Setelah mengantar Nadya pulang, Biru langsung kembali ke rumahnya tepat pukul 20.00. Lama dia di luar bersama Nadya, tapi tak mengapa pada akhirnya dia tahu satu hal tentang hal-hal yang tak mungkin.
Selepas turun dari mobil, Biru langsung berjalan ke dalam dan menemui gadis 20 tahun yang sedang sibuk dengan laptop di ruang tamu. Sesekali dia tampak menikmati keju parut yang ditambah krimer kental manis, menyendoknya dengan sangat hati-hati. "Hei Ri, Ibu sama Bapak mana?" tanya Biru selepas menutup kembali pintu ruang tamu.
"Bapak lagi tahlil. Mas Biru abis ke mana aja? Bawa martabak buat Riri, kan?" Dia langsung menagih martabak manis pada kakaknya.
"Iya, nih." Dia meletakan dua kresek putih di atas meja, lalu melepas jaket dan merebahkan tubuhnya di sofa. Biru mengambil ponsel, lalu mulai mencari keyword tentang pertukaran jiwa, perjalanan lintas waktu pada mesin pencarian. Ya, seperti orang bodoh.
"Ri, kamu percaya sama pertukaran jiwa? Ehm kayak semacam perjalanan waktu gitu?" tanya Biru.
"Percaya enggak percaya sih. Soalnya menurut Riri banyak hal yang nggak kita tahu, Mas. Tapi Riri percaya sama keberadaan dunia paralel. Riri yakin seyakin-yakinnya kalau ada dunia selain yang kita tempat ini, jadi mungkin perjalanan waktu juga bisa jadi ada. Toh kalau kita lihat beberapa berita, katanya ada orang-orang yang udah membuktikan itu." Riri membuka bungkus martabak manis, lalu mulai melahapnya sedikit demi sedikit. Dia memang sangat menyukai martabak manis rasa keju.
"Itu karena kamu sering lihat drama Korea atau gimana?" Biru bertanya lagi.
"Enggak ada hubungannya, cuma ya pakai logika ajalah, kalau dunia ini nggak terbatas. Coba deh Mas Biru bayangin, semesta ini luas banget. Enggak ada yang tahu luasnya, enggak ada yang tahu diameternya, dan menurut Mas Biru di antara luasnya semesta ini apakah cuma ada kehidupan di bumi yang kita tinggali aja? Menurut Riri sih pasti ada kehidupan lain, ya. Okay deh mungkin dunia paralel sih emang bisa jadi ada, tapi tentang perjalanan waktu itu sendiri, menurut Mas Biru apa sih yang nggak mungkin nggak terjadi di dunia itu? Penguasa alam semesta kan mampu melakukan apa pun, Mas. Riri sih yakin-yakin aja, dan kayaknya seru tuh kalau bisa balik ke masa lalu atau loncat ke masa depan." Riri kemudian kembali fokus pada laptopnya, sementara Biru masih terdiam, berusaha menerima pendapat Riri.
"Misalkan ada temenmu yang tiba-tiba ngaku kalau dia datang dari masa depan, kamu percaya?" Kali ini Biru masih mencoba meyakinkan.
Riri tak langsung menjawab, kemudian bersuara. "Tergantung. Maksudnya apakah ada bukti kalau dia dari masa depan. Misalkan kita coba minta bukti apa yang akan terjadi tanggal sekian, tanggal sekian, gitu ... kalau omongannya valid, ya mungkin bener dia sempat ke masa depan. Siapa yang tahu." Riri mengedikan bahunya, "Lagian tiba-tiba banget Mas Biru nanyain beginian, tumben. Genre novelmu kan murni romansa, ini mah nanti masuknya fantasi atau ... yang lainnya bisa jadi." Riri berusaha mencari jawaban dari kakaknya, tapi Biru tak menjawab selain kembali fokus pada ponselnya.
"Heh, Mas Biru ada apa sih? Mas Biru terlempar ke dunia masa lalu?"
"Aneh kamu. Enggaklah. Mas Biru mana percaya begituan." Biru berucap santai. Tapi meski begitu jelas saja dia mulai menyamakan ucapan-ucapan Riri dengan tingkah laku Nadya. Banyak hal yang berubah dengan Nadya, dan salah satunya Biru hanya perlu menunggu berita tanggal 1 Maret nanti. Apakah kedatangan Raja Arab Saudi tepat pada tanggal 1 nanti dan akan tinggal di sini hingga tanggal sembilan? Biru hanya perlu menunggu, jika benar, mungkin itu hanya kebetulan. Tapi jika Biru selalu tak percaya, kapan dia akan mencoba menerima Caramel? Maksudnya mau tak mau dia harus mengamini ucapan-ucapan perempuan itu.
"Biru, besok jadi ke Bandung?" Lelaki bersarung hitam serta berbaju koko putih baru saja tiba. Biru buru-buru bangkit ketika lelaki itu kemudian duduk di depannya.
"Iya, Pak. Mau Biru bawain apa?"
"Ndak usah bawa apa-apa buat Bapak. Yang penting hati-hati. Berapa hari di sana?"
"Seminggu kok, Pak."
"Sok sibuk kamu, Mas. Emang jadi pembicara di mana aja? Sok-sokan ngomongin perasaan kaum muda, hatinya sendiri berantakan," ledek Riri. Biru hanya tersenyum. Riri memang kadang berhasil menampar kenyataan.
"Dua universitas sama dua komunitas, dan kebetulan di Bandung semua."
"Sekalian pulangnya bawa mantu." Bapak berdiri, menepuk pundak Biru kemudian berlalu ke kamar. Biru hanya terdiam, jika saja membawa calon menantu semudah membawa oleh-oleh khas Lembang, mungkin Biru bisa membawanya sekaligus banyak. Tapi hati manusia bukan permainan, dan nahasnya Biru masih stuck dengan wanita lama.
"Cie ... bawa mantu. Bapak udah nggak sabar pengin cucu tuh, Mas. Tapi jangan dulu deh. Kalau nanti Mas Biru nikah, pasti berubah deh ke Riri. Mas Biru nggak bakal sayang Riri lagi. Palingan kalau nanti Riri minta duit pasti dicegat sama istri Mas Biru. Enggak deh, pokoknya jangan dulu." Riri menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia terlihat enggan jika sang kakak menikah.
"Teori dari mana tuh, Ri?"
"Ya soalnya kebanyakan emang gitu kok. Apalagi kalau misalkan istri Mas Biru nggak sayang sama Riri. Paling nanti kalau Riri minta jajan dia ngedumel, ih adek kamu tuh ya hobinya minta duit terus ke kamu. Aku nggak mau ah kalau nanti kayak gitu. Pokoknya nikah bareng aja, Mas. Kalau Riri nikah, nanti Mas Biru baru deh nikah."
"Enggak ah, enak duluan. Dan Riri, lagian Mas Biru nggak akan menikahi perempuan yang nggak sayang sama keluarga Mas Biru. Kalaupun pada akhirnya Mas Biru dapetin istri yang pelit, Mas Biru masih jadi Mas Biru yang bakal sayang Riri. Dan kenapa Riri khawatir, bukannya lebih baik berdoa biar nanti dapet ipar yang cantik dan baik?" Biru tersenyum.
"Ya aku juga berdoa, tapi pokoknya aku nggak mau kalau Mas Biru nikah sekarang."
"Kalau sekarang banget sih enggak, kan Mas Biru jomlo."
"Ya pokoknya jangan nikah dulu."
"Fleksibel."
"Enggak boleh, ish. Pokoknya jangan nikah dulu."
"Fleksibel."
"Nggak boleh!"
"Fleksibel."
"Ish Mas Biru tuh, ya, emang nggak sayang sama Riri."
"Astaga ni anak. Harus disumpal cabai aja nih mulutnya." Biru meraih jaketnya.
"Ye awas kalau turun lagi."
"Enggak takut." Biru menaiki anak tangga meninggalkan Riri yang masih mengerjakan tugas di bawah. Rasanya kepala akan pecah saat dipaksa membaca banyak teori tentang pertukaran jiwa atau time traveler yang tidak dia percayai. Siapa sangka dia akhirnya membaca hal-hal yang sebelumnya tak pernah menjadi topik pembuka di tongkrongan.
Setibanya di kamar, Biru langsung menyalakan Ac dan mengetikan beberapa kata yang akan dikirimnya pada sang adik.
Riri adik Mas Biru yang paling cantik se-Malang Raya, bikinin jahe hangat, ya, kalau kamu udah selesai ngerjain tugas. Dan jangan lupa langsung anter ke sini~
Tak ada balasan, Biru langsung menutup ponselnya dan menatap langit-langit kamar. Dia membuka jendela, dan angin malam masuk mendamaikan jiwanya yang akhir-akhir ini terasa tidak tenang. Besok, dia tinggalkan kota ini dan menuju kota kembang. Selain Malang, Biru memang amat menyukai Bandung. Tak ada tempat yang jauh lebih damai daripada tanah Pasundan itu. Di Bandung, ada kisah, kenangan, dan bayang masa lalu yang tertinggal. Di Bandung, selalu ada hal yang membuat Biru ingin tinggal lebih lama. Setidaknya Bandung adalah tempat ternyaman kedua setelah rumah.
Ponsel berdering, Biru mengangkatnya langsung.
"Ra, besok jangan lupa. Jam 06.00 harus udah siap."
"Iya, Mas. Berapa orang?"
"Biasa. Ada empat orang. Jangan telat pokoknya, udah siap-siap, kan?"
"Gampang."
"Okay, pokoknya besok nanti kita ke sana. Berangkat bareng dari rumah. Sekali lagi jangan sampai telat check-in."
"Iya astaga."
"Soalnya biasanya kamu yang nggak tepat waktu." Suara dari seberang sana tertawa.
"Iya deh maaf, sekarang mah enggak."
"Okay."
Biru langsung mematikan ponsel, lalu berdiri membuka pintu lemari, mengambil ransel yang berada di sana dan mulai memilih beberapa kaus, kemeja, dan celana yang akan dipakainya selama seminggu. Dia juga mengambil kamera, beberapa printilan seperti topi, ikat pinggang, dan hal-hal lain dengan cepat. Ia masukan semuanya ke dalam ransel selain topi tentu saja, karena besok dia akan memakainya.
"Heh, enak aja nyuruh-nyuruh aku terus, emang aku babu." Sembari menaruh gelas di atas meja, Riri mengomel.
"Makasih, Cantik." Biru tersenyum sebelum akhirnya kembali sibuk menata pakaian ke dalam ransel.
"Besok naik pesawat?"
"Iya, masa mau naik becak."
"Hati-hati ya Mas Biru."
"Iya, Sayang."
"Pokoknya Mas Biru harus bawa oleh-oleh yang banyak. Bolu s**u, brownies, sama ... apa lagi yang khas Bandung. Khas Sunda deh pokoknya. Kalau bisa bawa calon buat Riri juga." Dia tertawa kecil.
"Ye ngelunjak. Cari sendiri." Biru menutup resleting ranselnya.
"Ya udah Riri mau lanjut nugas, jangan nyuruh-nyuruh lagi, ya! Riri nggak bakal mau buka pesan Mas Biru."
"Iya bawel."
Selepas Riri pergi, Biru langsung menaruh ransel di atas sofa. Tak banyak yang dia bawa, bahkan Biru tergolong pada orang yang sangat simpel. Lelaki memang tidak mau repot. Jika ada yang kurang, Biru bisa membelinya di sana. Dia malas untuk berpikir mana saja yang akan dibawa, karena biasanya akan selalu ada hal yang dibawa tapi tidak terpakai atau bahkan terlupakan. Paling tidak yang tak boleh dia lupakan adalah skincare untuk menjaga skin barrier-nya agar tidak rusak. Meski lelaki, Biru selalu peduli terhadap wajah. Apalagi dia merupakan public figure, yang mana menurutnya wajib menjaga kesehatan baik tubuh maupun rupa. Wangi tentu nomor satu, tapi tampan juga harus. Kira-kira itu mottonya yang berhasil menjadikan dirinya menjadi lelaki yang banyak dikagumi oleh kalangan hawa.
Selepas selesai, dia langsung mengambil handuk untuk segera mandi. Rasanya tidak sabar untuk segera ke Bandung, menikmati suasana sejuk kota Bandung. Namun, ponsel miliknya kembali berdering. Ah, ingin rasanya Biru tenang walau sehari saja, dipikir-pikir sudah lama dia ingin mengganti nomor telepon tapi belum sempat juga. Sepertinya nomor miliknya sudah tersebar dia rasa.
"Ya, selamat malam." Tanpa basa-basi Biru langsung menyapa. Dia cukup lelah, ingin mandi lantas tidur. Itu saja, tapi sepertinya sulit juga jika keadaan seperti ini.
"Ya selamat malam, Biru. Gimana kabarmu?" Seseorang yang sepertinya Biru kenal, menyapa dari seberang sana. Tapi siapa? Ya, Biru mengenalnya dan ... suaranya hampir mirip dengan seseorang yang amat dibenci.
"Enggak usah basa-basi. Ada perlu sama saya?" Kali ini suara Biru naik beberapa oktaf.
"Ah Biru, jangan galak-galak. Fans mengira kamu baik, ramah, sopan, dan—"
"Ya, kamu bukan siapa-siapa saya. Ada apa, Jingga? Ada perlu apa? Saya terlalu sibuk untuk meladeni orang sepertimu. Tolong beritahukan saya apa maumu, karena saya nggak punya banyak waktu buat bercakap sama kamu." Biru langsung berkata pedas. Berbicara dengan Jingga memang selalu berhasil menaikan tensinya. Jika saja dia menjadi pasien yang kekurangan darah, Biru rasa ngobrol sama Jingga adalah obatnya. Dia benar-benar selalu berhasil membuat Biru kesal.
"Biru, bisakah kamu jauhi Nadya? Saya tahu mungkin saya belum bisa dicintai Nadya, tapi saya udah berapa kali memohon ini sama kamu, tolong jangan dekati Nadya lagi. Kalau bisa, jangan cintai Nadya lagi. Tapi mungkin sulit buat kamu, saya tahu. Saya tahu menghapus rasa ke orang yang kita sayangi itu nggak mudah, tapi kalau kamu dekati Nadya terus, apa kamu nggak takut kalau kamu masuk berita dengan headline menghancurkan rumah tangga sahabatnya?" Suara Jingga terdengar sedikit menakut-nakuti, tapi jelas hal itu tidak mempan bagi Biru. Jingga salah berurusan dengan orang seperti Biru.
"Persetan, saya nggak takut!" Biru tersenyum sinis. "Denger gue, Jingga selaku kakak tingkat kami yang enggan gue hormati, lo nggak lebih dari parasit yang akhirnya hadir di antara kehidupan gue dan Nadya. Dan Jingga, tentang kedekatan gue sama Nadya, nggak ada satu orang pun yang bisa ngatur hidup gue tak terkecuali elo. Gue nggak takut dengan popularitas gue, bahkan gue udah siap kalau popularitas gue hancur karena udah berhasil ngalahin lo." Biru menekan kata-katanya, sesungguhnya tidak. Ya tetap saja Biru takut jika popularitasnya akan hancur, karena bagaimana pun dia telah mengambil banyak hati hingga menjadi seperti ini.
Apakah empat tahun menjadi penulis ini akan hancur begitu saja karena Jingga? Tidak, bahkan Biru tidak ikhlas jika itu terjadi. Tapi dia tidak tahu akan menggeretak Jingga dengan cara bagaimana lagi. Dia ingin memiliki Nadya bersamaan dengan popularitas-nya yang semakin maju. Setitik pun, Biru akan selalu menjaga nama baiknya, dan akan selalu berada di panggung untuk self-healingnya.
"Kamu terlalu egois, Biru. Kamu udah mendapatkan hal yang kamu inginkan. Kamu udah menjadi seseorang hebat yang dibanggakan banyak kalangan. Kamu menjadi motivator kaum muda, menjadi kakak bagi banyak remaja, dan menjadi adik penasihat bagi yang udah dewasa. Tapi kamu sendiri lupa bahwa kamu hanya pakai topeng di hadapan mereka. Tangkai Ra adalah sosok paling keren, tapi Biru ... Biru ... bahkan dia adalah orang keras kepala yang sangat egois dan enggan mengalah. Padahal kamu udah dapetin semuanya, tapi kamu masih kurang. Bahkan saya berani taruhan, jika pun bukan Nadya yang kamu dapatkan, kamu bisa dapetin yang lebih cantik dan lebih sexy dari Nadya. Iya, kan? Kamu mudah dapetin itu. Tapi, kamu masih bertahan sama cewek yang udah punya suami? Maumu apa?"
"Hell yeah, lo udah tahu jalan pikiran gue. Ya gue mau apa lagi kalau bukan Nadya. Dan Jingga jangan cuma nyalahin gue, nyatanya Nadya juga masih mau sama gue. Kenapa selalu gue yang lo sudutkan? Hah? Pertama, lo tahu dia kirim pesan ke gue, pengen gue ajak dia jalan-jalan? Lo pikir dia kenapa dia ngelakuin itu kalau bukan karena kesepian? Kedua, kalau dia masih sehat-sehat aja sampai sekarang walaupun gue bawa dia jalan-jalan berarti dia baik-baik aja, kan? Bahkan mental dia lebih waras bersama orang yang dicintainya daripada orang yang mencintainya. Ketiga, bukan cuma gue yang mau Nadya, tapi Nadya masih mau sama gue. Di sini lo kalah. Cuma modal restu orang tua aja seakan paling hebat se-alam semesta. No, Jingga. Hidup nggak sesimpel yang kepalamu pikirakan, dan nggak semudah yang matamu lihat." Lagi-lagi suara Biru terdengar menggebu. Dia seakan ingin sekali memberitahukan Jingga tentang bahwa dirinya masih sangat mencintai istri lelaki itu. Dunia memang terkadang terlalu kejam untuk mereka yang baik.
"Terus, lo mau memaksakan dosa itu, Biru? Lo nggak sadar bahwa yang lo lakuin itu salah?"
"Salah apa? Gue ngelakuin apa, b******k! Tolong ya lo makin nggak jelas. Dan mulai sekarang jangan pernah hubungi gue lagi dan kalau bisa block nomor ini, karena heh sialan, gue bosen liat nomor lo masuk di panggilan gue. Dan satu hal lagi, kalau lo nggak mau gue deketin Nadya, bawa Nadya menjauh dari kehidupan gue." Biru langsung mematikan sambungan, kemudian melempar ponsel ke kasur. Dia benar-benar kesal dengan sikap Jingga. Ah, kesal dengan diri sendiri atau Jingga? Dia tidak tahu. Tapi dia tak mengerti kenapa tiba-tiba Jingga menghubunginya? Kenapa Jingga masih menyimpan nomornya, Biru benar-benar kesal. Padahal besok adalah hari yang baik, tapi Jingga berhasil merusak mood-nya saat ini.
Tentang popularitas, demi Tuhan. Bahkan Biru tak sedetik pun pernah membayangkan bahwa dia mundur dari panggung dan tak pernah menjadi pembicara lagi. Dia sudah telanjur nyaman dengan profesinya saat ini dan terlanjur mencintai dirinya yang menjadi panutan bagi banyak idolanya. Dia menyukai saat potret yang di-uploadnya melalui aplikasi disukai oleh banyak orang, dipuji oleh banyak akun, dan dicintai oleh banyak kalangan. Dia tersenyum ketika video-video miliknya ditonton oleh jutaan warga pengguna internet, dan dia menyukai itu. Maksudnya, hanya itu yang Biru sukai. Hanya itu yang membuat Biru bahagia walau dia tak bisa memungkiri bahwa segala hal yang fana, pada akhirnya hancur juga. Tapi Biru tak pernah siap untuk itu. Persetan dengan kehancuran popularitas, paling tidak akunnya hanya akan berhenti beroperasi jika nyawanya telah direnggut alam. Jika hanya karena seorang Jingga, Biru benar-benar akan mengutuknya.