013. Malam Pertama

2016 Words
Dari jendela mobil, Nadya melihat keluarganya, teman-teman dan kedua kakak yang melepas dia pergi. Sementara di bagasi telah ada dua koper miliknya dan Jingga. Setelah mobil itu menjauh, sekarang hanya ada sepi di antara mereka. Baik Nadya dan Jingga keduanya belum menciptakan topik menarik apa yang perlu dibahas. Kali ini dia— Caramel—membayangkan bagaimana perasaan Nadya jika dia ada posisi saat ini, meninggalkan orang tuanya dan tinggal bersama Jingga yang tak pernah dia cintai. Sesungguhnya hidup dan tinggal bersama seseorang yang tak pernah dicintai adalah neraka yang diciptakan diri sendiri. Setidaknya ia tahu apa yang Nadya rasakan, karena ia sempat berada di posisi perempuan itu tetapi ia pergi dan memilih untuk bebas dan tak mau diikat oleh peraturan yang tidak dia inginkan. Terikat dengan sesuatu yang tidak diinginkan itu tak pernah asyik dan hanya akan merasa terkekang pada akhirnya. Namun prinsip itu ternyata tak dipegang oleh seluruh perempuan, buktinya Nadya, dia rela memberikan keputusan demi seseorang yang sesungguhnya yakin sekali bahwa jika pun pada akhirnya kehidupan Nadya tak pernah bahagia bersama Jingga, seseorang yang memaksa pernikahan itu tak akan ikut campur. Begitulah society bekerja. Hobi berkomentar, minus memberi saran, dan tak ingin lakukan campur tangan. "Nat, sekarang kamu udah sah menjadi istriku. Aku harap setelah ini kita bekerjasama untuk selalu bersama, mempertahankan segala yang baru aja terjadi." Jingga mengalah membuka percakapan. Nadya menoleh, "Hem, aku usahakan," jawabnya. "Kan ada prosesnya ya, nggak bisa serba instan. Pelan-pelan aja. Segala problematika nggak bisa selesai hari ini." Jingga mengangguk, "Aku harap perlahan kamu bisa lupain yang membuat perasaan kamu kewalahan," lirihnya. "Maksud kamu apa?" tanya Nadya. "Biru." Nadya terdiam. Pikirnya Jingga mulai berani meminta. Begini, maksudnya padahal tanpa harus Jingga katakan pun, Caramel—akan membantu Nadya melupakan Biru, tapi jika sudah dipinta seperti ini dia akhirnya malas juga. Mungkin begini yang dipikirkan Nadya. Ah tapi gue Caramel anjir, ngapain gue lupain Biru. Ya kali gue harus belajar sukai elo, kan nggak mungkin. Lo udah sama Nadya. Tapi karena dia mengingat nasihat ibu Nadya untuk jangan pernah marah atau meluapkan emosi dalam 40 hari selepas pernikahan, akhirnya Nadya hanya mengiyakan saja. Padahal dia ingin mengatakan semuanya pada Jingga tentang tak perlulah dia meminta Nadya untuk melakukan ini dan itu karena pada akhirnya Nadya mengerti tentang apa yang harus dia lakukan. Entah beberapa jam kemudian, mobil mereka berhenti di depan sebuah bangunan vila. Tidak terlalu besar, tapi pemandangannya tampak cantik. Bersama Jingga, Nadya yang masih memakai gaun ikut serta turun dan mereka mulai melangkah masuk ke dalam. Sang sopir meletakkan koper di depan pintu, sebelum akhirnya dia pergi dan di sana hanya tinggal Jingga dan Nadya. "Ini daerah mana?" tanya Nadya. "Ini masih di Malang kok, Nat. Ayo masuk. Kita akan menghabiskan waktu beberapa hari di sini," ajak Jingga. Lelaki itu menarik koper, membuka pintu lalu dilihatnya ruang-ruang yang tertata cantik. Nadya masih bertanya-tanya tetapi dia hanya mengikuti langkah Jingga yang akhirnya menuju salah satu ruang kamar. "Di sini kita akan istirahat," katanya. Nadya melangkah ragu, tapi pada akhirnya dia masuk juga menyusul langkah Jingga ke dalam kamar. Tanpa ragu-ragu, di sana Nadya melepas mahkota yang tadi dipakainya, lalu dia mengambil tas kecil dari dalam koper untuk mengambil pembersih make up. Ia benar-benar tidak betah dengan make up yang tebal seperti ini. Jingga entah ke mana, mungkin ke kamar mandi atau ke mana pun Nadya tak peduli. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Dia menuang toner pada kapas, lalu mulai membersihkan make up-nya di depan kaca yang ia pegang. Lama dia membersihkan riasan pada wajahnya gara-gara foundation yang cukup melekat lama. Namun Nadya tetap berusaha, karena setelah ini dia ingin istirahat. Sekitar sepuluh menit kemudian, wajahnya telah bersih dari make up, ia buru-buru menggunakan lipstik merah andalannya, lalu membereskan segala skincare dan alat make up pada satu tempat, dan diletakannya di atas meja nakas. Setelah itu Nadya melihat pintu kamar mandi yang terbuka, Jingga baru saja keluar dari sana tanpa mengenakan atasan. Dia hanya menutupi bawahnya hingga lutut menggunakan handuk, sementara bagian atasnya terbuka begitu saja. Nadya sempat menahan napas, sebelum akhirnya dia langsung berbalik dan menghadap lemari kemudian. Tubuh Jingga terlihat keren untuk ukuran seorang lelaki, begitu pikir Nadya. "Kenapa Nat?" tanya Jingga. "Ah, nggak papa kok." Nadya melepas sepatu, lalu menaruhnya di rak. Dia ingin melepas gaun pengantin, tapi kancing pada bagian belakang benar-benar membuatnya kesulitan. Dia berdiri di depan kaca berusaha membuka kancing belakang, tetapi tampak kesulitan. Suara cekikan terdengar sayup-sayup, mungkin Jingga menertawakan tingkah konyolnya. Nadya masih tetap berusaha, hingga akhirnya tanpa disadari seseorang memegang tangan, menghentikan pergerakannya. "Nadya, nggak papa loh kalau kamu minta tolong saya." Tiba-tiba Jingga berdiri di belakangnya. "Toh, saya nggak akan melakukan hal lebih kalau kamu nggak setuju," jelasnya. "Ah okay, tolong bukakan kancingnya." Aneh, bahkan Nadya tak merasakan adanya rasa tersipu, malu, terpesona atau apa pun emosi-emosi lainnya terhadap lelaki itu. Berbeda ketika dekat dengan Biru, Nadya biasanya langsung merasakan adanya debaran yang ia sukai. Mungkin karena Jingga bukanlah pusat, ia bukan matahari, ia bukanlah inti. Lelaki itu membuka satu persatu kancing gaun pengantin Nadya, hingga akhirnya selesai juga. Nada langsung menurunkan gaunnya sebagian, hingga terlihat baju dalam putih miliknya dan ia tak perduli jika Jingga memperhatikan. Lelaki itu hanya tersenyum dan duduk kemudian di depan ranjang. Nadya masuk ke kamar mandi, sementara Jingga menyalakan televisi sembari rebahan di atas ranjang menunggu Nadya yang belum keluar. Hingga beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka, dilihatnya Nadya yang baru saja keluar hanya menggunakan bikini dan dengan percaya dirinya dia berjalan ke arah koper untuk mencari pakaian miliknya. Tubuh Nadya terlihat sangat mulus, Jingga hanya terpengarah dengan aksi istrinya, tapi meski begitu dia berusaha menahan untuk tak melakukan apa-apa terhadap Nadya. "Nat, cari apa?" tanya Jingga. "Baju. Kayaknya ibu nggak bawain banyak baju. Aku lupa nggak bawa kaus," katanya sembari mengeluarkan seisi kopernya. "Pakai kemejaku kalau mau," katanya. "Di mana?" "Lemari," jawabnya. Nadya mendekat ke arah lemari yang tepat berada di sebelah ranjang yang sedang ditiduri suaminya, dari belakang, Jingga memperhatikan seluruh tubuh Nadya, lalu dia tersenyum melihat perempuan itu yang sedang memilih-milih kemeja milik suaminya. "Aku pinjam yang ini ya, kayaknya lebih pas." Nadya menutup pintu lemari, lalu memakai kemeja milik Jingga yang kebesaran di tubuhnya. Tanpa mengenakan celana, Nadya langsung duduk di tepi ranjang dan menghadap Jingga kemudian. "Ternyata nggak seseram yang aku bayangkan," kata Nadya, pelan. Dia lantas tersenyum. "Kenapa nggak malu di depanku, Nat?" tanya Jingga. "Loh kenapa harus malu? Kamu kan udah jadi suamiku," jawab Nadya cepat. Lagian aku nggak punya rasa sedikit pun, jangankan malu rasa sungkan aja nggak ada. Mungkin bakatku cuma mencintai Biru. Batinnya. Jingga duduk, menatap Nadya dalam. Dia mendekat ke arah istrinya, lalu memegang kedua bahu Nadya. "Mau istirahat?" tanyanya. "Nanti." Pelan-pelan, Jingga mulai menurunkan tangannya ke bawah. Dia mencoba membuka kancing kemeja Nadya. Perempuan itu menatap Jingga dalam, lalu memegang tangan lelaki itu, menghentikannya. "Siapa yang nyuruh kamu buat pegang-pegang, Jingga? Aku belum izinkan." Nadya berkata penuh penekanan. "Aku suami kamu," jawab Jingga. "I see, tapi jangan sekarang aku mohon. Kenapa kamu buru-buru? Pengin hadiahi orang tuamu dengan cucu yang lucu? Apakah dalam pernikahan ini hanya ada seputar s*x di otakmu?" Tanpa disadari Nadya menaikan suaranya di depan Jingga. Entah apa yang dia rasakan, Nadya hanya tak bisa menahan kemarahan di depan Jingga. Aneh, padahal seharusnya dia mulai gembira jika Nadya hamil, sehingga Caramel yang di dalamnya bisa menjalankan misi lain. "Nadya, jaga omongan kamu!" Kali ini suara Jingga naik beberapa oktaf, Nadya terkejut. Apakah dia emosi dengan pernyataan Nadya? Apakah dia tersinggung dengan statement yang dikeluarkan oleh Nadya? "Maaf, tapi Nat ... aku hanya minta tolong hormati saya sebagai suami kamu. Kita nggak harus emosi hanya karena permasalahan kancing baju, toh aku belum lihat punyamu," balas Jingga. "Salah ya kalau saya pengin kamu melayani saya sebagai suami?" "Kenapa kita nggak saling menghormati, dan daripada menggunakan kata layani, kenapa kita nggak gunakan kata kerjasama. Aku melayani kamu, dan kamu melayani aku sebagai istrimu. Jingga, aku emang perempuan, tapi aku punya hak atas tubuhku. Hanya karena sekarang aku udah nikah sama kamu, bukan berarti tubuhku jadi milik kamu dan akhirnya kamu sewenang-wenang ngasih aku banyak peraturan. Enggak, Jingga. Aku mau kita sama-sama. Duduk di kursi yang sama, dan makan di meja yang sama. Aku nggak harus di belakang, dan kamu nggak harus di depan. Kita bisa berjalan bersisian, kita harus belajar buat lebih mengenal diri kita masing-masing." Nadya mendebat panjang lebar. Agaknya dia tahu bahwa Jingga masih menganut paham patriarki, ah bukan hanya Jingga. Tapi semua keluarga Jingga, tetangganya dan mungkin teman-temannya juga. Selain nyasar di kehidupan yang nggak gue suka, gue juga nyasar di lingkungan orang-orang yang masih kental dengan patriarki. Ah tapi gue nggak bisa mukul rata, sih, mungkin ini hanya berlaku di keluarga Jingga aja, gue nggak tau. Tapi please, gue pengin nyadarin mereka tentang pentingnya feminisme. Mereka harus kenal dan menganut itu. Gue sadar, gue terlalu idealis tapi gimana lagi. Daripada terbelakang, lebih baik lakukan edukasi terhadap mereka yang belum ngerti. "Aku cuma mau kamu nurut sama aku," pungkasnya. "Harus banget kah? Nadya harus nurut sama kamu?" Suara dia mengintimidasi. "Jingga, perempuan punya hak atas dirinya. Dengar Jingga, pernikahan bukan berarti kau membeliku dari orang tua. Tapi pernikahan adalah kau mengajakku untuk hidup bersama." Nadya berbisik di telinga Jingga. "Jingga denger, aku bakal layani kamu sebagai Nadya. Bukan sebagai yang lain, tapi ingat sebagai Nadya. Ya, Nadya pasti akan bersikap baik padamu, dia akan melakukan apa pun yang kamu minta, dia bakal melayani kamu sepenuhnya seolah-olah kamu adalah raja. Dia akan menganggap kamu orang yang paling dia hormati dan nggak boleh di langgar peraturannya. Dan jiwa-jiwa 'mengatur' yang ada di diri kamu bakalan senang sama perempuan lemah lembut kayak Nadya. Kamu merasa bahwa kamu nanti akan puas karena Nadya selalu mengiyakan apa yang kamu mau. Cukup enak jadi lelaki. Dia bakal jadi raja jika bertamu di rumah mertua, tapi seorang istri dia seperti pembantu baik di rumah sendiir maupun di rumah mertua. Dia harus masak, mencuci, membersihkan rumah, dan katanya itu wajib. Aku yakin aku harus melakukan itu sebagai Nadya. Karena menurut kalian, segala pekerjaan dapur adalah urusan perempuan, iya kan? "Tapi, aku cuma mau kasih tau satu hal bahwa apa yang bisa kamu kerjakan, berarti bukan kewajiban perempuan. Laki-laki dan perempuan bisa jadikan dapur sebagai tempat masak bersama, bisa jadikan rumah buat hari minggu membersihkan bersama. Nggak harus perempuan, nggak harus Nadya. Tolong, inget semua perkataanku baik-baik. Dan Jingga, sekali lagi aku akan melayanimu. Aku akan melayanimu sebagai Nadya, bukan yang lain." "Itukah sifat asli kamu?" Jingga bertanya. "Bukan Nadya. Aku kenal sama Nadya, dan nggak mungkin dia kayak gitu, nggak mungkin Nadya berani berikan statement begitu. Ini udah sistemnya, perempuan harus nurut sama laki-laki. Begitu pun juga kamu, Nadya. Aku suamimu, aku yang memberi nafkah kamu dan peraturan mutlak ada di tanganku. Kamu nggak boleh melawan aku, dan kamu harus nurut sebagai istri." Jingga membalas dengan pernyataannya yang selalu dipegang teguh bahwa lelaki adalah pemimpin dan baginya seorang istri adalah wajib tunduk penuh kepatuhan terhadap suami. "Aku muak. Seriously, Jingga aku ngomong panjang lebar nggak kamu dengar, kah? Kedatangan Nadya ke sini untuk menjadi istrimu, bukan seseorang yang kelak hanya akan kamu suruh-suruh. Istrimu adalah temanmu, partner seumur hidupmu. Kalau kamu nggak bisa jadi partner yang baik, itu menunjukkan bahwa kamu gagal jadi suami. Camkan perkataanku, Jingga." Nadya membalas dengan suara yang terdengar kejam. Dia membuka kancing kedua kemeja miliknya sembari menatap Jingga, dalam. Jika diperhatikan Jingga memang lumayan tampan untuk ukuran laki-laki kota ini. Nadya memegang tangan lelakinya, lalu meletakannya di d**a. "Buka kalau kamu mau melakukannya. Buka, Jingga!" Suara Nadya berdesis. Tiba-tiba Jingga mendorong tubuh Nadya hingga perempuan itu tak dapat menahan berat tubuhnya dan terbaring di bawah tubuh Jingga. Lelaki itu melepas pakaiannya, lalu mendekatkan wajahnya di wajah istrinya pelan. Nadya memejamkan kedua mata, hingga dia rasakan bibir Jingga mendarat di bibirnya. Sementara kedua tangan Jingga telah menjelajah ke segala lekuk tubuh Nadya. Perempuan itu sama sekali tak melawan, mungkin ini akhirnya. Berbaring di bawah tubuh Jingga, menikmati aroma tubuhnya dan merasakan bagaimana tangan lelaki itu telah mahir melakukan hal-hal yang membuat Nadya geli. Ah, selamat datang di malam pertama. Di malam yang tak bisa Nadya dapat kabur darinya. To be continued~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD