005. Editor Bayaran

2022 Words
Sembari menurunkan barang-barang dari motor dan memasukannya ke ruang tamu, Nadya mendendangkan lagu Best Mistake yang dinyanyikan Ariana Grande dan Big Sean. Suara Nadya memang terdengar tidak terlalu merdu, mungkin suara burung pipit lebih bisa bikin nyaman, tapi dia hanya berusaha menghibur dirinya sendiri setelah panas-panasan di luar. Hari ini benar-benar melelahkan, tetapi dia harus tetap bertahan jika memang menginginkan takdirnya kembali. Ah, persetan. Jika saja menjadi manusia memang sesulit ini, dia ingin menjadi buah naga saja. Atau apa pun sayuran yang mungkin lebih bermanfaat dan tak merasakan takdir yang menyebalkan. Bertukar tubuh dengan orang kaya memang seru, tapi ini lebih bisa dikatakan sebagai tukar nasib. Dia melepas blazer ungunya, melepas sarung tangan dan kaus kaki, lalu duduk berselonjor di ruang tamu setelah menyalakan kipas. "Anjir, beneran gerah betul. Ni Nadya betah amat tinggal di sini." Dia mengambil handphone, lalu menyalakan kamera depan dan melihat pantulan wajahnya di sana. Kulitnya yang putih terlihat memerah. Nadya mengembuskan napas keras, lalu merebahkan dirinya di sofa sembari menatap langit-langit dan menyanyikan stuck with you dengan suara yang cukup keras. "Nadya!" Seseorang memanggil. Dia menoleh ke arah pintu, mendapati wanita paruh baya yang baru saja masuk ke rumah sembari membawa rantang putih. Dia ibu Nadya. Perempuan itu duduk, lalu wanita itu terlihat menatap Nadya lekat, memperhatikan dan akhirnya duduk di sofa depannya. Tatapannya seperti tengah menatap sesuatu yang baru dilihatnya, seperti melihat hal aneh. "Kamu abis belanja? Banyak banget, Nad. Katanya kamu lagi nabung buat persiapan beli tanah sendiri," ucap wanita itu sembari memperhatikan barang belanjaan Nadya. Putri di depannya yang telah dirasuki perempuan hedonis itu tak merespons apa-apa karena salah sedikit saja mungkin akan menjadi permasalahan. "Nat, ndak jawab omongan Ibu. Nadya lapo, sih?" Wanita itu menekankan suaranya. Lapo tuh apa sih anjir. Astaga, gue beneran nggak paham. Gue jawab apa. Bingung banget. Kenapa sih lagian dia ke sini terus, bikin gue nggak nyaman aja. Nadya membatin. "Eh, ya kapan lagi, Bu. Masa depan emang penting, tapi perut juga penting. Kalau aku kena gizi buruk emang ibu bakal tanggung jawab? Kan enggak. Setiap hari harus mengonsumsi makanan berprotein tinggi, atau seenggaknya empat sehat, lima sempurna. Bukannya ibu tau kalau itu hal yang harus kita konsumsi dengan wajib?" Nadya menjawab sesuai dengan apa yang ada di pikirannya. Toh apa yang dikatakan adalah benar. Dulu, ah tidak dulu. Pokoknya sebelum hal ini terjadi, dia selalu sarapan dengan makanan dengan sehat. "Em-- iya Nat, ibu tau. Tapi nggak usah berlebihan juga. Dan tumben nggak ngomong dulu sama ibu." "Ngomong apa? Kalau mau beli buah? Atau mau beli makanan? Astaga, Bu, masa untuk beli gini aja mesti bilang, sih. Gimana kalau aku mau beli mobil baru. Lagian bukannya ini uang Nadya sendiri? Ya bebas dong mau diapain, kenapa mesti ikut campur terus kayak orang yang nggak ada kerjaan," celoteh Nadya. "Lagian Bu, ini nggak seberapa. Kadang kita nggak harus sharing tentang semuanya. Aku juga menghabiskan uang bukan untuk foya-foya, tapi untuk perutku sendiri." "Nadya astagfirullah. Yang sopan toh Nduk, kalau ngobrol sama ibumu. Ibu ini ibu kamu. Kamu lagi kenapa sih, Nadya? Akhir-akhir ini kamu beda banget sama Ibu. Kamu nggak kayak Nadya biasanya." Sang ibu mengelus d**a. Dia seakan tengah mengobrol dengan bibit-bibit Malin Kundang. Ya setidaknya Nadya berpikir demikian. Tapi demi apa pun orang tua Nadya bawel banget sih. Plis, Nadya kan udah dewasa, udah 25 tahun di KTP-nya dan mustahil banget segede gitu mau apa pun harus izin sana-sini dulu. Tapi ya pantes aja dia dijodohin, ternyata emang nurut banget, astaga. Maksud gue, beberapa hal kan nggak harus diketahui orang tua. Mustahil rasanya seorang anak nggak menyimpan sedikit pun privasi dari ibu atau bapaknya. "Bu, maaf bukannya saya nggak sopan sama Ibu, tapi apa ibu nggak berpikir bahwa saya udah besar dan saya bisa mengambil keputusan apa pun sendiri. Saya udah berumur 25 tahun, dan ibu masih harus ikut campur urusan saya? Bukannya waktu saya mutusin buat tinggal di sini, sebenernya di saat itu pula ibu berhenti ikut campur segalanya tentang saya? Saya tahu Anda ibu saya, tapi saya juga punya wewenang atas diri saya sendiri. "Dan satu hal lagi, saya nggak ingin berprasangka buruk sama ibu tapi perihal perjodohan dengan Jingga itu sebenarnya bukan untuk kebaikan saya, kan? Tapi demi memenuhi ekspektasi ibu. Ibu nggak mau menjadi omongan tetangga, ibu nggak mau menanggung malu karena putrinya masih belum menikah di usia ke 25 tahun, padahal kalau ibu lihat di kota perempuan wajar menikah umur berapa pun. Ah bukan di kota aja, berlaku untuk setiap perempuan bebas yang nggak dikekang siapa-siapa." Nadya berkata panjang lebar. Dia terdengar meluapkan segala keluhnya dan ingin speak up tentang Nadya. Sudah sepantasnya Nadya memiliki pilihan, walau sejujurnya sudah telat tapi setidaknya dia harus membuat wanita di depannya menjadi berpikir. Bukannya introspeksi, tetapi wanita di depannya menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tengah melihat orang asing yang bukan putrinya. Nadya ingin jujur dan mengatakan segalanya, tetapi segalanya akan menjadi panjang. Toh di zaman sekarang siapa yang masih mempercayai adanya perjalanan waktu atau dunia paralel. Yang ada dia akan dibawa ke rumah sakit jiwa dan urusan akan semakin panjang. "Kamu sadar ngomong begitu sama Ibu? Nadya, ibu benar-benar kehilangan anak ibu yang lugu. Ibu bener-bener kehilangan sosok Nadya yang kayak dulu. Kamu kenapa sih, Nak? Dan apa tadi kamu bilang? Pisah rumah karena ingin ibu nggak ikut campur urusan kamu? Bukan, itu bukan alasan kamu pindah ke sini. Tapi karena kamu ngajar di SMP yang lebih dekat dengan kontrakan ini daripada rumah Ibu. Nadya, kamu lupa atau bagaimana? Apa yang salah dari kamu, Nad?" "Udahlah, Bu. Nadya mau istirahat. Kalau ibu mau pulang ya nggak papa aku antar," ucapnya. Antar? Padahal Nadya tak tahu di mana rumah ibunya. Tapi persetan dengan tidak tahu, ia bisa bertanya atau paling tidak diingatkan jika salah belok arah. Dia cukup lelah untuk berdebat dan mengeluarkan tenaga di depan wanita yang bukan orang tuanya cukup membutuhkan energi yang sejujurnya tak mau ia buang sia-sia. Percuma juga diedukasi, kayaknya dia menganut orang tua selalu benar. Nadya ... Nadya ... agak kasian lihat lo, tapi gue janji. Selepas gue pergi, gue bakal bikin hidup lo lebih baik dari yang dulu. Kelak, hidup lo akan berubah dan semoga lo bisa jadi Nadya yang berani. Dia membatin. "Enggak usah, ibu pulang sendiri aja. Jangan lupa masakan ibu kamu makan." Wanita itu lantas keluar, menutup pintu dan Nadya menatapnya sekilas. Membosankan. Dia meraih handpohone saat ingatannya mampir pada novel Ra. Buru-buru dia mencari kontak teman Nadya, sesama Editor di penerbit Hae Publishing. Sebelum akhirnya dia menekan tombol hijau memanggilnya. "Halo, Nat." Tak perlu menunggu lama, seseorang menyapa dari sana. "Hei halo, gue boleh minta bantuan nggak?" ucap Nadya tanpa basi-basi. "Ini Nadya, kan?" Mungkin merasa ada yang aneh dengan gaya bicaranya, ia memastikan. Nadya mengembuskan napas kasar, "Ah iya, ini aku Nadya. Kamu lagi di mana? Aku mau ngomong serius, tapi jangan sampai di dekatmu ada orang lain." "Oh aman. Aku lagi di kamar sendirian. Ada apa sih, Nat?" tanyanya penasaran. "E--e-- rencananya aku mau minta bantuan sama kamu. Bisa nggak kamu edit naskahnya Tangkai Ra juga? Nanti aku bayar dua kali lipat asalkan kamu nggak bilang sama yang lain, apa lagi direktur." "Hah? Emangnya kamu sendiri kenapa nggak bisa ngedit naskah tangkai Ra?" Suaranya terdengar terkejut. "Aku ... aku ...." Nadya mencari alasan. Seketika dia langsung menjentikkan jarinya, "aku lagi ada masalah di rumah dan kayaknya keluarga Jingga juga mulai sibuk siapkan pernikahan deh. Kami juga ada acara fitting baju pengantin. Dan kayaknya aku nggak bisa fokus buat edit naskah Ra," alibinya. "Bukannya sebelum ini kamu sendiri yang bilang sanggup edit naskah dia sebelum awal bulan nanti? Padahal kan penerbit juga udah kasih kamu cuti dua minggu, tapi kamu bilangnya hanya butuh tiga hari. Dan sekarang kamu bilang nggak bisa, itu sih kamu nggak konsisten dan nggak nerima konsekuensi, Nad." Teman Nadya yang bernama Arum, menjelaskan. Nadya bingung harus mengatakan alasan apa lagi, tapi dia harus merayu Arum agar dia mau membantu Nadya dengan menyunting naskah milik Ra tanpa diketahui oleh siapa pun. "Ya gimana ya, Rum, kukira sesenggang itu tapi ternyata keluarga Jingga bikin pesta kecil-kecilan juga, aku nggak enakan kalau nggak ke sana. Aku mohon banget sama kamu, aku bayar tiga kali lipat kalau perlu, asal kamu nggak bocorin ke mana-mana dan kalau udah selesai, kerjaan itu tetap atas namaku." Kali ini Nadya tak sabar, andai saja ada di masa depan, bahkan ia bisa membayar dengan sepuluh kali lipat kalau bisa. "Nggak profesional banget ya, Nat. Tapi nanti aku coba pikirkan lagi." "Jangan nanti dong, aku butuh keputusan kamu sekarang. Kalau misalkan kamu nolak, ya aku cari baru. Aku nggak terlalu maksa sih." Kali ini Nadya menggunakan trik lain, rasanya manusia ketika dia menjadi orang yang paling dibutuhkan akan besar kepala dan berpura-pura tidak mau terlebih dahulu. Persetan dengan profesionalitas, daripada naskah Ra disunting olehnya yang nanti kemungkinan terburuk akan didemo oleh netizen, lebih baik membayar lebih pada yang benar-benar editor. Ya itupun jika teman Nadya itu mau membantu. "Okay deh. Tapi aku nggak mau kalau kerjasama ini bocor keluar. Lagian bisa-bisa kamu nanti kena peringatan dua, Nat." "Siap ... siap. Tenang aja." Nadya tersenyum. "Okay, kirim aja ke surelku. Aku matikan dulu sambungannya." "Okay." Nadya kemudian meletakan ponsel di meja, menghela napas lega. Akhirnya ia tak perlu memikirkan naskah Ra lagi. Tapi, tetap saja masih banyak yang ia pikirkan. Ia sedikit cemas jika nanti dipanggil oleh kantor bila ada pertemuan lagi. Semoga saja disaat ada pertemuan keduanya, Nadya sudah fasih menggunakan Jawa dan mungkin sudah siapa dengan berpura-pura lugu. Sedikit sulit tapi mungkin ini cara satu-satunya agar dapat berbaur dan bertindak profesional. Kasihan juga jika Nadya di masa lalu terkena dampak pecat sebelum Nadya sekarang mendapat ganti pekerjaannya. Handphone kembali bergetar, Nadya melihat nama Jingga memenuhi layar. Ia membuka pesan singkat di sana, lalu membacanya. Jingga Lusa fitting baju pengantin ya, Nat. Jangan sampai lupa. Nanti sama Umi juga. Nadya mengercutkan bibir, dia amat malas membalas pesan itu, terlebih baik Nadya dulu dan Nadya sekarang sama-sama tak menyukai Jingga. Tapi untuk mementaskan drama ini, Nadya harus pura-pura jatuh cinta. Nadya Iya. Kamu jemput aku kan? Naik mobil, ya. Jingga Iya, Nat. Pagi. Eh, hari ini kamu nggak ngajar? Ngajar? Nadya mencoba mengambil ingatan Nadya lagi, mengingat-ingat mengajar apa? Ah, ya, dia terbelalak saat baru saja ingat bahwa selain menjadi editor lepas, Nadya juga berprofesi menjadi guru Bahasa Indonesia di salah satu sekolah menengah pertama. "Astaga kenapa gue bisa selupa ini. Mana udah hari ke tujuh nggak berangkat lagi. Tapi kenapa nggak ada pesan dari kepsek sama sekali atau siapa pun pihak sekolah yang menghubungi deh." Nadya bergumam sembari menggulir layar ponsel pada bagian pesan w******p, tetapi tak ia dapati satu pun pesan yang menanyakan atau apa pun. Ada yang aneh. Tapi bagaimanapun besok Nadya harus tetap ke sekolah. Nadya Oh ngajar kok, baru pulang karena ada rapat. Jingga Ah gitu, kalau mau dijemput bilang aja, Nat. Aku nggak mau kamu capek. Nadya Ya, kapan-kapan aku bilang. Ngomong-ngomong kalau kita udah nikah mobilnya boleh dipakai aku kan? Jingga Bolehlah, tapi kamu kan nggak bisa naik mobil. "Ya tapi gue kan bisa." Nadya tertawa. Ah, setidaknya dia bisa keluar dari penderitaan lain. Nadya Ya belajar aja sama kamu. Gimana? Jingga Gampang. Kamu udah makan? Nadya Ya, udah. Nadya mematikan handphone, menaruhnya di meja lalu dia sendiri berjalan ke arah kamar untuk cuci muka. Pembahasan mulai membosankan ketika dia bertanya sudah makan, lagi apa, dan seterusnya. Nadya benar-benar tak suka topik yang tidak menarik. Bukannya apa-apa tapi menurut Nadya, seharusnya lelaki seperti Jingga pandai mencari topik. Misalnya siapa saja yang terlibat dalam kemerdekaan RI dulu, atau apa yang membuat sekelompok orang menganggap bahwa bumi itu datar, kemudian apakah percaya dengan adanya reinkarnasi? Banyak hal-hal yang mesti dibahas tapi sayangnya Jingga memilih hal-hal dasar yang benar-benar membuat Nadya gampang bosan. Tapi bisa juga Nadya asli mungkin menyukai topik monoton itu. Siapa yang tahu. Dipikir-pikir pacaran memang terlampau membosankan. Nadya tak paham ini dikatakan pacaran atau apa, tetapi paling tidak mereka sudah memiliki ikatan. Dan obrolan di kala pacaran itu memang hanya seputar makanan kesukaan, lapor apa saja yang sudah dilakukan hari ini, terdengar bosan apalagi harus berbicara dengan seseorang yang tidak dikenal. Memuakkan. To be continued~ Halo, terima kasih sudah membaca cerita ini ^^ Salam~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD