Jingga tampak sibuk memasukan seluruh barangnya ke bagasi mobil sedangkan Nadya tampak membantu lelaki itu beres-beres. Setelah selesai, Jingga berbalik, menghadap wanita berpiyama di depannya.
"Jaga diri baik-baik ya, Sayang. Aku segera pulang." Jingga terlihat berat tinggalkan Nadya, raut wajahnya seperti seseorang yang enggan kehilangan. Tapi Nadya malah bertindak bahagia. Sialan memang.
"Siap." Nadya menjawab semangat.
Jingga mengecup dahi Nadya, kemudian masuk ke mobil dan kendara itu pergi. Sedangkan hari ini dia ada janji bertemu Biru di kantor. Nadya masuk mengambil handphone miliknya, lalu menghubungi nomor Biru.
"Iya cantik," sapa Biru dari sana.
"Kamu udah sampai kantor?" tanya Nadya.
"Belum, masih baru mau berangkat. Buru-buru banget, ya? Kamu sendirian?"
"Ke rumah aja."
"Jingga gimana?"
"Jingga nggak ada. Dia bakal keluar kota dalam waktu lama kayaknya."
"Ah, okay. Aku ke sana sekarang."
Nadya mematikan sambungan, dia segera mandi dan membersihkan seluruh tubuh serta mengganti baju dengan celana levis panjang serta kaus pendek. Ia memoles kembali bibirnya dengan lipstik merah, lalu menyiapkan camilan dan laptop di meja tengah. Sejujurnya Nadya tak perlu memanggil Biru untuk bertemu. Seorang editor dan penulis, dalam proses revisiannya sangat bisa jika pun hanya melalui chatting di media sosial, tetapi entah apa yang membuat mereka terlalu bersemangat kecuali cinta.
Dia meraih handpohone-nya lagi, menelpon temannya yang menyunting naskah Biru. Dia cukup cepat dalam urusan respons merespons.
"Halo Nadya."
"Halo, eh gimana naskah Biru? Bagian mana aja yang perlu revisi, nanti gue sampaikan ke Biru. Kalau lo yang nyampein ke Biru, kan, nggak mungkin. Mumpung hari ini gue mau ketemu Biru." Nadya tampak bersemangat.
"Biru? Ra itu, ya? Kok cepet, Nat. Kamu kan masih dikasih waktu cuti semingguan. Udah nggak sama Mas Jingga lagi? Masa sih langsung kerja," komentar temannya.
"Aduh udah deh, pokoknya gue pengen tau lo sampe mana ngedit naskah Biru. Gue nggak suka ambil cuti, lagian gue lebih asik di rumah kali daripada di villa. Pokoknya lo kasih tau gue aja deh. Urgent nih."
"Aku udah kirim ke email-mu kok. Cek aja. Nanti sekalian tanyain semua detail-nya sama Tangkai Ra."
"Okay."
Dia menutup kembali sambungannya, mengecek surel dari temannya, membacanya selama beberapa menit berusaha memahami apa yang disampaikan oleh temannya itu. Ternyata menyunting naskah emang tidak pernah sesederhana pemikirannya. Nadya kira dia hanya perlu membetulkan salah ketik saja, tapi katanya di tangan editor lah naskah itu akan jadi penentu menjadi cantik dan nyaman dibaca atau membuat malas pembaca karena banyaknya kesalahan yang bertebaran. Editor memang seperti tonggak di dunia penerbitan.
Nadya kemudian membuka laptop miliknya, lalu mulai membuka naskah milik Biru. Dia selalu suka kata-kata yang Biru rangkai dan bagi Nadya, Biru sepertinya tak pernah gagal untuk menuliskan novel-novel bagus dan bahkan selalu laku di pasaran. Sepertinya karya-karya milik Biru memang memiliki sihir yang membuat idolanya selalu betah berlama-lama.
Tak lama dari itu seseorang masuk. Lelaki setinggi 178 sentimeter itu tersenyum ke arah Nadya. Dia membuka sweater dan menyisakan kaus pendek, lalu duduk di depan Nadya sembari mengambil satu biskuit dari toples dan memakannya kemudian. "Baru nikah langsung ditunggal nih pengantin baru," sindir Biru.
"Aku nggak mau bahas itu, tapi pada bagian bab 4 naskahmu, ada sedikit ambiguitas, Biru. Coba deh kamu baca ulang, nanti kamu pasti ngerti." Nadya mengarahkan layarnya ke arah Biru, lalu pria itu mulai terlihat membaca dengan seksama. Ah, mana mungkin dia paham ambiguitas atau apa pun itu jika saja dia sendiri yang menyunting naskah Biru. Seharusnya selain memberi banyak imbalan, dia juga harus memberi ucapan terima kasih pada teman editornya karena telah menyelamatkan hidupnya. Tepatnya sih, mendukung dramanya.
Lama Biru membaca tulisan miliknya, lalu dia menghapus dan menambah beberapa kata. Wajahnya sangat serius, dan Nadya memperhatikannya. Dia suka wajah Biru yang serius, ketika menjadi pembicara dan semua tentang Biru, Nadya suka. Baru kali ini juga dia tahu nama asli tangkai Ra dan ternyata nama aslinya jauh lebih indah. Biru.
"Kayaknya udah nih, Nat. Coba periksa ulang."
Nadya mengangguk, dia kembali membaca halaman 34 yang tadi Biru sunting. Lelaki itu menselonjorkan kaki di kursi, lalu mulai merebahkan tubuhnya di sana. "Gue tidur dulu ya bentar, semalem nggak bisa tidur mikirin kamu." Sebelum Nadya jawab, Biru sudah terlebih dahulu memejamkan mata dan dalam hitungan detik, dia sudah terlelap.
Nadya memperhatikan wajah lelaki itu, Biru sangat tampan. Dia memiliki raut wajah tegas, kulit kuning langsat, hidung lancip, dan bibir merahnya selalu membuat Nadya kehilangan fokus. Nadya sungguh-sungguh mencintai lelaki itu, dan kalau boleh memilih andai di dunia ini tidak ada Biru, mungkin ia lebih memilih untuk tak memilih siapa pun jika bukan Biru.
**
Lama Biru tertidur. Bahkan hingga pukul sembilan malam dia tidak bangun juga. Sesekali Biru hanya menggerakan tubuhnya, mengganti posisi tapi setelah itu kembali tidur. Nadya tidak enakan kalau membangunkan Biru, kalaupun dia disuruh pulang Nadya takut Biru tidak fokus menyetir di jalan.
Nadya berdiri, dia beranjak ke arah Biru. Duduk bersimpuh menghadap laki-laki itu. Tangannya yang nakal mulai menyentuh pipi Biru. Nadya bahkan lupa jika dia sudah memiliki Jingga yang baik. Nadya membelai pipi lelaki itu. Terlihat Biru yang mengerjap. Nadya segera menjauhkan tangannya. Biru terbangun.
"Jam berapa sekarang?" tanya Biru dengan suara serak bangun tidur yang khas. Kedua matanya masih menyipit.
"Sembilan malam."
"Kamu nggak bangunin aku, Nat?" Biru terkejut.
"Kayaknya kamu terlalu capek," jawab Nadya.
"Tangan kamu lembut. Nggak ada yang berubah," lirih Biru. "Aku suka tidur di sini kalau kamu perhatikan terus." Dia tertawa kecil. Biru duduk, memegang tangan wanita itu. Dia menarik tangan Nadya dan mendudukannya di pangkuan. Nadya sama sekali tak memberontak, akalnya mungkin tidak digunakan. Dia hanya merasa hilang kewarasan jika dihadapkan pada Biru. Atau karena dia memang tak pernah merasa berdosa karena yang menikah bukanlah jiwa yang ada di dalam tubuh, melainkan cangkangnya saja.
"Aku sayang kamu." Biru menaruh kedua tangannya di kedua bahu Nadya. Mereka saling berhadapan amat dekat. Nadya tak menjawab. Biru menurunkan tangannya ke paha Nadya, lalu memegang tangan perempuan itu, "Kenapa aku nggak bisa milikin kamu?" lirihnya.
"Biru ..." Nadya kehabisan kata-kata.
"Saya amat b***t, saya begitu fasih berbicara di depan orang lain, tapi saya melakukan dosa pada Jingga dan sayangnya saya menikmati dosa ini, Nat. Gila, kan?" Suara Biru mulai meninggi. "Saya nggak tau gimana cara lupain kamu. Saya nggak bisa kayaknya, tapi saya benar-benar cinta sama kamu, Nat. Seolah-olah di dunia ini cuma ada kamu aja."
"Nat ..." Biru berdesis. Nadya merasakan bahwa tangan Biru telah menyentuh tubuhnya tetapi anehnya dia menikmati itu. "Kamu pernah makan Tteokbokki sama Jingga, kan? Kenapa kamu nggak memakannya dengan orang yang kamu cintai? Aku misalnya."
**
Pukul dua dini hari, Nadya terbangun. Dia terkejut melihat wajah Biru yang sedang memandangnya. Lelaki itu tersenyum. Di atas kasur, keduanya berada di bawah satu selimut yang sama. Biru tampak tak mengenakan busana, begitupun dengan Nadya.
"Biru, astaga!" Nadya bangun. Dia langsung memakai seluruh pakaian miliknya.
"Kamu kenapa?" Biru terduduk. Dia menatapi wanita itu dengan kebingungan.
"Kita belum menikah. Gila, ya!"
"Kamu kan udah menikah."
Nadya terdiam. Dengan segala hal yang sudah terjadi, apakah Nadya katakan saja semuanya pada Biru dan menceritakan siapa sebenernya Biru? Paling tidak Biru suka dengan perubahan Nadya yang berarti Biru bisa menyukai Caramel.
"Biru ...." Kelu dia akan berkata. "Aku ngerasa salah sama Jingga." Nadya terlihat frustrasi. Dia berdiri di depan kaca. Kenapa harus gue ya Tuhan, kalau begini terus gue bisa gila. Gue ngerasa kasihan juga sama Nadya. Gimana lagi Biru nganggep dia w************n. Gue yakin kalau Nadya sekarang balik ke tubuhnya ini, dia nggak akan ngelakuin apa yang gue lakuin.
"Udahlah, Nat. Perasaan nggak bisa dipaksa. Terlepas dari hubungan ini yang emang terlarang, gue nggak peduli. Ini dosa, gue tau tapi gue nggak bisa lepasin lo." Biru berucap penuh keyakinan.
Biru beranjak ke arah Nadya, dia mendekatkan tubuhnya ke wanita itu, "Nat gue sayang sama lo. Gue nggak mau lihat lo sedih." Biru memberi pelukan paling hangat, kemudian mengecup bibir Nadya. "Jalani hidup lo, gue ada di belakang lo."
Nadya kemudian duduk di ranjang, dia benar-benar merasa seperti w************n.
**
Pagi-pagi sekali Nadya merasa bahwa perutnya tidak baik-baik saja. Dia merasa mual, lalu cepat-cepat berjalan ke arah wastafel tapi tak ada apa pun yang keluar. Kepalanya terasa pusing, dia memegang erat pelipis lalu berusaha memuntahkan semuanya. Nadya menatap wajahnya di kaca, dia melihat pantulan wanita payah, berwajah sok alim tetapi jelas-jelas berkelakuan seperti setan. Bahkan Nadya curiga bahwa mungkin setan pun terlalu insecure disamakan dengan dirinya.
"Kamu hamil?" tanya Biru tiba-tiba.
Nadya menoleh, "Jangan ngaco. Aku nggak papa, cuma pusing."
"Ayo ke rumah sakit." Biru menarik tangan Nadya, buru-buru Nadya menampiknya dan berhasil melepas tangan Biru.
"Aku nggak kenapa-napa," ketusnya.
"Aku nggak percaya," debat Biru.
"Ayolah, Biru. Aku cuma mual biasa. Kalaupun aku hamil, pasti di kandunganku anak Jingga," cetus Nadya.
"Kalau bukan?" Biru seakan menantang.
"Nggak mungkin anak kamu. Dan kamu nggak boleh punya anak sama Nadya." Kali ini dia benar-benar kesal, kenapa di hati Biru hanya ada nama Nadya dan Nadya.
"Maksud kamu?"
"Biru ... " Perempuan itu kehabisan kata-kata. Selalu salah memposisikan diri sebagai Nadya yang baik. Dia Caramel, sulit untuk bertingkah seperti Nadya.
"Okay, terserah kamu gimana. Tapi aku harap nanti kamu harus cek kandunganmu dan pastikan anak siapa di dalam rahimmu. Kalau itu anakku, aku bakal menjaga dia, Nat. Aku nggak akan biarkan dia dididik oleh Jingga."
Nadya tak menjawab. Sampai di titik ini Biru masih terlihat jantan untuk bertanggungjawab atas kesalahannya. Nadya sendiri belum yakin kalau dia hamil, tapi dia juga tidak tahu sebab kenapa dia mual dan sakit kepala pagi ini.
Biru beranjak ke arah dapur, dia terlihat memasak apa pun yang masih tersisa dari dalam kulkas sedangkan Nadya yang tidak mau ke dokter, terlihat duduk. Wajahnya benar-benar pucat dan letih. Biru belum pernah melihat Nadya tersiksa seperti itu. Dia membuat bubur di penanak nasi. Cukup tahu karena selama kuliah dia juga chef bagi dirinya sendiri. Tapi itu pun hanya bisa masak bubur, selebihnya Biru adalah orang yang paling buruk dalam hal masak memasak.
Setelah beberapa menit bubur jadi, ia menambahkan taburan bawang, kacang goreng dan ayam suwir lalu diberikannya pada Nadya. "Ayo dimakan dulu, Nat," ucapnya.
Nadya mengambil sendok dengan perlahan, lalu mulai memakannya sedikit demi sedikit. Tidak terlalu enak, tapi dia berusaha untuk meneruskan. Biru masih perhatian seperti dulu dan dia memang tidak pernah berubah seperti orang lain bagi Nadya.
"Assalamualaikum Nadya!" Seseorang masuk.
Dia terkaget, berdiri di ambang pintu melihat Nadya dan Biru yang duduk berhadapan di ruang tamu, terlebih Nadya hanya memakai piyama pendek, sementara Biru hanya menggunakan boxer dan kaus pendek juga. Nadya dan Biru tak kalah terkejut, dalam hati Nadya membatin kenapa tiba-tiba ibu ke sini, ia seperti terkena serangan panik. Nadya tidak tahu harus menjelaskan bagaimana.
"Apa yang kalian lakukan? Biru, kenapa kamu di sini? Kamu nggak tahu, ya, kalau Nadya udah bersuami?" sentak sang ibu.
"Ah maaf bu tapi kehadiran saya di sini--"
"Pulang kamu! Jangan pernah ketemu Nadya lagi!" Wanita itu terlihat sangat marah. Suaranya lebih menyeramkan dari apa pun yang berbunyi kencang.
"Bu, Nadya jadi editor dia, Biru ke sini karena--"
"Sudah, kamu juga diam! Saya tidak butuh penjelasan kalian. Biru, sana pulang sekarang dan tolong jangan pernah berani-beraninya bertemu Nadya. Kalian seharusnya sadar bahwa apa yang kalian lakukan ini sangat tabu. Dosa kalian berdua. Cepet pulang, atau saya akan telepon bapak biar dia menarik kamu keluar." Wanita itu terlihat sangat marah, jelas saja dia kesal. Ibu mana yang akan baik-baik saja jika mengetahui bahwa putrinya selingkuh?
Biru segera masuk ke kamar Nadya, dia mengenakan seluruh pakaiannya dan langsung pergi. Nadya melihat Biru yang kemudian masuk ke mobil, lalu dia menghela napas berat.
"Apa yang kamu lakukan sama pria b******n itu?" tanya ibu.
"Biru bukan pria b******n," protes Nadya.
"Kamu nggak sadar bahwa sekarang kamu udah bersuami? Kamu nggak sadar kalau kamu nggak seharusnya nyimpen laki-laki di rumahmu? Apa yang kalian pikirkan? Jingga pergi dan kamu langsung ambil kesempatan. Nadya, coba dengarkan ibu, Jingga itu pria yang baik. Ibu yakin di luar sana Jingga nggak akan kayak kamu. Dia bisa menjaga hati istrinya. Tolong jangan permainkan Jingga. Ibu nggak nyangka kamu berbuat jauh kayak gini. Mana Nadya kesayangan ibu? Mana Nadya nggak pernah mengecewakan ibu?"
"Aku nggak bisa mencintai Jingga, Bu. Maaf kalau kali ini suaraku agak keras, tapi pernahkah ibu ada posisiku menikah dengan orang yang nggak ibu cintai? Pernahkah ibu tidur berdua dengan laki-laki yang nggak ibu sukai? Ibu harus membuat sarapan untuknya, ibu harus pura-pura bahagia di depannya, dan itu yang aku rasakan demi membahagiakan ibu.
"Nadya udah berikan diri Nadya buat Jingga. Ini karena kemauan ibu. Kalau bukan karena ibu dan bapak, Nadya nggak mau menikah sama Jingga. Ibu, Nadya cuma menyukai Biru. Mungkin di mata ibu Biru cuma laki-laki b******n yang tinggalin Nadya waktu di gunung, tapi Biru ngelakuin itu karena ada sebabnya. Biru nggak pernah sakiti Nadya tanpa adanya sebab.
"Nadya udah kabulkan kemauan ibu. Nadya udah menikah sama Jingga, tapi kehidupan ini juga punya Nadya, ibu nggak harus selalu melarang apa yang Nadya mau. Bu, kalau ibu tahu berat rasanya harus melakukan ini dan itu dengan laki-laki yang nggak pernah aku sukai, dan aku harus bertahan demi ibu." Nadya mengungkapkan semuanya, dia benar-benar kesal karena ibu tidak mengerti perasaannya. Seolah-olah Nadya selalu menjadi pihak yang salah atas semua ini.
"Nadya, Jingga itu imam yang berguna buat kamu. Ibu ngelakuin ini demi kebaikan kamu sendiri, Nat." Hanya itu jawaban ibu.
"Bukan demi aku, tapi demi ibu sendiri," tampik Nadya.
"Ibu cuma pengin kamu dikasih yang terbaik. Jingga itu dewasa, baik sama ibu dan bapak, baik sama keluarganya dan dia sangat perhatian sama kamu. Ibu harap kamu bisa belajar mencintai Jingga. Tapi ibu minta sama kamu, walaupun kamu belum bisa menyukai Jingga, jangan pernah masukin lelaki itu ke rumahmu. Nad, Biru itu nggak baik, dia itu seperti pria-pria yang nggak bisa tanggungjawab."
Nadya kira sangat percuma untuk public speaking menjelaskan semuanya di depan ibu tapi ibu sangat kekeuh mencintai Biru. Mengedukasi wanita di depannya benar-benar sulit.
"Capek, Bu. Nadya capek." Wanita itu masuk ke kamar, lalu segera membenamkan dirinya pada bantal guling. Sudah berapa kali dia tidak bisa melawan. Semuanya hancur, benar-benar hancur. Kenapa di dunia ini harus ada yang namanya perjodohan? Atau kenapa harus ada tukar jiwa? Ini gila.
"Nat, coba liat ibu. Coba lihat mata ibu." Ibu Nadya duduk di tepi ranjang.
Nadya tak menggubris. Dia sedang tidak nyaman, "Semua ini demi kamu, Nadya. Ibu cuma pengin Nadya dapetin yang terbaik. Dan menurut ibu Jingga itu baik sekali. Dia itu bertanggungjawab."
"Nadya tau, Bu, nggak usah diulang-ulang."
"Terus kenapa kamu masih peduli sama Biru itu?"
"Karena yang Nada suka cuma dia. Cuma Biru."
"Kamu egois, Nadya," celoteh Ibu.
"Ibu yang egois," debat Nadya.
"Dulu, kamu adalah anak ibu yang nggak pernah melawan orang tua kamu. Bahkan setelah kamu gabung dan kenal Biru, tingkah kamu berubah."
"Itu cuma perasaan ibu."
"Nggak tau ibu harus ngomong apa lagi, tapi anak ibu sekarang udah berubah. Ibu ngerasa kalau ibu kehilangan Nadya yang dulu. Nada yang baik sama ibu," kata Ibu. Ya memang. Jujur saja.
Nadya tak menjawab. Dia kayaknya capek untuk terus meladeni orang tuanya. Maksudnya, Nadya tidak mau jika nanti terjadi pertengkaran. Cukup rumit jika bermasalah dengan orang tua, lebih baik ia bermasalah dengan dirinya sendiri.
-To be continued-
Terima kasih sudah mampir dan membaca cerita ini~