018. Antara Biru dan Jingga

1715 Words
Di depan kaca, Nadya melihat dirinya yang mengenakan dress putih selutut. Setelah memoles bibirnya dengan lipstik merah, dan mengikat rambut panjang apa adanya, pagi ini dia akan berjalan-jalan sekadar menghirup angin pagi. Padahal kata Dokter kandungan ia harus istirahat paling tidak selama seminggu. Tapi dia terlanjur ingin keluar dan perihal istirahat setiap hari pun ia selalu istirahat. Jika nanti novel Biru sudah pre order pun mungkin dia akan ambil cuti saja. Ah, Nadya ... maafin gue yang ternyata nggak bisa ngatur waktu dan amat plin-plan. Tapi gue emang nggak sesuka ini sama bekerja, maksud gue walaupun kerjaan lo nggak berat-berat amat, tapi gue rada males buat rajin. Nadya mengambil handphone dari kursi, lalu keluar. Terlihat para tetangga yang sedang berkumpul di tukang sayur yang berhenti pada tepi jalan. Sayup-sayup terdengar gosip yang membicarakan tetangga sebelah kanan yang katanya tiba-tiba kurus, kemudian ada tetangga sebelah kiri yang bercerai, tetangga depan yang usahanya sukses abis, dan tetangga belakang yang tiba-tiba melahirkan walau tanpa bapak. Menurut Nadya itu adalah hal-hal lumrah tapi jika di desa hal-hal seperti itu dirujak habis-habisan. Tatap mata ibu-ibu yang berada di sana kemudian beralih ke arah Nadya, perempuan itu tersenyum sekadar bersikap sopan seperti Nadya lama, sebelum akhirnya dia langsung pergi setelah mengunci pintu rumahnya kemudian. Dia tak tahu langkah akan membawanya ke mana. Sejujurnya hari ini dia ingin hamburger, pizza, atau paling tidak dia kangen rasa donat matcha. Uang dari Jingga akan dibelanjakan untuk membeli sunscreen dan donat jika sempat. Sampai sekarang ia belum paham betul jalanan desa ini, kecuali beberapa tempat saja. Di jalan, handphone miliknya berdering. Dia melihat nama Jingga tertera di layar. Nadya sendiri lupa bahwa dia harus mengabarkan Jingga perihal kandungannya kini, dia bukan orang yang bisa memberi surprise pada orang yang tak dicintainya. "Ya halo, Jingga," sapa Nadya. "Gimana kabarnya, Sayang?" "Baik. Kamu sendiri gimana? Di sana lancar?" tanya Nadya. Air wajahnya terlihat malas untuk membalas perkataan-perkataan Jingga, tetapi Nadya tengah berusaha menikmati setiap drama yang ada. "Ah, lancar alhamdulilah. Kayaknya aku juga nggak sampai enam bulan sih di sini, Nat. Ternyata bisa lebih cepet dari dugaanku, loh. Mungkin tiga bulan lagi kita udah bisa sama-sama lagi." Suara Jingga tampak menggebu-gebu. Seperti seseorang yang tengah dalam kerinduan. Nadya tak paham, tapi suara Jingga terdengar amat semangat. "Ah gitu. Ya udah cepet pulang deh kalau emang bisa pulang sesegara mungkin. Anakmu pasti kangen kamu juga nih." "Anak?" "Iya. Jingga ... aku hamil." "Hamil?" "Iya. Kenapa? Kok suaramu kayak nggak seneng gitu? Bukannya ini yang kamu mau? Bukannya kamu emang pengin banget punya anak, dan orang tua kita juga pengin banget mereka punya cucu, iya kan?" Nadya bingung sendiri. Jingga memang sedikit aneh, tapi bodo amatlah. Yang terpenting dia sedang mengandung itu saja. "Ah iya aku seneng kok. Seneng banget, akhirnya Allah mengizinkan kita punya momongan. Aku jadi nggak sabar buat pulang, Nat. Dan aku akan coba memastikan ke Dokter bahwa penyakitku udah sembuh. Aku cukup kaget soalnya denger kamu hamil." "Maksud kamu apa? Penyakit apa?" "Ehm bukan penyakit juga sih. Cuma maaf kalau mungkin bahasaku terlalu frontal. Kadang aku merasakan nyeri di area tertentu, dan aku pernah periksa bahwa ini bisa jadi penyebab aku kesulitan punya anak. Cuma ternyata semudah itu ... berarti mungkin aku udah sembuh atau ya namanya juga keajaiban pasti selalu ada, kan?" Nadya terdiam. Dia kaget mendengar penuturan Jingga tentu saja. Jika memang kenyataannya seperti itu berarti dalam rahimnya kini adalah anak dari Biru. Iya, anak Biru. Toh sebenernya Nadya sudah curiga sejak awal, dia hanya munafik dan tidak mau mengakui bahwa yang dikandungnya adalah anak Biru. Tapi jika memang anak Biru, bagaimana Nadya mengatakan hal sejujurnya terhadap Jingga dan mengakui kesalahannya. Gila. Ini gila. Apa mungkin dia harus melakukan aborsi saja? Ah, tidak. Itu hal salah. Nadya tolong ... jaga kewarasan lo. Itu bukan anak hewan yang gampang lo atur nasibnya. Nat, tolong jaga kewarasan lo, ya. Lo manusia. Nadya memberi mantra untuk dirinya sendiri. "Aku nggak sabar akhirnya akan jadi Bapak. Kira-kira anak kita laki-laki atau perempuan ya, Nat?" Jingga berkata santai. Dia seakan tak curiga sedikitpun dengan kehamilan Nadya. Apakah Nadya sebegitu baik sehingga Jingga amat sangat percaya pada Nadya. Tapi sayang sekali bahwa kini yang di dalam tubuh Nadya bukanlah Nadya alim dan lemah lembut itu, tapi Caramel yang nekat melakukan apa pun demi tujuan dirinya tercapai. "Ah ya, cepatlah pulang. Aku nunggu kamu di sini. Oh ya, ini aku lagi di jalan mau beli kebutuhan. Aku tutup dulu sambungannya. Nanti lain kali aku telepon lagi." "Loh, Nat, bukannya kamu harus istirahat. Aku nggak mau kamu capek." "Bentar lagian. Abis ini aku langsung pulang." "Bener ya, Nat, aku nggak mau kamu kenapa-napa." "Iya astaga. Trust me." "Okay, tapi kalau kamu butuh ART, nanti aku datangkan buat kamu. Gimana? Mau? Aku nggak mau kalau nanti kamu capek banget selama di rumah." "Ide bagus. Okay datangkan satu buatku. Dan tolong kalau bisa jangan yang bawel, ya. Yang bisa masak tapi masaknya nggak kemanisan. By the way, thanks udah ngasih ide begini, kenapa gitu nggak sejak awal." "Soalnya aku juga baru kepikiran sekarang, sih. Okay, Nat. Jaga dirimu baik-baik, ya. Besok atau lusa mungkin udah ada ART yang datang tapi jangan galak-galak loh sama dia." "I know, tenang aja dong. Emang aku ini macan apa," omel Nadya. "Okay sip. Love you." "Ya oke." Nadya langsung mematikan sambungannya kemudian melanjutkan langkahnya menuju taman yang tak terlalu jauh dengan rumahnya. Dia masih memikirkan kandungannya saat ini, yang ternyata adalah anak Biru. Jika sudah begini apakah ia masih memiliki harapan dengan seseorang bernama Biru. Maksudnya apakah Caramel bisa mendapatkan Biru? Bagaimana jika nanti Biru malah menikah dengan Nadya? Tidak, ini tidak boleh terjadi. Demi apa pun ini tak boleh terjadi. Di taman yang cukup ramai karena bertepatan dengan hari libur, Nadya duduk di sana sembari sesekali memegang perutnya yang masih belum menonjol. Dia tidak tahu harus melakukan apa kecuali berbicara pada Biru. Tapi jika Biru mengetahui semuanya dia pasti akan kekeuh dan mungkin lebih getol mendekati Nadya. Bisa-bisa dia juga akan nekat meminta izin untuk tinggal di rumah Nadya. Ah, berbagai spekulasi akhirnya muncul. Namun untuk saat ini Nadya akan merahasiakan tentang bayi ini terlebih dahulu. Biarkan Biru sibuk dengan pekerjaannya. Toh semua ini akan menjadi gawat jika Jingga mengetahui bahwa yang dikandung Nadya adalah anak Biru. Bagaimana jika keduanya berkelahi dan berita itu terdengar wartawan? Maka karir Biru adalah taruhannya. Tidak. Nadya menggeleng kuat, bagaimana pun dia harus melindungi Biru, melindungi kesalahan Biru. Dia tak mau Biru hancur dan dia tak mau Biru kenapa-napa. Seorang wanita menghampiri Nadya. Dia mengenakan gamis putih sembari membawa mangkuk kecil berisi bubur yang Nadya duga itu adalah piring milik anaknya. Mungkin wanita itu tengah menghibur anaknya, atau menemani anaknya bermain di sini. Tapi entah apa motivasinya tiba-tiba duduk di samping Nadya yang sedang kebingungan dengan hidupnya. "Kamu dari mana? Kayaknya saya baru lihat kamu di sini," tanyanya. Ah untung saja dia memakai bahasa yang Nadya pahami. Bahasa Indonesia tentu saja. "Ah, saya sudah lama tinggal di sini, Bu. Blok sebelah. Tapi saya memang jarang ke sini. Saya sering kerja di kantor soalnya, ini baru sekarang sih kayaknya ke sini." "Oh gitu, makanya itu saya nggak pernah lihat. Kamu asli mana? Kayaknya bukan dari Jawa ya kalau denger dari suaranya, nggak ada logat-logat Jawanya sedikit pun?" Ibu itu kembali bertanya. "Eh, saya asli Jawa kok, Bu. Saya Malang. Saya dari kecamatan sebelah tapi emang jarang pulang ke rumah. Saya punya kontrakan sendiri di sini." "Oalah gitu, emangnya kenapa kok nggak tinggal sama orang tua? Udah menikah ya?" "Sudah, Bu." "Dulu juga waktu seumuran kamu saya udah punya anak dua. Dulu nikah muda itu udah biasa. Saya ndak sekolah dan di umur 16 tahun saya dinikahkan dengan suami saya yang sekarang itu. Saya punya anak di usia 20 tahun, dan anak kedua lahir di usia saya ke 23 tahun. Awal-awal berat sekali, tapi saya malu kalau nanti dikatain sebagai perawan tua. Akhirnya saya mau menikah dengan laki-laki pilihan orang tua. Dan sekarang di usia ke 40 tahun ini saya udah punya cucu. Tapi saya sendiri nggak mau kalau anak saya nikah muda, soalnya saya takut kalau dia sampai nggak menikmati masa mudanya. Umur-umur sekitar 17 tahunan itu lagian masih enak dipakai sekolah. Dulu, karena orang tua dulu emang jarang yang sekolah sampai ke saya pun nggak sekolah." Ibu itu berbicara panjang lebar seolah tengah berbagi pada tetangganya. Padahal Nadya sendiri tak mengenal wanita itu dan apa yang menjadi sebab dia bercerita pada Nadya? Namun, Nadya mendengar saja. Setidaknya dia memiliki teman di taman ini. Tapi berpikir tentang pendidikan, dulu ibunya masih sempat mencicipi pendidikan sekolah dan bahkan kuliah di luar negeri. Nadya merasa bahwa itu adalah suatu privilese yang tidak dimiliki oleh semua orang. Mama dan papanya bertemu di Colombia University, kemudian keduanya menikah setelah masing-masing dari keduanya lulus S2. Sang papa kemudian diberi mandat untuk melanjutkan perusahaan milik kakeknya yang hingga sekarang masih digeluti. Sementara sang Mama menjadi Dokter bedah di salah satu rumah sakit besar kota Jakarta. Ia merasa bahwa semua hal itu adalah privilese yang tak semua orang lain dapatkan. Dan seharusnya ia melanjutkan studi S2 jika saja keadaan tidak seperti ini. Kalau bukan karena perusahaan sang ayah yang sedang merosot, mungkin dia tak akan dikorbankan dan masih hidup di bawah atap bagus, lampu terang, dan dikelilingi buah-buahan. Dia tak perlu berpikir tentang besok makan apa, dan kenapa kamar mandi di kontrakan amat sempit, dia hanya perlu memanggil ART untuk mengisi air lalu dia berendam. Ah, rasanya dia rindu orang tuanya. Walaupun mereka mengorbankan dirinya untuk perusahaan, setidaknya kedua orang tuanyalah yang telah memberikannya surga kebahagiaan di rumah. "Terus sekarang, anak-anak ibu udah pada kerja semua atau gimana?" Nadya berbasa-basi, sekadar bersikap sopan. "Iya, sekarang udah mulai kerja. Udah ada yang menikah juga. Alhamdulillah semuanya mementingkan pendidikan, ya seenggaknya mereka ngerti kalau pernikahan itu bukan akhir." "Kalau misal dari anak ibu ada yang pengin nikah selepas lulus kuliah gimana?" "Ya kalau emang kemauannya udah nggak bisa ditentang mau nggak mau kudu dinikahkan daripada berbuat yang enggak-enggak. Nauzubillah kalau anak saya ada yang melakukan perzinahan. Jangan sampai." Waduh astaga, gue langsung ngerasa lagi. Tapi, it's okay maksud gue ... gue nggak sengaja dan ini nggak ada unsur sadar diri. Ah, tapi tetep aja sih salah. Ngobrol sama ibu itu malah bikin gue overthinking parah. To be continued~ Terima kasih sudah membaca cerita ini, ya! Have a nice day :)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD