"Kalian abis dari mana? Tumben berdua." Sang ibu baru saja beres merapikan dapur ketika Biru dan Riri baru saja pulang dari alun-alun pukul 21.30.
"Riri abis malak Mas Biru. Soalnya udah lama juga nggak keluar sama dia." Riri menjawab sembari menaruh totebag kursi dengan asal.
Biru berjalan ke arah dispenser, mengambil air dingin lalu segera membawanya ke kamar. Rasanya dia terlampau malu untuk menatap wajah ibu. Selepas melakukan perbuatan yang tak seharusnya dilakukan, Biru benar-benar tidak tega menatap wanita itu.
Dia meletakan gelas di meja, melepas jaket yang kemudian digantung di balik pintu, sebelum akhirnya ia merebahkan tubuh di sofa sembari menekan pelipisnya yang terasa berat. Setidaknya perbincangan dengan Riri membuatnya tersadar tentang kesalahan-kesalahan yang ia perbuat.
"Biru ...." Seorang wanita masuk ke kamarnya.
"Ibu, ada apa?" tanya Biru.
"Sebelum tidur, mandilah dulu." Ibu meletakan teh hijau hangat di atas meja. Selain kopi, Biru memang sangat menyukai teh hijau.
"Iya nanti Biru mandi." Biru menjawab seadanya. Lagi-lagi dia terlampau sungkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ibu.
"Abis ngajak Riri ke mana?"
"Alun-alun. Katanya dia ngerasa sepi kalau udah di rumah. Mungkin karena Biru yang udah nggak kayak dulu ya, Bu. Biru terlalu sibuk mementingkan kehidupan Biru, sampai-sampai Biru lupa rumah." Biru meraih gelas di depan, kemudian mulai menyesap tehnya sedikit demi sedikit. Ibu yang duduk di sebelah menatap anaknya dalam, seakan dia tahu segala hal yang telah Biru lalui.
"Enggak ada yang salah sama Biru. Salah Riri juga karena dia susah berteman sama orang lain, jadi dia cuma mau sama kamu. Cuma nyaman sama kamu. Dan sekarang waktu kamu lagi nggak bisa sama dia, dia jadi susah sendiri. Ngerasa sepi. Mungkin ini karena ibu dan bapak pun jarang di rumah. Bapak sibuk di desa, Ibu sibuk berkebun."
"Sudahlah, Bu. Lagian sekarang ini udah waktunya Ibu buat ngelakuin apa yang Ibu suka. Enggak usah terlalu mikirin Riri. Biru di sini." Biru tersenyum.
Ibu mengusap pundak anaknya pelan. "Makasih ya, Biru ... sudah jadi anak kesayangan ibu. Ke mana pun Biru pergi, Ibu nggak akan ngelarang Biru lagi, asalkan kamu tetap menjadi orang baik, Nak. Itu aja. Biru bebas mau jadi apa pun yang Biru mau, asalkan nggak merugikan orang lain. Ibu dan bapak bangga punya Biru."
Biru terdiam. Selalu perkataan itu yang diulang-ulang orang tuanya. Dan Biru benar-benar tak siap jika nanti ibu dan ayah akan mendengarkan kabar tidak mengenakan. Memalukan keluarga. Biru menggeleng pelan, bagaimana jika kabar itu pada akhirnya sampai di telinga kedua orang tuanya? Apa yang harus ia jelaskan?
"Ibu keluar dulu, ya. Jangan lupa mandi." Sekali lagi ibu menepuk pelan pundak Biru.
Biru tak menjawab. Selepas ibu keluar, Biru benar-benar dilanda kepanikan. Tapi, ini sudah terjadi pikirnya. Jika Nadya hamil dan memang bayi itu anaknya, bukannya Biru memang harus bertanggung jawab? Atau paling tidak Biru harus mengakui? Tapi di situasi seperti ini di mana Nadya masih tak mengetahui status dirinya sendiri, kemudian ditambah Biru yang diusir orang tua Nadya, benar-benar membuat dia tak bisa berpikir lebih jernih kecuali menyingkirkan Jingga? Ah, konyol. Tidak, bagaimana caranya dan itu tidak fair. Biru tidak akan menyingkirkan Jingga karena sebab anak yang dikandung Nadya.
Dia meraih ponsel, lalu menekan kontak Nadya dan menelponnya.
"Ada apa, Biru?" tanya seseorang dari seberang sana.
"Kamu udah cek kandunganmu?" tanya Biru.
Lama tak ada jawaban. Sebelum akhirnya suara yang sangat amat pelan menjawab. "Iya, tapi ... kamu nggak usah mikirin. Belum pasti aku hamil. Dan kalaupun hamil, aku nggak tau ini anak siapa."
"Kenapa kamu nggak tahu?" Biru bertanya hal bodoh.
"Dalam satu minggu aku melakukannya dengan dua orang berbeda. Kamu pikir aku bisa tau ini anakmu atau Jingga? Biru, kalau ini anakmu bagaimana?"
"Aku akan membesarkan dia."
"Sumpah, ini bikin aku muak. Semuanya. Aku belum kasih tahu Jingga dan aku pun belum kasih tahu orang tuaku. Karena aku takut mereka bakal marah sama kamu kalau akhirnya tahu kalau ini anakmu."
"Lepaskan Jingga, dan kita nikah selesai."
"Enggak boleh. Kamu nggak boleh nikah sama Nadya!"
"Tapi kamu Nadya, kenapa aku nggak boleh nikah sama kamu kalau emang kamu juga mencintaiku."
"Biru, ah udahlah. Pokoknya kamu nggak boleh nikah sama orang yang udah bersuami. Sabarlah, Biru. Kamu nggak harus menikah hari ini. Biar aku sama Jingga, ya. Aku mencintai Jingga. Benar, aku amat sayang sama Jingga."
Sambungan langsung mati. Biru menatap layar ponselnya dengan bingung. Akhir-akhir ini bahasa yang digunakan Nadya memang berbeda, kadang-kadang terdapat ambiguitas dan tak jarang Biru tak paham. Kenapa juga tiba-tiba Nadya mengatakan bahwa dia menyukai Jingga, padahal dua hari yang lalu seminggu yang lalu, Nadya masih mengatakan kalimat yang membuat Biru ingin menetap. Biru tahu bahwa manusia itu memang mudah berubah, tapi apakah memang secepat itu?
Dia membuka surel, lalu melihat beberapa kotak masuk yang memintanya untuk menjadi pembicara dan membuka kelas. Tanpa pikir panjang, Biru langsung mengiyakan dan menyetujui undangan tersebut. Paling tidak, dia bisa melupakan sebentar urusan perasaannya dengan berpaling pada pekerjaan. Bulan depan, dia akan kembali ke luar kota, menemui penggemar-penggemarnya dan lari dari kenyataan. Lari? Tidak tentu saja. Self healing. Setidaknya itu yang harus Biru lakukan. Memandang wajah Nadya memang self healing terbaik, tetapi mengingat statusnya yang telah menikah dengan orang lain tidak serta merta membuat Biru kena mental. Semesta memang manipulatif. Ia pandai memanipulasi perasaan dan keadaan.
**
Selepas mandi dan memakai piyama, lelaki itu membuka laptop dan melanjutkan lagi tulisannya yang sudah lama tak dilanjutkan. Minggu depan Mendung Pagi mulai open pre order, dan di laptopnya, naskah baru telah menunggu untuk kembali diterbitkan. Biru sangat menyukai menulis dan bersembunyi di balik nama tangkai Ra. Rasanya nyaman dan tidak diketahui oleh siapa pun selain keluarga dan penerbit yang terlibat. Ketika suatu acara mengundangnya, ia membuat perjanjian dengan tak memublikasinya pada media-media mainstream, mereka juga harus berjanji bahwa wajahnya tak boleh dipotret oleh siapa pun jika bertujuan untuk menyebarkannya. Namun, itu dulu. Hari ini Biru menghapus perjanjian itu dan dia akan tampil apa adanya sebagai Biru. Karena Nadya telah ia temukan, dan persoalan cinta sudah kelar meski berakhir menyedihkan. Paling tidak Biru akan tampil sebagai dirinya sendiri. Sebagai Biru yang telah melakukan banyak perjalanan.
Biru, kamu yakin menghapus surat perjanjian itu?
Yakin, saya udah memikirkannya. Santai aja. Saya bukan pecandu, bukan pengedar, bukan penipu, semua akan baik-baik aja.
Bukan gitu, Biru ... saya bahagia kalau sekarang kamu udah berani terbuka. Saya yakin ini gebrakan awal yang kelak akan membuat karirmu lebih maju lagi.
Kita lihat aja, Moka. Saya nggak yakin, cuma memang udah waktunya. Saya nggak bisa kalau terus-terusan menutupi. Toh kayaknya ada dari temen-temen saya yang udah tahu.
Okay gapapa. Berarti awal bulan nanti saya akan kasih beberapa jadwal ke kamu, dan saya harap kamu tidak membatalkannya.
Siap. Kirimkan aja.
Setelah itu Biru menutup ponselnya. Sang manager dia yakin betul bahwa ia senang. Biru tahu bahwa sejak dulu admin media sosial memang menginginkannya untuk tampil lebih terbuka, tapi Biru baru bisa membuat keputusan hari ini. Pada akhirnya semua orang akan tahu siapa sebenarnya dia. Biru kembali menatap tulisannya yang berjudul 'Jika Tak Harus Memiliki' kisah itu tertulis tentang sepasang kekasih yang awalnya saling mencintai lalu di antara salah satunya pergi karena kehendak semesta. Sang lelaki ditinggalkan oleh perempuannya dalam keadaan ia sangat mencintainya. Mereka telah berjanji akan menikah dan semua perlengkapan telah disiapkan. Memesan cathering, menyebar undangan, dan tentu saja halaman outdoor juga. Tapi sayangnya sang perempuan pergi karena sebab sakit dan sang lelaki memilih untuk menetap di makam perempuannya selama tiga hari tiga malam. Dia seperti orang gila yang kehilangan dunia, dia terlihat hancur, bahkan ketika kedua orang tuanya meminta dia untuk pulang, dia enggak meninggalkan kuburan itu. Hingga di hari keempat, lelaki itu ikut serta meninggal.
Biru tersenyum, seperti kisah sadis Romeo dan Juliet, tapi tentu saja ia tambahi bumbu lain. Misalnya kematian perempuan itu sesungguhnya karena sebab dibunuh oleh seseorang yang mencintai lelaki itu sejak lama. Biru sendiri bingung akan menetapkan genre seperti apa, maksudnya genre apa yang masuk untuk novel yang tengah ditulisnya ini, tetapi dia hanya yakin bahwa romansa tak pernah mati. Dia juga menuliskan bahwa lelaki itu seorang pendaki, dan awalnya berjanji bahwa ia akan mengajak perempuannya mendaki selepas menikah, tetapi kenyataannya kosong. Tak ada pendakian, yang ada hanya kehilangan dan kematian saja.
"Mas Biru, ini loh dompetnya." Riri tiba-tiba membuka pintu, kemudian melangkah ke arah Biru dan meletakkan dompet kakaknya di atas meja. "Tulisan baru lagi? Jangan bilang kalau akhirnya sad lagi," komentar Riri.
"Nggak ada akhir yang bener-bener bahagia, Ri."
"Kamu emang spesialisnya sad ending, Mas." Riri membaca halaman 37 yang ditulis oleh kakaknya. Dia tampak mengerutkan dahi, lalu berdiri tegak menghadap Biru. "Beneran bikin tokoh lelaki nggak pernah yang cakep. Pasti ada aja kekurangannya yang nggak habis pikir. Sekali-kali coba bikin tokoh lelaki yang keren abis."
"Yang keren kan cuma Mas Biru."
"Ish enggak, ya. Mas Biru sok keren. Tolong bedakan keren dan sok keren." Riri mengingatkan. Suaranya cukup keras, di depan Biru dia memang jauh dari kesan perempuan lemah lembut.
"Ngaku aja, Ri." Biru bercanda. Dia memang hobi sekali menggoda Riri.
"Ye, kasih dulu sejuta, baru nanti kubilang keren." Riri menantang.
"Beneran cuma sejuta?" Biru tertawa.
"Mas Biru tuh, ya! Pokoknya Mas Biru B aja. Nggak ada keren-kerennya sama sekali. Kalau bukan penulis, Mas Biru cuma mas-mas Malang biasa yang hobinya tangkrang-tongkrong ra jelas," celoteh Riri.
"Ye tapi kamu bangga nggak, punya Mas kayak Mas Biru?"
"Enggak tuh biasa aja."
"Yakin? Mau gitu tukeran sama Mas-mas lain?"
"Ih enggak mau, ya. Soalnya Mas Biru itu baik sama Riri. Enggak deh, soalnya cuma Mas Biru yang mau diajak keluar sama Riri. Gimana kalau tukeran nanti dapetnya lebih sibuk, kan sama aja ntar aku sendirian. Dan lagian kalau dapet mas-mas yang lebih ganteng daripada Mas Biru, Riri nggak bisa ngeledekin dong."
"Oh berarti cuma pengin ngeledek Mas Biru aja?"
"Enggak sih, ya pokoknya Riri nggak mau deh kalau bukan Mas Biru. Tapi kalau dituker sama Cha Eun Woo itu beda lagi. Tapi daripada jadi kakak, lebih enak dijadikan suami."
"Makin malem makin ngelantur," komentar Biru.
"Tapi Mas Biru, tolong dong dengerin aku selaku prodi pendidikan Bahasa Indonesia yang terpaksa ini, di sini aku berdiri bukan hanya sebagai adikmu tapi sebagai pencinta karakter fiksi juga, tolong buat tokoh yang ganteng, kaya, biar pembacamu mudah terkesan. Dan tolong tokohmu itu satu aja jangan ngerokok, banyak loh cewek-cewek yang nggak suka cowok perokok. Tolong ya, Mas Biru dengarkan aku. Kenapa kamu selalu ciptakan karakter yang nggak suami-able banget. Maksudku tampangnya biasa aja, bahkan ada tuh di salah satu novelmu yang karakter cowoknya kayak bukan manusia. Kamu kalau deskripsikan yang bener aja," omel Riri.
"Tapi menurutmu kenapa novel Mas Biru selalu laku keras walaupun katamu nggak suami-able banget?" Biru berbalik tanya. Sebenernya mungkin dia juga ingin tahu. Biru memang pernah survei bahwa pembaca buku-bukunya 60% dibaca oleh wanita berusia 20-35 tahun, sementara yang di bawah itu hanya sedikit saja. Seharusnya Riri sudah masuk ke deretan 60% itu.
"Ya mungkin pertama, alur ceritamu bagus. Kedua, kamu udah punya nama. Dan ketiga, novel-novelmu terbit di penerbit yang udah oke banget. Jadi nggak menutup kemungkinan novel-novelmu selalu best seller," jawab Riri.
"Nah, berarti sekarang kamu paham dong, Ri, kalau penyebab bagus atau tidaknya novel yang pertama adalah karena alurnya. Tokoh bisa dinomor duakan, tapi alur itu yang penting. Bener, kan?" Biru tersenyum puas. Rasanya dia senang sekali dapat mematahkan argumen Riri.
"Ya tapi tetep aja sekali-kali Mas Biru harus bikin tokoh yang ganteng, cuek, dan kaya gitu. Pokoknya darah birulah yang biasa naik mobil atau motor sport. Kamu tau Daisuke Kambe yang di anime Jepang itu nggak sih, Mas? Aku cuma tau itu sih karena karakter utamanya keren banget. Pokoknya kamu harus bikin yang kayak gitu," ujar Riri. Sepertinya dia mencoba mendesak kakaknya agar membuat karakter yang paling ia sukai. Maksudnya karakter yang nyaris sempurna.
Biru hanya tertawa, setelah itu Riri langsung pergi. Biru kembali melanjutkan tulisannya. Kadang-kadang Riri memang kekanakan, tapi Biru menyukai sifat manja adiknya. Jika tak ada Riri, rumah memang sangat sepi. Ah tapi dipikir-pikir Biru memang tak pernah membuat tokoh yang sempurna, menurutnya itu irasional. Di dunia ini tak ada yang tak memiliki kekurangan, dan Biru dia bukan lelaki yang mendambakan sesama lelaki. Bagi Biru membuat karakter yang cantik dan berpenderian lebih menantang. Namun, selalu saja tokoh-tokoh di novelnya dikomentari oleh Riri. Dipikir-pikir Riri memang komentator terpedas yang dia punya. Masuk pada prodi pendidikan Bahasa Indonesia, membuat Riri amat kritis dalam membahas beberapa hal mengenai literasi. Tapi tak jarang dia memuji kakaknya walau secara implisit, karena Riri memang tipe-tipe adik yang tak bisa mengungkapkan sayangnya pada sang kakak secara langsung. Dan Biru menyadari itu. Biasanya lelaki yang akan seperti itu, tapi tidak. Bahkan Biru mudah sekali jujur pada Riri bahwa dia sangat menyayangi adiknya. Seperti kata-katanya ketika di alun-alun dan Biru hobi sekali untuk mengulangnya lagi dan lagi di depan Riri.
To be continued~
Terima kasih sudah membaca cerita ini ^^