020. Kebenaran atau Kekeliruan?

2108 Words
"Besok, aku mau ke Bandung. Aku jadi pembicara. Kamu mau ikut?" tanya Biru. Setelah meneguk air dari botol, dia berbalik dan menyandarkan bahunya di pembatas jembatan. "Ngada-ngada. Aku nggak mau nurutin kamu sampai kamu percaya apa yang aku omongin. Biru, tolong perhatikan tanggal 1 Maret nanti." "Okay. Dan Nadya ... Ini menurutku agak aneh. Benar, mungkin akhir-akhir ini aku lihat perubahan yang amat kontras. Nadya yang aku kenal nggak suka lipstik merah, nggak terlalu suka pedes, lembut, dan jauh dari hedonisme. Dan aku dapati di diri kamu sekarang, aku anggap itu perubahan wajar. Maksudku, semua orang bisa berubah. Aku sempat berpikir juga bahwa setelah adanya perjodohan itu kamu bersikap beda, tapi nggak masuk akal kalau di dunia ini ada yang namanya perjalanan waktu atau pertukaran jiwa kayak yang kamu omongin." Biru mentap langit di atas sana. Sesekali dia menatap wajah Nadya dari samping, tapi kemudian beralih lagi menatap langit yang membiru seperti namanya. Ia tidak suka cuaca yang berubah-ubah, baginya cuaca tak mempengaruhi apa pun, dia hanya menyukai Nadya. "Kalau hal kayak gitu bener adanya emang gimana? Lo terlalu realistis sama dunia yang nggak pasti ini. Biru, denger ... gue juga nggak percaya sama reinkarnasi atau apa pun itu, tapi hari ini mau nggak mau gue harus percayai juga pas kejadiannya emang nimpa gue. Gue juga kaget, maksud gue kenapa harus gue? Di antara banyaknya manusia di bumi ini kenapa harus gue banget yang harus berpindah ke tubuh Nadya? Bahkan gue harus memilihkan takdir buat Nadya, lo kira itu nggak aneh? Dari awal gue juga pengin marah, siapa sih yang pengin terlontar ke tubuh orang lain begini? s**t, ini kayak tuker nasib dan sampai kapan pun gue nggak pernah siap dan nggak pernah bisa kalau bukan karena kepaksa." Suara Nadya terdengar menggebu-gebu dan nahasnya membuat Biru semakin yakin. Aneh, jika Biru tak percaya tentu tambah aneh. Terdengar ada emosi dan Biru tak mendapati kebohongan di kedua mata Nadya. Seperti anak kecil yang sedang bercerita tentang bagaimana keadaan ketika di sekolah, atau anak kecil yang sedang kesal dengan teman sebangkunya. Biru tak dapati dusta di sana. "Terus, Nadya ke mana?" tanya Biru. "Gue enggak tahu. Bahkan gue sendiri juga nggak tahu di mana tubuh gue sekarang. Maksud gue, di rumah sakit mana?" Biru mengangguk-angguk. Rasanya dia kalah jika berdebat dengan rasionalitas pun, kadang-kadang dia memang harus percaya dengan hal-hal yang tidak mungkin. Rasanya terlalu bodoh, kayak dongeng tapi kenyataan. Aneh memang, tapi memang apa yang pasti? Di sini semuanya serba tidak pasti dan serba memiliki banyak arti. "Jujur, sebenernya gue nyaman sama Nadya sekarang. Lebih terbuka, lebih bisa mengeluarkan emosinya dan lebih berwarna. Maksud gue Nadya sekarang lebih bikin gue seneng. Tapi ternyata lo bukan Nadya, apakah ternyata gue jatuh cinta sama elo?" Biru tertawa kecil. "Konyol, ya. Beneran konyol. Gue juga langsung percaya gitu aja. Maksudnya, gue kayak orang b**o. Kenapa gue percaya dongeng? Tapi gue pengin lihat lo. Gue pengin lihat lo versi tubuh lo sendiri." Biru berucap pelan. Dia seperti bersungguh-sungguh dan memang bersungguh-sungguh ingin tahu bagaimana Caramel yang asli. "Kalau emang gue nggak bisa dapetin Nadya, berarti gue bisa dong dapetin Caramel. Ya ... nama lo Caramel, kan?" Biru bertanya retoris. Wanita di sebelahnya mengangguk. "Dan menurut lo apakah gue termasuk ngada-ngada waktu gue ngomong bahwa lo nggak usah suka Nadya lagi. Gue tahu, Biru ... mungkin gue ngemis ke elo, tapi Biru ... gue atas nama Caramel, suka sama elo. Suka Biru." Biru meletakan tangannya di atas kepala perempuan itu sembari mengusapnya pelan. Dia menatap wajah Nadya sedemikian dalam. "Jadi, gue harus gimana? Lebih tepatnya kita harus gimana? Coba ceritakan semuanya, biar gue lebih paham, biar gue lebih ngerti apa yang harus gue lakukan." Kali ini Biru serius. "Gue dikasih waktu hingga dua bulan, dan mungkin empat puluh hari lagi misi gue selesai. Gue harus memilihkan takdir bagi Nadya, dan kalau Nadya menerima, aku bisa balik ke tubuhku. Aku bisa kembali ke tahun 2019 lagi, berkumpul lagi sama keluargaku. Tapi aku belum tahu kalau Nadya nggak suka dengan pilihannya. Aku di sini cuma melanjutkan apa yang udah dipilih Nadya." "Kamu tahu dari mana kalau kamu harus memilihkan takdir buat Nadya?" "Waktu aku bangun seseorang ada di dekat aku. Dia berpakaian rapi kayak orang kantor tapi serba putih. Wajah dia juga bercahaya dan dia bawa buku dan pena yang terbuat dari bulu. Kamu tahu, ini kayak di film-film yang pernah aku tonton dan aku menyaksikan bagaimana kemudian dia ngomong sama aku dan katanya dia akan kembali kalau aku udah menghabiskan waktu di sini selama 70 hari." Tiba-tiba Biru menaruh telapak tangannya di dahi Nadya, kemudian tertawa kecil. "Nat gimana ya, kadang aku percaya, kadang aku nggak percaya. Maksudnya ini kayak dongeng. Ini kamu lagi nge-prank aku atau gimana?" Nadya buru-buru menjatuhkan tangan Biru dan cemberut. Biru benar-benar membuat dia kecewa. "Udahlah, Biru, emang sejak awal aku nggak seharusnya cerita sama kamu. Salah banget emang cerita kayak gini ke kamu. Aku seharusnya sadar kalau dari awal kamu bakal susah percaya. Kamu akan bilang kalau aku sakit jiwa, ngada-ngada, tapi ini kenyataannya. Aku bukan Nadya. Aku bukan perempuan yang kamu cintai. Aku nggak tahu lagi gimana caranya ngeyakinin kamu biar kamu paham kondisiku, rasanya emang nggak ada yang paham aku. Aku cuma dianggep gila, stress, dan harus dirawat di rumah sakit jiwa. "Ya, seharusnya aku nggak perlu cerita ke siapa pun kalau akhirnya cuma buat ditertawakan. Mungkin kalau aku ada di posisi kamu aja, aku akan bertindak sama kayak kamu. Aku nggak percaya, ini cuma ada di dongeng, jadi ya ... kamu nggak salah. Ini salahku yang terlalu percaya sama kamu." Nadya terlihat kesal. "Hei, enggak, Sayang. Gini deh kasih aku waktu buat percaya sama cerita kamu. Benar, Nat. Aku realistis. Aku nggak percaya sama reinkarnasi, perjalanan waktu, pertukaran jiwa, aku nggak percaya hal-hal itu. Tapi karena ini keluar dari mulut kamu, akan bakal coba percaya dan sekali lagi beri aku waktu, seenggaknya sampai aku nemuin teori bahwa hal-hal kayak gini nyata adanya. Okay?" Biru mencoba menenangkan. Dia sendiri tidak paham, tapi dia curiga apakah Nadya memang terkena mental sebab nikah dengan seseorang yang tidak dicintai? Sebelum mencari teori tentang kebenaran ada atau tidaknya perjalanan waktu, lebih baik ia mencari teori tentang efek pernikahan dengan seseorang yang tak dicintai. Bagaimana pun Biru takut jika ini hanya halusinasi Nadya saja. Bagaimana jika ternyata Nadya memang sampai terkena mental, atau lebih buruknya Nadya mengalami gangguan jiwa. Biru benar-benar takut. Masalahnya apa yang Nadya katakan dan ceritakan tidaklah masuk akal. "Sembari nunggu aku percaya, kamu mau ikut aku ke Bandung nggak? Mungkin seminggu lebih aku di sana," lanjut Biru. Nadya menggeleng, "Enggak. Males. Bandung sekarang udah macet dan panas, hampir sama kayak di Jakarta." "Nggak bisa dipukul rata juga dong, Nat. Beberapa daerah masih banyak yang sejuk kok. Lagian kamu kapan terkahir ke Bandung?" "Akhir tahun 2019 sebelum ada pandemi. Karena selama 2020 aku di rumah aja, bahkan pembelajaran di sekolah dan kampus ditiadakan dan diganti dengan sistem daring. Waktu itu orang-orang yang biasanya selalu WFO, wajib WFH, pedagang-pedagang harus tutup, jadwal keberangkatan kereta dihentikan, banyak yang mengalami kerugian dan nahasnya banyak juga yang kehilangan orang tersayang. Ya, kamu nggak akan percaya ini bahwa nanti di 2020 kamu akan merasakan sendiri, Biru. Kamu yang menyangka bahwa hari ini aku gila, adalah orang paling waras yang pernah kamu temui." "Serem juga omonganmu, ya." Biru berkomentar apa adanya. Tapi jujur saja ucapan-ucapan Nadya begitu mengerikan. Tentang gunung meletus, pandemi, kenapa dia mengatakan banyaknya bencana alam. Tapi ya sudahlah, mungkin ini efek dari hubungan suami istri yang tidak harmonis. "Untuk berjaga-jaga apa yang perlu aku lakukan jauh-jauh hari sebelum menghadapi pandemi itu?" "Di pertengahan tahun 2019 kamu harus membeli beberapa kotak masker karena saat itu banyak pedagang yang menimbun hingga akhirnya membuat harga masker melonjak mahal. Saat itu orang-orang berebut s**u dan beras di Mall, yang kaya memiliki banyak kesempatan untuk mengambil apa pun guna persediaan lockdown, sementara yang miskin nggak ada cara lain selain menerima nasibnya. Saat itu kita harus benar-benar menjaga jarak dan di rumah aja." Nadya mengingat betul kejadian di akhir tahun 2019 hingga pertengahan 2020 itu. Dan dia menceritakannya pada Biru. Terserah Biru akan percaya atau tidak, bukanlah masalah. Nadya hanya berusaha menceritakan semuanya yang dia ingat. "Ternyata saat itu para kapitalisme masih menguasai, ya." "Haduh, menurutmu? Kapan kapitalisme nggak menguasai? Aneh malahan." Nadya berkata sinis. "Kalau kayak gini aku yakin kamu bukan Nadya, soalnya Nadya nggak suka pembahasan begini. Bahkan dia hampir nggak paham." Biru berkata pelan. "Ya terus, apakah aku harus buktikan bahwa aku Caramel dengan menghafal das kapital?" Dia berkata sinis.. Biru menatap jalanan lagi. Kali ini sepertinya dia memang harus percaya. Nadya yang dia kenal tak percaya sedikit pun tentang topik-topik seperti ini. Nadya tak suka membicarakan hal-hal berat seputar kapitalisme, sosialisme, filsafat, dia pasti akan langsung menghindar, tapi ... sekarang tidak. Bukankah aneh kalau perempuan itu memang Nadya. "Kamu tahu Simone De Beauvoir?" tanya Biru. Sekadar memastikan bahwa jika dia Nadya pasti akan menggeleng. "Kaum feminis mana yang nggak tau Beauvoir? Selama hidupnya dia tak mau menikah, bahkan ketika Jean Paul Sartre mengajaknya menikah, Beauvoir menolak dengan mengatakan bahwa dia yakin bukan pernikahan yang mereka inginkan. Mereka menjalin ikatan dengan penuh kebebasan. Ya, kan? Menurut Beauvoir, menikah artinya mau tak mau harus menyerahkan setengah dari kebebasan kita pada orang lain, dan Beauvoir nggak mau melakukannya." Dia menjawab lancar. Biru sempat menganga. Kali ini dia mulai percaya bahwa dia bukan Nadya. Tapi ... tidak. Sepertinya sudah dua tahun mereka tak bertemu. Selepas Biru meninggalkan Nadya di Kuningan, dan memutuskan hubungan dengan Nadya, dua tahun Biru tak saling berkabar dengan wanita itu. Bisa jadi Nadya saat ini telah mempelajari banyak hal mengenai materi-materi yang menurutnya berat itu. Bisa jadi bacaan-bacaan Nadya telah berubah dari yang dulu hanya menyukai romansa-romansa seperti tulisan kebanyakan sastrawan Indonesia, berubah minat jadi suka tulisan banyak filsuf-filsuf dan memahami feminisme. Ya, siapa yang tahu. "Kamu setuju nggak sama konsep yang digagas Beauvoir?" tanya Biru. "Bagian mana yang nggak harus aku setujui. Bahkan waktu itu aku belum siap nikah karena aku emang nggak mau menyerahkan kebebasanku buat orang yang nggak aku cintai. Aku cuma mau memberikan setengah dari kebebasanku untuk orang yang benar-benar kucintai dan mencintaiku. Aku nggak mau salah langkah, aku nggak mau asal menikah apalagi dijodohkan karena kita nggak pernah tahu background jodoh kita. Apalagi yang aku tahu sekarang perempuan dihadapkan dengan banyaknya manusia-manusia yang masih menganut patriarki. Mereka mengekang, memberi batas, dan seolah perempuan adalah makhluk lemah yang nggak punya banyak pilihan. "Menurutku ini kesalahan besar. Jujur, aku ingin menikah dengan lelaki yang feminis. Karena feminisme bukan cuma berlaku buat perempuan aja, tetapi laki-laki juga. Lo pasti masih sering denger kan tentang kesalahpahaman seseorang mengartikan konsep feminisme? Misalnya lo pernah denger, katanya feminis bisa angkat galon sendiri dong? Bisa pasang gas dong, bisa ini lah itu lah, please ... kenapa pemahaman terkait feminisme hanya seputar angkat galon dan pasang gas? Padahal feminisme memiliki pengertian yang lebih dalem dari itu dan kamu tahu, masyarakat kita masih banyak yang belum paham dan akhirnya menolak. "Makanya gue menanamkan di diri gue sejak awal, bahwa gue hanya akan menikah sama orang yang memiliki satu background sama gue. Sama orang yang satu frekuensi sama gue. Gue nggak mau kalau kebebasan yang gue kasih malah disalahgunakan. Dan demi apa pun, bagi gue perawan seumur hidup lebih mending daripada nikah sama orang yang nggak bisa menghormati kita atau nikah sama orang yang salah. Ini benar-benar menakutkan. Selain bisa bikin kena mental, bisa juga bikin gue memar-memar dan kayaknya gue nggak bakal kuat." Biru mendengar dengan seksama seluruh cerita-cerita Nadya. Jika benar-benar didengarkan, gaya bicaranya, topiknya, memang jauh dari Nadya. Seperti bukan Nadya sekali. Biasanya Nadya hanya membahas seputar langit hari ini yang cantik, cuaca yang sedang bagus, masa lalunya, atau nostalgia-nostalgia dengan Biru atau teman-temannya. Atau paling berat, topik yang pernah dibahas dengan Biru adalah seputar mengapa banyak perbedaan dengan teciptanya alam semesta, dan itu hanya sekali. Selebihnya, Nadya tak mau membahas itu lagi karena katanya dia takut dan selalu tak berani untuk memunculkan banyak pertanyaan-pertanyaan. Namun, perempuan di sebelah Biru sekarang berbeda. Dia jauh lebih bebas mengobrolkan apa pun yang dia inginkan. Dia berani bersuara, berani mengeluarkan banyak statemen dan berani mengutuk orang-orang yang membuatnya merugikan. Dia sangat berbeda dengan Nadya. Apakah Biru harus mengakui dengan penuh kewarasan bahwa mungkin sekarang dia tengah berdiri dengan wanita yang berbeda, bukan Nadya. Tetapi memang orang lain yang sedang menempati tubuh Nadya. Jika memang harus mengakui, mungkin Biru akan mengakui. Namun, masih banyak hal yang janggal dan dia harus mencaritahu terlebih dahulu. Biru tidak tahu mengapa akhirnya dia dihadapkan dengan drama yang menurutnya tidak mungkin ada di dunia nyata. Tetapi kenyataannya dia harus mempercayai ini. Sial, pada akhirnya dia harus terjun pada genre kehidupan fantasi yang memang mungkin ada.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD