Sore ketika senja mulai menciptakan gradasi di langit sana, Biru mengendarai kendara roda duanya dengan pelan. Kaca helm yang dibiarkan terbuka sesekali membiarkan angin menyapu wajahnya. Malang sore hari selalu membuat Biru betah berlama-lama. Kadang-kadang dia bersyukur telah lahir di kota yang damai. Dikelilingi oleh tetangga yang baik, teman-teman yang penuh solidaritas, dan kehidupan yang ... ya kendati dia paham bahwa kisah asmara miliknya tak sesuai dengan rencana tetapi ia berusaha untuk menjalani. Meski kadang dia melampaui batas, contohnya kemarin tentu saja. Ia sudah diberi label jelek oleh orang tua Nadya. Seseorang yang awalnya ingin sekali Biru cari muka padanya, berbuat baik padanya, membuktikan bahwa dirinya telah berubah, tapi karena nafsu semua rencana menjadi berantakan. Ini salahnya yang terlalu buru-buru melakukan hal tak seharusnya. Namun, apakah Biru menyesal? Jelas laki-laki itu akan menjawabnya tidak. Karena menurutnya untuk apa menyesali yang telah lalu dan telah terjadi? Hal itu tak akan kembali seperti sediakala. Mau menangis sekeras apa pun atau memohon selama apa pun, waktu tak akan kembali hanya untuk seseorang saja. Itu ganjaran. Itu balasan.
Biru hanya ingin bertanggungjawab jika dalam kandungan Nadya merupakan buah hatinya. Tapi dia juga belum terlalu meyakini, apakah Nadya benar-benar hamil ataukah tadi pagi hanya mual biasa, Biru tak mengerti. Apa lagi melihat wajah Nadya yang terlihat kesal padanya, Biru semakin ragu mendekati Nadya. Ah tidak, rasa-rasanya Nadya berubah. Pikir Biru. Nadya bukan tipe orang gampangan. Nadya akan menjaga dirinya yang hanya diberikan untuk suaminya. Biru telah mengenal Nadya sangat lama, tapi ... kenapa seakan-akan semua tentang Nadya berubah begitu saja? Kadang-kadang Biru merasa bahwa Nadya berbeda dengan Nadya yang dikenalnya dulu, tapi Biru jelas menyukai perubahan itu. Nadya hari ini lebih berani, lebih terbuka, lebih bisa mengekspresikan keinginannya, dan berani melawan. Dia bukan lagi perempuan melankolis yang hanya mengiyakan permintaan semua orang dan lugu. Nadya hari ini begitu membuat Biru penasaran.
Sesaat, Biru menepikan kendara di tepi jalan ketika merasakan handphone bergetar dari saku levis-nya. Dia mematikan mesin motor, lalu mulai merogoh saku dan mengambil benda pipih dari sana. Terlihat nama adiknya tertera di layar. Riri.
"Halo Ri," sapa Biru.
"Mas Biru, bisa jemput Riri nggak?"
"Kamu lagi tempat les?"
"Iya. Tadi berangkat sama Eva, tapi kucing dia mati, jadi Eva duluan pulang. Riri nggak ada temen. Angkutan umum juga nggak ada yang lewat sini."
"Okay, nanti Mas Biru langsung ke situ."
"Makasih, Mas. Hati-hati."
"Iya."
Biru memasukan kembali handphone di dalam saku celana, lalu memutar balikkan motornya ke menuju tempat les Riri. Adiknya yang berusia 20 tahun itu, selama tiga kali dalam seminggu mengikuti les piano yang berjarak sekitar 3 KM dari rumahnya. Riri enggan mengikuti organisasi. Apalagi dia yang bilangnya salah jurusan, benar-benar seperti tidak ada semangat menjalani kehidupan kuliah dari hari ke hari. Meminta pindah, tapi Riri tak mau jika jauh dari orang tuanya, padahal Biru telah memberikan dua pilihan. Ke Bandung atau Semarang. Menurut Biru, Riri bisa memulai dari awal, meskipun harus tertinggal satu tahun. Dia bisa mengikuti tes mandiri di UGM, UI, UNES, UNY, atau di mana pun Riri mau. Tapi, Riri tak ingin meninggalkan Malang sehingga dia mengorbankan waktunya pada jurusan yang tak pernah dia inginkan.
Biru menaikan laju kendaranya. Dia khawatir jika Riri sendirian. Riri adalah adik satu-satunya, dan kesayangannya. Riri adalah perempuan yang lebih Biru cintai daripada dirinya sendiri. Apa pun tentang Riri, Biru rela melakukan segalanya. Bahkan ketika sebenarnya dia menyuruh Riri untuk meninggalkan Malang pun, Biru tak rela. Benar-benar tak Rela. Tapi membiarkan Riri dalam kesulitan pun membuat Biru khawatir. Namun akhirnya Riri bisa bertahan hingga di semester lima ini, dengan nilai IP yang cukup dan Biru tak pernah meminta Riri untuk memforsir otaknya. Yang penting Riri bisa lulus, itu saja.
Sekitar empat menit kemudian, Biru sampai di depan bangunan cokelat muda, berpagar hitam. Perempuan berkaus oversize serta bercelana kulot biru muda keluar. Sesekali dia tampak membenarkan letak totebag-nya, lalu tersenyum ke arah Biru ketika langkahnya makin dekat.
"Mas Biru, aku laper. Jangan langsung pulang, ya!" katanya.
"Mau ke mana dulu? Makan di mana?" Biru bertanya lembut.
"Aku pengin beli nasi goreng deket alun-alun."
"Udah sore, Ri," tolak Biru halus. Walau dia tak yakin Riri akan mengerti maksudnya.
"Ayolah Mas Biru, lagian besok aku libur. Aku pengin jalan-jalan dulu bentar." Kali ini Riri memaksa.
"Gimana kalau jalan-jalannya besok aja. Sekarang Mas Biru yang masakin nasi goreng buat Riri?" Sebagai Kakak, dia mencoba menawarkan bakatnya yang memang tidak terasah-terasah amat.
"Enggak mau ah. Aku pengin ke alun-alun." Riri menolak mentah-mentah.
"Ya udah ayo." Biru pasrah.
"Nah gitu dong." Dia tersenyum.
Riri langsung naik ke atas jok motor Biru. Dari tempat les ke alun-alun sekitar 30 menit. Riri memang keras kepala, tapi akhirnya Biru menurut juga. Kedua kakak beradik itu akhirnya pergi menuju alun-alun kota Malang yang berada di kecamatan Klojen. Padahal dari Batu ke Klojen bisa sampai 35-40 menit, atau sekitar 18 KM ditambah hari telah petang tetapi Riri memang tidak dapat ditentang.
"Mas Biru ... Mas Biru nggak papa, kan?" Di tengah jalan, Riri tiba-tiba bertanya.
"Kenapa Riri tanya gitu?"
"Enggak papa. Soalnya selepas Mbak Nadya nikah, Mas Biru nambah jadi pendiem. Aku jadi kesepian." Riri menaruh dagunya di pundak Biru sembari melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang Kakak, perempuan itu tampak asyik menikmati jalanan sore.
"Maafkan Mas Biru ya, Ri."
"Padahal Riri kangen Mas Biru dulu. Mas Biru banyak berubah karena cewek. Riri jadi males di rumah. Nggak ada temen." Gadis itu mengercutkan bibirnya.
Biru tertawa kecil. "Makanya ikut organisasi."
"Males dan udah telat juga. Mas Biru, lagian cewek bukan cuma Mbak Nadya. Banyak yang suka Mas Biru, tapi kenapa Mas Biru cuma suka Mbak Nadya. Iya sih, mungkin Mbak Nadya cinta pertama Mas Biru, tapi kalau Mbak Nadya udah memutuskan hal yang nggak bisa diubah, kan, apa boleh buat." Riri seakan mencoba menasihati. Mungkin dia memang benar-benar merasakan perubahan Biru.
"Riri belum paham. Nanti ada waktunya Riri paham semuanya."
Setelah itu hening, Riri sibuk memperhatikan jalanan sementara Biru sibuk memperhatikan jalan. Dia menaikan laju kendaranya agar tidak terlalu malam. Sesungguhnya Biru paling sering melarang Riri keluar malam, dia paling overprotektif, dan Riri hanya berani keluar malam jika bersama Biru saja.
Menit bergulir, mereka sampai di alun-alun Malang yang ramai. Orang-orang masih tampak berlalu-lalang dan banyak yang duduk-duduk saja untuk menghabiskan malamnya di sana. Biru mengarahkan kendaranya menuju tempat parkir, lalu keduanya turun. Mereka berjalan bersebalahan menuju tempat jualan nasi goreng di sekitar alun-alun. Mereka memesan dua beserta es tehnya.
Riri duduk di kursi bersama Biru. Sesekali perempuan itu menatap alun-alun dari kejauhan. "Tau nggak, Mas, ada yang suka sama Riri. Tapi, Riri enggak mau."
"Riri udah nolak berapa orang?" Biru tertawa kecil.
"Riri enggak mau pacaran dulu. Tapi kalau yang ini beda, Mas. Dia wakil BEM, terus baik juga sama Riri. Waktu tadi sore Riri mau pulang aja, dia nawarin mau jemput, tapi Riri tolak. Terus, dia juga sering bantuin tugas Riri." Dia bercerita tapi sedikit pun Biru tak lihat adanya antusias di matanya.
"Ri, namanya cowok ya kalau PDKT pasti baik. Beda lagi kalau udah nikah. Kadang pacaran lama aja masih bisa nutupin aib loh, Ri. Mas nggak ngelarang Riri mau suka sama siapa, tapi jangan pacaran."
"Tapi Mas Biru, kan, pacaran. Kenapa Riri nggak boleh?"
"Kamu cewek."
"Ya kenapa kalau cewek. Mbak Nadya juga cewek."
"Riri, pokoknya jangan. Enggak semuanya setulus yang kamu kira, Ri. Gini deh, kalau Riri pacaran Riri bakalan nggak fokus lagi sama kuliah Riri. Ya, emang nggak semua orang begini tapi ada kalanya kamu bakal lebih fokus sama pacar kamu. Belum kalau nanti-nanti bakal dibenturkan sama patah hati. Jodoh nggak ada yang tau, Ri."
"Tapi kadang-kadang aku kesepian. Waktu kita masih di Jakarta aku seneng banget karena banyak temen, tapi kekurangannya aku nggak betah karena kotanya dan pergaulannya. Aku takut sama pergaulan Jakarta. Pas balik lagi ke sini, Mas Biru berubah. Dan semuanya mulai sepi."
Biru terdiam. Dia merasa kasihan pada Riri. Dia terlampau sadar bahwa akhir-akhir ini memang tak memiliki waktu untuk Riri. Biru ... sebelum kenal Nadya sering mengajak Riri bepergian, bahkan jika hanya sekadar membeli kebutuhan rumah ketika dipinta ibunya. Tapi selepas pergi dari Nadya, Biru telah menjadi Biru yang baru dan jelas-jelas tidak asyik. Bahkan Riri sang adik sangat menyadarinya. Biru sering murung, menghabiskan waktu di depan laptop, menulis banyak kata-kata pada halaman-halaman, kemudian ketika sudah terkenal dengan namanya Tangkai Ra, dia tak lagi berada di rumah. Rumah hanya tempat kedua, tempat pulang pertamanya adalah panggung-panggung mengisi undangan, menjadi pembicara, dan membuka kelas-kelas hingga jaraknya dengan Riri benar-benar jauh.
Di sela-sela hening, pesanan mereka datang. Riri mulai melahap nasi goreng miliknya, sementara Biru masih memperhatikan adiknya. Ia merasa bersalah. Paling tidak, mungkin ini adalah hal-hal yang dipendam Riri sejak lama.
"Enggak usah dipikirkan omongan-omongan aku. Riri tahu Mas lebih suka di luar daripada di rumah. Ya udah enggak papa." Sembari mengunyah Riri berkata. Dia tampak menyembunyikan emosinya dan Biru tahu apa yang dimaksud Riri.
Biru meletakan tangannya di atas kepala adiknya. Riri terdiam, Biru kemudian mengusap kepala Riri pelan, "Maafkan Mas Biru ya, Ri. Dan ini jawaban kenapa Riri nggak boleh pacaran. Laki-laki kadang bertindak b******n. Kadang-kadang dia pergi gitu aja, kadang-kadang juga dia nyakitin perempuan. Mas nggak mau kalau nanti Riri berubah. Mas Biru nggak mau kalau nanti hidup Riri hancur. Mas Biru sayang sama Riri, dan tolong jangan pacaran demi Ibu, bapak dan Mas Biru. Riri harus fokus sama kehidupan Riri dan jangan sampai ada laki-laki yang nyakitin hati kamu. Bilang sama Mas Biru kalau ada yang berani bikin kamu terluka, ya. Karena kamu nggak pantas buat dilukai mereka.
"Riri itu baik banget. Mas Biru sadar. Bahkan baiknya Riri itu bukan cuma sama kami aja, tapi sama temen-temen Riri juga. Mas nggak mau kalau ada laki-laki yang nyakitin kamu, karena kamu emang nggak pantes buat terluka, Ri. Pokoknya Riri harus jauhi hal-hal yang nggak penting, fokus belajar dan pikirkan masa depan Riri." Lelaki itu menurunkan tangannya, kemudian mulai menyentuh sendok dan mulai menyendok nasi goreng miliknya.
Riri tak menjawab, dia sibuk memandang lalu lalang orang-orang serta mungkin ... dia juga tengah memikirkan perasannya. Sementara Biru mulai sibuk dengan nasi goreng di piringnya. Rasanya sudah lama dia tak mengajak Riri keluar. Dulu, Biru kecil dan Riri adalah sepasang kakak adik yang selalu kabur keluar rumah untuk sekadar pergi lihat petasan di luar atau tak langsung pulang ke rumah ketika sudah waktunya pulang sekolah. Mereka bermain lari-lari di sawah, mengambil buah-buahan di kebun milik tetangga, lalu dimarahi sang ayah. Ayah mereka akhirnya membayar kerugian yang disebabkan Biru dan Riri kecil.
"Biru ... jagain Riri. Ke mana pun kamu pergi, ajak Riri. Dia saudara kamu satu-satunya. Kalau suatu saat ibu dan bapak pergi, Riri hanya punya kamu dan kamu cuma punya Riri. Jangan pernah sakiti Riri ya, Biru."
Hingga sekarang Biru masih mengingat kata-kata ayahnya. Dan perempuan di sampingnya adalah benar ... bahwa dia adalah satu-satunya saudara yang Biru miliki. Biru tak lagi memiliki saudara lain selain Riri. Apalagi keluarga mereka yang sempat pindah ke Jakarta, kemudian kembali lagi ke Malang dan dirikan rumah yang jauh dari tempat sebelumnya, membuat mereka benar-benar asing di tanah sendiri.
"Riri juga sayang sama Mas Biru. Riri cuma punya Mas Biru. Ibu pernah bilang, bahwa Riri nggak boleh bertengkar sama Mas Biru, aku nggak boleh nakal sama Mas Biru dan Ibu marah kalau Riri naruh banyak capung di kamar Mas Biru. Kata ibu, Mas Biru takut sama capung, jadi Riri nggak boleh ngelakuin itu. Gimana kalau nanti Mas Biru benci Riri? Abis itu Riri berpikir, kalau Mas Biru sampai benci sama Riri, Riri nggak akan punya temen. Waktu itu ibu meluk Riri, dan dia bilang bahwa kami berdua harus akur satu sama lain. Karena kita hanya berempat. Ibu maupun bapak nggak punya saudara dekat. Adik-adik bapak tinggal di Aceh, kakak-kakak dan adik ibu tinggal di Sumatera. Dan cuma kami yang memilih di Jawa. Abis itu Riri ngerasa bahwa cuma Mas Biru satu-satunya temen Riri, dan cuma Mas Biru yang bisa Riri andalkan.
"Riri minta maaf kalau Riri banyak menuntut Mas Biru untuk melakukan banyak hal sama Riri. Riri nggak tau terima kasih padahal, Mas Biru yang bayar UKT Riri, Mas Biru yang belikan laptop Riri, ponsel Riri, sampai kadang-kadang Mas Biru juga yang belikan apa-apa yang Riri butuhkan. Tapi Riri masih juga menuntut Mas Biru hal-hal lain yang mungkin nggak bisa Mas Biru lakukan sekarang, Riri minta maaf."
"Ri, kamu ngomong apa sih." Biru menegur. Pasalnya dia tak suka jika Riri sudah membahas biaya-biaya yang Biru keluarkan untuknya. Itu hanyalah perihal materi, sementara Riri adalah segalanya bagi Biru.
"Tapi bener, kan?" Riri bertanya retoris.
"Enggak. Kamu salah. Kamu nggak salah kok buat menuntut Mas Biru kayak sebelumnya, tapi di sini emang Mas Biru yang salah. Mas Biru belum bisa. Ada hal-hal yang harus Mas Biru selesaikan. Dan Mas Biru minta Riri untuk paham. Mas Biru pengin menyelesaikan semuanya dan kembali menjadi Mas Biru sebelumnya. Ri, gimana pun keadaan Mas Biru saat ini kamu harus paham kalau rasa sayang Mas Biru ke Riri masih sama, nggak berubah sedikit pun. Ini semua hanya perihal waktu. Kalau tiba-tiba Mas Biru diem, atau apa pun, itu bukan karena siapa pun apa lagi Riri. Mas Biru cuma butuh waktu. Mas Biru minta maaf ya. Mas Biru bener-bener minta maaf."
"Iya Riri paham."
Lagi-lagi Biru benar merasa bersalah. Andai saja sejak awal dia tidak pernah jatuh pada lubang asmara, mungkin semua akan baik-baik saja dan masih seperti sediakala. Namun, Biru menikmati semuanya. Ia menikmati saat dirinya jatuh cinta pada Nadya dan saat patah pun dia masih menikmati itu.
To be continued~
Terima kasih sudah membaca cerita ini ^^