"Ra, serius kamu keren banget! Aneh banget nggak pernah gagal lo." Moka baru saja menaruh makanan yang baru dipesannya dan duduk di depan Biru yang sejak tadi sudah menikmati fried chicken dan nasi. Pagi tadi Biru memang sengaja tidak sarapan, karena dia paling tak suka jika hendak sarapan malah dilarang. Sebenernya karena keburu kesal.
"Heh, dijaga kalau ngomong. Kalau gue gagal dan tiba-tiba gugup, kita nggak bakal terlibat kerjasama lagi. Yang ada karir gue hancur," jawab Biru. "Ngomong-ngomong gue mau tanya sama elo, lo percaya sama perjalanan waktu? Menurut lo pertukaran jiwa itu bisa jadi ada?" tanyanya sembari mengunyah makanannya. Di antara keramaian, suara miliknya lebur, Biru bebas bertanya apa pun di sini.
Moka yang hendak melahap suapan pertama miliknya, menghentikan sebentar kegiatannya. Menatap Biru, kemudian melahap nasi dan mengunyahnya pelan. "Ra, menurut lo apa sih yang nggak mungkin? Serius, semuanya bisa terjadi. Segala hal itu nggak ada yang nggak mungkin, Ra. Teori perjalanan waktu ini juga cukup banyak dibicarakan, kalau gue sih percaya. Lo mau nulis genre apa emang?"
Biru menggeleng, "Enggak, gue cuma memastikan. Tapi jawaban lo sama kayak jawaban Riri."
"Gimana kata Riri?"
"Ya dia percaya. Katanya, emang apa yang nggak mungkin. Tapi serius, di zaman serba digital dan modern ini, menurut gue hal kayak gitu cuma fantasi belaka. Secara logika, gimana caranya coba orang bisa menempati tubuh orang lain dan datang atau pergi ke masa lalu atau masa depan. Itu benar-benar nggak masuk akal, Bro." Biru menyedot sodanya, lalu kembali memakan nasi dengan lahap. Dari tadi dia memang sangat lapar.
"Tapi yang dijadikan catatan, nggak semua hal bisa dilogika-kan. Banyak hal di dunia ini yang nggak masuk logika, tapi kenyataannya ada. Sesimpel Tuhan misalnya. Dan menurut lo di alam semesta yang gedenya nggak diketahui ini karena bener-bener luas banget, apakah mustahil kalau ada kehidupan lain selain di sini?" Moka menggeleng. "Nggak, Ra. Nggak ada yang mustahil. Kalau pun di sudut yang lain ada bumi kedua, bumi ketiga, bumi keempat, itu sama sekali nggak mustahil. Wong semesta ini gede banget kok, percaya diri banget kalau cuma kita yang diciptakan jadi manusia. Atau paling enggak ada makhluk lain di entah planet mana yang lebih bagus bentukannya dari manusia, siapa tahu. Kita nggak pernah tahu rahasia alam."
Biru terdiam. Yang dikatakan Moka memang ada benarnya. Semua orang yang dia ajak diskusi tentang ini selalu mengatakan, memangnya apa yang mustahil? Dipikir-pikir ya memang apa yang mustahil, segalanya bisa berubah dan berlaku. Biru semakin bingung, makin penasaran dan makin tak habis pikir jika memang dalam tubuh Nadya terdapat perempuan lain.
Selepas makan, Biru dan Moka langsung kembali ke hotel. Besok mereka akan datang ke acara selanjutnya. Cukup lelah, tapi dia terlampau menyukai. Di kamar, ia duduk di tepi ranjang, Biru menatap layar ponselnya lalu beralih ke kontak mencari nama Nadya. Baru dua hari tak jumpa, tapi rasanya dia kangen perempuan itu. Kangen seseorang yang ada di dalam tubuh Nadya lebih tepatnya.
Dia memanggil nama Nadya, lalu tak lama dari itu seseorang menyahut dari sana. "Kamu lagi di mana?" tanya Biru.
"Gue lagi Bandung. Cibiru. Ada apa?"
"Hah? Ngapain? Ada perlu kamu di Bandung?"
"Cari rumah tante. Gue abis dari Jakarta malahan, tapi entahlah gue nggak nemuin nyokap gue. Sial, gue bener-bener terjebak di tempat yang gue sendiri nggak paham maksudnya."
"Nat, sama siapa?" Biru khawatir.
"Sama temen. Tapi mungkin besok juga pulang. Paling nggak malem ini gue nginep dulu karena gue udah terlanjur penasaran. Gue harus mecahin teka-teki ini."
"Gue jemput, gue ke Cibiru sekarang," putus Biru.
"Buat apa? Enggak usah. Lo fokus sama kerjaan lo aja, gue nggak lama di sini," jawab Nadya. Suaranya terdengar seperti seseorang yang tengah putus asa.
"Enggak, pokoknya gue ke sana. Kirim alamat lo."
"Terserah deh."
Sambungan mati. Nadya mengirim alamat tempatnya kini. Buru-buru Biru keluar dan pergi menggunakan mobil yang disewanya selama berada di Bandung. Dari tempatnya kini ke Cibiru tidak terlalu lama, mungkin hanya beberapa menit saja. Biru menaikan kecepatan kendaranya, entah kenapa dia merasa tak sabar untuk bertemu Nadya.
Berkali-kali dia terjebak macet, dan memukul setir mobilnya. Dia benar-benar tak sabar, hingga akhirnya jalanan kembali lancar. Biru menuju alamat yang ditunjukkan Nadya, di penginapan. Biru memang tak kenal tempatnya, tetapi itu tak jauh dari salah satu Universitas swasta kota Bandung.
Diarahkan oleh GPS, akhirnya Biru berhenti di depan sebuah bangunan berlantai dua. Dia melihat perempuan yang sedang meneguk soda dan mengunyah hamburger. Biru menekan klakson, Nadya sepertinya langsung paham. Wanita itu segera bangkit, lalu berjalan mendekat ke arah mobil Biru dan masuk ke dalamnya.
"Biru," sapa Nadya setelah menutup pintu mobilnya.
"Nadya, jujur kamu terlalu nekat buat ke Bandung dalam keadaan lagi hamil."
"Aku nggak hamil," dusta Nadya.
"Bener?" Biru memastikan.
Nadya mengangguk. "Aku udah periksa dan ternyata aku nggak hamil. Ah syukurlah. Kalau aku beneran hamil, mati sudah. Dipikir-pikir yang hamil harusnya Nadya, bukan gue." Nadya menyandarkan kepalanya di sandaran mobil, sepertinya dia terlihat lelah. Dan semoga saja Biru tidak curiga.
"Ayo ke hotel," ajak Biru.
"Terserah. Gue cuma pengin istirahat." Nadya memakan kembali hamburger di tangannya, lalu meletakan bungkusnya di dashboard ketika sudah habis. Dia juga tidak ingat jika Biru ada di Bandung, maksudnya Nadya tak ke sini karena sebab Biru ke sini. Tidak sama sekali. Kedatangan Nadya ke sini murni karena dia ingin mencari rumah tantenya untuk memastikan semuanya. Terlebih dia memang malas mengingat siapa pun karena terlanjur melihat perbuatan serong ayahnya.
Ketika sudah sampai di hotel dan keluar dari mobil, Biru menarik tangan Nadya untuk segara masuk ke kamarnya. Sejujurnya Biru sendiri takut jika Moka mengetahui hal ini tapi ia tak bisa membiarkan Nadya sendirian di Bandung. Dan lagian Biru terlanjur kangen Nadya, ah Caramel. Paling tidak, ia ingin menghabiskan waktunya dengan Caramel malam ini.
Di kamar, Nadya langsung duduk di sofa. Dia menatap layar ponselnya dengan tatapan muram. Dia benar-benar ingin melabrak lelaki itu dan mengatakan semuanya, tapi tidak bisa. Bayangan sang ayah yang menggandeng wanita lain begitu terkam jelas diingatnya membuat dia sangat frustrasi.
"Kamu kenapa?" tanya Biru setelah melepas jaket miliknya dan duduk di samping Nadya.
"Lo tahu, ternyata gue lihat bokap gue selingkuh sama wanita lain. b***h, padahal tanpa adanya nyokap gue, bokap gue nggak bakal bisa bertahan di perusahaannya yang sekarang. Gue bener-bener marah, kenapa bokap gue tega banget ngelakuin ini. Dia tega banget berbuat b***t di belakang keluarga gue."
"Kamu lihat semuanya? Kalau kamu berasal dari tahun 2019 bukannya ini hanya masa lalu buat kamu?"
"Ya emang, tapi rasanya sakit."
Biru mengusap rambut perempuan itu, dia mengusap air mata Nadya dengan jari jemarinya yang kekar dengan sangat lembut. "Hust, sudah jangan nangis lagi. Semua akan baik-baik aja. Keluarga kamu bisa menuntaskan semuanya, kan?" Biru berkata lembut.
"Jadi, kamu percaya kalau aku bukan Nadya?" tanyanya.
Biru tersenyum. "Aku lagi belajar buat percaya. Bisa nggak bisa, kenyataannya kamu emang beda jauh sama Nadya. Kamu lebih asyik, kamu lebih membuat hidup aku lebih berwarna dan ..." Biru menghentikan ucapannya.
"Dan apa Biru?"
To be continued~