022. Tebet, dan Rumah yang Hilang.

2204 Words
Sebulan selepas Jingga pergi, dan sehari selepas Biru ke Bandung, Nadya memutuskan untuk Jakarta hari ini. Dari uang jatah yang diberikan Jingga padanya, ia gunakan untuk menyewa mobil beserta sopir yang akan mengantarnya hingga ke Jakarta. Bahkan seperti mimpi buruk. Dia bisa melakukannya dengan pesawat jika saja masih menempati tubuh Caramel, entah berapa jam dia harus duduk di tempat yang berbau wangi jeruk ini. "Mas, pewanginya ganti deh. Nanti kalau lewat pasar swalayan beli yang rasa apel. Sorry, saya nggak suka pewangi mobil jeruk," ucap Nadya yang duduk di belakang. "Iya, Mbak. Siap." Sopir tersebut merupakan Kakak dari teman editornya. Nadya sendiri awalnya ingin menggunakan kereta saja, tapi dia malas jika harus menunggu beberapa hari karena cukup yakin bahwa tiket-tiket yang waktu keberangkatannya dekat, sudah penuh. Apa lagi sekarang musim liburan, tidak mustahil tanggal yang keberangkatan jauh pun penuh. Begitu pikirnya. Dan lagian dia malas jika sudah sampai stasiun dan tidak dijemput siapa pun. Di kursi belakang, sesekali dia merebahkan tubuhnya di sana. Ia memakai kulot dan kaos oversize yang warnanya sudah pudar. Nadya asli memang sepertinya tidak menyukai fashion. Wanita itu selain tidak menyukai dunia per-skincare-an juga tidak menyukai fashion. Mungkin dia juga asing dengan OOTD, atau jangan-jangan dia tak memperhatikan jadwal pakaian setiap pergi ke kampus, astaga Nadya ... aku turut berduka cita, tapi aneh banget kenapa Biru bisa suka sama kamu. Apa yang udah kamu lakuin ke Biru, ataukah Biru punya hutang budi? ** Sekitar entah beberapa jam ketika dia merasa bahwa pantatnya sedikit panas, pinggul terasa pegal, leher apalagi dan sudah bangun tidur berkali-kali dan telah melalui banyak tol dan beberapa kali berhenti di rest area, sekarang mobil yang dikendarai mulai memasuki Jakarta. Rumahnya berada di Jakarta Selatan. Dia sendiri sebenarnya tidak tahu apa motivasinya kemari selain kangen dengan orang tuanya. Dia ingin melihat ibu dan ayahnya. Dia ingin melihat kamarnya, apakah saat ini kamarnya sedang berantakan ataukah sedang dibersihkan oleh asisten rumah tangganya? Nadya tak tahu. Dia hanya rindu Jakarta. Persetan dengan stereotip kota Jakarta yang konon penuh polusi, padat, dan banyak sekali hal-hal buruk tapi valid yang ia dengar, kenyataannya ia lahir dan besar di sana. Jadi, mau tak mau dia mencintai kotanya. Ya, lantas dia akan mencintai kota mana lagi jika bukan tempat kelahirannya. "Tebet bagian mana, Nadya?" tanya sang sopir. "Tebet barat. Pokoknya kalau udah sampe situ gue tahu kok tujuannya." Dia berkata sembari memakan pop corn caramel kesukaannya. Di luar sana, lalu lalang kendaraan terlihat amat ramai. Sudah lama Nadya merindukan ini. Tepatnya sudah satu bulan dia berhasil survive di tubuh Nadya meski dibarengi dengan jutaan drama. Tapi setidaknya sebentar lagi dia akan berhasil kembali pada tubuhnya. Atau jika saja dia memikirkan kemungkinan lain, misalkan dia tak bisa kembali ke tubuhnya, paling tidak dia harus mengatakan pada Caramel di masa lalu bahwa dia tak boleh kabur ketika pernikahan saat itu digelar. Pergilah, tapi jangan ke jalan raya. Atau ah, pokoknya ada banyak hal yang ingin Caramel sampaikan pada keluarganya. Di sebuah tepi jalan, mobil berhenti tepat di depan sebuah bangunan luas dengan nuansa gold dengan gradasi maroon yang mewah. Bangunan berlantai dua itu dibatasi oleh pagar setinggi tiga meter berwarna senada dengan bangunan. Di balik pagar, terlihat sebuah taman di depan rumah yang di tengahnya ada air mancur serta kursi-kursi yang biasanya ditempati oleh Caramel dan teman-teman ketika mereka pulang dari kampus. Sekadar bergosip