012. Hari Pernikahan

1812 Words
Tamu undangan telah memenuhi kursi tamu yang berderet di depan halaman luas rumah Nadya. Sementara mempelai perempuan masih belum selesai di-make up oleh MUA. Nadya tampak mengenakan gaun putih yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali pada bagian kepala hingga di atas d**a. Punggung tangannya telah dilukis menggunakan hena putih, sementara wajahnya dipoles dengan cantik. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan gaya ikal bervolume Sementara di atasnya dipakaikan crown bunga yang membuat kecantikan Nadya bertambah. Aduh anjir, gue beneran nikah sama Jingga. Sorry to say, tapi jujur nggak siap. Walaupun ya bukan Caramel, tapi Nadya. Tapi tetep aja jiwanya jiwa-jiwa Nadya. Rasanya gue pengin kabur lagi, tapi takut keadaan bertambah parah. God, please save my life. "Nduk, sudah? Tamu sudah menunggu." Ibu baru saja masuk ke kamar. Nada yang sedang dirapihkan kembali cat kukunya menoleh, "Belum, Bu." Bahkan sejujurnya dia belum minta maaf perihal kemarin dan mungkin tidak akan minta maaf. Menurutnya, ia tak salah. Ia hanya mencoba mengedukasi wanita itu agar lebih memahami jalan pikiran anaknya. Sayangnya anak durhaka terhadap orang tua kasusnya selalu dibesar-besarkan, sementara banyak orang tua yang durhaka terhadap anak tetapi kasusnya tertutupi. Ah, benar-benar bikin pusing, pikir Nadya. "Nadya kenapa sih memutuskan ndak pakai jilbab lagi? Padahal Nadya yang ibu kenal nggak akan mau lepas jilbabnya. Tapi ya sudah. Ibu nggak akan ikut campur bagian ini, terserah kamu saja. Yang penting kamu menikah," lanjut Ibu. "Iya maaf ya, Bu." Nadya menjawab apa adanya. "Nah sudah," kata MUA itu kemudian. Nadya berdecak, padahal dia sengaja memperlama mandi, pura-pura tidak bisa mengenakan gaun, lupa menaruh jepit rambut demi memperlama acara ini tapi nahasnya waktu akhirnya tiba dan Nadya harus berpura-pura bahagia di depan mereka semua. Ah, kasihan Nadya. Tapi ada bagian kecil dari dirinya yang bahagia. Bagian kecil dari hati Caramel saat harus menyaksikan dengan langsung pernikahan Nadya dengan Jingga. Karenanya setelah ini mereka akan bersama, dan ia bisa mendapatkan Biru dan menikah dengan lelaki itu. "Cantik, Nat. Kamu suka, kan?" tanya sang MUA sembari memberikan cermin pada perempuan itu. Nadya melihat wajahnya sekilas, lalu mengangguk. Bahkan dia tak peduli jika di-make up menjadi seorang badut pun ia tak akan peduli. Ia hanya tak siap dengan tibanya hari ini, Nadya ingin kabur saja rasanya tapi tidak mungkin. Ibu telah tersenyum lebar, impiannya hari ini akan tercapai melihat anak ketiganya menikah. Ah, dari kapan dia tahu bahwa ia merupakan putri ketiga? Tapi sudahlah perihal itu semua tak lagi menjadi sesuatu yang penting. "Nadya, ayo keluar. Penghulu udah datang. Jingga juga sudah tiba dari tadi," kata ibu berusaha mengajak Nadya keluar dari kamar. Perempuan itu masih terduduk, meraih bunga lalu berdiri dan melihat dirinya di depan cermin. Pada pantulan yang berada di sana ia lihat seorang perempuan yang sangat payah, seorang perempuan yang tidak bisa melawan dan seorang perempuan yang benar-benar tidak memiliki pilihan dan selalu tunduk pada hal-hal yang tidak inginkan. Dia lihat Nadya lain dari pantulan itu yang mengenaskan. Yang sering berbicara pada murid-muridnya bahwa sebagai perempuan mereka memiliki pilihan dan dapat melawan, tetapi pada akhirnya dia gugur di medan perang dengan menyerahkan dirinya menjadi seorang istri dari laki-laki yang tak pernah ia cintai. Nadya ... Nadya ... kebebasanmu terhenti sampai di sini. Batinnya. "Sepuluh menit lagi aku keluar," lirih Nadya. Sang ibu pergi, dia tampak mengajak MUA itu untuk keluar dari kamar Nadya dan membiarkan putrinya berada di sana seorang diri. Dia mengambil ponsel dari nakas, mencari nomor seseorang dengan ragu tapi pada akhirnya dia memanggil nomor itu juga. "Biru," lirih Nadya setelah sambungan berhasil tersambung. "Iya, Sayang," jawab Biru dari seberang. "Kamu nggak ke sini? Hari ini janji suci akan dikumandangkan. Kau beneran nggak mau ke sini? Hadir sebagai tamu? Seenggaknya kita pernah kenal bukan?" Suara Nadya melemah. Lama Nadya tak mendengar jawaban dari Biru, sebelum akhirnya dia mulai membuka mulut juga. "Enggak bisa. Sakit, Nat, kalau aku harus lihat kamu sama Jingga. Aku nggak bisa ke sana. Mungkin aku seperti anak-anak, tapi aku emang nggak bisa lihat kamu sama laki-laki lain. Sorry," tutur Biru. "Begitu ya." Nadya kecewa. "Aku minta maaf." "Aku juga mau minta maaf," sergahnya. "Maaf kenapa?" "Karena sampai sekarang aku masih mencintai kamu. Bahkan mungkin sampai nanti juga, sampai kamu udah memiliki suami pun, mungkin aku masih mencintai kamu." Kali ini Nadya yang tak bersuara. Dia benar-benar merasa sesak luar biasa. Dia merasa bahwa mulai sekarang dia dan Biru benar-benar akan terpisah oleh jarak dan garis mungkin tidak akan membiarkan mereka sedekat seperti sediakala. Seperti ada ribuan jarum yang menghantam kepalanya dan seperti ada tombak yang menghantam dadanya. Nadya ingin berteriak, tetapi dia tak bisa. Dia harus menjalani kehidupannya. Ah, kenapa dia menjadi dramatis seperti ini? Apakah ia lupa bahwa dalam hal demikian ia hanyalah seorang figuran. Tetapi sebagai seorang wanita ia jelas merasakan bagaimana sulitnya berada di ambang pilihan yang mudah sama sekali. "Tapi Nadya, kalau kamu mau aku bisa ke sana." "Ke sini aja." "Kalau kamu mau pergi, aku bisa membawamu keluar jauh dari rumah itu dan nggak menemui Jingga lagi." "Maksud kamu?" "Kenapa kita nggak kawin lari aja kalau orang tua kita udah sama-sama nggak percaya sama hubungan kita, dan nanti kita buktikan bahwa kita--" "Mau. Sebenernya aku mau. Tapi aku nggak bakal lakukan ini, dan Biru ... tolong lepaskan Nadya. Kamu berhak bahagia dengan seseorang yang kelak akan jadi jodohmu." "Aku nunggu jandamu aja, Nat." "Lelucon kamu nggak lucu, Biru." "Seenggaknya aku masih cari harapan." "Aku matikan sambungannya." Nadya langsung meletakan ponsel di atas nakas. Dari balik pantulan cermin ia lihat wanita yang tengah menahan air di kelopak matanya. Mati-matian Nadya menahan agar air mata itu tak terjatuh, betapa perempuan itu ternyata mati-matian berjuang untuk membuat orang lain tak kecewa. Sungguh gila. Namun kenapa akhirnya semenyesakkan ini? Tak bisakah Nadya asli memutar waktu secara mundur lalu kembali menjadi Nada yang masih bebas? Aduh, demi. Gue bener-bener nggak paham kenapa kadang gue benar-benar ngerasain apa yang Nadya rasakan tapi di sisi lain gue juga kadang nggak bisa menjadi Nadya. Apakah pertukaran jiwa memang seribet ini? Disaat Nadya kecewa, marah, gue kayak ngerasain apa yang dia rasa. Tapi di saat Nadya bahagia, senang, gue nggak bisa jadi Nadya. Kenapa gue cuma ngerasain bagian sedihnya doang, anjir. "Nduk, ayo keluar. Kursi makin penuh, penghulu udah dateng." Sang ibu kembali membuka pintu. "Ah iya, nanti aku keluar." Nadya membuang pandangannya, dia tak mau terlihat amat bersedih di hari kebahagiaan ibu dan ayah Nadya. Barangkali ini yang mereka harapkan dan inilah harapan terbesar mereka. Cukup gila ketika harus berpura-pura bahagia saat melakukan kegiatan yang tak pernah diinginkan. Selang beberapa menit, wanita itu keluar kamar. Di ruang tamu terlihat sang ayah yang mengenakan batik cokelat serta celana hitam dan peci. Lelaki 68 tahun itu tersenyum ke arah putrinya. Sebelumnya Nadya hanya melihat lelaki itu sekali, sore ketika baru sampai di sini. Dan dia baru tahu bahwa lelaki berkumis lebat dengan tubuh sedikit tambun itu merupakan ayah kandung Nadya. Dia sepertinya memiliki kepribadian yang pendiam, dan cenderung tidak bisa mengekspresikan emosinya dengan percaya diri. Nadya langsung memberi cengiran lebar, melakukan drama sebisanya. Dia harus menjadi Nadya hari ini dan Caramel dalam dirinya, sifatnya, kesehariannya, tak boleh ikut campur terlebih dahulu. Dia tak ingin mengganggu acara pernikahan Nadya. Dan mungkin ini juga yang akan Nadya lakukan jika dia ada di sini sekarang. Berpura-pura bahagia, berpura-pura senang. Bagaimana mungkin dia tega menghancurkan kebahagiaan ayah yang hari ini begitu terlihat bahagia melepas putri satu-satunya untuk orang lain bernama Jingga. Nadya menggandengan tangan ayahnya, lalu keduanya keluar menuju tempat yang telah disediakan khusus mempelai. Seorang penghulu telah tiba, di depannya Jingga telah duduk mengenakan jas hitam. Setelah itu Nadya duduk di kursi samping Jingga, sementara sang Ayah duduk di kursi lain. "Sudah siap?" tanya penghulu. "Insha Allah," jawab Jingga. Waduh, pernikahannya sesuai agama Islam kayaknya. Ya it's okay deh, lagian gue nggak tau agama gue apa. Setelah itu penghulu tersebut berkomat-kamit entah membaca apa, jelas Nadya tak paham, lalu dilanjutkan dengan menyalami tangan Jingga. "Ananda Jingga bin Husein, saya nikahkan engkau dan saya kawinkan engkau dengan Nadya binti Mahmud dengan maskawin berupa emas 50 gram dibayar tunai!" "Saya terima nikah dan kawinnya Nadya binti Mahmud dengan maskawin tersebut dibayar tunai!" ucap Jingga dengan sekali tarikan napas. "Bagaimana, para saksi? Sah?" "Sah!" Hah anjir, cuma 50 gram emas? Yang bener aja? Kenapa gue nggak tau terlebih dahulu perkara mas kawin ini. Gila kali si Jingga, cuma ngasih 50 gram, apa-apaan? "Nadya," desis Jingga. Nadya terkejut ketika tangan Jingga sudah berada di depan wajahnya. Bersamaan dengan hura-hara yang terjadi di sana, Nadya akhirnya menyalami tangan Jingga dan lelaki itu mengecup dahi Nadya pelan. Rasanya seperti mimpi buruk, jika memang ini mimpi bahkan Nadya ingin segera terbangun saja, tapi inilah realita. Usai melakukan beberapa resepsi, bersalaman dengan orang tua masing-masing, Nadya dan Jingga menaiki mobil diiring untuk menuju tempat yang telah disediakan untuk melakukan hannymoon. "Jangan lupa ya kami menanti cucu yang lucu," kata ibu Jingga. Kemudian diiringi tawa kecil keluarga mereka. "Selamat bersenang-senang ya, Nat," kata ibunya. Nadya hanya mengangguk. "Jingga, Nak, Bapak nitip Nadya. Maafkan Nadya kalau nanti dia membuat kesalahan. Dan kalau suatu saat kamu bosan padanya, kamu muak dengan sikapnya, bapak minta jangan pernah sentuh Nadya dengan kekerasan, pulangkan saja Nadya ke rumahnya. Nanti bapak yang menasihati dia. Bapak dan ibu nggak pernah marahi Nadya dan Nadya sekali pun nggak pernah marah pada kami. Nadya anak yang sangat baik, dan bapak minta tolong jangan pernah sakiti Nadya," kata sang Bapak. "Iya, Pak. Jingga janji. Jingga nggak akan sakiti Nadya dan Jingga kayaknya nggak mungkin muak sama sikapnya. Karena begitu aku telah mengucapkan janji, saat itu pula aku harus menerima segala hal yang ada pada Nadya." "Bapak nggak usah mencemaskan aku lagi, aku akan baik-baik aja." Nadya menyalami tangan ayahnya, lalu memeluk lelaki itu. Ia juga menyalami tangan sang ibu, lalu memeluknya lagi. Ah dia melihat seberapa mengenaskan dia hari ini. Tapi Nat, akhirnya gue bisa selesaikan ini. Gue berhasil sampai di tahap pernikahan. Waktu gue di sini sekitar 50 hari lagi, dan gue harap lo menyukai takdir lo. Gue nggak pernah mau ngubah apa yang udah terjadi, maksud gue ... ya gue nggak bisa gagalin rencana pernikahan lo sama Jingga kalau itu hanya perihal Biru. Tentang dia Nadya ... maafin gue, gue suka sama mantan lo. Dan gue pengin berjuang buat dia, buat dapetin dia. Batin Nadya. Mungkin menurut lo gue terlalu b******n, tapi bukannya elo udah memikirkan ini jauh-jauh hari. Lo udah bikin keputusan yang efeknya bikin lo jauh sama Biru, dan mungkin ini kesempatan gue buat deket Biru. Gue minta maaf, tapi Nadya sampai 50 hari ke depan gue bakal ngelakuin yang terbaik buat lo. Gue janji. Ya, gue janji. Lanjutnya. Akhirnya acara ini selesai juga, paling tidak ia telah berhasil memilihkan atau lebih tepatnya melanjutkan takdir yang telah Nadya pilih sebelumnya. Walau mungkin terkesan tidak sesuai ekspektasi, paling tidak semua berjalan lancar. Dia hanya harus fokus pada hari setelah pernikahan ini, kemudian fokus pada apa yang akan dilakukannya pada Jingga. Setelah itu ia akan kembali ke tubuhnya seperti semula.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD