008. Kawin Lari? Jangan Gila!

2347 Words
Ketika pukul 09.30, Nadya sudah bersiap mengenakan blous dan rok selutut untuk segera pergi ke kantor guna mengikuti pertemuan yang diadakan oleh para staf penerbitan. Sejujurnya dia malas karena menonton series lebih asyik daripada bertemu dengan orang-orang yang tak dikenal. Dia mengeluarkan motor dari ruang tamu, lalu mulai memanaskan mesin dan selang beberapa menit dia langsung menaiki joknya setelah mengenakan helm dan langsung pergi ke arah jalan raya. Beberapa kali dia harus berhenti karena lampu merah, lalu lanjut kembali mengemudi dan hingga sekitar pukul 10.30, Nadya sudah sampai di depan halaman bangunan yang cukup besar yang terlihat banner di depannya, 'Hae Publisher' segera dia menghentikan motornya di parkiran, lalu masuk ke dalam. Di sana ada beberapa orang yang baru tiba, tapi dia tak dapati Biru, mantan Nadya. Mungkin dia belum datang, padahal ia ingin segera melakukan drama dengan seolah-olah kaget dan terkejut atau apa pun. Dan akhirnya Nadya memutuskan keluar. Niat hati dia ingin membeli sarapan barang sebentar karena ketika di rumah dia sengaja tak membuatnya, dan tentu saja untuk apa dia menghabiskan tenaga dua kali lipat pagi dan malam untuk membuat sarapan, jika setiap pagi dia bisa menggunakan uang tabungan Nadya untuk membeli sarapan. Tapi kebiasaan Nadya yang membeli makanan pada ibu-ibu 69 tahunan yang biasanya menggelar tikar di tepi jalan, menjajakan segala macam nasi, ia tak bisa melanjutkan itu. Pasalnya ia takut jika makanan itu tidak sehat, bagaimana jika nanti ada yang salah dengan pencernaannya, atau bagaimana jika nanti dia sulit buang air besar? Ah tidak! Ia menggeleng kuat-kuat untuk mencari tempat makan lain yang dapat dijadikan langganan selama dua bulan ke depan. Sebuah mobil hitam baru saja masuk dan menghentikannya di parkiran. Nadya memperhatikan seseorang yang mulai membuka pintu. Dia melihat tangan kekarnya, lalu lelaki 180 sentimeter berkemeja cokelat muda serta bercelana rappid jeans biru tua baru saja keluar. Nadya terpaku di tempat, dia tak bisa berkata-kata saat seseorang yang dulu sangat amat dikenalnya bahkan mungkin sangat amat dicintainya, sekarang tiba di depan matanya dengan penampilan yang sangat amat berbeda. Tangkai Ra. Dia terlihat lebih rapi, rambutnya yang gondrong sebahu terlihat dibiarkan begitu saja. Setelah menutup pintu mobil, dia tersenyum ke arah Nadya. Lalu berjalan mendekat. Ia sudah siap melakukan drama, tapi ... ia harus mengakui bahwa Tangkai Ra benar-benar tampan dengan gaya klasik yang membuatnya tampil menawan. "Nadya," lirihnya setelah dia berdiri tepat di depan Nadya. Nadya mundur beberapa langkah. Lelaki itu menatap Nadya dalam. "Nadya, aku kangen." Biru, pemilik nama pena Tangkai Ra itu berkata sedemikian jujur. Ada kejujuran yang terlihat dari kedua matanya, serta ada kerinduan yang tampak dari wajahnya. Biru benar-benar tulus saat mengatakan hal yang diungkapkan, baginya bertemu dengan Nadya adalah kado dari yang maha luar biasa. "Gimana kabarnya?" tanya Nadya, jujur saja dia sedikit gugup ketika dihadapkan dengan hal yang tiba-tiba seperti ini. Setidaknya kenapa dia tak merasakan apa-apa terlebih dahulu bahwa ia akan bertemu seseorang yang amat sangat istimewa pada kehidupannya yang dulu. Dan kehadiran Nadya di depannya jelas seperti sebuah angin yang membawa kembali kenangan, dan itu berhasil membuat Nadya benar-benar merasa nyaman di dekatnya. Ya, baik Nadya maupun seseorang yang menempati tubuh Nadya, kedua-duanya merasa nyaman berada di dekat lelaki itu. Aneh memang, aneh sekali. Bahkan Caramel mampu merasakan apa yang Nadya rasakan. "Seperti yang kamu liat, Nat." Dia tersenyum. "Kamu gimana?" Dia berbalik tanya. "Ah, aku baik. Istrimu mana?" Nadya bertanya, pasalnya dia tahu dari ingatan lama bahwa Biru pergi karena akan menikah dengan perempuan yang tentu saja bukan dirinya. Biru memutuskan hubungannya dengan dia karena wanita lain yang mungkin amat dia cintai. "Istri? Aku gagal menikah sama dia." Dia berjalan, lalu duduk di sofa depan, Nadya menyusul duduk di samping Biru dengan ragu. Wangi lelaki itu masih sama seperti sejak dulu. Bayangan-bayangan akan kebersamaan tempo lalu milik Nadya benar-benar kembali teringat dengan jelas. Bagaimana mungkin Caramel mengingat bayangan milik Nadya. Setiap kali ia melakukan perbincangan dengan seseorang, bayangan Nadya selalu muncul seakan Nadya ada di tubuhnya dan Caramel hanya menumpang. Ini benar-benar tidak adil, karena harus dia yang memamerkan drama ini. Dan parahnya dia akhirnya tahu apakah Nadya sepertinya masih mencintai lelaki itu. Nadya masih menyayangi Biru sepenuh hatinya. "Kenapa?" Nadya bertanya heran. Dia cukup terkejut dengan pernyataan Biru yang gagal menikah. "Karena aku nggak suka dia. Aku nggak bisa menikah sama orang yang nggak aku cintai, aku takut dia kecewa kalau aku hanya pura-pura. Daripada terlanjur berbohong demi kebaikan, lebih baik nggak perlu sama sekali." Biru bertutur dengan lembut, Nadya melihat kejujuran dari kedua matanya yang sedikit pun tak ditemui adanya tanda-tanda dusta. "Gimana ceritanya? Bukannya orang tua kamu setuju banget?" Nadya berbalik tanya. Dia amat penasaran. Pasalnya dia tahu bahwa ibu Biru saat itu begitu antusias atas pernikahan anak pertamanya. Putra kesayangannya. "Nat, mungkin kamu masih berpikir kan kalau orang tuaku nggak suka kamu? Sampe sekarang aku juga nggak pernah tahu alasannya. Setiap kali aku tanya sama Mama kenapa dia nggak suka kamu, mama selalu bilang kalau kamu nggak pantes buat aku. Aku harus cari yang lebih baik dari kamu. Jujur, kebencian mama kayaknya nggak berasalan. Beda dengan papa yang kadang lebih nerima semua keputusan-keputusan aku. Di hari itu Nat, kami dijodohkan. Itu anaknya sahabat Mama. Kayak ibu-ibu pada umumnya, mama juga punya sahabat. Dan mereka sepakat buat menjodohkan kami. "Waktu itu aku ketawa, aku rasa ini lucu. Di saat aku lagi pusing-pusingnya mikirin kamu, kangen kamu, benci sama diri aku sendiri karena nggak mau berjuang buat dapetin kamu, orang tuaku malah dateng dan ngeyakinin aku kalau aku sama dia bisa menikah. Padahal aku juga nggak pernah tahu dia kecuali sekali, itu juga waktu kecil dan aku nggak pernah kenang nama dia. "Sampe akhirnya aku coba keluarkan alasan-alasanku kenapa aku nggak bisa menikah sama dia ke orang tuaku, tapi kamu tau apa yang orang tuaku bilang? Dia terbaik. Itu aja. Mama menikahkan aku sama dia karena dia takut kalau aku menjalin komunikasi sama kamu. Tapi ke perempuan itu aku bilang, kalau aku minta maaf karena nggak akan pernah bisa mencintai dia. Aku minta maaf kalau nanti aku nggak bisa ngasih waktuku ke dia, ngasih kehidupan aku sama dia, sampai mungkin dia pikir ulang dan akhirnya dia memohon sama orang tuanya untuk membatalkan rencana ini. "Dan akhirnya pernikahan itu gagal, baik aku maupun dia akhirnya sama-sama untuk melupakan kejadian itu. Mama sempat marah karena mungkin dia tahu bahwa ini ulahku, tapi ya nggak papa, gimana lagi Nat, sampai kapan pun kayaknya aku cuma bisa suka sama kamu." Nadya menelan saliva susah payah. Dia cukup terkejut dengan tuturan Biru. Anjir ni orang romantis parah. Seakan-akan bener-bener gue lagi digombalin. Terlebih ia mengakui bahwa sepertinya jika dilihat dari kedua mata Biru, tak ia dapati sedikit pun tanda-tanda kebohongan dari dalam dirinya. Menurut bayangan masa lalunya, Biru adalah orang yang sangat Nadya percayai, kepada Birulah Nadya menceritakan banyak sekali kesah dan ceritanya. Biru selalu menjadi pendengar sekaligus pemberi nasihat yang selalu Nadya butuhkan. Tapi sayangnya semua itu kandas 3 tahun lalu. Saat Nadya harus pergi karena dipaksa oleh orang tua Biru. Benar, bahkan Nadya sendiri tak tahu alasan apa yang dipunyai oleh Ibu Biru mengapa ia benci Nadya? Mengapa ia tak menyetujui hubungannya dengan Biru? Padahal seingatnya, Nadya tak pernah membuat kesalahan atau menyinggung mereka. Nadya hanya ingin tahu kenapa mereka membenci Nadya, itu saja. Tapi mungkin pertanyaan itu tak akan pernah mendapat jawaban, semua-muanya adalah abu. "Orang tuamu apa nggak semakin benci aku?" Nadya memastikan. Biru tertawa. "Entahlah, Nat, aku bingung. Saat ini aku cuma pengen bisa nikah sama kamu. Itu aja." Suaranya seakan pasrah. "Enggak akan mungkin." "Kenapa? Aku terlambat?" Nadya mengangguk. "Aku disuruh menikah sama Jingga. Kata ibu, kalau aku nggak menikah sekarang, aku bakal jadi perawan tua." "Jingga? Katingmu itu?" "Iya." "Nad, serius?" Biru tampak tak percaya. Nadya mengangguk. "Semuanya udah disiapkan, bahkan undangannya udah disebar." "Nadya ...." Biru seakan kehabisan kata-kata. "Aku nggak mau ngerasa bersalah. Jadi, nggak usah kamu kecewa. Bukannya ini jalan yang udah kami pilih? Aku pergi waktu itu, kamu juga pergi. Aku kira kamu nggak akan kembali, aku kira kami nggak ada kesempatan lagi. Jadi, ini emang jalan yang nggak sengaja kita pilih sebelumnya. Aku yakin kamu bakal dapatkan yang lebih baik dari aku. Aku nggak cantik, nggak pintar, dan ...." "Tapi kalau aku cuma mau kamu gimana?" Biru memotong ucapan Nadya. Dia seakan tidak terima dengan pernyataan Nadya padanya. "Menerima kalau aku bakal menikah dengan seseorang yang ternyata bukan kamu," pungkas Nadya. "Tolong, ini bercanda kan, Nat?" Biru terlihat frustrasi. Caramel mungkin mengerti bahwa Biru sangat mencintai Nadya. Biru begitu lemah sekarang, dia begitu hancur berantakan. "Enggak. Aku nggak pernah bercanda. Ini beneran. Aku minta maaf." Caramel yang mengatakannya benar tidak tega, tapi bagaimana lagi. Biru harus menerima konsekuensinya dan dia harus ikhlas jika Nadya bersama orang lain. Bersama Jingga. Biru terdiam, paling tidak mungkin dia masih tak percaya dan terkejut dengan kabar yang tiba-tiba. Selama tiga tahun lamanya, mereka memang tidak pernah saling bertukar kabar atau sekadar memberi sebuah love pada postingan, tidak. Biru seperti menghilang setelah keduanya memutuskan untuk pisah. Tapi sejujurnya, dari hati keduanya, bukan ini yang mereka mau. Bukan jalan masing-masing yang mereka impikan, tapi sepertinya mereka sampai pada puncak yang salah, sehingga keduanya harus dihadapkan pada kecewa yang luar biasa. "Nat, bukannya kita pernah bikin janji, bahwa apa pun yang terjadi, kita nggak akan pernah melepaskan." Biru seakan masih ingin berjuang. "Ya, aku masih inget janji itu. Tapi bukannya yang pertama meminta aku pergi itu kamu, ya?" Caramel ingin bertepuk tangan karena dramanya begitu bagus. Dia benar-benar bisa menjadi Nadya. Namun, bagaimana mungkin dia harus bahagia dia atas penderitaan orang lain. Beberapa tahun lalu, ketika Biru mengajak Nadya untuk mendaki di Ciremai, itu adalah kali terakhir keduanya bersama. Pasalnya setelah turun, Biru langsung mengatakan pada Nadya bahwa semuanya telah selesai. "Gue tahu mungkin keputusan gue bakal bikin kita berdua patah hati, tapi Nadya, mulai sekarang lo bisa pergi ninggalin gue. Gue nggak mau ngikat lo kayak gini, apalagi orang tua gue nggak pernah setuju sama hubungan kita, mungkin pisah adalah jalan satu-satunya," kata Biru ketika mereka baru saja akan istirahat setelah mendaki puncak. Nadya yang saat itu masih mengenang momen-momen sulit pertama pendakiannya sukses dibuat terkejut. Nadya kira Biru tidak menyerah begitu saja, tapi akhirnya Nadya harus mendengar keputusan yang membuatnya patah berkali-kali seakan tanpa henti. Nadya cukup sesak mengingat perkataan itu, dia menuntut penjelasan, tetapi seperti yang sudah-sudah, orang tua adalah alasannya. "Apa nggak ada jalan lain? Maksudku, apa kita nggak bisa menunggu dulu? Seenggaknya kita harus paham alasan orang tuamu, Biru." "Nadya, kalau kita pertahankan hubungan ini, gue takut kalau nanti lo jadi orang paling tersakiti oleh perkataan-perkataan Mama. Gue nggak sanggup dengernya. Jadi gue harus memutuskan dan mungkin inilah yang terbaik, Nat. Sampai kapan pun kayaknya gue nggak bakal bisa lupain lo, gue nggak bakal bisa suka sama cewek lain kecuali elo. Nat ... lo orang yang menginspirasi gue, lo perempuan hebat yang pernah gue kenal, lo cewek yang paling cantik yang pernah gue temui dan sampai kapan pun gue akan selalu inget lo. Lo orang yang berhasil bikin gue jatuh cinta." Gila, kalau gini caranya gue juga jatuh cinta sama elo. Biru, jujur ... lo tipe gue banget. Maksud gue Nat, apa lo nggak nyesel ninggalin orang kayak Biru dan dapetin Jingga? Nadya, lo bodoh kalau gini. Lo bener-bener bodoh. Tapi bukannya ini juga bisa dijadiin alasan kalau Biru bisa menikah dengan seseorang yang bukan Nadya? Ya, misalkan di masa depan Biru menikah dengan perempuan bernama Caramel~ "Nadya, aku nggak tahu harus ngomong apa? Tapi rasanya aku masih punya kesempatan dan aku nggak mau menyerah gitu aja. Nat, bukannya masih ada waktu kalau kamu mau gagalin pernikahan ini? Bukannya masih ada waktu kalau kamu mau pergi dari Jingga? Kita bisa menikah setelahnya, aku akan nepatin janjiku dan aku akan nikahin kamu. Aku akan datang ke orang tuamu, aku minta maaf dan kalau mereka nggak memaafakanku ..." Biru tak melanjutkan kata-katanya. Dia seakan tengah merencanakan sesuatu yang tak masuk akal. Caramel curiga Biru akan nekat bertindak di luar nalar. Mengajak Nadya bunuh diri bersama misalnya. Tapi itu terlalu ekstrim dan mengerikan tentu saja. "Gimana kalau orang tuaku nggak memaafkan kamu, Biru?" Nadya bertanya. "Kita bisa kawin lari. Bukannya kita masih sama saling suka? Terus buat apa kamu ngabisin sisa umur kamu sama orang yang nggak kamu sukai? Nadya, bisakah kamu berpikir bahwa partner kamu nanti adalah orang yang nggak kamu cinta? Pernikahan itu nggak berlangsung sehari, seminggu atau sebulan saja, tapi bertahun-tahun sampai maut yang memisahkan. Seseorang yang akan tidur sama kamu, yang akan berbagi keluh kesah sama kamu, bukan lagi pacar tapi partner. Kamu Nadya, bisakah bertahan dengan partner yang nggak kamu sukai? "Nadya, kamu bisakah berteman dan menjadikan Jingga orang yang akan mendengar semua ocehanmu, berbagi ide, berbagi rasa? Kamu nggak membayangkan itu, Nat? Kamu nggak membayangkan bagaimana kalau nanti kalian nggak satu frekuensi? Nadya, Jingga itu tempramental, aku tahu dia. Aku tahu siapa Jingga walau kami nggak cukup saling mengenal tapi aku tahu karakternya. Nadya, tolonglah sedikit berpikir dan tolong jangan sia-siakan hidup kamu dengan nikah sama orang yang nggak bisa menyukai kamu." Biru seakan sungguh-sungguh saat mengatakan itu. Tapi mau bagaimana lagi, toh di sini Caramel pun tak bisa memberi jawaban apa pun karena dia hanya melanjutkan apa yang sudah Nadya rencanakan. Jika saja Caramel ada di posisi Nadya, mungkin dia lebih baik mendengarkan omongan Biru daripada melanjutkan pernikahan ini. Omong kosong. Kenapa seseorang kadang harus nurut terhadap sistem? Tapi benarkah ini suatu sistem? "Nadya, aku mohon menikahlah dengan orang yang suka kamu, orang yang kamu butuhkan dan orang yang kamu mau menerima dia apa adanya. Jangan menikah karena tuntutan dan jangan menikah cuma karena ada sistem yang membuat kamu harus memaksakan kehendak ini. Nadya, dengarkan aku." "Aku setuju!" Nadya—Caramel berkata reflek. "Maksud kamu?" Biru bertanya. "Ehm gini, aku setuju sama semua ucapan kamu, tapi Biru udah terlanjur. Percuma kamu pidato panjang lebar pun semua ini nggak akan mengubah yang akan terjadi. Aku tetap akan menikah dengan Jingga dan kamu nggak bisa menghalangi aku. Kita cukupkan semuanya, toh kita emang udah pisah. Jadi, aku bukan siapa-siapa." Nadya bangkit, kemudian pergi. Di dekat Biru, lama-lama dia akan kembali jatuh cinta dan itu cukup berbahaya. To be continued ~ Terima kasih sudah membaca.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD