Aruna telah memancar menyinari paginya Jakarta. Nadya yang sejak semalam sengaja tak tidur bersiap untuk ke sekolah. Ternyata dia banyak menemui pesan singkat dari beberapa guru yang baru ditemukan semalam karena di-arsipkan. Dan ternyata siapa yang bakal menduga bahwa Nadya pun mendapati pesan Nadya lama dan mantannya yang belum terhapus sama sekali. Komunikasi mereka berakhir dua tahun lalu. Cukup romantis, jika dilihat Nadya dan pacarnya tak pernah membahas hal penting kecuali apa saja yang dilakukan hari itu, apa saja yang mereka makan, dan siapa saja yang ditemui. Tapi dari pesan itu juga akhirnya tahu penyebab putus mereka, ya mungkin saja walau tidak terlalu jelas.
Dan sekarang Nadya baru tahu bahwa katanya hari ini pembagian rapot para siswa. Besok, mereka sudah mulai libur semester dua, dan setidaknya Nadya mulai memiliki banyak waktu untuk leha-leha. Ah setiap hari pun dia selalu kosong. Tak ada jadwal yang membuatnya sibuk, karena sejak awal dia sudah memiliki tekad bahwa tak ada hal apa pun yang boleh menggangunya. Tak ada kehendak orang lain yang harus dia turuti jika tidak mau.
Perempuan berkemeja putih serta menggunakan rok hitam itu berdiri di depan cermin, memakai serum, lalu menambahkan cream di atasnya. Sebelum akhirnya dibubuhi sunscreen agar menjaga kulitnya dari sinar matahari. Bibirnya yang tak terlalu merah muda, disapu dengan lipstik marah, sebelum akhirnya gadis berkulit kuning langsat serta berambut panjang itu mulai keluar kamar setelah mengambil tas dan mulai berjalan ke luar rumah. Di bangunan ini, Nadya memang tinggal sendirian. Ia mengontrak rumah ini dan membayarnya setiap bulan pada pemiliknya.
Perempuan itu mengeluarkan motor yang terparkir di ruang tamu, diarahkannya keluar dan mulai memanaskan motor matic-nya. Sembari menunggu mesin kendara roda dua panas, dia berjalan ke arah pintu, menguncinya dan mulai menaiki motor tersebut. Dipakainya helm biru muda yang tadi ditaruh di spion, sebelum akhirnya kendara berwarna hitam itu melesat meninggalkan bangunan dua kamar itu.
Nadya mengarahkan motornya menuju jalanan tepi sungai. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba paham semuanya. Nadya seakan merasuki jiwanya. Ia bisa menjelaskan segala hal yang Nadya ketahui, dan cukup bersyukur bahwa akhirnya dia tak terlalu kerepotan untuk bertindak memerankan tokoh dengan baik. Bila melewati jalan besar, dia bisa sampai sekolah sekitar 15 menit, tetapi masih ada sedikit rasa takut yang menggelayut bila memikirkan betapa para pengendara kendaraan di jalanan besar tak pernah menurunkan kecepatan. Mereka seakan balapan dan sungguh, Nadya lebih ikhlas 25 menit berjalan di jalanan lebar tepi sungai daripada melalui jalan besar. Apalagi sebelumnya dia tak pernah mengendarai motor lama-lama.
Sekilas, langit tampak muram. Bahkan tujuh menit lalu, Malang masih sangat cerah. Namun, matahari tiba-tiba terkubur awan, menyisakan mendung pagi yang menjadi background hari ini. Mendung pagi? Nadya mengingat naskah yang gagal dieditnya, karena ketidakmampuan dia atas menghadapi kenyataan.
Beberapa saat kemudian, Nadya sudah sampai di depan bangunan berlantai 3 bercat abu muda. Perempuan itu mengarahkan motornya ke area parkir khusus guru, sebelum akhirnya dia menaruh helm di atas jok dan mulai berjalan menuju kantor. Sejujurnya tak ada kegiatan spesifik yang akan dilakukan mengingat semua nilai sudah diserahkan wali kelas. Sepertinya dan seharusnya. Karena hari ini hanya pembagian rapot dan Nadya bukanlah wali kelas.
"Bu Nadya," sebuah suara memanggil.
Nadya menoleh. Dia menatap saat melihat salah satu anak murid berbadge kelas sebelas yang berlari ke arahnya. "Di depan ada orang yang cari Bu Nadya. Katanya dia udah ke kantor, tapi Bu Nadya nggak ada. Mungkin dia nggak tahu kalau Bu Nadya baru tiba di sekolah."
"Ah gitu, ya? Di mana?"
"Depan, Bu. Deket Koperasi. Mas itu naik mobil. Aku kira dia suami Bu Nadya, tapi katanya bukan."
"Oh baiklah. Makasih, ya."
Setelah sedikit berpikir, Nadya menggagalkan rencana ke kantor. Dia berbalik dan berjalan kembali ke depan untuk memastikan seseorang yang mencarinya. Dia tampak keebingungan saat tak melihat siapa pun di koperasi yang masih tutup. Siapa yang dimaksud anak tadi?
"Nadya!" Seseorang menyapa.
Nada menoleh ke belakang. Dia mendapati laki-laki 27 tahunan berkemeja cokelat muda bergaris hitam, dilengkapi dengan celana jeans yang senada dengan warna garis bajunya. Rambutnya cepak. Berkulit sawo matang, bermata almond, dan hidungnya tak terlalu mancung. Pria setinggi 170 sentimeter itu tampak tersenyum, lalu duduk di depan kursi kayu koperasi yang kosong. "Pulang jam berapa?" tanyanya.
"Ah Jingga, aku nggak tahu. Bisa cepat bisa juga lama. Nggak ada kegiatan pasti di sini," jawab Nadya setelah memutuskan duduk di sebelah Harun.
Ah Tuhan, semakin banyak ingatan Nadya yang gue inget semakin gue mirip Nadya. Maksudnya, sejak kapan gue jadi sopan begini? Dan sejak kapan juga gue jadi menerima Jingga? Sialan.
"Sehabis dari sekolah bisa ikut saya fitting baju pengantin, kan? Sama Mama juga. Kayaknya dia nggak sabar, Nat." Jingga tertawa. "Ya, kemarin aku udah chat kamu sih, cuma ini mendadak ubah jadwal. Nggak papa kan?"
"Oh ya udah."
Nadya tersenyum sinis. Lantas terdiam untuk beberapa saat, membayangkan bahwa dia harus menikah dengan Jingga. Nah, Jingga sebenarnya sahabat Nadya selama di kampus dulu. Hanya sekitar dua tahun ketika mereka bertemu saat rapat Organisasi pertama.
"Tapi ya emang ini nggak terlalu buru-buru? Soalnya aku masih harus menyelesaikan kerjaan dulu."
"Akhir-akhir ini kamu sering nggak konsisten ya, Nat. Baru aja ngiyain, sekarang udah ubah rencana lagi," kritik Jingga.
"Lagian sebentar kok. Setelah itu kamu bisa menyelesaikan kerjaanmu," tandas Jingga.
"Kamu kalau ngomong rada pedes juga, ya. Aku bukannya nggak konsisten, aku cuma nggak mau aja kita terlalu buru-buru. Kamu bertindak seolah nggak pernah ada hari esok. Kamu kira aku nggak ada jadwal apa pun sampai dengan mudahnya ubah jadwal, kamu juga seenaknya ngatur jadwal semaumu. Apa aku protes? Enggak, kan?" Nadya menggeram kesal.
"Loh ini kamu apa? Bukannya ini protes." Jingga seakan tak mau kalah.
"Kalau kamu nggak ngasal ngomong, aku nggak bakal ngomong kayak gitu." Nadya menjawab sinis. Dia memalingkan wajahnya dari Jingga. Seakan perempuan itu memang tak suka dengan apa yang Jingga katakan. Terlalu keras dan terlalu egois. Tapi anehnya dia malah playing fictim. Dia benar tak suka dengan sikap yang seperti itu, tapi sayangnya dia harus hidup dengan orang sepertinya dalam beberapa waktu.
"Okay, aku minta maaf kalau ada perkataan aku yang menyinggung kamu. Dan udah ya, Nat, kita mau nikah masa berantem.
Nadya pasrah. "Baiklah," katanya. "Dan Jingga, setelah kita nikah nanti, aku masih boleh bekerja, kan? Aku nggak mau dilarang untuk meninggalkan pekerjaan yang kusukai termasuk tetap mengajar di sekolah ini. Bagaimana pun aku masih berambisi untuk lanjut S2. Aku nggak mau berhenti di sini, aku masih memiliki impian yang besar." Nadya mengucap apa yang ingin Nadya lama katakan. Ya setidaknya dia hanya membantu agar Nadya bisa menjadi perempuan bebas.
"Nadya, jangan khawatir. Aku akan membantumu. Aku nggak akan melarangmu untuk tetap mengajar di sini atau menjadi editor di penerbitan. Itu hakmu. Aku nggak akan menghilangkan sesuatu yang membuat kamu bahagia."
Halah buaya lo bangs*t. Paling manis sebelum nikah aja. Ya, bukannya berprasangka buruk, tapi agak keliatan dari mukanya.
Nadya tersenyum sinis. Harun tampak meyakinkan, tetapi jujur saja Nadya masih tak benar-benar siap untuk menikah. Apa yang akan dia lakukan ke depan? Maksudnya, kasihan sekali Nadya harus menikah meski dia sendiri belum siap.
"Aku nunggu kamu di rumahmu ya." Jingga berdiri.
"Iya."
"Assalamualaikum." Jingga pamit.
"Assalamualaikum juga." Nadya menjawab asal, apa? Bahkan dia baru tahu bahwa Harun ternyata beragama Islam.
"Assalamualaikum juga?"
"Hah? Wa'alaikumssalam?" Nadya kebingungan. Tapi, dia baru sadar bahwa jawaban dari salam memang wa'alaikumussalam, seperti yang sering ia dengar dari mulut teman-temannya yang Muslim.
Jingga tersenyum tipis. Untung saja dia tidak curiga. Setelah mendengar Nadya menjawab salam, Jingga langsung pergi dan meninggalkan Nadya yang masih duduk di sana. Nadya meloloskan napas lega, masa bodo juga jika dia merasa aneh atau merasa janggal dengan Nadya saat ini.
--
Selepas merapikan meja guru dan menandatangani beberapa berkas, Nadya langsung keluar dari kantor. Lapangan sekolah yang terhampar di depan, dikelilingi oleh gedung-gedung berlantai tiga. Para siswa mulai memadati sekolah, mereka tampak gembira karena besok tak lagi harus bangun pagi. Mungkin begitu pikirnya.
Nadya menatap sekeliling, lalu mulai berjalan menuju parkiran untuk memgambil kembali motornya. Rasanya ingin membawa kendara roda dua itu menjauhi Malang, tetapi rencana itu sama saja dengan melarikan diri dan Nadya tak mau membuat dirinya gagal kembali ke tubuhnya seperti awal jika gagalkan rencana inu atau kecewakan Nadya asli. Demi apa pun sejujurnya ada gejolak dari Nadya asli yang mana dia belum benar-benar siap menikah. Hanya karena dia tak mau mengecewakan orang tuanya yang entah ke beberapa kali, akhirnya ia terjebak pada kisah yang tak manis sama sekali. Jujur, Nadya merasa kasihan tapi takdir sudah menyapanya.
Nadya memakai helm, lalu menaiki kembali motornya. Menit berikutnya, dia mulai mengarahkan kendara roda dua itu menuju gerbang meninggalkan sekolah dan kembali ke rumah. Sekarang tepat pukul 10.21, sudah sekitar satu jam Harun menunggu di rumahnya jika laki-laki itu memang berada di sana. Tapi siapa yang betah bertamu pada rumah orang lain yang kemudian dianggurkan begitu saja?
Sekitar 30 menit kemudian, Nadya mulai melihat mobil putih yang terparkir di halaman rumahnya. Perempuan itu terkejut, pasalnya dia juga melihat Jingga yang duduk di kursi kayu sembari memainkan ponsel tanpa menyiratkan raut wajah yang kesal karena lama menunggu atau marah. Jingga terlihat santai. Nadya memarkirkan motor, melepas helm, lalu berjalan mendekati bangunan rumahnya. Namun, Jingga yang masih fokus pada handphone, seakan tak menyadari kedatangan Nadya.
"Jingga," sapa Nadya.
"Ah, Nadya. Udah pulang?" Pertanyaan yang klise keluar dari bibirnya. Laki-laki itu mungkin cukup bingung hendak mengatakan apa. Dia langsung mematikan ponsel, dan berdiri ketika Nadya mulai membuka kunci pintu rumah.
"Maaf ya menunggu lama," kata Nadya. Maaf? Kenapa juga gue harus minta maaf, bahkan gue nggak salah sama sekali. Plis ya Nadya, boleh deh gue inget seluruhnya tentang elo, tapi jangan biarin kebiasaan gue ikutan kebiasaan lo juga dong. Nadya mengomel sendiri dalam hati.
Laki-laki itu mengangguk. "Nggak kok, Nat. Santai aja."
Mereka lantas masuk ke ruang tamu, dan Jingga memutuskan duduk di salah satu kursi dekat rak buku yang berdiri di sebelah kursi tamu.
Nadya masuk ke kamar, dia mengganti seragam gurunya dengan celana kulot levis biru serta kaos oversize putih. Jujur saja, ia agak risih mengikuti pakaian khas Nadya asli, tapi bagaimana lagi. Toh dia tak memiliki cukup uang untuk membeli pakaian baru. Dia lantas berdiri di depan cermin setelah mencangklong tas di bahu kiri. Ia kemudian keluar kamar, terlihat Jingga yang sedang membaca novel bersampul hitam yang sangat Nadya kenal. Berbisik Pada Tembok yang Hancur.
"Nat, kamu masih suka mengoleksi novel-novelnya Tangkai Ra?" tanya Jingga. Dia menaruh novel itu di rak, lalu menatap Nadya yang masih berdiri di depan pintu kamar.
"Ah, iya." Nadya mendekat ke arah Jingga. Kamar dan ruang tamu memang tak memiliki batas tembok. Jadi ketika kau duduk di ruang tamu rumah Nadya, mau kau bisa melihat pintu kamarnya.
"Iya, kamu udah pernah cerita berapa kali tentang Tangkai Ra. Matamu selalu berbinar tahu kalau udah ngomongin dia." Jingga tertawa kecil, lalu berdiri.
"Ya, dulu aku ingin bertemu dengannya. Ingin sekali." Nadya bergumam.
"Maksudmu, dulu?" Jingga mengangkat sebelah alisnya. "Ah baiklah. Ayo keluar. Kayaknya Mama udah nunggu di butik, Nat."
Nadya mengangguk, dia lantas keluar disusul langkah Jingga. Setelahnya mereka masuk ke dalam kendara roda empat milik Jingga, pelan-pelan meninggalkan rumah Nadya. Dulu sering Nadya diajak Jingga untuk pergi jalan-jalan atau berdua saat Makrab, tetapi ketika mereka mencoba mengulang pergi berdua rasanya ada yang berbeda. Kali ini Nadya merasa bahwa Harun bukan seharusnya bersama dia.
To be continued~
Terima kasih sudah membaca cerita ini ^^