Sudah tiga hari berlalu, tetapi Jingga tidak tidur di kamar Nadya. Bahkan sepertinya lelaki itu tidur di rumah ibunya. Sebelum dia memutuskan tak pulang, Jingga memang sempat memberi pesan pada Caramel bahwa dia tidak pulang hingga waktu yang tidak ditentukan. Tentu Caramel memahami bahwa Jingga cukup kaku dan malu, atau kesal mungkin saja. Bagaimana mungkin akhirnya lelaki itu tahu bahwa seseorang yang tidur dan napas bersamanya adalah orang lain, bukan Nadya. Caramel terdiam di depan layar tv memandang layar yang menghitam. Dia mendengar suara dari dapur yang cukup berisik. "Wulan, tolong buatkan jus melon, ya," pinta Caramel. "Baik, Mbak," sahut Wulan. Nadya memandang ponselnya. Rasanya dia harus cepat-cepat kembali. Paling tidak dia tidak memikirkan lagi tentang semuanya. Dia tid

