019. Perjalanan Waktu Apakah Benar Adanya?

2061 Words
Di kantor penerbitan, Admin media sosial tampak sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan masuk dari pembaca Tangkai Ra yang menanyakan mulai jam berapakah novel Tangkai Ra akan pre Order. Biru sendiri tampak sedang duduk di salah satu meja dengan asisten editor, dan sesekali dia tampak tersenyum ketika membalas komentar-komentar dari pembacanya yang tidak sabaran. Pada akhirnya dia menetaskan kembali karya yang membuat dirinya bangga. Dan tentu saja ini karena kamu, Nadya. Tanpa sakit hati, tanpa adanya usahaku untuk bangkit kembali setelah meninggalkanmu, mungkin aku masih menjadi Mas-mas Jawa Timur biasa yang cuma berani mencintaimu modal doa saja. "Ra, kayaknya banyak yang ngamuk di DM-mu. Cepet beri pengumuman, kalau jam 13.59 nanti Open Order akan segera dilaksanakan dan tetap stay tune di akun penerbit gitu," ucap lelaki yang sedang memakan bakso itu. "Oalah, aku udah bikin pengumuman dari lama malahan. Mereka itu yang aku kasih tahu pertama kali kalau novel baruku mau terbit. Sayang, aku harus pakai opsi dua tapi meski begitu saya suka judulnya, Melangkah Bersama. Sekilas kayak tentang romansa sih, tapi siapa sangka kali ini genrenya beda." Lelaki berambut acak-acakan serta berhoodie hitam itu tertawa, menertawakan dirinya sendiri. "Keren! Keren gila. Nanti apa lagi projek selanjutnya? Kamu pasti ada simpanan naskah lagi, kan?" "Ada tentu aja. Tapi, udah lama sih aku nggak nyentuh naskah itu dan kayaknya butuh bantuan seseorang. But ... sejauh ini nggak ada masalah sih, cuma ragu aja kalau aku nggak bisa selesaikan." "Tentang apa? Romansa lagi?" "Ya, memang apa lagi? Obat patah hati emang nulis romansa. Itu beuh ... ampuh gila. Pengalaman emang nggak boleh diremehkan, sih. Soalnya pengalaman-pengalaman itu yang bikin gue lancar nulis." "Pengalaman patah hati, ya." Dia tertawa, Biru juga. Sejak tadi Biru memang tengah menatap layar ponselnya untuk memberitahukan pengikutnya bahwa naskah miliknya akan segera diluncurkan. Tapi dalam keramaian dan di tengah canda tawanya, Biru masih memikirkan Nadya. Terlebih hari ini Nadya tak berangkat ke kantor. Demi matahari sekalipun, Biru tak lagi berani untuk menemui Nadya di rumahnya. Bukan karena orang tua Nadya, tapi takut jika nanti Nadya yang menjadi objek kemarahan. Persetan jika Biru yang dibentak, itu tak masalah tapi jika Nadya? Apalagi sekarang Nadya hamil, akan sangat riskan jika Biru nekat. Tapi jika sudah khawatir sekali, mungkin dia akan tetap ke sana. Memastikan jika Nadya baik-baik saja. Sejak semalam pesan singkatnya pun tidak Nadya balas. Jujur saja Biru masih khawatir jika yang dikandung Nadya ternyata anaknya. Bukan khawatir dengan tanggung jawab, Biru bahkan siap bertanggungjawab kapan saja tapi dia tak tahu caranya. Membuat Nadya dan Jingga bercerai hanya akan menghancurkan popularitasnya. Biru mengetikan beberapa kata yang akan dikirimnya pada nomor Nadya. Kamu nggak ke kantor? Aku di sini? Kamu butuh apa? Nanti aku bisa bawakan ke sana. Nadya ... tolong bales pesanku. Kamu nggak papa, kan? Jangan sampai aku nekat ke sana. Dan jujur, aku bisa aja ke sana kalau orang tuamu nggak ada. Hallo ... Nadya cantik. Kamu enggak papa, kan? Istirahat kalau capek. Nat, aku beneran nggak tau kabar kamu. Kamu hamil atau enggak. Kamu tertutup sama aku, kamu bener-bener aneh. Kalau bener kamu hamil dan itu anakku, ngomong yang jujur biar aku nggak jadi calon bapak yang nyebelin. Nat, pokoknya kalau kamu butuh aku, telfon. Entah sudah berapa pesan yang hanya dibaca saja oleh Nadya. Biru benar-benar bingung dengan sikapnya, tetapi dia berpasrah saja. Tak lama dari itu sebuah pesan singkat memenuhi layarnya. Biru melihat nama Nadya di sana. Bisa ke rumahku? Aku bosen di rumah. Aku pengin jalan-jalan, Biru ... Biru langsung bangkit dari duduknya, dia menepuk paha temannya. "Gue cabut dulu. Makasih atas kerjasamanya. Tapi, gue mau pulang. Harus pulang." Dia memasukan handphone di saku hoodie. "Pulang? Buru-buru banget, Ra. Tapi okay deh, hati-hati. Salam buat Riri." Biru mengacungkan ibu jarinya, sebelum akhirnya dia langsung naik ke mobil dan mengendarainya menuju rumah Nadya. Padahal ada rasa khawatir, takut jika saja di sana ada orang tua Nadya, tapi mungkin bisa jadi aman karena Nadya yang meminta Biru datang ke sana. Ya, Biru mencoba membuat mantra untuk dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Hanya sekitar 15 menit, Biru sampai di depan rumah Nadya. Wanita yang sudah siap dengan dress selutut dan rambut terkuncir rapi itu langsung mengunci pintu dan berjalan cepat memasuki mobil Biru. Setelahnya Biru langsung mengendarai mobil miliknya menuju entah ke mana. Mungkin ke tempat yang jarang sekali Nadya ke sana, kecamatan Sumberpucung, Malang. Di area perbatasan dengan Blitar ada sebuah jembatan yang biasanya ramai orang-orang menghabiskan pagi di sana. Biru akan mencoba membawa Nadya ke tempat itu. Dari Batu ke Sumberpucung bisa sampai 1 jam 45 menit, atau bahkan 2 jam sekali pun. Tapi tak apa, ini masih pagi. Toh sepertinya mereka jarang jalan berdua akhir-akhir ini. "Kenapa pesanku kamu abaikan?" tanya Biru pada wanita yang sedang menatap jalanan luar dari balik jendela itu. "Sebegitu peduli kamu sama wanita ini, Biru?" tanyanya. "Maksudmu apa sih, Nat? Kapan aku nggak peduli sama kamu? Kapan aku bisa lupain kamu? Kamu malaikat nggak bosen dengerin rintihan-rintihan aku yang cuma tentang kamu? Hah? Kapan? Enggak ada satu hari pun aku nggak kangen kamu, nggak ada sedetik pun aku lupa kamu, dan nggak ada sehari pun namamu aku lupakan. Enggak ada, Nat." Biru menjawab lancar. Seakan-akan wanita di sebelahnya memang selalu memerlukan validasi. "Kemarin kamu berteriak ke aku, katanya kamu cuma suka Jingga, sekarang kamu memintaku keluar. Jujur, aku bingung sama sikap kamu," lanjutnya. "Labil." "Biru, bisa nggak sih kamu lupain Nadya? Kalau Nadya udah sama Jingga, ya berarti kamu nggak seharusnya sama Nadya. Enggak seharusnya kamu masih mencintai Nadya. Biru, di luar sana ada yang mencintai kamu." "Banyak. Aku tau, tapi aku cuma suka kamu." "Kamu nggak boleh suka Nadya." "Kamu siapa sih? Seolah-olah aku lagi ngobrol sama orang lain. Kamu Nadya. Aku suka kamu." "Aku bukan Nadya!" Akhirnya dia berkata juga. Biru hampir saja menghentikan kendaraannya secara tiba-tiba, tetapi dia lebih memilih sedikit menepi dan melanjutkannya dengan pelan. Dia cukup terkejut dengan wanita di sampingnya, sejak kapan Nadya amnesia dan lupa tentang dirinya sendiri? Mengapa Biru tak dikasih tahu perihal penyakit atau hal-hal memilukan yang Nadya derita. "Kamu amnesia atau ... lagi bercanda?" Biru masih berusaha bersikap tenang, barangkali Nadya mengajak bercanda walau dia tidak tahu juga sejak kapan wanita itu suka bercanda, bahkan selera humornya benar-benar rendah Biru rasa. "Biru, kalau aku mengatakan hal yang sejujurnya apa kamu bakal percaya? Biru, kamu percaya dengan pertukaran jiwa? Kamu percaya nggak seseorang bisa kembali ke masa lalu atau tiba-tiba berada di masa depan? Kamu percaya perjalanan waktu?" "Stop. Kamu ngomong apa sih, Nat? Kamu lapar? Kamu haus? Kita mau jalan-jalan, tolong jangan ngomong yang aneh-aneh. Nadya, apa rumah tangga kalian setidak bahagia ini sampai-sampai bikin kamu tertekan?" Biru menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan demi ucapan yang Nadya katakan. Sementara wanita di depannya tampak frustrasi. Salah. Memang salah. Ia sendiri saja tak percaya kenapa harus terlempar di dunia masa lalu, pada tahun 2017. Padahal seharusnya ia sudah berada di akhir tahun 2019. Akhir tahun di mana Indonesia mulai diserang oleh pandemi. Tapi bagaimana dia harus meyakinkan Biru perihal perjalanan waktu ini? Orang waras memang tak percaya dengan hal ini, tapi dia harus mencari bukti tentang kebenaran agar Biru mempercayai ucapannya. Karena hal ini merupakan langkah untuk memberi Biru kesempatan agar mencintai Caramel. "Kamu perlu bukti, Biru? Sekarang februari 2017. Aku tahu bahwa nanti pada tanggal 1 Maret 2017, Raja Arab Saudi berkunjung ke Indonesia dan tiba tepat di tanggal tersebut. Beliau membawa rombongan yang berjumlah 1.500 orang, termasuk 25 pangeran dan 10 menteri. Dan mereka akan menetap hingga tanggal 9 Maret 2017. Kemudian kedua, putri presiden kita akan menikah pada tanggal 8 November 2017. Ketiga ... Gunung agung erupsi untuk pertama kalinya pada tanggal 21 November 2017. Letusan terjadi tepat pada 17.05 Wita." "Stop. Nadya ... yang terakhir itu doa. Kamu nggak boleh berdoa hal-hal buruk. Nadya, sudahi ramalan kamu yang nggak masuk akal itu dan kembalilah ke dunia kamu sekarang. Masa depan nggak ada yang tau, Nadya." Biru masih tampak tak percaya, tapi kali ini suaranya lebih pelan seperti berusaha menolak tapi ... tidak menyangka juga jika Nadya berkata sedemikian jauh. "Kalau kamu nggak percaya, lihat nanti kebenaran di awal Maret. Lihat berita dan jangan sampai ketinggalan. Biru, apa kamu nggak sadar bahwa aku dan Nadya amat berbeda?" "Ya, seseorang emang mudah berubah. Itu sifat dasar manusia." "Biru, astaga. Ah semoga aja kamu cepat sadar. Biru, cinta nggak harus bikin kamu buta." Kali ini Nadya menaikan suaranya. Biru terkejut, Nadya memang tak pernah sekesal itu. Maksudnya jika memang tidak benar, Nadya tak mungkin marah pada Biru. Biru masih tak paham, wanita di sebelahnya benar-benar sulit dimengerti. Mereka masih berada dalam kendara, Biru masih fokus mengendarai roda empatnya menuju tempat awal tujuannya. Selain berisik di luar, ternyata kepala miliknya pun amat berisik. Biru benar-benar tak mengerti dengan segala yang dikatakan Nadya, tapi kenapa dia tak mencoba untuk memahami saja. Maksudnya gini, Nadya tak pernah berbohong. Selama mereka pacaran, Nadya tak pernah berdusta walau hanya bercanda sekalipun. "Kalau kamu bukan Nadya, lantas siapa?" Akhirnya Biru bertanya juga. Ia tahu, mungkin dia juga sekarang menjadi orang aneh. Keduanya seperti kedua spesies aneh yang percaya hal-hal bodoh, tapi bodo amatlah yang terpenting kali ini mereka memiliki topik pembicaraan dan tidak membuat Nadya serta merta menjadi diam. "Gue bukan Nadya. Gue Caramel. Mahasiswi fresh graduate yang tinggal di ibukota. Gue cukup kaget waktu gue terbangun dan tiba-tiba ada di tubuh perempuan ini. Gue dijodohkan karena sebab mempertahankan perusahaan, tapi gue nolak dan lari di hari pernikahan, tapi gue tertabrak truk dan tiba-tiba gue ada di tubuh wanita ini, di masa lalu." Dia bercerita. Dia tak tahu apakah ini melanggar peraturan, tapi seingatnya tak ada aturan yang melarangnya untuk bercerita perihal perjalanan ini pada siapa pun. Maksudnya, ya mungkin semua orang bebas mengetahui. Bukannya menanggapi, Biru malah tertawa. Dia seperti mendengar anak kecil yang tengah menceritakan tentang istana langit atau bidadari yang sedang mandi di sungai. "Kamu abis baca buku apa emang? Imajinasinya jauh banget." "Kalau kamu mau bukti, silakan cek data gue di kampus, dan nama gue ada di sana. Gue angkatan 2015 dan lulus di tahun 2019. Dan kalau lo masih ragu juga, silakan cek rumah gue dan gue masih yakin betul alamatnya. Gue masih inget alamat rumah gue." Kali ini Biru terdiam. Lelaki itu sesekali menatap wajah Nadya, kemudian menatap jalanan lagi. Kali ini Biru tak ingin percaya, tapi wanita di sebelahnya seperti berkata dengan seyakin-yakinnya. Dan hal itu membuat Biru benar-benar percaya. Tidak, maksudnya apakah benar bahwa perjalanan waktu itu ada? Dan jika memang seperti itu lantas di mana Nadya? Di mana Nadya berada? "Apa yang kamu ketahui tentang diri kamu sendiri?" "Gue berasal dari keluarga yang mampu. Gue nggak betah di kontrakan Nadya karena kulkas dia kosong, miskin, dan gue nggak bebas membeli apa pun yang gue pengin. Biasanya gue selalu berlibur di LN bareng temen gue, dan gue sering hangout dan pergi ke party. Gue nggak bisa bahasa Jawa dan gue nggak suka orang-orang kayak Jingga yang amat alim dan suka mengatur, b***h. Lo harus percaya kalau gue bukan Nadya, dan jujur ... lo lebih nyaman dengan Nadya sekarang atau dulu? Coba jujur sama gue." "Maksudmu? Saya kira semuanya sama. Nadya bikin nyaman. Udahlah, udahin aja. Drama banget. Beneran, saya nggak percaya. Nadya ya Nadya, nggak ada orang lain di tubuh Nadya. Itu hanya dongeng, hal-hal kayak gitu nggak ada dalam kenyataan, jadi tolong Nadya ... kamu adalah Nadya. Sampai kapan pun kamu adalah Nadya." Biru kembali kekeuh, walau dia sendiri mungkin sudah mulai tak mengerti tentang pikirannya. Entah beberapa menit di jalan, mereka belum sampai juga. Biru benar-benar mengajak Nadya bermain jauh dari Batu. Udara mulai terasa panas, dan Nadya menyadari itu. Hingga sekitar 45 menit kemudian, kendara Biru mulai memasuki kecamatan Sumberpucung. Nadya terlihat baru ke sini, kedua matanya tampak sibuk mengamati jalan-jalan dan lalu lalang yang cukup padat ketika mobil Biru melewati sebuah pasar. Biru benar-benar lihai dalam masalah mengendarai, sebelum akhirnya mereka mulai memasuki kawasan yang Biru maksud. Ia menghentikan mobil di depan sebuah warung, lalu mengajak Nadya turun dan berjalan ke arah jembatan yang dapat melihatkan sebuah dataran di bawah sana yang tampak hijau. Lalu lalang kendaraan ramai, sementara Nadya menyandarkan tubuhnya di jembatan melihat pemandangan bawah yang begitu memukau. Dia baru pertama kali ke sini. Katanya area ini sangat berbatasan dengan Blitar. "Kamu suka, kan? Di sini ada saudaraku. Kamu masih ingat, Nat?" tanya Biru. "Aku bukan Nadya," lirihnya. Biru tersenyum, mengiyakan saja. Mengiyakan ketidakpercayaan atau kebodohan ini. To be continued~ Jangan lupa tinggalkan love
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD