014. Pulang

2712 Words
Pagi-pagi sekali Nadya sudah terbangun oleh kerasnya suara alarm yang berasal dari ponsel milik Jingga. Dia menoleh ke kanan dan ternyata tak ia dapati Jingga di sebelahnya. Nadya langsung menutup tubuhnya ketika menyadari bahwa ia tak memakai apa pun yang melekat di tubuhnya. Buru-buru dia meraih kemeja Jingga, lalu memakainya dan setelahnya dia langsung turun dari ranjang untuk mencari Jingga. Nadya merasakan bahwa seluruh tubuhnya terasa sakit dan nyeri. Dia tak terlalu ingat apa saja yang telah dia lakukan semalaman bersama Jingga, karena mungkin Nadya terlelap dan Jingga yang bekerja sendiri. Ah tapi sial banget, kenapa dia nyalain alarm pukul tujuh. Gue kan masih ngantuk. Ada-ada ada tingkah pengantin baru. Gerutu Nadya. Di ruang keluarga ia lihat sarapan telah tersedia di sana. Jingga yang memakai kaus dan celana pendek tampak sibuk menyiapkan spaghetti di atas meja makan. Nadya duduk di meja makan, kemudian beralih ke arah dapur, mendekati Jingga dan duduk di kursi yang berada di sana. "Kamu udah mandi?" tanya Nadya. "Ah, bangun sejak kapan Nat?" Bukannya menjawab, Jingga bertanya hal lain. "Barusan." Dia menatap suaminya yang sedang memasak air hangat, lalu setelah mendidih ia matikan kompor dan menuangnya pada sebuah termos. "Lagian kamu kenapa nyalain alarm terus-menerus. Dari pukul empat, sampai pukul tujuh setiap sejam sekali," komentar Nadya. "Kayak nggak ada kerjaan. Ganggu orang tidur." "Jam empat bukannya harus mandi biar subuhnya bisa sah salat? Lagian kamu dibangunin waktu jam lima, tapi susah bangunnya." "Buat apa sepagi itu? Santai aja kali," balas Nadya. Salat apa? Gue aja nggak ngerti ibadah. Ya ampun dia religius banget beneran. Jingga kemudian berbalik dan mendekati Nadya, "Ayo makan." Dia tersenyum, mungkin merasa bahwa tak perlu ada perdebatan lebih panjang "Badanku sakit semua." Nadya mengeluh. Jingga langsung mendekat, bersimpuh di depan kursi yang sedang diduduki Nadya. "Mana yang sakit?" "Semuanya. Perih." "Maafkan aku ya, Nat. Mungkin aku terlalu keras saat melakukannya." "Nggak papa kok, gimana lagi." Nadya tersenyum kecil. Nadya tak tahu mengapa ia begitu mudah berbaur dengan Jingga bahkan ia tak merasa canggung sedikit pun. Rasanya seperti teman lama yang sempat berpisah, lalu berjumpa kembali. Hanya sebatas itu. Tak ada hal-hal istimewa yang Nadya rasakan. Namun meski begitu Nadya tak bisa bersikap menolak. Ia tak ingin menyakiti hati Jingga. "Ayo makan," ajaknya. Jingga berdiri, Nadya berjalan di belakangnya dan mereka akhirnya duduk di kursi meja makan. Nadya langsung melahap spaghetti buatan Jingga. Lumayan enak dan Nadya menyukainya. Dia tak banyak berbicara karena jujur saja ia tak siap untuk berbagi segala keluh dan kesahnya pada Jingga. Hingga saat ini bahkan masih menganggap Jingga seperti orang lain bagi dirinya. Dan ya memang orang lain. Dia suami Nadya asli, bukan suaminya. Selepas beberapa menit makan, dia langsung menaruh piring kotornya pada wastafel, lalu mencucinya hingga bersih. Setelahnya dia berbalik, "Aku ke kamar duluan ya. Mau mandi," suara Nadya terdengar dingin. "Em, iya Nat. Nanti aku nyusul." Setelah pamit, Nadya berjalan ke kamarnya. Dia melangkah ke arah balkon, membuka pintu dan berdiri di sana melihat pemandangan pagi kota ini. Di ujung sana sebuah gunung gagah berdiri, udara di sini benar-benar terasa nyaman. Andai bukan Jingga yang di sisinya saat ini melainkan Biru, mungkin kejadian setiap hari akan terasa sempurna. Ponsel miliknya berdering, Nadya segera beranjak ke ranjang mengambil ponsel dan dilihatnya nama 'Biru' mewarnai layar. Nadya menggeser tombol hijau, lalu dia berjalan ke balkon setelah menutup pintu dengan rapat. Dia hanya tak mau jika nanti Jingga mengetahui tingkahnya. "Nadya," sapa Biru dari seberang. "Iya." "Kapan kita bisa ketemu lagi? Kamu nggak resign dari kerjaan kamu, kan?" tanyanya. "Oh enggak. Aku nggak bakal resign. Atau paling enggak, kalaupun resign ya naskahmu masih tanggungjawabku." Seakan-akan dia bertindak paling bertanggungjawab padahal ia hanya dalang di balik editor bayaran. "Ah syukurlah, aku lega dengernya." "Kenapa emang?" "Kalau kamu udah nggak di sana, nggak ada alasan aku ketemu kamu." Biru tertawa. "Biru, aku udah punya suami. Bukannya kamu seharusnya pergi cari yang lain? Jangan bersama Nadya." Temui Caramel di masa depan, Biru. "Kamu mau aku menjauh?" Biru bertanya retoris. Nadya menggeleng meski dia tahu Biru tak akan pernah melihatnya. Jujur, Nadya tidak mau Biru menjauh, dia tidak bisa menjauhi Biru dan jika pun dipaksa Nadya tak akan pernah mampu melihat Biru pergi. Entah jika Nadya lama. Tapi untuk kali ini, seakan Nadya baru benar-benar berperan dalam perasaan. Ia mencintai Biru, mencintai lelaki itu. Di satu sisi ia takut Biru nyaman dengan dirinya, di sisi lain ia tak ingin melihat langkah Biru menjauh. Nadya benar-benar bingung. Ah, Caramel yang bingung tentu saja. "Kamu mau aku menjauh?" Biru mengulangi pertanyaannya. "Bukan begitu maksudnya." Nadya ingin menjelaskan semuanya, tetapi tidak akan bisa. Dan tidak akan pernah bisa. "Maksudnya bagaimana?" "Biru ayolah, masa kamu nggak paham." "Aku paham, Nat. Kamu masih mencintaiku, kan?" Nadya tak menjawab. Bersama Biru, Nadya selalu berhasil dibuat membisu. Namun berdusta pun sama saja tidak pernah mengenakan. Tapi Biru, bukannya masih mencintaimu. Tapi ... aku baru mencintaimu. Sekarang aku tahu bagaimana bodohnya Nadya melepas kamu gitu aja, dan lebih memilih mundur meski kamu kembali. Perempuan itu ... bener-bener bodoh, kan, Biru? Bagaimana mungkin dia bisa lepasin cowok kayak kamu untuk seseorang bernama Jingga itu? "Udah dulu ya, aku sibuk." "Jangan berubah ya, Nat." "Permintaan bodoh. Aku udah bersuami." Dari ujung sana Nadya dengar Biru tertawa. Tanpa menunggu jawaban dari Biru, Nadya langsung mematikan teleponnya lalu memandang pemandangan di depan kembali. Ia hirup udara dalam-dalam, rasanya sangat enak dan sejuk di sini. Seperti berada di surga dunia tapi mungkin tidak juga. "Nadya!" Suara seseorang memanggil. Nadya segera berbalik. Dilihatnya Jingga yang mendekat, lalu berdiri di sebelah Nadya. "Gimana suasananya? Kamu suka tempat ini nggak, Nat?" "Suka kok." "Nadya." Jingga menyentuh kepala Nadya. Dia membelai rambut wanitanya lalu tangannya mulai turun ke arah pipi, mengusapnya pelan. "Kalau masih belum bisa suka aku, kamu mau belajar buat suka aku kan, Nat?" Jingga seperti memastikan. Nadya menghadap Jingga. Tangan lelaki itu lihai mengusap leher Nadya, dan ia dekatkan wajahnya ke wajah Nadya hingga wanita itu mundur pelan, "Jingga." Nadya meletakan jari telunjuknya di bibir Jingga, berusaha menghentikan aksi lelaki itu. "Jangan terlalu semangat aku mohon. Dan aku akan berusaha menjadi yang kamu mau. Tapi aku juga butuh proses." "Aku cuma nggak mau kehilangan kamu, Nat," desis Jingga. "Aku ngerti." Hanya itu jawaban Nadya. Wanita itu berbalik, lalu masuk ke kamar. Merasa gerah dengan sikap Jingga tapi tidak bisa menghindar karena diakui atau tidak, sekarang Jingga sudah resmi menjadi suaminya. Meski kadang dia merasa berdosa karena masih menyimpan nama Biru di lubuk hati terdalam, tapi Nadya juga tidak mengerti hal apa yang perlu dia lakukan untuk sekarang. Semuanya sudah buntu. "Kita pulang hari ini aja ya. Aku harus kerja lagi." Nadya memasukan beberapa baju ke koper. Dia tahu bahwa ada waktu seminggu waktu hannymoon mereka, tapi untuk apa juga karena seberapa lama dia dengan Jingga nyatanya nggak pernah muncul perasaan istimewa. Yang terpenting seenggaknya sekali Nadya sudah memberikan apa yang Jingga inginkan. Begitu dia coba berpikir. "Apa nggak kecepetan, Nat? Kemarin baru aja ke sini," tampik Jingga. "Aku nggak bisa ninggalin kerjaanku. Kalau kamu masih mau di sini, aku pulang sendirian juga bisa. Lagian kamu juga harus kembali ngajar," ketus Nadya. "Bukan gitu, maksud saya kamu nggak perlu istirahat? Lagian kamu dikasih waktu seminggu buat cuti." "Aku nggak suka cuti. Cuti cuma bikin aku nggak produktif." Dia mengunci koper, lalu meletakkannya di samping lemari. Nadya langsung mengambil handuk, lalu berjalan ke arah kamar mandi dan membersihkan tubuhnya di sana. Sementara Jingga hanya bisa menghela napas melihat tingkah Nadya, tapi demikian dia masih dan akan selalu menerima segala hal yang sudah Nadya berikan. Selang beberapa menit, Nadya kembali keluar dengan hanya menggunakan setelan bikini. Tanpa memperhatikan Jingga yang terkejut, dia seolah tampak biasa saja berjalan melewati Jingga dan mengambil setelan baju dari lemari yang sudah rapi. Ia memakai rok hitam selutut, lalu dipadukan dengan blous merah maroon. Dia berdiri di depan kaca, lalu mulai menyisir rambutnya yang masih setengah basah. Jingga hanya menghela napas, lalu berlalu ke kamar mandi. Mungkin dia berpasrah saja. Nadya mengambil ponsel, lalu mencari kontak Biru. Dia mengetikan beberapa kata. Nadya Biru, besok mulai editing. Jadwal terbit nggak lama lagi. Besok ketemu di kantor. Ya anjir, drama banget gue. Padahal lagi dikerjain temen Nadya naskahnya Biru. Tapi gimana lagi, gue pengin ketemu Biru. Biru Astaga, lusa ya Nat. Nadya Besok. Biru Okay. Kenapa buru-buru banget? Bukannya kantor ngasih kamu waktu seminggu buat cuti? Otomatis naskah saya juga jadwal terbitnya diundur. Nadya Biar jadwal terbitnya nggak diundur. Kasihan fans-mu. Biru Kasian fansmu, atau kamu yang pengin ketemu aku? Nadya Haha, opsi pertamalah. Biru Tidurmu nyenyak, Nat? Nadya Kayak biasa. Tapi, lebih berbeda. Biru Lebih nyaman? Nadya Nggak juga. Biru Aku sayang kamu, Nat. Sorry. Nadya Aku tau. Udah ya, aku mau balik sekarang. Aku lagi siap-siap. Nadya memotret wajahnya sendiri, lalu dikirimkannya pada Biru. Seakan terlalu refleks untuk nostalgia hal-hal kemarin. Biru Si cantik nggak ada obat. Bingung ya, kayaknya Tuhan ciptain kamu bersamaan sama mawar, cantik dan nggak pernah bikin bosen. Love you so much. Tapi aneh juga, kamu nggak pernah kayak gini sebelumnya. Nadya sekarang jauh lebih enjoy dan terbuka. Aku suka perubahan kamu. Nadya terkesiap. Apakah berarti Biru menyukainya secara implisit. Jika benar, mungkin ini jalan awal menuju hati Biru, mungkin saja. Nadya Nggak usah lebay Biru Aku udah jujur banget malahan. Nadya Udah dulu ya, sampai jumpa di kantor. Nadya mematikan handphone, dia melihat dirinya di pantulan cermin, lalu tertawa melihat pendosa yang tidak tahu diri. Nadya menyadari bahwa perbuatannya membuat Jingga sakit hati jika saja laki-laki itu tahu, tapi sayangnya Nadya tak bisa meninggalkan kesenangan itu. Biru terlalu sulit untuk dilupakan sedangkan Jingga terlalu baik untuk dipertahankan. Nadya berpikir entah dosa di masa lalu seperti apa yang pernah Jingga lakukan sehingga di masa sekarang dia mendapat pasangan seperti Nadya. Dia cukup menyadari, tapi menghindar pun dia tak mau. Nadya memoles bibirnya dengan lipstik merah, lalu menyisir kembali rambut dan dia sudah siap untuk segera keluar dari vila ini. Tak lama kemudian Jingga keluar dari kamar mandi, dia tampak beres-beres lalu setelahnya mereka langsung keluar dan di depan sana telah ditunggu oleh sopir yang sebelumnya mengantar mereka. "Bukannya seminggu, Mas?" tanya Sopir setelah keduanya naik dan duduk di jok mobil belakang. "Enggak jadi, Pak. Ada kerjaan." Nadya menjawab cepat, dia tahu bahwa Jingga tak akan menjawabnya. Kendara roda empat itu beranjak pergi, Nadya tersenyum sendiri. Semata-mata karena ia sudah terbebas dari keadaan mencekam seperti kemarin. Nadya merasa bahwa berdua dengan Jingga buat dia sumpek dan tidak bisa bergerak leluasa. Maksudnya, ia tidak merasa bebas. Di sepanjang jalan, Nadya melihat Jingga yang sibuk dengan ponselnya. Mungkin ada pekerjaan kantor yang sedang dia hadapi. "Kamu kenapa? Kayak pusing gitu?" tanya Nadya. Jingga menoleh, "Oh nggak papa kok, Sayang." "Ayo jujur, kamu kenapa?" desak Nadya. Wanita itu seperti cuaca, sikapnya mudah berubah dan tidak dapat diduga. Sebentar-sebentar dia tidak nyaman dengan Jingga, sebentar-sebentar dia seakan menjadi orang paling peduli pada Jingga. "Aku ada tugas buat ngawas mahasiswa di luar kota. Tapi, aku khawatir sama kamu Nat. Baru aja kita nikah masa aku ninggalin kamu." "Kamu nggak usah mikirin aku. Aku bakal baik-baik aja. Lagian kamu jadi orang penting di sana. Tenang aja, aku bakalan baik-baik di sini. Kamu kayak nggak tau aku aja sih. Selama ini aku juga hidup sendirian." "Masalahnya ini agak lama, Nat." "Nggak papa. Aku tetep nungguin kamu. Pokoknya iyakan aja, aku nggak mau kamu lebih mentingin aku daripada kerjaan." "Ya enggak gitu dong, Nat." "Ya intinya aku bakal tetep nunggu kamu. Ini penting kan? Jangan cemasin aku, aku baik-baik aja kok." "Ya udah kalau itu keputusan kamu." "Kapan berangkat emang?" "Kemungkinan besar lusa." "Oh ya udah, nggak papa. Lagian aku kerja." Selepas sampai di rumah Nadya setelah beberapa jam perjalanan, keduanya turun. Nadya langsung masuk disusul langkah Jingga di belakangnya. Sebenarnya mereka harus pulang ke rumah baru, tetapi Nadya tidak mau dengan alasan karena di sana tidak ada Jingga dan selama Nadya masih bekerja di kantor, ia malas untuk bolak-balik jika terlalu jauh. "Kita tinggal di sini aja, untuk sementara sampai kamu bener-bener menetap lama," kata Nadya. "Rumah di sana nggak ada yang nunggu loh, Nat. Nggak sebaiknya kamu di sana? Toh kalau di sini kamu masih perlu bayar, di sana itu rumah kamu." "Nanti minggu depan aku ke sana. Tapi sekarang aku masih mau beres-beres dulu dan harus pamit sama yang punya. Soalnya masih ada perjanjian tiga bulan lagi. Abis itu aku resmi pindah kok, nggak akan di sini lagi." "Tiga bulan lagi? Janji?" Nadya mengangguk. "Nggak usah khawatir. Tapi tolong, jangan lupakan permintaanku, aku mau mobil." "Siapa yang ngajarin kamu nanti?" "Bayar oranglah, kamu jangan kayak orang nggak mampu deh." "Okay kalau itu mau kamu." Selepas berganti baju dengan kaus dan celana pendek, Nadya berjalan ke dapur untuk memasak apa pun yang tersisa di sana. Mereka belum belanja bulanan dan itu nggak masalah. Nadya lebih suka mie instan daripada harus repot-repot keluar terlebih dahulu untuk membeli sayuran jika mendadak. Lagian sepertinya dia tak pernah ke dapur sebelumnya, entahlah akan masak apa. Sejadinya saja mengikuti insting. Tapi di kulkas rumahnya, ia masih menyimpan sayur yang masih bisa ditumis. Jujur saja, dia amat lapar karena selama perjalanan pantang dia makan dan minum karena paling malas untuk membuang hajat di rest area. Dia mengupas bawang merah, bawang putih, menghaluskan beberapa bumbu yang dibutuhkan lalu menaruhnya di satu wadah yang satu. Pura-pura menjadi Nadya yang bisa memasak sulit juga, untung saja semalam dia sempat melihat tutorial memasak di youtub* sehingga bisa melakukannya sedikit-sedikit. Perkara rasa itu nomor dua. Jingga datang, dia berjalan mendekat ke arah Nadya, "Mau dibantuin, Nat?" tanya Jingga. "Oh kalau nggak ngerepotin boleh aja. Tolong masak nasi di mejikom ya. Abis itu aku sendiri aja yang masak. Kamu kayaknya harus salat juga, kan?" "Okay." Jingga tampak mengambil beras dari karung kecil, lalu menaruhnya di mejikom dan diberinya air sesuai takaran, lalu ia nyalakan membiarkan nasinya hinga masak. Sementara Nadya sibuk memotong sayuran, dia tak menduga bahwa akhirnya ia memasak untuk orang lain. Selepas Jingga pergi, dia menyalakan ponsel itu mengingat kembali tutorial yang ditontonnya semalam. Astaga, untuk memasak sayur saja dia tak bisa. Biasanya ia tak pernah sepusing ini untuk memilih akan memasak apa, makan apa. Hanya memesan, lalu tiba dan dia hanya harus membayar. Kali ini dia membutuhkan effort untuk hidup di sini. Setelah semua sayur yang dibutuhkan telah terpotong, Nadya mulai memasang wajan di atas kompor. Ia nyalakan dengan api sedang, lalu mulai memberi sedikit minyak untuk memasak bumbunya. Ia memasukan garam, penyedap rasa dan apa pun yang ada di sana sesuai takaran dari akun yang ditontonnya. Dia tak berharap Jingga akan menyukai masakannya, dia hanya berharap bahwa Jingga tak banyak curiga mengenai perubahannya. Setelah mencampur sayur dan bumbu kemudian membiarkan hingga matang dan bersamaan dengan itu nasi juga sudah matang, Nadya mengambil dua piring yang kemudian diisi nasi dan dua mangkuk berisi sayur. Setelah selesai ia bawa ke ruang tengah dan menaruhnya di meja. "Jingga, ayo makan dulu," teriak Nadya. Tak lama dari itu Jingga menyembul dari balik kamar, lalu duduk di sebelah Nadya. "Wah kayaknya enak," pujinya. "Coba dulu aja. Aku juga nggak tahu rasanya." Jingga terlihat mencoba masakan buat Nadya, lalu dia mengangguk-angguk menikmati, dan memujinya kemudian. "Kamu emang nggak pernah gagal kalau urusan dapur. Nggak tau deh, kamu bisa semua kayaknya." "Nah makanya itu nggak usah cemasin aku kalau kamu pergi. Aku udah biasa kok, mandiri Nadya itu." Dia memuji dirinya sendiri. Mereka berdua akhirnya menikmati makanan tersebut hingga beberapa kemudian menghabiskankannya. "Eh, Sayang, aku mau tanya serius. Tapi tolong jawab yang jujur ya." "Iya, ada apa? Tiba-tiba." "Sebenernya kamu udah siap kalau kita dikaruniai momongan?" Nadya tak langsung menjawab. Dia segera mengambil gelas di depan yang berisi air, lalu meneguknya setengah. Aduh sumpah ni orang apa pikirannya hanya itu-itu aja? Ngobrol sama dia benar-benar membosankan. Apa dia nggak mau cari topik yang lebih berpendidikan, misalnya membahas perang dunia ke dua gitu? Sm "Kalau itu yang kamu mau." Nadya menjawab setelah mendumal cukup lama. "Aku nggak mungkin maksain kamu. Maksudku kalau kamu belum siap, aku nggak akan marah. Aku bakal nunggu terus. Kamu punya hak buat memilih." "Ya, aku sih siap aja. Lagian ibu juga nggak sabar pengen gendong cucu kayaknya." Nadya menjawab seolah tanpa pikir panjang. "Nanti malam kita coba lagi mau?" "Ya gimana enaknya." Nadya tersenyum. Dia seakan mati rasa. Entah bagaimana rasanya pada Jingga, Nadya seperti tidak pernah memperdulikan dirinya sendiri. Bersama Jingga, Nadya kehilangan arah dirinya sendiri. To be continued~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD