007. Fitting Baju Pengantin

2128 Words
Di dalam mobil yang bergerak di tengah ramainya jalanan kota Malang, Nadya mengarahkan pandangannya ke depan sembari mendengar alunan musik Dua Lipa yang berjudul New Rules yang berasal dari mobil Jingga. Jasadnya memang di sini bersama Jingga, menikmati sejuknya Malang raya, tetapi jiwanya melayang ke mana-mana, berharap ada keajaiban untuknya agar pernikahan ini bisa batal dengan sendirinya. Namun, ini abad ke berapa? Kenapa Nadya masih mengharapkan hal-hal tak mungkin. Baginya keajaiban-keajaiban hanyalah mitos, jika dia tak berusaha ingin membatalkan mana mungkin pernikahan batal. Pertemuan dengan Jingga adalah hal yang mungkin direncanakan semesta. Entah kenapa tiba-tiba Nadya mengingat kembali semuanya. Masa lalu Nadya dan Jingga. Saat itu Nadya masih ingat bahwa ketika usai melakukan kegiatan bernama PBAK di kampusnya, beberapa kakak tingkat mengenalkan banyak Organisasi. Saat itu Nadya bergabung pada Organisasi H*I. Dan dari sanalah dia bertemu dan kenal Jingga yang saat itu menjadi ketua. Awalnya pertemuan itu biasa saja. Nadya hanya MABA yang tidak mengerti apa-apa. Lalu beberapa hari setelah itu ada kegiatan bernama Makrab, dari sanalah Jingga yang saat itu sudah semester 5 mengenalkan dirinya secara spesifik terhadap Nadya. Ketika itu para anggota baru berkumpul mengelilingi api unggun, mendengar cerita-cerita setelah kegiatan usai sedang Nadya memilih untuk menjauh sebentar mencari angin malam. Tidak, bagaimana mungkin di malam yang dingin dia masih mencari angin malam. Dia hanya ingin menuntaskan dua bab akhir dari novel yang sengaja dibawanya. Mencari tempat yang nyaman, perempuan berjaket ungu muda serta bercelana kulot hitam itu nekat naik ke dataran yang lebih tinggi. Nadya lupa lokasi Makrab tersebut, tetapi dia masih ingat bahwa setelah menaiki dataran tinggi tersebut, terlihat lampu-lampu perkampungan yang terhampar di bawah bak bintang di angkasa. Nadya tersenyum, kemudian di bawah purnama perempuan itu asal duduk dan mulai membaca buku miliknya. Hingga ketika sampai di bab akhir, Nadya menutup bukunya dan dia terkejut saat mendapati laki-laki berhoodie putih serta bercelana hitam yang duduk di depannya. "Di bawah terlalu berisik ya?" Jingga bertanya santai, seolah dia tak berpikir bahwa telah mengagetkan Nadya. "Mas, lain kali kalau nongol jangan tiba-tiba, ya. Udah kayak vampire," kata Nadya. Jingga tertawa. "Iya maaf. Aku hanya ikutin kamu. Nggak lucu tahu kalau anggota kami ada yang hilang." "Acara, kan, sudah selesai, jadi aku pamit ke sini." "Buku apa yang kamu baca, Nat?" Jingga mengalihkan topik. "Tanah Yang Mengering." "Tangkai Ra?" "Mas Jingga tahu Tangkai Ra juga?" "Siapa yang nggak tahu dia. Perjalanaannya keliling Indonesia dan mengenalkan betapa kayanya budaya Indonesia melalui youtube-nya, itu udah menjadikan dia manusia yang hebat." "Benar, Mas. Aku juga nggak pernah ketinggalan buat nonton video-videonya, tapi sayang mukanya nggak pernah diperlihatkan. Dia benar-benar misterius." "Mungkin dia memang tak mau dikenal. Tapi, emang kamu nggak pernah menghadiri acara Meet and Great-nya, Nat? Kalau kamu tau sih, mungkin kamu bakal kaget. Soalnya ..." "Soalnya apa?" Nadya langsung bertanya, penasaran. Semua tentang Ra dia suka, semuanya. "Ah enggak papa sih, tapi kamu beneran nggak pernah ikut kelas dia? Sering ngadain seminar juga." "Enggak, sih." Nadya berpikir sebentar. Saat itu dia memang hanya mengikuti akun media sosialnya saja. Dan hanya melihat berita-berita tentang Tangkai Ra dari sana. Setelah obrolan malam itu keduanya bersahabat, tetapi bagaimana pun Jingga adalah laki-laki yang sangat religius, selalu menjaga jarak, kadang menjaga pandangan, dan hanya mengobrol dengan perempuan bila dibutuhkan. Sedangkan Nadya? Itulah yang membuat Nadya merasa tak pantas. Bagaimana mungkin perempuan sepertinya tercipta dari tulang rusuk Jingga? Namun demikian, Nadya harus menerima kenyataan bahwa hidup tidak berjalan ke belakang. "Ini nggak ada lagunya Dua Lipa yang judulnya Break my Heart, ya?" tanya Nadya. Jingga menoleh. "Tumben banget kamu dengerin lagu barat, Nat," komentar Jingga. "Aku nanya loh, bukan mau dikasih komentar." Nadya menjawab ketus. "Ya kalau albumnya udah keluar sih pasti ada." Jingga meraih ponsel, mengetikan sesuatu sembari menyetir. Dia berhenti seketika di tepi jalan. "Kamu ngiggau ya? Nggak ada lagunya Dua Lipa yang judulnya Break my Heart," kata Jingga. "Loh, udah muncul kok. Itu kan lagu tahun 2020," debat Nadya. "Nat ... ini tahun 2017. Maksud kamu apa ngomong 2020?" Nadya melongo. Ia lupa. Ia lupa bahwa hari ini ada di masa lalu. Ah, kenapa ia sampai keceplosan dan mengatakan pada Jingga hal-hal yang rumit jika dijelaskan. Bodoh sekali, tapi bagaimana lagi. Ya sudahlah, dia memang cukup ceroboh dan tidak pernah mengerti dirinya sendiri dan keadaannya.. Jingga kembali mengendarai mobilnya sementara Nadya tak menjawab, ia harap Jingga melupakan semuanya. Maksudnya, Jingga tak berpikir bahwa Nadya aneh walaupun mungkin jauh sebelum Nadya berharap ini Jingga telah memikirkan hal itu. "Tapi ya Nat, emang banyak yang aneh akhir-akhir ini. Kamu kayak berubah. Bukan kayak Nadya yang aku kenal. Dari gaya bicara kamu, gaya kehidupan kamu, seperti bukan Nadya. Aku seperti kehilangan Nadya lama dan menemui Nadya baru yang entah kenapa. Nadya sekarang kayak bukan Nadya banget, banyak banget yang nggak aku pikirkan sebelumnya, perubahan kamu kayak yang kontras banget." Akhirnya Jingga berkata juga. "Manusia bukannya bisa berubah kapan pun dia mau? Manusia bebas menjadi apa yang dia inginkan. Manusia bisa berubah karena dia belajar dari banyaknya kesalahan yang pernah dia lakukan, dan wajar kalau aku berubah. Dan seharusnya kamu bersyukur bahwa Tuhanmu menunjukkan sifat asliku sebelum kita menikah, jadi kamu masih punya kesempatan buat tetap maju atau milih mundur. Aku nggak maksa kamu buat lanjutin pernikahan ini, aku nggak maksa kamu buat menikah sama aku. Kamu bebas berubah dan aku juga nggak akan marah kalau kamu ngasih keputusan ini. Lagian menikah itu harus menerima semua yang ada di aku, Jingga, baik kekurangan maupun kelebihan yang aku miliki." "Maksudku bukan itu, aku cuma ...." "Ya, aku paham. Kamu kehilangan Nadya yang lemah lembut itu, kan? Salah kalau aku berubah? Aku bisa lebih tegas, aku bisa lebih berani dan ya Jingga, perlu kamu tahu aku Nadya. Aku belajar dari banyaknya masa lalu dan maaf kalau kamu nggak bisa nerima aku." "Enggak kok, Nat. Aku sayang sama kamu, gimana pun kamu," ungkapnya. Nadya melengos, dia tak sabar untuk segera turun dan menghirup udara di luar sana. Dekat dengan Jingga benar-benar membuatnya sedikit bosan. Sekitar sepuluh menit kemudian, mobil Jingga berhenti. "Ayo turun, kayaknya Mama udah nunggu di dalem," ajaknya. Nadya menoleh ke arah Jingga yang sudah bersiap-siap turun dari mobil, perempuan itu membuka pintu, lalu turun dan menutup kembali pintu mobil tersebut. Dia membenarkan letak tas cangklongnya, lalu mengikuti langkah Jingga di depan. Gaun pengantin yang terpampang di balik lemari-lemari kaca seakan menyapa ketika langkahnya baru saja menginjak lantai butik tersebut. Pintu kaca dibuka oleh Jingga, kemudian dia masuk, Nadya menahannya sebentar lalu masuk mengikuti langkah Harun ke dalam. Hingga kini dia masih tak percaya bahwa di umur ke 24-nya menginjakkan kaki di tempat yang tak pernah diinginkan. Rasanya dia tak memiliki tenaga untuk menatap gaun-gaun yang mewah itu. Rasanya tak memiliki imajinasi bagaimana dia membayangkan sebentar lagi akan mengenakan gaun itu untuk kedua kali. "Umi," sapa Jingga pada wanita bergamis hijau muda yang tengah berbincang dengan perempuan 30 tahunan berambut sebahu yang mungkin petugas di sini. "Jingga, Nadya!" Wanita 53 tahunan itu berdiri. Nadya tersenyum, dia menyalami tangan ibu Jingga. Walaupun Nadya dan Jingga bersahabat, tetapi sebelum lamaran kemarin Nadya betul-betul tak pernah melihat Ibu Jingga secara langsung. Jingga tak pernah mengajak Nadya ke rumahnya, begitu setidaknya yang Caramel tahu dari ingatan atas Nadya. Menjalin persahabatan dengan orang yang religius memang beda. Apalagi sekarang Caramel tidak mengerti apa pun. Seperti terlempar dalam dimensi lain tentu saja. "Ayo pilih gaun pernikahannya. Yang paling bagus menurutmu ya, Nat. Umi udah tua, selera kita enggak akan sama." Jingga berkata pada Nadya. "Iya." Nadya tersenyum kaku. "Jingga, ajak Nadya ke sana." Ibu Jingga menunjuk kumpulan gaun-gaun pengantin yang tergantung. Dia seakan sangat senang saat harus memilihkan pakaian pernikahan untuk anaknya, dan calon menantunya tentu saja. "Ayo, Nat," ajak Jingga. Nadya mengangguk, dia berjalan ke arah gaun pengantin dan menatap deretan bermacam-macam model yang tersedia di sana. Bukannya memilih, Nadya menatap kosong gaun-gaun itu. Dia benar-benar tak bisa membayangkan bagaimana menjadi seorang pengantin nanti, sedangkan di sisi lain Nadya lama pun belum sembuh oleh lukanya di masa lalu. Ah, Caramel benar-benar merasa kasihan pada Nadya tapi ini juga salah Nadya kenapa dia menyetujui perjodohan ini. Seharusnya Nadya berani menolak, bukannya malah pasrah begini saja. Pernikahan dengan Jingga ini apakah dapat membuat Nadya bisa melupakan masa lalunya dengan Biru? Caramel tak tahu, tapi ini adalah takdir yang sudah dipilih Nadya, ia hanya perlu mengikuti saja. "Ada banyak pilihan lain selain di sini kalau Mbak kurang suka." Seorang pegawai baru saja berdiri di sebelah Nadya. Perempuan itu terkesiap, dia tersenyum kikuk."Ah, ini saya lagi memilih dulu, Mbak." Nadya langsung memegang dan memeriksa gaun-gaun tersebut, lalu mengambil salah satunya dengan asal. Dia tidak tahu harus memilih yang seperti apa, menurutnya tidak ada yang sesuai seleranya. Atau dia yang terlalu tinggi selera. "Jingga, ini saja ya." Nadya mengangkat gaun berwarna putih yang cukup sederhana. Pada bagian dadanya dilengkapi dengan mutiara yang membentuk bunga. Lengan pendek. "Tapi, itu lengan pendek." Jingga bergumam. "Loh emang kenapa?" Nadya bertanya tak mengerti. Seakan dia melakukan dosa besar saat menunjukkan gaun itu, pasalnya tatapan Jingga tak biasa. "Kamu nggak mau pakai jilbab?" Suara Jingga bertanya ragu-ragu. Mungkin dia takut Nadya salah paham atau mungkin Nadya tersinggung oleh pertanyaannya, mengingat akhir-akhir ini Nadya yang dikenalnya mudah sekali marah. "Memangnya harus ya? Ya udah aku pilih yang panjang." Nadya mengalah. Rasanya ingin berdebat bahwa tak seharusnya dia meminta Nadya menggunakan ini dan itu, mengatur cara berpakaian dan mengatur segalanya tapi barangkali melanggar aturan keluarganya jika ia tak memakai jilbab saat pernikahan nanti? Astaga, gue bukan orang muslim kok disuruh pakai jilbab, yang bener aja. Tapi ya udahlah, gue emang paling totalitas dalam melakukan drama. Batin Nadya. "Eh Nat, lagian baju yang kamu pilih terlalu sederhana. Coba cari yang lebih mewah," pinta Jingga. "Ah, aku nggak pandai memilih, Ga. Gimana kalau diputuskan sama Mbak-nya aja?" Nadya memberi pilihan. Padahal dia hanya bosan saja. "Oke kalau begitu." Nadya menaruh kembali gaun tersebut di gantungan, dia berjalan menuju kulkas, mengambil minuman rasa jeruk, lalu memilih duduk di salah satu kursi dan mulai membuka tutup botol minumannya. Dia meminum isinya untuk menghilangkan rasa gugup dan mengusir bosan sembari menunggu Jingga yang sibuk memilih tuksedo. Lagi-lagi Caramel tak bisa mengendalikan dirinya untuk berpura-pura dengan rapi, dia benar-benar tak bisa. Andai kedua orangtuanya tak meminta Nadya untuk menikah dengan Jingga, mungkin Nadya lebih memilih untuk tetap fokus dengan karirnya dulu untuk saat ini. Setidaknya sampai dia benar-benar melupakan seseorang di masa lalunya. "Nat, kamu kayak nggak semangat, sih. Lagi ada masalah ya? Kalau ada apa-apa cerita aja." Jingga tiba-tiba menghampiri. "Enggak, sih. Biasa aja. Aku cuma capek, soalnya tadi mau langsung istirahat. Udahlah jangan bahas aku, fokus aja sama pernikahan kita. Aku nggak mau debat, mana lagi panas banget." Nadya berusaha tak melanjutkan percakapan yang bisa jadi akan berlanjut perdebatan ini. "Ah ya udah, tungguin ya, Nat. Aku mau milih-milih lagi." Jingga bangkit. Nadya hanya mengangguk. Tapi jika kembali dipikir ulang, bagaimana mungkin Nadya bisa melupa kalau masa lalunya ternyata kembali tiba dengan serta membawa kenangan lama. Dia berdecak, semua seakan tak pernah beres. Caramel tidak tahu harus bertindak seperti apa, semua ingatan Nadya seakan seperti dikuasainya. Andai ada pilihan lain, mungkin Nadya akan mengambil opsi ketiga. Misalnya tidak menikah dengan Jingga, itu saja. Lagi-lagi jelas karena Jingga terlalu baik untuknya, Nadya merasa tidak pantas. "Nadya, udah milih mau warna apa?" tanya ibu Jingga yang tiba-tiba datang dan duduk di sampingnya. Jika dilihat dari penampilan yang tidak terlalu sederhana, sepertinya ibu Jingga tipe ibu-ibu yang sering berkumpul dengan kawan-kawan arisannya dan membahas seputar masalah-masalah rumah tangga. "Eh kayaknya putih, Bu. Saya nggak terlalu bisa milih." Nadya menjawab seadanya. "Tumben nggak pakai jilbab, kenapa?" Dia kembali bertanya. "Lebih cantik pakai jilbab, Nduk. Nadya kan biasanya juga pakai jilbab." "Belum kering semua, kemarin nyuci besar-besaran. Memangnya kenapa, Bu?" Nadya bertanya balik. "Oh enggak papa sih, tumben aja gitu. Nadya biasanya selalu pakai jilbab. Ya kayak nggak nyangka aja kalau Nadya lepas. Enggak lepas kan, ya?" Ibu Jingga meyakinkan. "Memang kenapa kalau selamanya nggak pakai jilbab, Bu?" Dia bertanya lagi. "Astaghfirullah, nggak boleh, Nadya. Kamu muslimah. Memang apa alasan kamu lepas?" "Revolusi." Rasanya semua orang tidak ada yang menarik untuk diajak berbincang kecuali dirinya sendiri. "Nadya, udah yuk langsung pulang aja. Aku udah nentuin mana yang bagus dan kita udah dapet bajunya. Ayo sekarang kita pulang." Jingga kemudian berdiri di depan Nadya. "Umi, kita pamit duluan ya, soalnya nanti aku juga ada urusan mau ke rumah kolega sebentar. Aku mau langsung antar Nadya pulang," katanya. "Iya, Jingga. Hati-hati ya." "Iya." Nadya mengikuti Jingga keluar, dia yakin bahwa Jingga membawa Nadya pergi hanya karena untuk menghindari agar Nadya tak berdebat dengan ibunya. Ah, untung saja Jingga pengertian kalau saja dia tidak mengajak Nadya pulang, mungkin dia akan berdebat dengan ibu Jingga dan mengatakan alasannya kenapa dia nggak harus memakai jilbab, dan mengapa dia seharusnya tak perlu mengurusi pakaian Nadya. To be continued~ Terima kasih sudah membaca cerita ini ^^ Salam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD