Seorang wanita tampak menguap ketika arunika mulai menelusuk melalui celah-celah jendela kamar. Ia mengerjapkan mata, lalu duduk di tempat ranjang. Dia terlihat menggaruk-garuk rambutnya lalu berjalan sempoyongan ke arah jendela, membuka gorden.
Perempuan itu terdiam selama beberapa menit ketika matanya menatap pemandangan di depan. Dia melihat sekitar, terdiam, lalu berbalik dan menatap kamar. Dia benar-benar terlonjak, menahan napas selama beberapa detik ketika baru saja sadar bahwa dia tak lagi berada di kamarnya. Ruang yang dilihatnya saat ini benar-benar berukuran kecil, mungkin hanya 4X5 meter. Kasurnya tak lebih luas daripada kasur milik ART di rumahnya. Kelebihan ruang ini hanya rapi dan wangi aromatherapy. Selain itu dia tak mendapati apa-apa kecuali beberapa foto yang tertempel di bingkai yang melekat pada dinding kuning kusam dan kalender dua tahun lalu. Kalender dua tahun lalu? Tapi bagaimana mungkin di zaman sekarang masih ada seseorang yang mengoleksi kalender lama. Siapa sesungguhnya mereka? Di mana ia berada sekarang?
Buru-buru dia melangkah ke arah pintu hendak membuka pintu kamar ingin mencaritahu jawaban, tetapi dia tambah terkejut ketika tak sengaja menghadap cermin besar dan melihat sosok wanita yang tidak dikenalnya. Wanita itu nampak shock, lalu menggeleng kuat-kuat. "Hah? Kenapa muka gue berubah? Lo siapa, b***h?" Caramel, perempuan itu berteriak histeris tak karuan. Dia menampar-nampar pipi wanita di pantulan kaca itu, dan benar-benar terasa sakit. Dan rasa nyeri itu nyata. "Mama, please! Kenapa muka gue berubah. Gila! Plis, ya Tuhan." Suara Caramel terdengar gemetar, air mata di pelupuk terlihat tertahan. Dia menangis? "Aku menangis? Sumpah ya Tuhan, gue mimpi, kan? Tolong, ini mimpi kan?" Caramel memukul pergelangan tangan, memeriksa kaki, lalu menatap kembali dirinya di depan cermin. "Kaca ini manipulatif atau gimana?" Dia ketakutan. "Ya Tuhan gue kenapa? Sumpah lo siapa? Sumpah tubuh gue ke mana? Ini badan siapa?"
Caramel kembali memegang kepala, meremas rambutnya frustrasi, dan ingatan miliknya tiba-tiba kembali. Seorang perempuan fresh graduate melarikan diri mengenakan gaun putih menghindari pernikahan, tetapi nahasnya takdir memang tak pernah berpihak padanya dari awal. Ketika Caramel akan menyebrang di jalan, tiba-tiba saja truk datang dari arah berlawanan dan mementalkan tubuhnya hingga beberapa meter mengenai sebuah pagar besi. Ketika baru saja dia mendapat gelar sarjana pendidikan, nahasnya semesta langsung menghadiahkan kado mengerikan.
Caramel tiba-tiba terduduk lemas. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menangis. "Ya Tuhan, udah berakhir kah? Caramel, lo benar-benar menyedihkan Mel. Sumpah lo menyedihkan kalau lo nggak bisa kembali ke tubuh lo." Dia menunduk, putus asa. "Sumpah, gue harus pulang. Ya, pokoknya gue harus pulang dan ketemu orang tua gue."
Caramel bangkit. Baru saja dia akan berlari keluar kamar, tapi tiba-tiba dia merasakan bahwa kaki kirinya menginjak sesuatu. Caramel menunduk. Dia melihat amplop putih, dibukanya amplop tersebut lalu menarik kertas di dalamnya. Terdapat tulisan yang tidak terlalu bagus, tapi terkesan rapi.
Halo Caramel ...
Mungkin kamu cukup kaget waktu tiba-tiba terbangun dan mendapati dirimu berada di tubuh orang lain. Tapi ini pilihannya agar kau bisa tetap hidup dan ambil kesempatan kedua. Di tubuh yang baru kamu memiliki misi, Mel. Dia yang di tubuhmu memiliki nasib yang sama denganmu. Dia juga akan menikah dengan orang yang tidak dia cintai. Dan di kesempatan kedua ini semoga kamu dapat mengambil langkah yang lebih baik lagi. Menjadi Caramel yang bisa belajar dari masa lalu.
Ini enggak lama, Mel. Jika dalam 70 hari kamu dapat menuntaskan permainan ini dan membuat kehidupan wanita pemilik tubuh yang kau tempati itu bahagia, kau akan kembali ke asalmu. Caramel akan sembuh. Tapi jika kamu mengambil langkah yang salah, kamu akan di sini selamanya. Menjadi orang lain.
Sebelum bertindak pikirkan matang-matang. Kehidupan barumu dimulai dari hari ini dan sampai 70 hari ke depan kamu bukan lagi bernama Caramel, tapi ... Nadya. Pemilik tubuh itu bernama Nadya.
Tapi satu hal, kamu nggak akan bisa pulang dan mencari tubuhmu. Karena Caramel saat ini sudah berada di masa depan, dan artinya tindakanmu sekarang berpengaruh dengan kehidupanmu selanjutnya. Jadi, lupakan sementara tubuh lamamu. Sekarang mulailah berdamai sementara. Nadya. Sekali lagi namamu adalah Nadya.
Caramel menggeleng-geleng tak percaya. Dia memperhatikan sekitar, berputar-putar pelan ingin mencari tahu siapa yang sudah mengantarkan amplop padanya. "Keluar lo! Tolong balikin gue ke tubuh gue yang asli. Jangan jadi pengecut. Gue mohon, gue akan melakukan apa pun yang lo mau, asal jangan begini. Gue nggak bisa!" Dia berteriak, memohon.
"Gue nggak bisa nempatin tubuh orang lain. Gue nggak kenal dia siapa dan gue serasa kayak di planet lain. Gue mohon, siapa pun elo, tolong gue. Gue janji akan bayar lo berapa pun asalkan jangan begini." Caramel kembali terduduk juga. Merasa capek ketika permohonannya akan berakhir percuma. Seperti nggak ada yang akan mendengarkan atau memang dia
Dia tak habis pikir bahwa akhirnya harus terjebak di tubuh orang lain dan memilihkan nasib yang cocok untuk pemilik tubuh ini. Dia kira pertukaran jiwa ini hanya ada di drama-drama yang pernah ditontonnya tapi ternyata dia juga mengalami nasib yang sama. Dirinya sendiri. Tujuh puluh hari waktu yang lama, tapi waktu yang singkat kalau semuanya tidak sesuai rencana.
Dia melipat kertas itu lalu terbangun. Sepertinya dia harus memulai semuanya. Membantu tubuh ini untuk memilih takdir yang baik. Tapi dia tak tahu sedikit pun jalan hidup pemilik tubuh ini. Apa kesukaannya, apa motivasinya? Dan banyak hal yang tidak Caramel ketahui. "Sumpah, kalau gini ceritanya gue bisa gila," desis Caramel sembari menjatuhkan kertasnya ke bawah.
Seakan semuanya mulai runtuh, dan dia tidak tahu harus melakukan apa selain berpasrah. Berpasrah? Yang benar saja, bahkan dia tak menyukai wajahnya sekarang, hidupnya, dan segalanya tentu saja. Terlalu berat untuk melakukan drama dengan berpura-pura menjadi orang lain. Yang paling nyaman tentu menjadi diri sendiri dan dia amat sangat menyukai kehidupannya, tapi tentu saja kehidupan sebelum dijodohkan dengan lelaki 30 tahun.
Astaga, dia benar-benar tak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya sekarang. Kembali pun hanya akan menghadapi takdir yang tak pernah diinginkan, dan daripada kembali menetap di tubuh ini memang jalan satu-satunya. Mungkin saja. Dia tidak tahu. Toh menjerit pun tak ada gunanya, hanya menghabiskan tenaga. Tapi setidaknya dia harus mendapat feedback dari permasalahan ini. Terlalu rumit untuk dicerna akal dan pikiran, lagi-lagi Carmel belum percaya dan dalam hati kecil masih menginginkan jalan keluar untuk kembali. Setidaknya dia harus berpamitan terlebih dahulu.
"Bukan gini caranya," desisnya.