Jingga memegang kepalanya yang mungkin terasa kian berat. Dia seakan seperti dipaksa masuk dalam dunia dongeng yang tak dia kenali. Tapi dia harus dipaksa memerankan sosok yang terikat dengan tokoh utama. Sebenarnya Jingga tak tahu harus memberikan reaksi seperti apa, tetapi dia telah dihadapkan pada kenyataan yang membuatnya hampir gila memikirkan takdirnya. "Tapi ... bukannya ini kayak dongeng?" Jingga memberi tanggapan. "Bahkan saya sudah menyadari sejak awal. Tapi saya harus tetap bertahan dan mempercayai bahwa mungkin inilah takdir saya. Rasanya memang begitu memuakan. Saya ingin tahu siapa Nadya, kenapa dia seistimewa itu sehingga dia harus mengorbankan orang lain untuk memulai kehidupannya. Bukankah ini harus mengorbankan saya sebagai korban yang penuh dengan konsekuensi?" Dia t