tentang cowok dari prodi lain, atau biasanya merencanakan liburan ke LN dan berebut tas limited edition yang dikeluarkan oleh merk terkenal. Namun, rumah itu sekarang tampak sepi. Nadya turun dari mobil, dia meminta sopirnya untuk tetap menunggu. Dia tahu bahwa nekat berjalan dari depan mungkin ia tak akan dan pasti tak pernah diperbolehkan. Akhirnya dia berjalan melalui samping bangunan. Dia tahu ada pintu masuk rahasia yang tak diketahui oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri dan salah satu asisten rumah tangganya. Ia, berjalan menelusuri samping bangunan, lalu tepat di tepi pagar, dia membuka sebuah kotak kayu yang berada di bawah menutupi pintu masuk yang menghubungkannya dengan gudang bawah tanah. Ia masuk ke dalam, lalu kembali menutup jalan tersebut dengan kayu dan berjalan di tengah kegelapan sendirian. Yang membuat jalan bawah tanah ini merupakan suami dari asisten rumah tangga Nadya yang membesarkan atau tepatnya menemani Nadya dari kecil hingga besar. Namanya Pak Heru. Nadya yang meminta pak Heru untuk mengebor jalan tersebut agar dia selalu memiliki waktu untuk keluar lebih cepat dan pulang lebih lama. Peraturan dari keluarga yang amat mengekang ketika Nadya masih kecil tentu saja membuat dirinya sulit bermain bersama teman. Kadang Nadya kecil yang sedang asyik bermain, harus pulang, kadang dia juga tak boleh diizinkan keluar rumah ketika hujan, dan kadang dia harus langsung ikut sopir pulang ketika teman-teman di sekolah dasar masih memutuskan untuk bermain. Dan akhirnya Caramel merengek dan meminta pak Heru untuk membuat alternatif lain agar orang tuanya tak menyadari kepergian dan kepulangan Nadya. Hingga akhirnya setiap orang tua Caramel pergi untuk bekerja, Pak Heru membuat jalanan itu dan kalau tidak salah ingat, dia baru menyelesaikan pembuatan jalannya setelah 3 bulan. Saat itu Caramel memiliki waktu luang banyak untuk bermain dan dia amat senang dengan hal itu. Tepat di ujung lorong, ia menggeser sebuah kotak. Lalu cahaya masuk. Sekarang tepat pukul 11.00, sang papa di kantor sementara mama masih di butik. Asisten rumah tangganya, mungkin sibuk di dapur atau tempat kerja lain. Yang harus dia lakukan adalah masuk ke kamarnya. Dia melangkah pelan di gudang, lalu pelan-pelan membuka pintu gudang yang berada di lantai dasar itu. Ia melongokan wajahnya keluar, dilihatnya tak ada siapa-siapa. Rumahnya memang selalu sepi, lalu buru-buru dia melangkah pelan melalui jalan samping agar sampai di ruang tengah untuk menaiki tangga yang menghubungkannya dengan lantai dua. Dia naik dengan pelan-pelan, lalu mulai membuka kamarnya dan ... dia terkejut ketika menyaksikan kamar yang sangat berbeda. Dia masuk, menutup pintu dan memperhatikan kamar ini. Tapi, nahasnya ini seperti bukan kamarnya. Catnya kusam, tak ada potret-potret miliknya yang ditempel di dinding-dinding dan poster-poster One Direction pun tak ada. Kamarnya begitu sunyi, bahkan ranjang miliknya tidak berukuran king size. Kamar itu terlihat bukan kamarnya. Ia lantas melihat ke arah kaca, lalu mendapati sebuah potret perempuan asing yang terbingkai di meja rias. Dia siapa? Bahkan, Caramel tak mengenalnya. Jika ini bukan rumahnya, jika ini memang rumah perempuan yang saat ini fotonya ia pegang, lantas ke mana rumahnya sekarang? Atau tidak begini saja, ke mana semua keluarganya pergi? Februari 2017. Dia mengingat tentang Februari tahun 2017. Tapi seingatnya, ia tinggal di sini sejak kecil, sejak dia belum mengingat semuanya. Dia tak pernah berpindah ke mana pun, dia dan keluarga pun menetap karena sang ayah memang tak pernah berpindah tempat kerja. Semuanya ada yang janggal. Caramel benar-benar tidak tahu tentang ini. Dia berinisiatif membuka lemari, lalu dilihatnya banyak baju-baju yang mungkin saja milik perempuan itu. Dia kemudian mendekat ke arah telepon genggam, lalu mencoba menelpon nomor rumahnya. "Halo selamat siang, dengan kediaman Rayhan Ardan Nugraha ada yang bisa dibantu?" Seseorang menyapa dari seberang. Caramel terlonjak, saat dia baru menyadari bahwa suara tersebut adalah suaranya. Dia masih mengingat suaranya dan itu memang suaranya. "Caramel?" Dia bertanya, tepatnya memastikan. Tapi telepon mati. Dia kembali menekan digit nomor telepon rumahnya, tapi mati. Katanya nomor itu tak tersambung. Ia benar-benar dibikin pusing. Sebenarnya ada apa? Apakah dia berada di universe lain atau bagaimana? Dia tak paham. Tapi jika tidak salah mengingat, tahun 2017 Caramel memang pernah menerima telpon aneh. Waktu itu dia mengangkat telepon tersebut, kemudian menyapa seperti biasa, seperti yang biasa dilakukan keluarga papanya, Rayhan. "Halo selamat siang, dengan kediaman Rayhan Ardan Nugraha ada yang bisa dibantu?" Kemudian seseorang dari seberang menyebut nama dirinya. "Caramel?" Setelah itu mati. Apakah berarti ... ah rasanya merinding ketika ia harus mengingat kejadian itu. Tapi satu hal yang pasti, kini rumahnya tak ada. Rumah miliknya hilang entah ke mana. Atau barangkali Caramel lain ada di dunia yang lain, bukan dunia yang ini? Dia tak paham, dia sungguh tak mengerti. Terlalu banyak kejanggalan dan dia harus temukan jawabannya. Dunia paralel itu ... apakah benar-benar ada? Nadya lantas keluar, dia berjalan ke arah ruang tengah. Sekarang sangat sepi. Tak ada siapa pun melainkan tv yang sejak tadi menyala. Layar tersebut menampilkan berita tahun 2017. Berarti jika memang sekarang berada di tahun 2017, lantas ke mana rumah miliknya yang sejak dulu pun di situ. Ia masih mengingat betul bahwa sejak kecil tinggal di rumah ini. Buktinya jika saja salah rumah, mungkin ia tak akan bisa menemukan atau menebak lorong yang menghubungkan area luar dan dalam melalui jalan bawah tanah. Tapi dipikir-pikir lagi terlalu aneh. Dia kemudian keluar melalui pintu depan setelah melewati ruang tamu yang tak menarik minatnya sedikit pun. Kali ini tak ada satpam yang menjaga gerbang. Buru-buru Nadya keluar dan kembali masuk ke mobil yang sejak tadi berhenti di sana. "Kita pulang lagi aja, Mas." "Kenapa, Nat? Katanya itu rumah saudaramu? Enggak ada siapa-siapa ya di sana? Tunggu aja kalau gitu." Dia memberi saran. "Kayaknya enggak usah deh, aku udah ninggalin surat," jawabnya berdusta. Nadya tak ingin menceritakan apa pun tentang kejadian hari ini, bisa-bisanya dia dianggap gila atau bahkan depresi karena rumah tangga yang tak bahagia. Lagian jangankan orang lain, dia sendiri saja tak percaya dengan apa yang di lakukan sekarang. Semuanya terlalu ambigu untuk dipahami. Mungkin dia akhirnya sadar bahwa dunia ini memang merahasiakan banyak sekali hal-hal yang gaib, atau ajaib. Miracle atau hal-hal terpikirkan itu memang ada. "Beneran? Masa ke sini cuma liat rumah doang, abis itu pulang lagi." Dia sepertinya tak mau meninggalkan Jakarta. "Aduh udahlah, shut the f**k up. Kalau pulang ya pulang. Lagian aku bayar kok. Berapa maumu? Aku bayar dua kali lipat. Asalkan pulang sekarang," omelnya. "Oke deh, Nad. Enggak usah galak-galak kayak belum bayar token listrik." "Ya elo sih mancing mulu." Sejujurnya Nadya tak ingin kembali ke Malang. Dia masih ingin tetap di sini mencari rumah lamanya yang hilang. Jelas hilang karena dia tahu betul bahwa rumah ini adalah rumahnya, tapi telah berubah bentuk ketika menyadari isinya. Halamannya, garasinya, temboknya, bahkan lukisan di dekat kolam renang masih seperti tahun-tahun sebelumnya, tapi setiap isi dari rumah itu berbeda. Sepertinya seseorang yang lain tinggal di sana. Mobil kembali pergi hendak meninggalkan kota Jakarta walau berat dirasa. Nadya betul-betul ingin tahu jawabannya tapi siapa yang bisa mempercayai ini? Siapa yang percaya dengan lintas waktu? Tapi berpikir sendirian benar-benar membuat dia sangat muak. Bagaimana dia harus menceritakan ini, tetapi ... "Stop. Stop dulu." Nadya mengagetkan. Mobil langsung berhenti, untung saja tepat di tepi. Nadya menurunkan kaca mobil, melihat seorang lelaki yang baru saja masuk ke dalam toko kue bersama wanita yang tak Nadya kenali. Nadya lantas turun. Dia mengikuti langkah lelaki yang tak lain adalah ayahnya itu. Dia tampak menggandeng seorang wanita yang tak Nadya tahu. Mereka terlihat hendak memasuki sebuah lift, Nadya buru-buru mengikuti dan masuk bertiga bersama mereka. "Sayang, istrimu nggak akan tahu, kan?" tanya wanita itu. "Enggak, tenang aja. Istri saya sibuk sama pekerjaannya. Kamu mau beli apa? Kamu bebas beli apa pun yang kamu mau." "Ah, makasih." Tanpa malu wanita itu memeluk lelaki di sampingnya. Wajah Nadya memerah. Dia benar-benar tak percaya bahwa sang ayah berbuat serong dengan wanita lain. Kalau tidak salah ... dia tiba-tiba mengingat sesuatu. Ya, tepat di awal tahun 2017, mama dan papanya sempat bertengkar karena seseorang melaporkan tindakan Rayhan. Tapi Nadya sendiri lupa siapa seseorang yang melaporkannya, lebih tepat dikatakan tidak tahu karena keluarga mereka hanya menerima amplop yang akhirnya membuat papa bersujud di kaki sang mama agar memaafkannya. Sekeluarnya dari lift, Nadya langsung menghentikan langkah kedua orang di depannya. "Pak Rayhan Ardan Nugraha yang telah memiliki istri dan kedua orang anak, bukankah lebih baik Anda pulang temui istri Anda?" ujar Nadya. Sesungguhnya dia ingin sekali menampar ayahnya sendiri, kenapa lelaki itu berbuat sedemikian tega pada keluarganya. Bukan hanya melukai hati sang mama, tapi dia juga. Anaknya juga. Lelaki itu tampak terkejut. Dia melepaskan tangan wanita di sampingnya lalu mendekati Nadya. "Kamu siapa? Jangan lancang ngomong begini di depan saya. Apa kamu tidak tahu saya?" "Jelas, saya lebih kenal dengan Anda daripada wanita di sebelah Anda. Pak Rayhan, apa Anda nggak merasa kasihan terhadap anak dan istri Bapak? Kelakuan Anda benar-benar menjijikkan untuk ukuran pria yang selalu dicap baik oleh keluarga besar." Suara Nadya bergetar. Sebenernya dia ingin menangis melihat kelakuan ayahnya di tahun 2017, tapi dia tak bisa melakukannya. Paling tidak ini hanya reply dari tahun-tahun sebelumnya. "Jaga ucapanmu!" Pria itu terlihat berang. "Saya akan mengirimkan semua bukti ini pada keluarga besar Anda!" Nadya melihatkan ponselnya yang berisi potretan pria itu saat sedang di lift bersama wanitanya, lalu segera berbalik dan tak menyahut sedikit pun ketika dia dipanggil oleh ayahnya. Dia buru-buru berjalan ke arah ruko percetakan. Di sini terlalu mudah untuk menemui ruko apa pun. Nadya mencetak foto-foto tersebut, lalu menuliskan sebuah surat dan menitipkan pada pemilik ruko tersebut untuk mengantarnya pada jasa ekspedisi. Tentu saja Nadya membayarnya dua kali lipat agar pelayan itu mau membantunya. "Saya mohon, jangan sampai amplop ini tidak terkirim," ucap Nadya. "Iya, Kak. Tenang aja. Saya akan mengirimkannya sekarang." "Makasih, ya." "Sama-sama." Selepas itu Nadya langsung kembali lagi ke mobil. Dia mengembuskan napas lega. Tapi ... jika di tahun 2017 keluarga besarnya mengetahui semua keburukan papa dari amplop, berarti itu Caramel sendiri yang mengirimnya. Dia baru ingat, bahkan warna amplopnya sama-sama cokelat. Ada apa maksudnya? Beneran, gue makin pusing tapi udahlah. Capek. "Ayo berangkat lagi, kita pulang," pintanya. "Okay."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD