Setelah berpikir panjang, Caramel memutuskan berjalan menuju pintu, keluar rumah untuk memastikan siapa yang tiba di rumahnya. Dia mengintip dari jendela, lalu melihat sosok lelaki tak terlalu tinggi, berkulit sawo matang memakai setelan kemeja dan celana hitam. Apakah dia pegawai bank? Atau seorang guru? Malam-malam seperti ini mengapa ada seseorang yang berpakaian rapi datang ke rumah Nadya.
Suara ketukan kembali didengar, "Nadya? Kamu udah tidur? Aku bawa mie ayam bakso."
Kedua alis Caramel berkerut. Pelan-pelan diraihnya gagang pintu, lalu mulai membukanya perlahan. Lelaki itu langsung terkejut, dia tampak memandang Nadya dari atas hingga bawah tanpa berkedip. Caramel bingung, ada yang salahkah dengan pakaiannya? Caramel dalam tubuh Nadya hanya mengenakan celana pendek sepuluh senti di atas lutut dan tanktop biru muda. Tapi kenapa pandangan lelaki itu seakan melihat Nadya telanjang? Terkejut.
"Nat, tumben pakai pakaian pendek," komentarnya.
Caramel terkejut. Ah, sial! Jangan-jangan Nadya memiliki kebiasaan selalu memakai pakaian agamis. Kalau begini terus-menerus lama-lama mereka akan tahu siapa di balik tubuh Nadya. "Oh ini cuma karena gerah aja kok. Lagian cuaca malam ini kayak panas banget. Mana nggak ada AC dan ruangannya kecil juga," celoteh Nadya.
"Hah?" Lelaki itu seakan tak mengerti.
"Apa? Jawaban gue salah?" Nadya bertanya retoris.
"Gue? Kamu abis kesurupan apa sih, Nat? Ruangan kecil, nggak ada AC, gue? Kamu kenapa?" Dia tertawa.
Nadya terdiam. Dia juga tidak tahu. Astaga, sumpah. Nadya lo ini polos atau gimana atau gimana? Beneran, kalau gini terus yang ada kelarin misi kagak, stres iya. Tolonglah ya seenggaknya kalau ada pertukaran jiwa begini jangan sama orang jawa yang alim banget, gue kewalahan, anjir! Batin Caramel.
"Eh, maaf Kak saya abis nonton drama, jadi mungkin terbawa-bawa. Santai saja, Kak, saya Nadya kok."
"Saya? Kakak?"
Ya ampun ni komentator cringe banget deh, tinggal jawab aja atau ngiyain aja. Aneh banget. Caramel mendumal dalam hati.
"Eh, aku abis nonton drama tadi. Ada apa ya? Aku udah mau tidur soalnya jadi nggak bisa lama-lama."
"Oh nggak papa kok, Nad. Ini mie ayam bakso buat kamu." Dia menyerahkan kresek hitam ke arah Nadya.
Nadya mengambilnya, "Okay, thanks." Dia kemudian langsung menutup pintu dan menghela napas lega. "Astaga, dia tipe orang yang benar-benar nggak asik. Salah sedikit langsung dicurigain. Bener-bener b******k kalau Nadya suka dia."
Caramel berjalan ke arah dapur, mematikan kompor dan mengambil mangkok. Ditumpahkannya mie ayam bakso ke mangkuk, dan dia membawanya ke ruang tengah. Meletakan mie ayam di meja lalu menatapnya. Dia mengambil handphone, lalu melihat banyak pemberitahuan dan pesan. Ada banyak grup yang Nadya punya, salah satunya adalah editor suatu penerbit yang Caramel pernah tahu namanya. Dia pernah membeli novel jebolan penerbit itu. Dia mengangguk-angguk ketika tahu bahwa Nadya seorang editor.
Caramel meletakkan ponsel di sana, lalu menatap ke arah televisi yang mati. Kalau pun dia pulang sekarang, hanya ada perjodohan saja. Dia tidak mau menemui orang tuanya dan jika dipikir-pikir lagi, kalau ini kesempatan untuk mengubah masa depannya mungkin Caramel akan berjuang menjadi Nadya dengan sebenar-benarnya. Ya, jika memang berubah menjadi Nadya akan melahirkan Caramel di masa depan yang independent, feminisme dengan memperjuangkan kesetaraan, mungkin tak salah juga untuk menjadi Nadya. 70 hari saja. Berarti dua bulan lebih sepuluh hari, itu tidak lama, dan mungkin nggak seketat masa KKN juga.
Ya, Caramel harus mampu menjadi Nadya. Mulai malam ini ia menerima permainan yang diberikan alam padanya. Ya, dia adalah Nadya. Nadya yang baru.
Nadya mulai memakan mie ayam di depannya. Dia menyendoknya lalu memasukan ke mulut dan merasakan pedas luar biasa. Dia berlari ke arah kulkas, mengambil air minum lalu meneguknya hingga setengah. Benar-benar mau meracuni atau gimana? Tapi karena lapar, Nadya berjuang untuk memakan hingga habis. Bodo amat jika nanti malam atau besok pagi harus bolak-balik kamar mandi, yang penting dia kenyang dulu untuk malam ini.
Selepas makan Nadya ke kamar mandi, menyikat gigi, mencuci muka dan mencari skincare apa yang Nadya punya. Tapi sepertinya wanita itu tidak menggunakan skincare kecuali fasial wash saja. Bahkan Nadya yang sudah berada di masa depan rasanya dia masih berpikir untuk tidak memedulikan perawatan pada wajahnya. Huh, besok Nadya akan membeli toner, serum, cream dan bodycare yang menjaga kelembaban dan kecerahan kulitnya.