024. Menjadi Pembicara 2

1045 Words
"Ya bagus. Saya mendenifisikan sastra lebih dalam lagi. Sastra menurut saya seperti perempuan. Yeah, kenapa saya mendenifisikannya layaknya seorang perempuan? Nggak lain karena saya selalu membayangkan bahwa sastra itu kadang-kadang sulit dipahami, dan kadang terlampau sangat mudah. Kadang menjebak, kadang ya banyak kadang-kadangnya dan menurut saya ia seperti perempuan. Sastra cantik, perempuan juga. Tapi bagaimana cara kita mencintai sastra? Jawabannya sebetulnya sangat singkat, dengan menemukan satu buku yang kamu suka lalu membaca buku dengan genre yang sama. Tidak menjamin bahwa kau akan kembali suka, bisa jadi kamu malah merasa kosong setelah membacanya, tapi kalau kamu memang tipe-tipe orang yang penasaran, rasa ini bisa digali lebih dalam lagi. Apakah jawaban yang saya katakan bisa ditemukan dalam karya ilmiah? I don't know. Saya menjawab based my experience dalam pencarian karya sastra. "Waktu itu kelas dua SMA saya sangat maniak sama komik-komik. Saya habiskan waktu saya di perpustakaan dan sering lupa waktu kalau misalkan ada kelas. Saya sering meninggalkan jam pelajaran Matematika, Fisika, Kimia, karena waktu itu saya masuk IPA, saya kehilangan arah di tengah jalan. Seriously, kepsek memanggil orang tau saya dan bilang ke mereka bahwa saya sering bolos dan parahnya, saya menikmati itu. Waktu itu ayah saya nggak marah, aneh. Saya pikir sangat aneh, kenapa ayah nggak marah? Bahkan dia tersenyum dan menepuk pundak saya. Dia bilang sama saya, 'Kamu akhirnya sudah paham minatmu ke mana, ya, Ra? Kamu bisa memahami dirimu sendiri, ya? Kamu kira saya nggak bangga lihat putra saya sudah bisa membaca dirinya sendiri? Saya bangga, saya senang. Silakan kamu lakukan apa yang ingin kamu lakukan, asalkan tidak menyakiti orang lain. Tapi anehnya setelah itu saya malah lebih rajin dan jadi juara kelas." Biru bercerita, bernostalgia tentang masa kecilnya. Penonton tertawa, ada yang masih terkagum-kagum. Biru menjelaskannya dengan bahasa yang santai, gerak yang tepat dan gestur yang sangat baik. "Tapi serajin-rajinnya saya, tetap saja saya merasa tidak nyaman di IPA. Saya merasa salah jurusan. Tapi waktu itu di sekolah hanya ada dua pilihan, IPA dan IPS, mau pindah pun nggak sempat, jadi dinikmati saja yang ada. Waktu kuliah, saya lintas minat malahan. Saya masuk ke bisnis dan di satu tahun awal saya mulai meninggalkan kesukaan saya terhadap komik, karena saya meng-upgrade bacaan saya. Saya mulai mengikuti kakak tingkat saya mulai membaca buku-buku kapitalisme, Adam Smith, Psikologi, Filsafat, dan pengembangan diri. Tapi di tahun itu pula saya mulai menulis sastra di blog. Saya menulis kegiatan saya, hal-hal yang saya rasakan, dan tentu saja kehidupan saya. Dan tepat di tahun ketiga ketika hubungan saya dan kekasih saya cukup berantakan, seorang teman mengirimkan tulisan-tulisan di blog saya ke penerbit, dan kalian tahu, tulisan saya langsung di-acc tanpa sepengatahuan saya. "Ya, namanya Moka. Dia ngomong ke saya waktu semuanya udah beres. Dia bilang, Ra kamu harus nerbitin buku. Dan serius, waktu itu saya cukup kaget. Tapi karena udah terlanjur dan saya juga nggak mau biarkan keputusan ini lewat, jadi saya akhirnya ngirim tulisan-tulisan saya berbentuk antalogi dan tulisan saya terbit dengan nama ini. Dan ya karena sebab patah hati saya menulis serius. Andai saya nggak patah hati, andai jalan hidup saya baik-baik saja dan lurus-lurus aja, mungkin saya nggak ada di sini. Mungkin saya nggak akan nemenin kalian ngobrol di sini, berbagai cerita ke kalian, dan kalian kalaupun saya tetap menulis mungkin novel saya terkesan flat, dan belum tentu banyak yang baca." Biru menjeda ucapannya. Dia mundur, meneguk air minum lalu kembali lagi dengan membawa senyum termanisnya. Gawat, dia sangat menyukai ini. Dia sangat mencintai dirinya sendiri yang manipulatif. "Untuk menjeda bacotan saya, apakah dari temen-temen ada yang mau nanya dulu?" tanya Biru. Seorang mahasiswa angkat tangan, dia bangkit dan bertanya setelah pengeras suara baru saja diberikan padanya. "Saya ingin bertanya pada Kak Ra. Di masa kuliah bagaimana caramu membagi waktu untuk menulis dan kegiatan Organisasi? Saya nggak tahu kamu anak Organisasi atau bukan, tapi saya cukup penasaran." "Ah terima kasih atas pertanyaannya, tapi saya tidak pernah sekalipun terlibat di organisasi kampus. Saya menghabiskan waktu saya dengan mengikuti segala macam volunteer, magang, dan kegiatan sosial dari luar kampus. Saya mengikuti kegiatan-kegiatan itu di waktu senggang. Dan kebetulan saya pernah lolos beasiswa mengajar di NTB kala itu, saya tinggal di sana selama kurang lebih enam bulan dan saya tetap menulis di waktu senggang. Sesibuk-sibuknya saya, paling enggak dalam waktu seminggu saya harus menulis. Tapi gini, prinsip saya bagaimana pun itu bagi saya pendidikan itu nomor satu dan saya nggak pernah berani untuk menomor duakannya. "Kalau saya capek banget, daripada saya nggak mengerjakan tugas lebih baik saya nggak menulis. Itu. Gimana ya, saya memang suka menulis, saya memang nggak bisa kalau sebulan tanpa ngisi blog tapi ... masuk di universitas negeri impian itu adalah berkah bagi saya. Saingan dengan ribuan calon mahasiswa dan ketika nama saya lolos, saya merasa berdosa jika menyia-nyiakan kesempatan ini. Nulis memang wajib, tapi tugas akademik lebih wajib lagi. Dan bagi waktunya adalah dengan mengetahui diri sendiri terlebih dahulu. Sesibuk apa kamu, sepadat apa jadwalmu, dan kalau kamu udah mengenali diri kamu sendiri kamu bisa menjawab pertanyaan itu berdasarkan ritme waktumu," jawab Biru. "Kak, gimana caramu menyikapi masa lalu?" Seseorang lain bertanya. "Caranya dengan mencoba menerima kalau itu memang masa lalu kita. Karena seberapa kuat kita menolak, seberapa bisa kita menjauhi diri dari ingatan, kenyataan nggak akan pernah berubah. Paling tidak, kalau masa lalu itu menyakitkan, kita bisa menjadikannya sebagai pelajaran. Tapi, kalau masa lalu itu menyenangkan kita bisa menjadikannya kenangan. Semuanya hadir untuk pembelajaran. Enggak ada sesuatu hal pun yang terjadi ke kamu tanpa adanya dampak di dirimu sendiri. Itu mungkin yang bisa saya katakan." Selepas itu dia kembali melanjutkan kegiatannya, bercerita tentang pengalaman, masa lalu, dan apa saja. Sesekali dibumbui dengan candaan agar kegiatan tak berjalan kaku dan tanpa tawa. Sesungguhnya di tawa memang ada patah hati yang ia simpan. Biru menyadari itu, menyadari perasaannya. Hingga pukul 12.30, acara selesai. Biru berdiri di tengah-tengah mereka dan diambilnya potret tersebut sebagai bukti kegiatan dan tentu saja pamer pada feed i********:. Banyak peserta yang meminta Biru untuk foto bersama mereka, dan Biru menanggapi dengan senang hati. Sial, dia hanya bisa melupakan sesaknya hati pada saat-saat seperti ini saja. Bagi Biru, bertukar cerita dengan orang-orang baru, bertemu mereka, dan mendengar keluh kesah mereka adalah hobi dan membuat dirinya masih merasa lebih baik. Terlampau amat munafik, tapi sayangnya dia menyukai ini. Menyukai dirinya yang amat sangat jahat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD